Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Fragmentasi Tenaga Kerja dan Upah Buruh Industri Pedesaan (Studi Kasus Industri Cor Logam di Klaten, Jawa Tengah) Pande Made Kutanegara
Humaniora No 1 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (974.941 KB) | DOI: 10.22146/jh.1990

Abstract

Hingga pertengahan tahun 1994, dunia industri pada umumnya dan ketenagakerjaan diwarnai dengan pemogokan buruh, demontrasi dan unjuk rasa yang berkepanjangan. Bagi sebagian besar buruh, aksi-aksi yang berkepan}angan tersebut merupakan alternatif terakhir yang dapat dilakukan setelah beberapa upaya yang lain gagal untuk mengurangi dominasi pengusaha dalam segala hal terhadap buruh. Pokok permasalahannnya tidak lain adalah ketimpangan pendapatan yang sangattinggi antara pengusaha di satu sisi dengan pekerja di sisi yang lain. Sebagian besar kaum buruh memperoleh upah jauh di bawah garis kebutuhan fisik minimum mereka. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi dengan sering munculnya perlakuan yang tidak manusiawi dari pengusaha terhadap buruh.
Kemiskinan dan Jaminan Sosial di Pedesaan Indonesia Pande Made Kutanegara
Humaniora No 5 (1997)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1102.09 KB) | DOI: 10.22146/jh.1879

Abstract

Istilah jaminan sosial mengacu pada konsep social security yang merupakansebuah konsep yang sangal lentur dan bermakna luas, tergantung pada konteks pembicaraan. Social security sering diartikan sebagai keamanan sosial, kesejahteraan sosial, perlindungan sosial, jaminan sosial, dan sebagainya. Dalam tulisan ini, social security diartikan sebagai jaminan sosial yang diharapkan dapat menjamin kehidupan masyarakat, terutama kelompok miskin pedesaan.
AKSES TERHADAP SPMBER DAYA DAN KEMISKINAN DI PEDESAAN JAWA : KASUS DESA SRIHAOJO, YOGYAKARTA Pande Made Kutanegara
Humaniora Vol 12, No 3 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.176 KB) | DOI: 10.22146/jh.704

Abstract

Pada awal Repelita I, diperkirakan 70juta penduduk atau 60 persen dad totalpenduduk Indonesia termasuk dalam kategorimiskin (World Bank, 1990) . Angka tersebutmenurun menjadi 40 persen atau54,2 juta pada tahun 1976 dan menurunlagi secara drastis menjadi 14 persen atau25,9 juta pada tahun 1993 (BPS, 1994) .Pada tahun 1996, angka kemiskinan diperkirakantelah turun menjadi 22,6 juta atau12 persen (Tjiptoherijanto, 1997). Angkakemiskinan yang turun sedemikian cepatdan cukup tajam, tiba-tiba mengalami peningkatanpada saat krisis . Banyak perdebatanmuncul berkaitan dengan jumlah pendudukmiskin pada saat krisis . Proyeksiyang dibuat oleh ILO-UNDP pada akhirtahun 1998 menunjukkan bahwa pada tahun1998, sebanyak 48 persen (sekitar 90juta orang) penduduk Indonesia berada dibawah garis kemiskinan .
Kemiskinan, Mobilitas Penduudk, Dan AKtivitas Derep: Strategi Pemenuhan Pangan Rumah Tangga Miskin DI Kabupaten Bantul, Yogyakarta Pande Made Kutanegara
Humaniora Vol 15, No 1 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.023 KB) | DOI: 10.22146/jh.774

Abstract

Program revolusi hijau yang dilaksanakan secara intensif sejak awal Orde Baru telah mendorong proses transformasi sosial-ekonomi yang sedemikian pesat di pedesaan Jawa. Kesuksesan program ini telah meningkatkan produksi pertanian dan memacu perubahan sosial ekonomi penduduk pedesaan Jawa. Jumlah penduduk miskin telah berkurang sangat cepat dari 47 persen pada tahun 1971 menjadi 15 persen pada tahun 1995. Indikator ekonomi juga menunjukkan peningkatan yang luar biasa, yakni dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 8 persen per tahun (Hill, 1996). Namun, di sisi lain, program ini membawa dampak yang kurang menguntungkan terutama di bidang ketenagakerjaan. Peluang kerja di sektor pertanian berkurang dengan cepat, sehingga kegiatan-kegiatan pertanian yang melibatkan penduduk miskin berkurang dan hilang. Salah satu peluang kerja yang hilang adalah derep. Aktivitas ini hilang bersamaan dengan berkembangnya sistem tebasan di pedesaan. Hal ini telah menghilangkan satu-satunya akses penduduk miskin terhadap ketersediaan pangan mereka. Oleh karena itu, secara tidak langsung, revolusi hijau telah mengakibatkan di pedesaan Jawa (Sairin, 1976; Stoler, 1978). Penelitian-penelitian intensif pada pertengahan masa Orde Baru menunjukkan bahwa minat peneliti terhadap proses transformasi tenaga kerja pedesaan di sektor pertanian turun drastis. Hal ini dipicu oleh dominasi penelitian tentang transformasi tenaga kerja sektor pertanian menuju sektor non pertanian, baik di pedesaan dan terutama di perkotaan. Penelitian tentang aktivitas buruh di sektor pertanian diabaikan. Hal ini tidaklah aneh karena pada pertengahan masa Orde Baru, peluang kerja nonpertanian terbuka sangat lebar. Bahkan, peluang kerja itulah yang dipandang sebagai penyelamat persoalan ketenagakerjaan di pedesaan Jawa.
Tourism Effect towards Youth Resiliency in Ubud, Gianyar, Bali Retnaningtyas Susanti; Pande Made Kutanegara
International Journal of Tourism, Heritage and Recreation Sport Vol 1 No 1 (2019): PKPHOR : International Journal of Tourism, Heritage and Recreation Sport
Publisher : The Tourism, Heritage and Recreation Sport Center, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.147 KB) | DOI: 10.24036/ijthrs.v1i1.23

Abstract

Tourism is the economical heart of Ubud, Gianyar, Bali’s society. Almost 90% working age population work as tourism worker and almost 50% of the village’s area is used as business space. This condition pushes resiliency from many aspects of population, especially youth. Tourism affects culture and custom in youth, especially in their obligation of Pura in their environment and the demands of up-to-date culture covering it. This research was done for 4 months, started in August to December 2018. The data collection method used was in-depth interview supported by survey results. In-depth interview was done to the public figures, youth participating in Sekaa Teruna Teruni (STT), village government, and Banjar manager. Questionnaire was given to 12th grade students of higher education (SMA/SMK) in Ubud. Survey data was processed using regression analysis and describes as supporting data for the in-depth interview. The result of the research shows that Ubud youths have resiliency tendency in a positive way towards tourism in their environment. They do not leave customs and cultures as feared by many people regarding tourism erosion in Bali which getting stronger. The youth knows that customs and cultures have to go together with tourism. Tourists come to Ubud because of the cultures there. Most of the youth knows that tourism is their future, and so does their customs obligations and cultures. Thus, the two are better managed and processed without leaving one or the other.
Ubud Writers and Readers Festival: Merangkum Dinamika Makna Dwi Windu (2004-2019) Pasca Bom Bali 1 Titan Kusuma; Pande Made Kutanegara
Barista : Jurnal Kajian Bahasa dan Pariwisata Vol. 8 No. 1 (2021): Juni
Publisher : Unit Bahasa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terpuruknya citra, pariwisata, dan perekonomian Bali pasca tragedi Bom Bali I yang terjadi di area legian menggugah banyak pihak untuk melakukan beragam proyek penyembuhan. Salah satu yang dilakukan berasal dari Yayasan Mudra Swari Saraswati melalui Ubud Writers and Readers Festival. Nyatanya kini Ubud Writers and Readers Festival telah berkembang begitu besar dan perjalanannya selama dwi windu (2004-2019) telah berdinamika. Berangkat dari hal tersebut, penelitian ini ingin menjawab bagaimana dinamika makna Ubud Writers and Readers Festival yang nampak dalam perjalanan dwi windu tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berpacu kepada pengamatan langsung, pengamatan terlibat, dan wawancara mendalam serta juga dibubuhi hasil literatur. Penelitian ini mengambil perspektif dari ruang lingkup Yayasan Mudra Swari Saraswati maupun Ubud Writers and Readers Festival dan mengesampingkan perspektif dari participant. Dinamika makna Ubud Writers and Readers Festval tersebut dapat dibagi ke dalam tiga babak, yaitu; periode awal sebagai usaha untuk mengembalikan citra Bali, Peralihan sebagai momentum untuk membesarkan diri, dan akhir yang mana Ubud Writers and Readers Festival sudah begitu besar sebagai arena pemahaman dan pembelajaran.
The Determinant of Policy Termination Post-Leadership Succession in Indonesia Context Iswahyudi, Fajar; Hadna, Agus Heruanto; Darwin, Muhadjir; Kutanegara, Pande Made
Jurnal Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review Vol 6, No 2 (2021): In progress (August 2021)
Publisher : Political Science Program, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ipsr.v6i2.31154

Abstract

Theoretically, termination of policy is due to policy effectiveness. However, in leadership succession, there is a responsibility to acknowledge voters' preferences. Thus, post-leadership succession policy termination can be caused by the policies' effectiveness and voters' policy preferences. This research tries to explain how policy effectiveness and voter preferences become determinants of post-leadership succession policy termination. The analysis was carried out using the multi-stream framework (MSF) developed by Kingdon. The case study chosen was the termination of the River Concretization Policy (RCP) in Jakarta, Indonesia. The research method used is qualitative. This research finds that RCP termination's determinants are effectivity of the program and voter policy preference. This research reaffirms the importance of policy effectiveness and voter policy preference as a foundation for policy termination in post-leadership succession. 
PERAN DAN MAKNA SUMBANGAN DALAM MASYARAKAT PEDESAAN JAWA Pande Made Kutanegara
Populasi Vol 13, No 2 (2002): Desember
Publisher : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (37.115 KB) | DOI: 10.22146/jp.11827

Abstract

Every society collectively develops a certain system or institution which can be used to solve various problems in their life. The rural Javanese society has developed an activity to assist one another, either in the form of service, goods or money. This kind of activity is a social security system that is very important to them. This activity holds two meanings. First, it is a tool to reduce the burden of others, and the second is it creates and enhances the social solidarity of the group. In this context, helping one another has changed the feeling of insecurity to security among group of people. During a social, economic, and cultural transformation process in the Javanese rural areas, it turns out that this model of assisting one another is not always successful. On the contrary, it has created the feeling of insecurity among groups in society, especially the poor.
INDONESIAN BUREAUCRATIC CULTURE: The Ambiquity Between Pangreh Praja and Civil Servant Pande Made Kutanegara
Populasi Vol 17, No 2 (2006): Desember
Publisher : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.287 KB) | DOI: 10.22146/jp.12045

Abstract

Berbagai kebijakan dan upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan layanan kepada masyarakat belum menampakkan hasil yang maksimal. Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kinerja birokrasi dalam memberikan pelayanan. Fenomena ini dapat ditemui hampir dalam semua instansi pemberi layanan kepada masyarakat luas. Perubahan paradigma birokrasi dari pangreh praja dan pamong praja menuju civil servant (pelayan masyarakat) masih sulit diaplikasikan oleh birokrat. Fenomena ini muncul karena masyarakat kita gagal memahami dan menghadapi proses transformasi dunia yang begitu cepat. Proses transformasi sering kali hanya dilihat dalam konteks perubahan yang berbentuk fisik (material culure). Padahal sebenarnya transformasi ada dalam tiga level, yakni dalam tataran materi, perilaku, dan sistem nilai budaya. Sayangnya, transformasi dalam tataran nilai atau kultur sering kali diabaikan karena dianggap tidak penting, padahal berbagai persoalan yang muncul dalam masyarakat kita sebenarnya bersumber pada persoalan budaya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian yang lebih besar terhadap persoalan-persoalan kultural sehingga tidak menjadi batu sandungan, bahkan dapat menggagalkan proses modernisasi di Indonesia.
MENDORONG PROGRAM KEMISKINAN DAN RASKIN BERBASIS LOKAL Pande Made Kutanegara; Endang Ediastuti; Sri Purwatiningsih
Populasi Vol 18, No 2 (2007): Desember
Publisher : Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.17 KB) | DOI: 10.22146/jp.12096

Abstract

In order to recover from the economy crisis, the government has launced a program namely raskin (beras miskin/rice for poor). This program was addressed to only poor people with criteria set by BPS. Since this program has caused public jeolousy, the criteria for the recepients of raskin then has changed so the term bagita/bagi rata/equally shared came up. All people, whether they were poor or not, then entitled to raskin in various amount every month. This paper will describe in detail the share of raskin and the changing in the criteria based on the research in Kulon Progo Regency and Cilacap Regency.