Hatmi Negria Taruan
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

BENTUK DAN MAKNA LUKISAN BERTEMAKAN EKSPRESI WAJAH NEGERIKU HATMI NEGRIA TARUAN; SUSANDRO SUSANDRO
Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni Vol 23, No 1 (2021): Ekspresi Seni : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni
Publisher : LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.859 KB) | DOI: 10.26887/ekspresi.v23i1.1562

Abstract

AbstrakSetiap wajah menggambarkan rupa yang beragam seperti sedih, gembira, takut, marah dan sebagainya. Namun ekspresi demikian tidaklah menampak di atas kanvas sebagaimana wajarnya dalam bentuk rupa ekspresionis. Bentuk yang telah terdistorsi itupun mendapat berbagai pemaknaan dari penikmatnya yang dapat mengisi ruang kosong dari karya. Artikel ini bertujuan memaparkan bentuk serta makna yang digagas oleh senimannya. Metode yang digunakan yaitu berlandaskan pada ingatan, menyelisik catatan-catatan sepanjang proses serta mengamati karya secara langsung. Proses pemaknaan bersandar pada teori interpretasi Paul Riceour yang bersandar pada tanda dan simbol yang dianggap sebagai teks. Hasil penelitian ini ialah makna-makna yang terbaca masih pada karya menunjukkan kondisi sebagaimana realitanya, meski tidak lagi disajikan dengan rupa sebagaimana realitasnya.AbstractEach face depicts various forms such as sad, happy, afraid, angry, and so on. However, such an expression does not appear on the canvas as it usually would in an expressionist form. Instead, the distorted form gets various meanings from the audience, filling the space of the work. This article aims to describe the structure and to mean that the artist-initiated. The method used is based on memory, examining notes throughout the process, and observing the work directly. The meaning process relies on Paul Riceour's interpretation theory which relies on signs and symbols considered texts. This research shows that the meanings that are read in the works show the conditions as they are in reality, even though they are no longer presented in the form of existence.
PENGOLAHAN LIMBAH KACA MENJADI PRODUK SENI KALIGRAFI GAMPONG JALIN KOTA JANTHO Hatmi Negria Taruan; Reza Sastra Wijaya; Yulfa Haris Saputra
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i2.516

Abstract

Limbah sering dikenal dengan sampah yang merupakan suatu bahan buangan hasil proses produksi industry dan rumah tangga dimana kehadirannya tidak diinginkan. Salah satu limbah yang adalah limbah kaca. Limbah kaca banyak terdapat ditemukan di tempat-tempat industri kaca seperti akuarium, pabrik botol minuman, pengolahan lemari kaca dan lain sebagainya. Desa jalin adalah salah satu kawasan di kota jantho aceh besar yang memiliki potensi kunjungan wisata alam yang ramah bagi seluruh kalangan. Oleh karena itu alangkah baiknya Kawasan ini dapat sekaligus dijadikan sebagai tempat pengolahan benda seni sebagai penambah daya tarik, salah satunya pengolahan limbah kaca. limbah kaca tersebut diolah dan dimanfaatkan agar menjadi suatu barang yang bernilai ekonomis. Salah satu cara mengolah limbah kaca menjadi produk seni kaligrafi yang bernilai ekonomis bagi masyarakat di kota jalin Jantho, Aceh Besar. Langkah dalam melakukan pengabdian masyarakat ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama identifikasi masalah dan tahap kedua penyusunan program. Dalam penyusunan program terdiri dari beberapa tahapan antara lain : Persiapan kepada masyarakat, Pengenalan souvenir-souvenir yang  menghasilkan produk yang kita inginkan dan cara pembuatannya, Mengajarkan kepada masyarakat cara mengolah bahan dan membuat produk di kampung Jalin. Cesspit is often known as rubbish which is a cesspit material produced by industrial and home industry production processes where its presence is undesirable. One cesspit that is glass cesspit. Glass cesspit is found in many places in the glass industry such as aquariums, beverage bottle factories, glass cabinet processing and so on. The jalin vilage  is one of the regions in the  Aceh Besar  jantho city that has the potential for friendly natural tourist visits for all walks of life. Therefore it would be nice this area can also be used as a place of processing of art objects as an addition to attraction, one of which is the treatment of glass cesspit. The glass cesspit is processed and utilized to become an economically valuable item. One way to process glass cesspit into calligraphy art products that are of economic value to people in the intertwined city of Jantho, Aceh Besar. This step in conducting community service consists of two stages, the first stage is the identification of problems and the second stage is the preparation of the program. In the preparation of the program consists of several stages, among others: Preparation to the community, introduction of souvenirs that produce the products we want and how to make them, teach the community how to process ingredients and make products in the village of Jalin
VISUALISASI EKSPRESI WAJAH NEGATIF DALAM FENOMENA Hatmi Negria Taruan
ARTCHIVE: Indonesian Journal of Visual Arts and Design Vol 1, No 1 (2018): ARTCHIVE : Indonesia Journal Of Visual Art And Design
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53666/artchive.v1i1.580

Abstract

Wajah menekankan pada identitas diri bangsa atau ciri pribadi dan karakter bangsa atau ekspresi rakyat indonesia, identitas inilah yang diharapkan dan diinginkan agar diterima orang lain. Identitas diri bangsa mencakup suatu keadaan, perbuatan yang baik dan buruk. Identitas diri bangsa bersifat interaksi dengan bangsa lain. Ekspresi Wajah Negatif sebagai bentuk subjek, yang selalu meracuni perenungan dan melahirkan ide-ide, dengan penggambaran ekspresi wajah-wajah manusia. Bahasa visual abstrak, merupa- kan pemahaman suatu bentuk visual, dengan proses esplorasi atau eksperimen yang tak terikat dalam pilihan visual, atau seniman bebas dalam bereksperimen dengan teknik dalam penciptaan. Bentuk karya ini lebih tepatnya adalah suatu bentuk dari informasi dari bahasa visual yaitu abstraksi simbolik, dari bentuk ekspre- si wajah manusia yang ditrasformasikan dengan kecendrungan bentuk yang ekspresionisme. Dalam artian proses kerjanya menghilangkan atau menyederhanakan bentuk-bentuk objeknya
PERTUNJUKAN SIDALUPA BURAQ LAM TAPA DI BUBON-ACEH BARAT DALAM PERSPEKTIF PERFORMANCE STUDIES Susandro Susandro; Hatmi Negria Taruan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 10, No 2 (2021): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v10i2.27441

Abstract

This article aims to investigate the art of Sidalupa Buraq Lam Tapa in Bubon-West Aceh from various perspectives using the perspective of performance studies. The method applied is qualitative with literature study or document data collection, observation, interviews, and audio-video recording. The results obtained are that the community (the audience) is also a determinant of the existence and sustainability of Sidalupa art, because this art always fills every event organized by the community. In other words, this art is held based on requests or invitations from the community. The high level of public interest in Sidalupa is due to the fact that this art can entertain guests or spectators at every event that is held, whether the apostle's circumcision, akikah, weddings, and other traditional events, even in campaign events, parades and the like. However, the Sidalupa performance does not only fill the stage or space that is oriented towards entertainment alone, but also exists in spaces that are oriented to aesthetic and artistic values, such as special arts events and the like, both at local and national levels. Furthermore, departing from the appreciation of the community, while it can be concluded that the Sidalupa art performance is an event that is carried out by every line of society. Because Sidalupa is not only limited to art, but also the identity of the community that owns it. Keywords: sidalupa, audience, performance studies. AbstrakArtikel ini bertujuan menyelisik kesenian Sidalupa Buraq Lam Tapa di Bubon-Aceh Barat dari berbagai sisi menggunakan kacamata performance studies. Metode yang diterapkan yakni kualitatif dengan teknik studi pustaka atau pengumpulan data dokumen, observasi, wawancara, dan perekaman audio-video. Hasil yang diperoleh ialah masyarakat (penonton) juga menjadi penentu keberadaan dan keberlangsungan kesenian Sidalupa, karena kesenian ini selalu mengisi setiap acara yang diselenggarakan oleh masyarakat. Dalam arti kata lain, kesenian ini digelar berdasarkan permintaan atau undangan dari masyarakat. Cukup tingginya minat masyarakat terhadap Sidalupa disebabkan karena kesenian ini dapat menghibur tamu atau penonton di setiap acara yang diselenggarakan, baik acara sunat rasul, akikah, pernikahan, serta acara adat lainnya, bahkan dalam acara kampanye, pawai dan semacamnya. Namun, pergelaran Sidalupa tidak hanya mengisi panggung atau ruang yang berorientasi pada hiburan semata, melainkan juga hadir pada ruang yang beroirentasi pada nilai estetik dan artistik, seperti acara khusus kesenian dan semacamnya, baik di tingkat lokal maupun nasional. Lebih jauh, beranjak dari apresiasi masyarakat yang demikian, sementara dapat ditarik kesimpulan bahwa pertunjukan kesenian Sidalupa merupakan perhelatan yang dilakoni oleh setiap lini masyarakat. Karena Sidalupa tidak hanya sebatas kesenian, tetapi juga identitas masyarakat pemiliknya.   Kata Kunci:sidalupa, penonton, kajian performance. Authors:Susandro : Institut Seni Budaya Indonesia AcehHatmi Negria Taruan : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Dadek, Teuku. (2015). Asal-usul Aceh Barat. Aceh Bar at: Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah.Jaeni. (2014). Kajian Seni Pertunjukan dalam Perspektif Komunikasi Seni. Bogor: IPB Press.Moleong, Lexy, J. (2021). Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.Pramayoza, Dede. (2013). Strategi Membaca ‘Pergelaran’, Seorang Antropolog, dan Sebuah Mozaik Penelitian, dalam Pergelaran: Sebuah Mozaik Penelitian Seni-Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.RN, Herman. (2016). Dalupa: Teater Tradisional Pantai Barat. Buletin Tuhoe edisi VII Banda Aceh: JKMA Aceh.Rohidi, Tjetjep Rohendi. (2011). Metodologi Penelitian Seni. Semarang: Cipta Prima Nusantara Semarang.Susandro. (2021). Geliat Kesenian Tradisional Dalupa di Aceh Barat. Banda Aceh: Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh. https://bulletinhaba.kemdikbud.go.id/index.php/haba/issue/view/4/36Susandro. (2021). “Wawancara Syekh Din dan Rahmat Saputra”. Hasil Dokumentasi Pribadi: 11 Juli 2021, Aceh Barat.Susandro, Wirandi, Rika., & Taruan, Hatmi Negria. (2021). Dramaturgi Kesenian Tradisional Dalupa Produksi Sanggar Seni Datok Rimba di Woyla Aceh Barat. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10 (1), 15-23. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.22730
PEMAMPAATAN LIMBAH KERTAS MENJADI KALIGRAFI HIASAN DINDING KAMPUNG JALIN KOTA JANTHO Anni Kholilah; Hatmi Negria Taruan; Reza Sastra W
DESKOVI : Art and Design Journal Vol 2, No 1 (2019): JUNI 2019
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v2i1.403

Abstract

Kampung jalin merupakan daerah yang berdekatan dengan kota Jantho. Jarak jalin dengan kota jantho dapat diakses dengan kendaraan roda empat maupun roda dua selama ±30 menit perjalanan. Secara geografis jalin dikelilingi lahan subur sehingga sebagian besar masyarakat jalin kondisi tersebut mengindikasikan bahwa jalin didominasi oleh sektor pertanian dan perkebunan, sedangkan potensi kesenian masih sangat minim terutama di bidang seni rupa. hal tersebut menimbulkan pemikiran bahwa peluang seni rupa untuk berkembang masih sangat terbuka. Minimnya pengetahuan masyarakat akan keterampilan seni membutuhkan bimbingan dan pelatihan oleh tenaga ahli sehingga keterampilan seni ini sendiri dapat di konversi menjadi peluang usaha dan memiliki nilai ekonomis, salah satunya dengan memanfaatkan limbah kertas menjadi kaligrafi hias sebagai cendra mata. Kaligrafi hias merupakan cara sederhana mengolah bahan-bahan kertas tidak terpakai menjadi hiasan dengan memanfaatkan benda-benda sederhana yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi benda yang memiliki nilai seni dan memiliki nilai jual. Keutamaan kaligrafi hias ini sendiri yakni dari bahan-bahan baku yang mudah didapatkan dengan harga yang tergolong cukup murah dan memiliki nilai jual yang tinggi.Interlace village is an area adjacent to the city of Jantho. Distance intertwined with the city of Jakarta can be accessed by four-wheeled vehicles or two-wheeled vehicles for ± 30 minutes. Geographically intertwined surrounded by fertile land so that most people intertwine these conditions indicate that interbreeding is dominated by the agricultural and plantation sectors, while the potential of art is still very minimal, especially in the field of art. this raises the idea that the opportunities for art to develop are still very open. The lack of public knowledge of art skills requires guidance and training by experts so that the art skills themselves can be converted into business opportunities and have economic value, one of which is by utilizing paper waste into decorative calligraphy as eye cendra. Decorative calligraphy is a simple way to process unused paper materials into decorations by utilizing simple objects that are processed in such a way that they become objects that have artistic value and have selling points. The virtue of this decorative calligraphy is that it is from raw materials that are easily obtained with prices that are quite cheap and have a high selling value.
CITRA PEREMPUAN DALAM LUKISAN KARYA PERMADI LYOSTA Hatmi Negria Taruan; Susandro Susandro; Rika Wirandi
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 11, No 2 (2022): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v11i2.40086

Abstract

This study aims to understand the ethnographic and gender aspects and values in the visual use of women, themes about women, and the representation of gender injustice towards women in paintings by Permadi Lyosta in 2000-2007.This study uses a descriptive qualitative research method using data collection techniques through observation, interviews, and visual data collection methods in the form of physical works and works in catalogs. Ethnographic and gender approaches are the perspectives used in this study. The results of this study show that Permadi Lyosta's post-New Order works are more dominant in using women's visuals with themes of women's backwardness and marginalization in social life through paintings of women who are depicted as manual laborers as farmers, traders in traditional markets. As women, wives and housewives with cultural burdens and gender roles as women who raise children at home. There is almost no image of women depicted as figures who fill strategic roles in the public sphere. On the other hand, Permadi's works are a kind of criticism of the gender injustice experienced by women. Keywords: woman, painting, permadi lyosta. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami aspek dan nilai etnografis dan gender dalam penggunaan visual perempuan, tema-tema tentang perempuan, serta representasi ketidakadilan gender terhadap perempuan dalam lukisan karya Permadi Lyosta tahun 2000-2007. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskripstif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta metode pengumpulan data visual berbentuk karya-karya fisik dan karya-karya dalam katalog. Pendekatan etnografi dan gender adalah perspektif yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan karya-karya Permadi Lyosta pasca orde baru lebih dominan memakai visual perempuan dengan tema-tema keterbelakangan dan ketermajinalan perempuan dalam kehidupan sosial melalui lukisan-lukisan perempuan yang digambarkan sebagai pekerja kasar sebagai petani, pedagang di pasar tradisional. Sebagai perempuan, istri, dan ibu rumah tangga dengan beban kultural serta peran gender sebagai perempuan yang mengasuh anak-anak di rumah. Hampir tidak ada gambaran citra perempuan yang tergambar sebagai sosok-sosok yang mengisi peranan strategis di ruang publik. Di sisi lain, karya-karya Permadi tersebut semacam kritik terhadap ketidakadilan gender yang dialami perempuan. Kata Kunci: perempuan, karya lukis, permadi lyosta. Authors:Hatmi Negria Taruan : Institut Seni Budaya Indonesia AcehSusandro : Institut Seni Budaya Indonesia AcehRika Wirandi : Institut Seni Budaya Indonesia Aceh References:Fitryona, N., & Kharisma, M. (2021). Darvies Rasjidin dan Perubahan Karyanya Sebuah Kajian Sosiohistoris. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10(1), 35-44. https://doi.org/10.24114/gr.v10i1.23677.Khairi, A. I., & Hafiz, A. (2022). Kajian Estetika Lukisan Realis Kontemporer Drs. Irwan, M. Sn. yang Berjudul di Ujung Tanduk. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 11(1), 138-146.Rostiyati, A. (2019). Memaknai Lukisan Perempuan dalam Konteks Budaya Visual. Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya., 20(2), 187-202.Yulianto, N., & Yuliastuti, N. (2019). Dinamika Citra Tubuh Perempuan dalam Lukisan KARYA Luna Dian Setya. Imajinasi: Jurnal Seni, 13(1), 27-34.