Olvyanda Ariesta
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KEBUDAYAAN LOKAL SEBAGAI POTENSI DALAM BERKARYA KOMIK Ariesta, Olvyanda
Bercadik Vol 1, No 1 (2013): Bercadik | Diskursus Budaya Lokal
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.465 KB)

Abstract

ABSTRAK : Komik adalah media bercerita melalui gambar-gambar yang disusun sedemikian rupa membentuk narasi. Dalam perkembangannya, komik sempat mendapat reaksi keras dari pemerintah Amerika karena dianggap membawa ideologi anti pemerintaah pada tahun 1954, sehingga komik-komik tersebut dibakar. Namun seiring perkembangan zaman, komik mendapat tempatnya sendiri di masyarakat, perkembangan komik pun semakin pesat, bukan hanya sebagai bacaan hiburan, tapi di dalamnya juga terdapat pesan-pesan yang menyusung nilai-nilai kebudayaan. Kebudayaan lokal yang ada di Nusantara memiliki potensi yang besar sebagai ide pembuatan komik. Dengan mengangkat kebudayaan lokal, baik secara tema maupun visual di dalam komik, maka melalui komik dapat ikut memperkenalkan kebudayaan bangsa kepada pembaca yang multikultural, serta memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan tradisional.Kata kunci: Komik, Budaya lokal, Kerinci
SENI ARSITEKTUR ISLAM MINANGKABAU DARI MASA KE MASA Muhammad Husni; Olvyanda Ariesta
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2430.797 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v4i2.64

Abstract

Semenjak masuknya Islam ke Minangkabau mulai dari zaman klasik yang bersifat tradisional hingga sekarang corak seni arsitektur Islam Minangkabau berupa surau dan masjid terus berkembang dengan daya tarik tersendiri sehingga menarik untuk dikaji dan diteliti. Penelitian ini mengkaji secara spesifik bentuk atau tipologi atap surau dan masjid di Minangkabau sebagai ciri khas yang paling menonjol pada arsitektur bangunan umat Islam. Penelitian ini bersifat deskriptif-komparatif dengan menggunakan sumber data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Populasi sampel sebagai objek studi dipilih berdasarkan kelompok corak tertentu yang dapat mewakili coraknya. Hasil yang dicapai dari penelitian ini telah menemukan corak arsitektur surau dan masjid di Minangkabau dari zaman klasik sampai sekarang terbagi ke dalam dua tipologi yaitu tipologi atap tumpang dan tipologi atap kubah. Masing-masing dari kedua tipologi itu memiliki sejumlah varian tertentu yang dipengaruhi oleh faktor peradaban Hindu, China, Islam dan adat Minangkabau yang bersifat estetisfilosofis.
PENGEMBANGAN USAHA UKM BATIK NAGARI TUO PARIANGAN MENGHADAPI TANTANGAN GLOBALISASI Hamdan Akromullah; Hendra Hendra; Olvianda Ariesta
Jurnal Abdimas Mandiri Vol 3, No 1
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1262.427 KB) | DOI: 10.36982/jam.v3i1.774

Abstract

Batik Nagari Tuo Pariangan merupakan program revitalisasi kekayaan budaya daerah yang dikembangkan Pemerintah Daerah. Pengembangan batik Pariangan dimulai semenjak ditemukannya naskah kuno pada tahun 2017 di Pariangan yang berisikan motif tradisi dan kandungan sejarah  yang sarat dengan pesan dan makna untuk kehidupan masyarakat. Semenjak itu dibentuklah beberapa kelompok pengrajin batik yang salah satunya adalah UKM batik Nagari Tuo Pariangan yang menghasilkan produk batik dengan motif khas Pariangan.  UKM batik ini menghasilkan produk batik seperti kain panjang, baju kurung dan selendang yang dijual di rumah salah seorang warga dan menjadi sekretariat UKM batik ini. Melihat permasalahan diatas, perlu diadakan suatu kegiatan pelatihan kepada pengrajin tentang desain dan pemasaran produk batik. Produk yang dihasilkan kalau dilihat secara desain masih terbatas pada motif tradisi yang ditemukan. Selain itu secara fungsi produk yang dihasilkan masih berupa produk kain panjang, baju kurung dan selendang yang penggunaannya masih terbatas. Oleh karena itu perlu dirancang suatu kegiatan pelatihan dan pembinaan mengenai desain produk dan pemasaran yang nantinya akan mendongkrak popularitas dari batik Nagari Tuo Pariangan. Untuk pemasaran perlu dirancang sistem pemasaran modern dengan membuat galeri khusus untuk mendisplay beragam produk yang dihasilkan. Pemasaran juga perlu didukung dengan sistem pemasaran Online. Hal ini bertujuan untuk memudahkan promosi.Kata kunci:  Batik, Desain Produk Dan Pemasaran
PERANCANGAN ILUSTRASI CERITA RAKYAT ANGGUN NAN TONGGA MELALUI MEDIA E-BOOK Assaidatul Husna; Yoni Sudiani; Olvyanda Ariesta
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 1 (2019): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v8i1.12998

Abstract

AbstrakPerancangan ini bertujuan untuk menyajikan kembali cerita rakyat Anggun Nan Tongga sehingga dapat memperkenalkan dan meningkatkan daya tarik remaja terhadap cerita rakyat Indonesia tersebut. Anggun Nan Tongga merupakan seorang pemuda yang berupaya menjaga harga diri keluarganya, namun dalam upayanya tersebut Anggun Nan Tongga hehilangan kepercayaan dari kekasihnya Putri Gondan Gandoriah. Proses perancangan diawali dengan pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka, wawancara, dan kuesioner selanjutnya menentukan konsep visual, perancangan karakter, sinopsis, premis, plot, storyline, storyboard, pewarnaan digital, me-layout dan pengaplikasian. Hasil yang dicapai adalah menghadirkan ilustrasi dalam bentuk karya visual ilustrasi dengan target audiens remaja berusia 13-18 tahun. Dengan adanya e-book ilustrasi Anggun Nan Tongga diharapkan cerita rakyat ini mudah dijangkau oleh remaja yang saat ini dekat dengan penggunaan internet. Serta elemen-elemen grafis seperti ilustrasi, layout, warna, tipografi/teks menjadi unsur penting dalam merancang ilustrasi cerita rakyat ini sehingga dapat menarik perhatian remaja.Kata Kunci: anggun dan tongga, e-book, ilustrasi.AbstractThis design aims to present back Anggun Nan Tongga folklore so that it can introduce and enhance the appeal of adolescent to the story of the people of Indonesia. Anggun Nan Tongga is a young man who seeks to maintain the dignity of his family, but in the effort Anggun Nan Tongga losing the trust of Princess Gondan Gandoriah lover. The design process begins with data collection through observation, interview, literature study, and further questionnaire determines visual concepts, character design, synopsis, premise, plot, storyline, storyboard, digital coloring, layout and application. The result is illustration in visual illustration with target audience of 13-18 year old teenager. With the e-book illustration Anggun Nan Tongga expected this folklore easy to reach by adolescents who are currently close to the use of the internet. As well as graphic elements such like illustrations, layouts, colors, typography / text become an important element in designing this folklore illustration so as to attract the attention of adolescents.  Keywords: anggun dan tongga, e-book, ilustrasi.
KEBUDAYAAN LOKAL SEBAGAI POTENSI DALAM BERKARYA KOMIK Olvyanda Ariesta; Rosta Minawati
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 1, No 1 (2013): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.468 KB) | DOI: 10.26887/bcdk.v1i1.28

Abstract

AbstrakKomik adalah media bercerita melalui gambar-gambar yang disusun sedemikian rupa membentuk narasi. Dalam perkembangannya, komik sempat mendapat reaksi keras dari pemerintah Amerika karena dianggap membawa ideologi anti pemerintaah pada tahun 1954, sehingga komik-komik tersebut dibakar. Namun seiring perkembangan zaman, komik mendapat tempatnya sendiri di masyarakat, perkembangan komik pun semakin pesat, bukan hanya sebagai bacaan hiburan, tapi di dalamnya juga terdapat pesan-pesan yang menyusung nilai-nilai kebudayaan.Kebudayaan lokal yang ada di Nusantara memiliki potensi yang besar sebagai ide pembuatan komik. Dengan mengangkat kebudayaan lokal, baik secara tema maupun visual di dalam komik, maka melalui komik dapat ikut memperkenalkan kebudayaan bangsa kepada pembaca yang multikultural, serta memperkuat identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang kaya akan kebudayaan tradisional.Kata kunci : Komik, Budaya lokal, Kerinci
PERANCANGAN MASKOT ISI PADANGPANJANG SEBAGAI MEDIA BRANDING Olvyanda Ariesta
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 3 No. 2 (2020): Jurnal Bahasa Rupa April 2020
Publisher : LPPM Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v3i2.490

Abstract

Branding activities carried out to provide an image to the public about a brand. As one of the tertiary institutions in Sumatra that specializes in arts education, the Indonesian Institute of Art (ISI) Padangpanjang does not have a brand identity that is able to reach the public effectively. This has caused a lack of relationship between the ISI Padangpanjang and the public. To build a strong institutional identity that easily touches the public emotionally, gives a feeling of being closer so as to foster public trust in the institution, a mascot of ISI Padangpanjang has been designed. In the process, branding theory, as well as analysis of the vision of ISI Padangpanjang became the foundation in creating a mascot design. The results obtained are the creation of a mascot representing the ISI Padangpanjang named Si Kuaw. The Si Kuaw mascot design method is carried out through the design stages: research, thumbnails, roughs, comprehensive, and ready to press. As a media branding, the Si Kuaw mascot has been applied to various media, such as: motion graphics, art exhibition posters, new student acceptance brochures, pins, and mascots in the form of dolls.
PELATIHAN SENI KALIGRAFI ISLAM DI PESANTREN THAWALIB GUNUANG Hanafi - Hanafi; Olvyanda Ariesta; Ikhsan Maulana
Batoboh: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol 5, No 2 (2020): BATOBOH : JURNAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bt.v5i2.1297

Abstract

  Pelatihan kaligrafi bagi siswa terutama di pesantern sangat di perlukan. Hal ini untuk mendukung proses  pembelajaran agar lebih terkoordinir dengan baik. Namun tidak semua pesantren yang memberikan perhatian lebih terhadap materi kaligrafi. Padahal mata pelajaran kaligrafi memberikan dampak cukup besar bagi seseorang yang mempelajarinya. Seseorang yang belajar kaligrafi akan memiliki kepekaan rasa dan kehalusan perasaan. Kegiatan pelatihan kaligrafi ini lah yang dilaksanakan di pesantren modern Thawalib Gunung. Siswa tingkatan Aliyah selama ini belum dibekali pengetahuan mendalam mengenai membuat kaligrafi dengan beragam alat seperti kalam dan juga kuas. Membuat kaligrafi tentunya mmebutuhkan pengetahuan dan pengalaman tersendiri sehingga hasilnya menarik. Kegiatan ini dimulai dengan memberikan materi tentang jenis khat kaligrafi dan bagaimana karakter dari masing masing khat tersebut. Selanjutnya siswa diperkenalkan dengan teknik dasar kaligrafi menggunakan kalam. Untuk mempelajari kaligrafi, maka siswa harus mencoba dahulu bagaimana menggunakan kalam dan menorehkannya di kertas.Latihan ini dimulai dengan membuat masing-masing khat . Selanjutnya siswa akan belajar mengenai membuat tulisan kaligrafi dengan menggunakan kuas. Penggunaan kuas juga bertujuan agar siswa mampu lebih mengeksplorasi lagui berbagai bentuk khat yang ada. Di materi akhir siswa diberi kebebasan membuat khat dengan cat dengan beragam warna untuk menghasilkan beragam bentuk khat yang menarik.Kata Kunci : Pelatihan, Kaligrafi, Karakter
MOTION COMIC CERITA RAKYAT MINANGKABAU: KABA BUJANG PAMAN SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK GENERASI MUDA Olvyanda Ariesta; Kurniasih Zaitun; Tri Alfalaq
ARTCHIVE: Indonesian Journal of Visual Arts and Design Vol 4, No 1 (2023): ARTCHIVE : Indonesia Journal of Visual Art and Design
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53666/artchive.v4i1.3677

Abstract

Abstrak Globalisasi informasi saat ini menyebabkan terjadinya degradasi budaya yang mengakibatkan lunturnya nilai-nilai atau karakteristik budaya suatu daerah. Menceritakan kembali cerita rakyat yang mengandung nilai-nilai luhur kebudayaan merupakan salah satu cara untuk menanamkan nilai moral kepada generasi muda. Kaba Bujang Paman merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Minangkabau memiliki pesan-pesan moral dengan kearifan budayannya. Cerita tersebut memiliki potensi menjadi salah satu usaha dalam pendidikan karakter untuk generasi muda melalui storytelling. Dengan metode penciptaan karya yang terdiri dari: persiapan, perancangan, perwujudan, dan diakhiri dengan penyajian karya, maka dihasilkan karya motion comic yang diadaptasi dari  kaba Bujang Paman. Di dalam motion comic ini terdapat pesan-pesan moral yang diharapkan bisa menjadi salah satu media untuk menanamkan nilai budaya dan membentuk karakter generasi muda Indonesia yang berbudi luhur.           Kata kunci: Minangkabau, Bujang Paman, motion comic, pendidikan karakterThe current globalization of information had caused cultural degradation which results in the fading of cultural values or characteristics of a region. Retelling folklore containing noble cultural values was one way to instill moral values in the younger generation. Kaba Bujang Paman was a folklore originating from Minangkabau which had moral messages with its cultural wisdom. The story had the potential to become one of the efforts in character education for the younger generation through storytelling. With the method of creating works consisting of: preparation, design, embodiment, and presentation of the work, a motion comic was produced which was adapted from kaba Bujang Paman. In this motion comic there were moral messages that was expected to become a medium for instilling cultural values and shaping the virtuous character of Indonesia's young generation.