Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HABITAT PEMIJAHAN DAN ASUHAN IKAN BILIH Mystacoleucus padangensis (Bleeker, 1852) DI SUNGAI NABORSAHAN, DANAU TOBA, SUMATERA UTARA Ani Suryanti; Sulistiono Sulistiono; Ismudi Muchsin; Endi Setiadi Kartamihardja
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 9, No 1 (2017): (April, 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.198 KB) | DOI: 10.15578/bawal.9.1.2017.33-42

Abstract

Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan salah satu ikan dari famili cyprinidae yang melakukan ruaya pemijahan dari danau menuju sungai. Habitat pemijahan dan asuhanikan bilih perlu dikaji sebelum melakukan upaya pemulihan kembali ikan bilih di Danau Toba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat pemijahan dan habitat asuhan ikan bilih. Habitat pemijahan ditentukan berdasarkan jumlah ikan matang gonad dan habitat asuhan diidentifikasi berdasarkan keberadaan juvenil ikan bilih di Sungai Naborsahan, Danau Toba Sumatera Utara. Pengambilan sampel ikan bulanan (April 2013 sampai Mei 2014) dilakukan di enam stasiun yang ditentukan berdasarkan karakteristik sungai dan habitat ikan bilih. Ikan bilih matang gonad (siap mijah) dapat ditemukan di semua stasiun penelitian. Seluruh lokasi penelitian merupakan habitat pemijahan ikan bilih. Juvenil ikan bilih hanya ditemukan di stasiun 3, 4, 5 dan 6. Oleh karena itu, diduga stasiun 1 dan 2 merupakan daerah pemijahan bagi ikan bilih sedangkan stasiun 3, 4, 5, dan 6 merupakan daerah pemijahan sekaligus juga daerah asuhan ikan bilih.Bilih fish (Mystacoleucus padangensis) is a species of the Cyprinidae family that have migration pattern from the lake to the river for spawning purpose. Spawning and nursery ground of bilih fish needs to be assessed before making a recovery effort of bilih fish in Lake Toba. The purpose of this study was to determine the nursery and spawning ground of bilih fish. Spawning ground is determined based on the number of mature gonad fishes and the nursery ground identified based on the presence of juvenile fishes in the Naborsahan River, Toba Lake, North Sumatra. The montly samples (April 2013 to May 2014) were collected from six stations that was determined based on the characteristics of the river and bilih fish habitat . The results showed that the mature gonad fish can be found at all research stations. The entire study sites are spawning habitat of bilih fish. The juvenile  was found at the stations 3, 4, 5 and 6. This phenomena suggests that the stations 1 and 2 possibly were only a spawning ground while the stations 3, 4, 5, and 6 were both the spawning and nursery ground of bilih fish.
Keterkaitan Mangrove, Kepiting Bakau (Scylla Olivacea) dan Beberapa Parameter Kualitas Air di Perairan Pesisir Sinjai Timur Andi Chadijah; Yusli Wadritno; Sulistiono Sulistiono
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.112 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.523

Abstract

Kecamatan Sinjai merupakan salah satu daerah kabupaten pesisir yang terletak di Kabupaten Sinjai, memiliki hutan bakau tapi waktu meningkatkan pemanfaatan dan menurunnya kualitas habitat kepiting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari magrove hubungan dengan kepiting lumpur dan kualitas air. Pengumpulan data dilakukan sejak Februari-Mei 2011. Hubungan magrove dengan kepiting lumpur dan kualitas air dianalisis menggunakan oleh Principal Component Analysis (PCA). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa matriks korelasi informasi kunci dijelaskan dalam dua sumbu utama (sumbu 1 dan 2) kualitas informasi masing-masing 47,1% dan 40%, sehingga hasil analisis karakteristik habitat mangrove menurut stasiun penelitian adalah berdasarkan beberapa parameter yang harus dijelaskan melalui dua sumbu utama 87.1% dari total jangkauan.Kata kunci: Mangrove, kepiting MudSinjai Subdistrict is one of the coastal district area located in Sinjai Regency, have mangrove forests but  a time of increasing utilization and declining habitat quality  of crab. The objectives of this research was to study the relationship magrove with mud crab and quality of water. The data was collected since February to May 2011.  The relationship magrove with mud crab and quality of water was analyzed using by Principal Component Analysis (PCA). The results obtained  show that the correlation matrix of key information is described in two main axes (axes 1 and 2) the quality of information respectively 47.1% and 40%, so the results of the analysis of mangrove habitat characteristics according to the research station is based on several parameters have to be explained through two main axes of 87.1% of the total range.Keywords: Mangrove, Mud crabs
PENILAIAN PULAU KECIL SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN INVESTASI EKOWISATA (Studi Kasus Pulau Tidung Kecil, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI) Puguh W. Widodo; Rahmat Kurnia; Sulistiono Sulistiono
Jurnal Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 10, No 1 (2015): Juni (2015)
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Eonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.915 KB) | DOI: 10.15578/jsekp.v10i1.1249

Abstract

Pulau Tidung Kecil merupakan pulau kecil tidak berpenduduk yang mempunyai potensi untuk pengembangan ekowisata. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung indeks investasi ekowisata yang akan menentukan kelayakan investasi ekowisata pulau kecil. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survey dengan menggunakan analisis indeks. Pegumpulan data primer dilakukan dengan observasi dan analisi peta, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Tidung Kecil mempunyai nilai natural resources and geostrategic island index (NI) sebesar 3,67, govermenance index (GI) sebesar 4,20, infrastructure index (II) sebesar 3,22 dan, sosio economic and culture index(SI) sebesar 2,64. Sehingga dengan formulasi Small Island Investmen Index (SIII) didapatkan indeks investasi pulau sebesar 3,69. Dari nilai indeks tersebut, Pulau Tidung Kecil dapat dikategorikan kedalam pulau dengan kelayakan investasi siap. Sehingga Pulau Tidung Kecil bisa direkomendasikan sebagai pulau yang layak untuk pengembangan investasi ekowisata. (Assessment of Small Island As A Basis For Ecotourism Investment Developing(Case Study Tidung Kecil Island, Kepulauan Seribu Regency, DKI)Tidung Kecil Island is the unhabited small island that have ecotourism development potential. The aims of this study is to calculate the index of ecotourism investment that will determine the investment feasibility of small island ecotourism. Method used in this study was a survey method with index analysis. Primary data collection was done by observation and map analysis, while the secondary data obtained by study of literature. Results showed that the Tidung Kecil Island have a value of natural resources and geostrategic island index (NI) of 3.67, govermenance index (GI) of 4.20, infrastructure index (II) of 3.22 and, socio-economic and culture index (SI) of 2.64. So that with the Small Island Investment Index (SIII) formulation index obtained the investment index island of 3.69. From the index value Tidung Kecil Island can be categorized into the island with the feasibility of ready investment. So Tidung Kecil Island can be recommended as a viable island for the development of ecotourism investment.
PENILAIAN KONDISI EKOLOGI PERAIRAN UNTUK PENGEMBANGAN BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DI PESISIR KUALA LANGSA, ACEH Andi Sagita; Rahmat Kurnia; Sulistiono Sulistiono
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 10, No 1 (2018): April (2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.168 KB) | DOI: 10.15578/bawal.10.1.2018.57-67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menilai kondisi ekologi untuk pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. Data ekologi perairan dikumpulkan di 12 titik sampling pada Agustus, September dan Oktober 2016 untuk mewakili musim hujan, serta Maret, April dan Mei 2017 untuk mewakili musim kemarau. Data dianalisis dengan analisis komponen utama (principal component analysis/PCA). Suhu perairan pesisir Kuala Langsa berkisar 25,5 – 35,6 oC dengan rata-rata 30,5 ± 1,7 oC; salinitas 25,9 – 34,0 ppt dengan rata-rata 29,9 ± 1,3 oC; pH 7,0 – 9,2 dengan rata-rata 8,1 ± 0,3; oksigen terlarut 3,9 – 6,8  mg/l dengan rata-rata 5,5 ± 0,5 mg/l; kecepatan arus berkisar 0,1 – 0,9 m/s dengan rata-rata 0,3 ± 0,1 m/s; serta kelimpahan fitoplankton berkisar 1,32 x 105 sel/m3 hingga 6,86 x 105 sel/m3 dengan rata-rata 3,88 x 105 ± 1,08 x 105 sel/ m3. PCA yang diaplikasikan pada seluruh data menghasilkan dua komponen utama, yaitu PC1 dan PC2 dengan nilai akar ciri (eigenvalue) sebesar 2,096 dan 1,770; dimana PC1 secara kumulatif dapat menjelaskan ragam seluruh data sebesar 34,9% yang dibangun oleh parameter salinitas, suhu dan plankton, sedangkan PC2 sebesar 64,4% yang dibangun oleh parameter oksigen terlarut dan salinitas.  Berdasarkan analisis dengan membandingkan parameter ekologi perairan untuk budidaya kerang hijau berdasarkan literatur maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ekologi perairan pada musim hujan dan kemarau dapat mendukung pengembangan budidaya kerang hijau di pesisir Kuala Langsa, Aceh. The research aims to assess the waters ecology condition for the development of green mussel cultivation in the coastal of Kuala Langsa, Aceh. Parameters of waters ecology collected at 12 sampling points in August, September and October 2016 to represent the rainy season, while March, April and May 2017 to represent the dry season. Principal component analysis (PCA) used to assess the waters ecology. The temperature ranged 25.5 – 35.6 oC average by 30.5 ± 1.7 oC; salinity by 25.9 – 34.0 ppt average by 29.9 ± 1.3 oC; pH by 7.0 – 9.2 average by 8.1 ± 0.3; dissolved oxygen from 3.9 – 6.8 average by 5.5 ± 0.5 mg/l; current velocity by 0.1 – 0.9 m/s average by 0.3 ± 0.1 m/s; and abundance of phytoplankton ranged 1.32 x 105 cell/m3 to 6.86 x 105 cell/m3. Two principal component was PC1 and PC2 with a eigenvalue of 2.096 and 1.770 extracted from PCA; where PC1 on cumulatively can explain 34.9% of all data collected, mainly contributed by parameters of salinity, temperature and plankton, while PC2 was 64.4% contributed by parameters dissolved oxygen and salinity. Based on the analysis by comparing waters ecology parameters for green mussel culture based from literate study, it suggests that the waters ecology condition could support the development of green mussel culture in the coastal of Kuala Langsa, Aceh.
REPRODUCTIVE BIOLOGY OF Moolgarda sp. IN SEGARA ANAKAN LAGOON CILACAP DISTRICT, CENTRAL JAVA Julia Syahriani Hasibuan; Sulistiono Sulistiono
Journal of Aquaculture Development and Environment Vol 3, No 2 (2020): Journal Of Aquaculture Development And Environment
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/jade.v3i2.3349

Abstract

Segara Anakan lagoon was water located in the estuary between Ciamis regency and Cilacap regency. The purpose of this research is to observe sex ratio, the maturity level of gonad, and the gonad maturity index of Moolgarda sp. Sampling was conducted for three months, from March to May 2017. The method used is a simple random sampling method. The results of research that the sex ratio of Moolgarda sp. male is higher than female. The gonad maturity level of Moolgarda sp. was obtained from levels I, II, III, and IV. The Gonad Maturity Index value Moolgarda sp. males ranged from 0.0022% - 1.3041% while GMI Moolgarda sp. female 0.0424% - 5.5827% with a fecundity of Moolgarda sp. from 7356 - 131350 eggs.