Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

APLIKASI CITRAALOS PALSAR UNTUK PENDUGAAN SIMPANAN KARBON DI HUTAN TANAMAN AKASIA Kuncahyo, Budi; Saleh, Muhammad Buce; Qirom, Muhammad Abdul
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 3 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.274 KB)

Abstract

ABSTRACTEstimation of carbon stock has direct limitations related to the speed of obtaining results, area coverage and high cost. Remote sensing can be used to estimate carbon stocks with an adequate level of accuracy. The objectives of this study are 1) to obtain the potential carbon storage of A. mangium, 2) to estimate model of carbon stocks based on a radar image (backscatter value of Alos Palsar), and 3) to map potential carbon stock distribution of A. mangium at PT. Inhutani II, South Kalimantan. The method used was a direct inventory of carbon stocks by making 69 measuring plots (0.1 ha area of each plot) spread across several age. The field inventory results were used to formulate a relationship with the polarization values of the Alos Palsar. The results showed that the potential surface carbon deposit varied from 32.03 to 46.10 tons/ha with an average value of 39.06 tons/ha. The total potential carbon stock per ha ranged from 35.48 to 51.01 tons/ha with an average of 43.24 tons/ha. The best allometric relationship between carbon stock and the polarization values HH and HV of the Alos Palsar image was Carbon Deposit = 292 + 2.00 HH2 + 27.1 HV with the R2  = 40.9%. Potential carbon storage based on Alos Palsar image ranged between 40 - 80 tons/ha. The result of Alos Palsar predicton is accurate so the technology can be used for measuring or monitoring of carbon stocks in plantation forest.ABSTRAKPendugaan persediaan karbon secara langsung mempunyai keterbatasan terkait dengan kecepatan memperoleh hasil, cakupan luasan yang terbatas dan biaya yang mahal. Penginderaan jarak jauh dapat dimanfaatkan untuk menduga persediaan karbon dengan akurasi yang cukup memadai. Tujuan penelitian ini yakni: 1) mendapatkan potensi simpanan karbon jenis A. mangium, 2) mendapatkan model penduga simpanan karbon berdasarkan citra Radar (nilai backscatter citra Alos Palsar), 3) mendapatkan peta sebaran potensi simpanan karbon jenis A. mangium di PT. Inhutani II, Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan dengan melakukan inventarisasi persediaan karbon secara langsung yakni pembuatan plot pengukuran sebanyak 69 plot dengan luas masing-masing plot seluas 0,1 Ha tersebar pada beberapa umur. Hasil inventarisasi tersebut digunakan untuk membentuk hubungan dengan nilai polarisasi dari citra Alos Palsar. Hasil penelitian menunjukkan potensi simpanan karbon permukaan sebesar 32,03 - 46,10 ton/ha dengan rata-rata 39,06 ton/ha. Potensi simpanan karbon total per Ha berkisar antara 35,48 -51,01 ton/ha dengan rata-rata 43,24 ton/ha. Model alometrik terbaik hubungan antara simpanan karbon dan nilai polarisasi HH dan HV dari citra Alos Palsar adalah Simpanan karbon = 292 + 2,00 HH2 + 27,1 HV dengan koefisien determinasi sebesar 40,9%. Potensi sebaran simpanan karbon total terbesar berdasarkan aplikasi citra Alos Palsar yakni berkisar antara 40 - 80 ton/Ha. Penggunaan Alos Palsar untuk menduga simpanan karbon menghasilkan dugaan yang cukup akurat sehingga teknologi ini dapat digunakan untuk mengukur atau monitoring persediaan karbon pada tegakan hutan tanaman.
EVALUASI PENGGUNAAN BEBERAPA METODE PENDUGA BIOMASSA PADA JENIS Acacia mangium Wild Qirom, Muhammad Abdul; Saleh2, M. Buce; Kuncahyo, Budi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Metode  pengukuran  biomasa  sangatlah  beragam  dengan  akurasi  dan  ketepatan  yang  berbeda-beda. Keakuratan dan  ketepatan metode  pengukuran tersebut perlu dibandingkan untuk  mendapatkan metode terbaik. Tujuan penelitian ini  adalah 1)  mendapatkan besarnya alokasi biomasa  masing-masing bagian tanaman, 2) mendapatkan nilai Biomass Expansion Factor (BEF) dan Root to Shoot Ratio (R) jenis Acacia mangium Willd., 3) mendapatkan persamaan alometrik biomasa masing-masing bagian tanaman, 4) mendapatkan  metode  terbaik  untuk  menduga  biomasa  di  hutan  tanaman  Acacia  mangium  Wild.  di Kalimantan Selatan. Pengambilan sampel pohon dilakukan secara destructive sebanyak 30 pohon contoh yang mewakili umur satu, dua, tiga, empat, lima, enam, delapan, dan sembilan tahun.  Berdasarkan pohon contoh tersebut didapatkan data biomasa, Biomass Expansion Factor dan Root to Shoot Ratio (R). Penyusunan model alometrik menggunakan model linear dan non linear. Hasil penelitian menunjukkan alokasi biomasa terbesar pada bagian batang (> 50%) dan ranting menyimpan biomasa terkecil Pada umur 1-9 tahun, besarnya BEF (Mg.m-3) berkisar antara 0,44-0,71 Mg.m-3 dan nilai BEF (Mg.) jenis Acacia mangiumWild. berkisar antara 1,06-1,80. Rata-rata nilai R yakni 0,16. Pada bagian permukan  tanah model alometrikterbaik yakniAGB = - 3.14 + 2.84 lnD dengan koefisien determinasi R2  98,6%. Metode penduga biomasaterbaik menggunakan BEF (Mg.Mg) per umur. Penggunaan metode ini membutuhkan persamaan alometrik penduga biomassa batang.
Biomass Estimation Using ALOS PALSAR for Identification of Lowland Forest Transition Ecosystem in Jambi Province Eva Achmad; I Nengah Surati Jaya; Muhammad Buce Saleh; Budi Kuncahyo
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 19 No. 2 (2013)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1389.107 KB) | DOI: 10.7226/jtfm.19.2.145

Abstract

The accurate information derived from high accuracy of remote sensing imagery analyses coupled with field observation data are required to develop a sound forest management. The study is mainly emphasized on assessment of the capabilities of remote sensing imageries to identify ecosystem types within the transitional  ecosystem. Since, the predominant transition ecosystems found within the study area were secondary forest, rubber jungle, rubber, oil palm plantation, and also other land cover such as mixed plantation and shrubs,  therefore,  the models developed were focused for those ecosystem types.  Prior to any further analysis, this study was initiated  to develop the biomass estimation model using 50 m resolution of ALOS PALSAR image in transition ecosystem, Jambi Province. Biomass models were developed by analyzing the relationship between  backscatter magnitude and field biomass. Backscatter magnitude from 1 polarization images, namely HH,  HV, and one additional band of  ratio of HH/HV  were analyzed simultaneously with  field biomass. The best models established are AGB = 42,069 exp (0.510 HV) and AGB = 1,610 exp (-0.02 HV²) with R² of 52.3% and 50,8%, respectively. The models are then used to map out the biomass distribution within the transition ecosystem and to identify the factors affecting the magnitude of biomass content for all transition ecosystem types.
Implementing Occupational Safety and Health Management System in a Forest Management Unit (FMU) X: A Financial Analysis Ika Lestari; Efi Yuliati Yovi; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 9, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18330/jwallacea.2020.vol9iss1pp51-62

Abstract

Occupational safety and health (OSH) issues in the Indonesian forestry sector have not been addressed properly even though activities in this sector pose a high risk of OSH disorders. The standard instrument (applies on a national scale) to ensure OSH protection in each business units is the Sistem Manajemen K3 (SMK3, Government Regulation Numbered 50 Year 2012). At present, not many forest management units in Indonesia are willing to implement integrated SMK3, because of the assumption that SMK3 is a cost-centered activity. This study aims to present an overview of SMK3 implementation cost (for 64, 122, and 166 criteria) in a Forest Management Unit (FMU) X, as well as analyzing financial capacity of the FMU X to allocate sufficient funds for the SMK3 implementation.  The results showed that the Acacia mangium plantation in the FMU X is a feasible business, indicated by the Net Present Value (NPV) of IDR377,690,545, Benefit-Cost Ratio (BCR) 3.96, and Internal Rate of Return (IRR) 25.02%. Further analysis shows that FMU X has good financial ability to support any cost required in implementating SMK3.  It is the best for the FMU X to implement 166 criteria (advanced level) of SMK3 (at a cost of IDR704,598/ha/year, NPV of IDR376,393,262, BCR 3.92, and IRR 24.75%).
SIMULASI MODEL PENGEMBANGAN GASIFIKASI LISTRIK BERBASIS BIOMASA HUTAN TANAMAN ENERGI Mira Yulianti; Dodik Ridho Nurrochmat; Budi Kuncahyo
RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan Vol 5 No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jkebijakan.v5i1.27210

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk merumuskan strategi kebijakan pengembangan model gasifikasi listrik berbasis biomasa di daerah-daerah pinggiran, melalui pembangunan Hutan Tanaman Energi (HTE).  Data primer dan sekunder diolah dengan regresi logit, gap analysis dan dirangkum dalam permodelan sistem dinamis. Hasil analisis menunjukkan bahwa masyarakat sangat bergantung pada listrik dan produknya dan bersedia untuk membayar lebih akibat adanya listrik. Jika hutan tanaman dialokasikan untuk menyediakan biomasa yang akan digunakan untuk listrik maka strategi utama yang harus disiapkan adalah menjamin kepastian harga beli bahan baku biomasa sehingga menjamin kelayakan usaha pemegang ijin hutan tanaman.  Pengembangan biomasa terutama kaliandra dipandang penting karena mampu menyediakan energi primer yang berdasarkan kajian ini masih jauh antara rencana dengan realisasi.  Rasio elektrifikasi akan lebih cepat tercapai jika hutan tanaman energi dengan jenis kaliandra dikembangkan dengan serius. Untuk itu, strategi yang sesuai adalah menjamin harga bahan baku di angka Rp 400.000/ton dan pengaturan intensitas panen. Strategi pemungkin lain adalah subsidi untuk instalasi pembangkit listrik gasifikasi. 
EVALUASI PENGGUNAAN BEBERAPA METODE PENDUGA BIOMASSA PADA JENIS Acacia mangium Wild Muhammad Abdul Qirom; M. Buce Saleh2; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.3.251-263

Abstract

 Metode  pengukuran  biomasa  sangatlah  beragam  dengan  akurasi  dan ketepatan  yang  berbeda-beda. Keakuratan dan  ketepatan metode pengukuran tersebut perlu dibandingkan untuk  mendapatkan metode terbaik. Tujuan penelitian ini  adalah 1)  mendapatkan besarnya alokasi biomasa  masing-masing bagian tanaman, 2) mendapatkan nilai Biomass Expansion Factor (BEF) dan Root to Shoot Ratio (R) jenis Acacia mangium Willd., 3) mendapatkan persamaan alometrik biomasa masing-masing bagian tanaman, 4) mendapatkan  metode  terbaik  untuk  menduga  biomasa  di hutan  tanaman  Acacia  mangium  Wild.  di Kalimantan Selatan. Pengambilan sampel pohon dilakukan secara destructive sebanyak 30 pohon contoh yang mewakili umur satu, dua, tiga, empat, lima, enam, delapan, dan sembilan tahun.  Berdasarkan pohon contoh tersebut didapatkan data biomasa, Biomass Expansion Factor dan Root to Shoot Ratio (R). Penyusunan model alometrik menggunakan model linear dan non linear. Hasil penelitian menunjukkan alokasi biomasa terbesar pada bagian batang (> 50%) dan ranting menyimpan biomasa terkecil Pada umur 1-9 tahun, besarnya BEF (Mg.m-3) berkisar antara 0,44-0,71 Mg.m-3 dan nilai BEF (Mg.) jenis Acacia mangiumWild. berkisar antara 1,06-1,80. Rata-rata nilai R yakni 0,16. Pada bagian permukan  tanah model alometrik terbaik yakni AGB = - 3.14 + 2.84 lnD dengan koefisien determinasi R2  98,6%. Metode penduga biomase terbaik menggunakan BEF (Mg.Mg) per umur. Penggunaan metode ini membutuhkan persamaan alometrik penduga biomassa batang.
Evaluasi Tegakan Mangrove Hasil Rehabilitasi dengan Teknik Guludan Reyna Ashari; Cecep Kusmana; Budi Kuncahyo
Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 9 No. 3 (2018): Jurnal Silvikultur Tropika
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.9.3.175-181

Abstract

Guludan technique becomes an alternative for mangrove rehabilitation in the disused fishponds. This technique has been implemented since 2005 on the coast of Jakarta. The wider application of this technique requires several studies in advance to see growth of the mangrove in the already planted guludan. This study aims to measure the growth of mangroves planted by guludan techniques, identify environmental factors that affect their mangrove growth, and analyze their relationship. Measurements were performed on 40 guludan samples which planted by Rhizopora mucronata in 2010 - 2013. Rhizopora mucronata grew well in the guludans, followed by Sonneratia caseolaris that grew naturally. Both were dominated by individuals in sapling phase. Meanwhile, environmental factors affecting mangrove growth were N-total, P, Mg, Ca, Na, clay texture, CEC, soil salinity, soil pH, and water level in the guludan.Keywords: guludan technique, mangrove rehabilitation, Rhizophora mucronata, Sonneratia caseolaris
PEMETAAN KERENTANAN MASYARAKAT DAN ADAPTASI BERBASIS EKOSISTEM HUTAN TERHADAP PERUBAHAN IKLIM (STUDI KASUS SI DAS CILIWUNG, JAWA BARAT) Tri Hastuti Swandayani; Herry Purnomo; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2011.8.1.34-53

Abstract

Perubahan iklim merupakan isu yang hangat saat ini dan mengakibatkan terjadinya perubahan ekosistem secara global. Daerah aliran sungai (DAS) ciliwung adalah salah satu DAS kritis di indonesia dan menjadi DAS prioritas berdasarkan Kepermenhut No.SK.328/Menhut-II/2009. DAS ciliwung rentang terhadap perubahan iklim, terutama suhu dan curah hujan. Kerentanan DAS ciliwung berpengaruh terhadap kerentanan masyarakat di DAS ciliwung , oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim di DAS ciliwung. penilaian kerentanan masyarakat terhadap dilakukan selama hampir 9 bulan dari bulan April-desember 2009. Penilaian kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim menggunakan 3 karakteristik kerentanan, yaitu: singkapan, kepekaan, dan kemampuan adaptasi. Kriteria dan indikator singkapan menggunakan hasil referensi KNLH (1998) atau Indeks penggunaan air. sedangkan kepekaan dan kemampuan adaptasi mencakup selutuh aspek kehidupan sosial yang meliputi sosial, ekonomi, SM, fisik, dan alam. Penilaian kerentanan menggunakan proses hirarki analisis (AHP) dan sistem informasi geografi (SIG). Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim di DAS ciliwung berbeda secara spasial. Kerentanan masyarakat di DAS ciliwung jilir termasuk ke dalam kelas medium dengan indeks 0,94. Sedangkan DAS ciliwung hulu dan tengah dikategorikan dalam kelas agak rendah dengan nilai indeks 0,16 dan 0,11. Perunahan iklim tidak bisa dicegah secara tuntas sehingga diperlukan adaptasi terhadap perubahan iklim. Strategi adaptasi terhadap perubahan ilklim dapat dilakukan dengan pengelolaan hutan secara lestari.
POLA SEBARAN SPASIAL BIOMASSA DI AREAL REVEGETASI BEKAS TAMBANG NIKEL Witno Witno; Nining Puspaningsih; Budi Kuncahyo
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol 1, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/bonita.v1i2.308

Abstract

The aim of this study was to identify the spatial pattern of biomass distribution in the revegetation of the post-mining area in PTVI. The nearest neighbour analysis method by comparing the distance of an individual was used to determine the spatial biomass distribution pattern in the post nickel mining revegetation area of PTVI. The nearest neighbour analysis was used to explain the distribution pattern of locations using a calculation that considers the distance, number of locations and acreage. This analysis produced a final result in the form of an index ranging from 0 until more than 1. It can be explained as NNI <1, clustered spatial pattern, NNI = 1, random spatial pattern and NNI> 1 dispersed spatial pattern. This research was found that there are clustered (K1, K2, K3) and dispersed patterns (K4) of biomass spatial distribution patterns in PTVI’s post nickel mining revegetation area.Keywords: post-mining, revegetation, biomass, spatial distribution pattern
Tapak Ekologi (Ecological Footprint) dan Biokapasitas Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane Resti Kharisma; Herry Purnomo; Budi Kuncahyo
Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Vol 12 No 2 (2022): Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (JPSL)
Publisher : Graduate School Bogor Agricultural University (SPs IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jpsl.12.2.197-209

Abstract

The Ecological footprint/EF is used as a tool to measure human consumption of the resource when compared they ability to regenerate. EF measures how much bio-productivity (BC) areas are needed by the population for sustainable resource production activities that are used to meet the needs and absorb the resulting waste. If EF over then BC, overshoot will be happened. Overshoot usually occurs short term but if continuously increasing will cause environmental degradation. Cisadane watershed became study area because it was part of government program to minimize environmental degradation. The purpose of this study was determining the condition of the upstream Cisadane watershed, whether the ecology is surplus or deficit. The result of study explained that upstream Cisadane watershed was ecology deficit from 2016-2020.