Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : LEGITIMASI: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum

Program Kursus Pra Nikah Ditinjau Menurut Teori Maslahah Irwansyah Irwansyah
Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Islamic Criminal Law Department, Faculty of Sharia and Law, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/legitimasi.v8i2.5846

Abstract

Kajian tentang kursus pra nikah menjadi pembahasan yang penting dalam masalah hukum perkawinan. Pemerintah sudah menjadikan bimbingan tentang hokum-hukum yang berkaitan dengan berumahtangga, yang diwujudkan dalam suatu kursus, yaitu kursus  pra nikah. kemudian pemerintah menetapkan kursus tersebut menjadi syarat untuk dapat dilakukan akad nikah. Dilihat dari segi kemaslahatan, kursus pra nikah memiliki kebaikan yang banyak bagi peserta kursus, yaitu pengarahan tentang hukum berkeluarga bagi calon suami dan isteri. Materi yang disampaikan dalam kursus ini banyak bermanfaat bagi seorang suami dan/atau isteri. Mereka dituntut pengetahuan yang memadai tentang hokum berkeluarga, supaya keluarga mereka akan terwujud nilai-nilai kemaslahata yang tinggi. Pentingnya memiliki pengetahuan tentang hokum berkeluarga tersebut, maka diwajibkan kepada calon suami dan/atau isteri untuk mengikuti program bimbingan ini.
Criteria of Adult Age (Mukallaf) in Islamic Criminal Law [Kriteria Dewasa (Mukallaf) dalam Bidang Jinayah] Irwansyah Muhammad Jamal
Legitimasi: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Islamic Criminal Law Department, Faculty of Sharia and Law, UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/legitimasi.v9i2.8511

Abstract

Abstract: The concept of Mukallaf, in the part of jinayah, is understood by multiple meanings in society, some define mukallaf is the same as worship, and some others argue differently. Nash (Islamic texts) itself does not give a firm definition to the criteria of mukallaf, but rather gives signs that in the relationship of human beings mukallaf concept has its character. This paper aims to explain the concept of mukallaf and its criteria in the part of jinayah. The data sources studied refer to nash evidence and various theories that are developing from various disciplines. The results is that mukallaf in the part of jinayah is considered like puberty, perfect of both al-'aql and rusyd. These three traits will only be found perfectly in a person when they are at least 18 years old. Based on this understanding, the perpetrator of the crime can be held accountable for his actions and sanctioned to him after aged 18 years. A child who is not yet 18 years old commits a criminal offense then must be given educational teaching to him. So that he can know the adverse impact on himself and the community as a result of his actions. Abstrak: Konsep mukallaf dalam bidang jinayah dipahami dengan berbagai bentuk pemahaman dalam masyarakat, ada yang menilai mukallaf dalam bidang jinayah sama dengan bidang ibadah, dan ada yang berpendapat berbeda. Nash sendiri tidak memberi ketegasan pasti terhadap kriteria mukallaf, melainkan memberi isyarah bahwa dalam hubungan sesama manusia konsep mukallaf mempunyai karakter tersendiri. Tulisan ini bertujuan mencoba jelaskan tentang konsep mukallaf dan kriterianya dalam bidang jinayah. Sumber data yang dikaji mengacu pada dalil nash dan berbagai teori yang berkembang sekarang ini dari berbagai disiplin ilmu. Hasil yang ditemukan dapat disebutkan bahwa mukallaf dalam bidang jinayah dipertimbangkan pada sifat baligh, al-‘aql dan rusyd yang sempurna. Ketiga sifat tersebut baru akan ditemukan dengan sempurna pada seseorang ketika berusia minimal 18 tahun. Berdasarkan pemahaman ini, maka pelaku tindak pidana dapat diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya dan diberikan sanksi kepadanya sesudah berusia 18 tahun. Seorang anak yang belum berusia 18 tahun melakukan tindak pidana maka harus diberikan pengajaran yang bersifat edukasi kepadanya. Supaya ia dapat mengetahui dampak buruk pada diri dan lingkungan masyarakat akibat dari perbuatan yang dilakukannya.