Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KECENDERUNGAN VISUALISASI ANAK-ANAK DALAM MERESPON SITUASI PANDEMI Rendy Pandita Bastari
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol 8, No 01 (2022): March 2022
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v8i01.4710

Abstract

Abstrak Bahasa visual memiliki efeknya sendiri terhadap audiens. Manifestasi gagasan, ekspresi, ideologi dapat tersalurkan melalui bahasa visual. Hal ini menunjukan bahwa objek visual memiliki makna tertentu, dan terdapat aspek komunikasi yang terkandung di dalamnya. Studi terdahulu menunjukan adanya menifestasi visual pada anak-anak dalam merespon keadaan sosial atau situasi tertentu. Studi ini pun menunjukan bahwa ide yang disampaikan secara visual dapat tercerna dengan baik oleh anak-anak. Studi ini menyimpulkan bahwa proses produksi visual merepresentasikan pengetahuan mereka khususnya secara sosial. Namun studi ini masih belum konklusif terkait kecenderungan karakteristik visualnya. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan pendekatan lain dan lebih mengarah pada visualisasinya. Metode yang digunakan adalah analisis visual dari Gillian Rose melalui pengambilan Sampel karya anak-anak dalam merespon situasi pandemi 2020. Sampel berjumlah 18 karya visual dengan kecenderungannya masing-masing. Hasil dari studi ini mendapatkan bahwa anak-anak cenderung merespon dengan visualisasi yang sepenuhnya imajinatif dengan menghadirkan figur-figur dari budaya populer dan ekspresi imajinasinya yang tidak ada konteksnya pada situasi pandemi. Kecenderungan lain terlihat bahwa adanya upaya untuk menggambarkan realita sebagaimana mestinya dan mengandung relevansi terhadap situasi pandemi. Terakhir bahwa terdapat kesan optimisme dalam beberapa karya dan pesimisme dalam beberapa karya. Kata Kunci: anak-anak, karakteristik visual, pandemi, seni AbstractVisual language has its own effect on audiences. The manifestation of ideas, expressions, ideologies can be channeled through visual language.  This shows that visual object has a certain meaning, and there are aspects of communication contained in it. Previous studies have shown visual manifestations in children in response to certain social conditions or situations. This study also proves that visually conveyed idea can be received well by children, this study concludes that visual production process represents their social knowledge. However, this study is inconclusive pertaining their visual characteristic tendencies. This study aims to conduct different approach which is more oriented to their visualization. The method used is visual analysis coined by Gillian Rose through sampling of children's work in response to the 2020 pandemic situation. The Sampel consisted of 18 visual works with their respective tendencies. The results of this study show that children tend to respond with fully imaginative visualizations by presenting figures from popular culture and their imaginary expressions that have no context in a pandemic situation. Another trend appears to be an attempt to portray reality as it should and contain relevance to the pandemic situation. Finally, there is an impression of optimism in some works and pessimism in some works. Keywords: art, children, pandemic, visual characteristic
Urban Paranoia II Rendy Pandita Bastari; Aminudin T.H. Siregar
Journal of Visual Art and Design Vol. 9 No. 1 (2017): Journal of Visual Art and Design
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.vad.2017.9.1.3

Abstract

Abstrak. Kriminal adalah masalah yang sulit untuk dipecahkan, di negara yang paling aman pun masih terjadi kasus kriminal, inilah mengapa kriminal adalah kasus yang hampir mustahil untuk dipecahkan. Kriminal adalah sesuatu yang membahayakan kita karena mengancam kita secara materi dan juga secara mental. Ketika berita menenai kriminal tersebar memalui kecepatan informasi media massa, maka informasi tersebut secara tidak langsung menjadi sebuah teror. Teror disini tentu saja bersifat imajinatif, artinya apa yang kita takuti adalah ketakutan kita sendiri, singkatnya kriminal membuat kita semua paranoid secara tidak sadar. Untuk mengatasi masalah personal ini penulis menemukan seni sebagai sesuatu yang bersifat terapeutik, yakni pengalihan enerji alam bawah sadar kepada sesuatu yang lebih berguna. Sebagai salah satu yang mengalami teror berita kriminal tersebut. penulis ingin merepresentasikan fenomena tersebut, maka penulis akan membuat karya seni berdasarkan dari unsur piktorial konten media massa, yakni menggunakan foto-foto berita kriminal dari media massa (elektronik maupun cetak) yang representatif di kota Bandung. Dengan foto-foto tersebut penulis akan menambahkan figur simbolik dari kebudayaan Indonesia dengan metode yang juga bersifat imajinatif dan kompulsif yakni drawing secara digital.Kata kunci: digital; drawing; kriminal, seni, terapeutik; teror.Urban Paranoia IIAbstract. Crime is a difficult problem to solve. Even the safest countries experience crime, this is why crime is almost impossible to abolish. Crime is something that endangers us because it threatens us materially and mentally. When a crime story spreads with the speed of mass media's information, that information implicitly becomes a terror. The terror in this case, of course, is imaginative. In other words, what we fear is fear itself. In short, crime unconsciously makes us paranoid. To resolve this personal problem, the authors found art as something therapeutic, i.e. a diversion of our unconscious energy to something more beneficial socially and personally. As some of many experiencing the terror of the crime stories, the authors want to represent the phenomenon. The author, therefore, would like to create an artwork based on mass media's pictorial content, using published crime stories' photos from representative mass media in Bandung. With these photos, the authors will add a symbolic figure from Indonesian's culture with an imaginative and compulsive method, namely digital drawing. Keywords: art; crime; digital; drawing; therapeutic; terror.
KAJIAN SEMIOTIKA PADA KARYA KAWS x UNIQLO TAHUN 2019 Rendy Pandita Bastari; Patra Aditia; I Dewa Alit Dwija Putra
Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan (Demandia) Vol 5 No 2 (2020): demandia - Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/demandia.v5i2.2660

Abstract

Saluran seniman untuk mempublikasikan karyanya pada sekarang ini sangat beragam, dari mulai ruang galeri, media sosial, pameran kolaborasi hingga produk derivatif yang kerap berkolaborasi dengan merk tertentu. Media derivatif ini adalah hasil kerja sama antara seniman dan merk tertentu yang menghasilkan produk yang terjangkau oleh masyarakat luas. Ini merupakan salah satu strategi publikasi seorang seniman sekaligus strategi pemasaran sebuah merk. Uniqlo sudah memulai kolaborasi dengan seniman-seniman besar lainnya, seperti Basquiat, Keith Harring, dan Sol Lewitt. Untuk cakupan seniman Indonesia, uniqlo sudah berkolaborasi dengan Yellow Dino. Tentu ada kecenderungan visual tertentu pada media derivatif. Dengan menitik beratkan studi dan analisis terhadap pembacaan karya pada media derivatif, penulis berharap melihat kecendenrungan karya yang diimpelementasikan pada media kolaborasi. Penelitian ini juga diharapkan menjadi acuan untuk usaha sejenis atau seniman dalam membuat sebuah produk atau objek seni. Kata Kunci : media derivatif, semiotika, Kaws, Uniqlo
ANALISIS STRATEGI MEDIA KOMUNIKASI VISUAL LABEL REKAMAN INDEPENDEN DI ERA DIGITAL Idhar Resmadi; Rendy Pandita Bastari; Gema Ari Prahara
Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan (Demandia) Vol 5 No 2 (2020): demandia - Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/demandia.v5i2.2742

Abstract

Teknologi digital telah mengubah cara untuk memproduksi, mendistribusi, mengonsumsi, serta mempromosikan karya musik. Saat ini dibutuhkan suatu cara baru yang lebih inovatif dan efektif oleh para pelaku industri rekaman karena beberapa cara promosi dan pemasaran konvensional dianggap tidak terlalu adaptif dengan kebutuhan sekarang. Perkembangan teknologi digital terutama kehadiran platform media komunikasi visual sangat penting dalam rangka menumbuhkan inovasi baru dalam promosi dan pemasaran di industri rekaman saat ini. Perlu pendekatan yang lebih berbasis media komunikasi visual dalam merancang suatu strategi komunikasi sehingga tujuan pemasaran dan promosi label rekaman tersebut bisa tercapai. Objek yang akan diteliti yaitu salah satu label rekaman independen asal Jakarta bernama Sun Eater Records. Metodologi penelitian yang akan dilakukan yaitu penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan studi literatur. Di tengah era konvergensi media saat ini penting untuk diketahui bagaimana Sun Eater Records melakukan strategi komunikasi di era digital melalui pemanfaatan konten berbasis media komunikasi visual. Penelitian ini ingin mengungkapkan pemanfaatan media komunikasi visual di platform media sosial sangat penting karena geliat industri musik yang dinamis dengan perkembangan teknologi internet. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu menjadi kajian serta rekomendasi untuk para pelaku industri rekaman dalam melakukan promosi dan pemasaran di era digital sehingga lebih fleksibel dan adaptif. Kata Kunci: Musik independen, Strategi Komunikasi, Media Komunikasi Visual
ANALISIS SUBSTANSI: ADAPTASI IDIOM VISUAL ALBUM MUSIK METAL KOIL-FIRST INSTALLMENT Rendy Pandita Bastari; Idhar Resmadi; Wahyu Lukito
Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan (Demandia) Vol 7 No 1 (2022): demandia - Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/demandia.v7i1.4160

Abstract

Secara perlahan subkultur menjadi sistem yang dianut oleh golongan tertentu yang kemudian dilawan kembali oleh sebuah pergerakan dari golongan itu sendiri. Mekanisme marjinalisasi dan alienasi tetap memegang peranan dalam terjadinya sebuah pergerakan. Hal tersebut pun terjadi dalam subkultur Metal, di mana pada saat ini sudah ada beragam musik metal dengan tema dan visualisasi yang jauh berbeda semenjak pertama. Studi sebelumnya menunjukkan beberapa gaya visual yang mengadaptasi gaya visual abad pertengahan, dan mitologi kuno. Ideologi dari seniman tersirat dalam visualisasi gaya tersebut berdasarkan hasil studi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna dan gaya visual dari album Koil – First Installment karena musik metal gaya Koil dengan visualisasi tertentu memiliki idealisme yang membedakan musik Koil dengan musik metal lainnya yang sejenis. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah analisis kualitatif deskriptif dengan validasi melalui wawancara kepada seniman perancang visual album ini Patra Aditia, data visual, dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini adalah adanya adaptasi idiom visual budaya populer Jepang, yang berangkat dari gagasan Koil pada album sebelumnya “senyawa mesin”. Selain itu gagasan ini merupakan hasil kultivasi masa kecil seniman di mana akses budaya populer Jepang begitu terbuka. Figur robot dari album ini menunjukkan adanya hal yang feasible dari hal yang imajiner. Kata kunci: idiom visual, subkultur, Koil, musik metal, sampul album
Relasi Popularitas Jeans dan Musik Rendy Pandita Bastari; Patra Aditia; Atria Nuraini Fadilla
JURNAL RUPA Vol 4 No 2 (2019): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v4i2.2311

Abstract

In the 19th century jeans were popular among the lower classes, this transmitted to the upper classes that made jeans as a commodity. The social class shift made Jeans as part of popular culture which was then consumed in Indonesia along with television shows, magazines and films. The process of data collecting and field observations was carried out at two popular shopping malls in the city of Bandung, Cihampeas Walk and Paris Van Java. These observations strengthened by sub-cultural and musical analysis and popular culture in Indonesia. The findings of this study are that music has influenced the popularity of jeans models for decades, music lovers and popular culture constitute the majority who have an ideology about a goal that forms their own aesthetics. This finding is closely related to the position of Bandung which has always been known as a trendsetter city in Indonesia.
PEMBUATAN ARTBOOK GUNA MENINGKATKAN AWARENESS AKAN KEBERADAAN DISTRO DI KOTA BANDUNG Muhammad Rafli Aditia Putra Solihin; Moh. Isa Pramana Koesoemadinata; Rendy Pandita Bastari
Wacadesain Vol 3 No 1 (2022): Jurnal Wacadesain
Publisher : LPPM Universitas Adhirajasa Sanjaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51977/wacadesain.v3i1.644

Abstract

Distro merupakan industri yang lahir dari komunitas pemuda-pemudi dan telah mengubah Kota Bandung dari segi ekonomi dan dari gaya hidup. Distro memiliki peran penting dalam perkembangan industri fashion anak muda, distro juga merupakan bagian dari sejarah berkembangnya subkultur di Kota Bandung. Berkat kemunculan distro banyak subkultur yang masuk melalui fashion dan hobi, akhirnya membuat distro menjadi objek wisata di Kota Bandung. Namun Industri distro ini mengalami penurunan akibat kemunculan online shop pada tahun 2015 dan pandemik covid-19 pada tahun 2020 membuat bisnis distro mengalami penurunan jumlah pengunjung. Industri distro harus dipertahankan karena perannya bagi Kota Bandung, hal ini dapat dimulai dengan mengenalkan kembali distro kepada khalayak umum. Media seperti artbook yang dapat mengemas informasi mengenai distro dengan menampilkan ilustrasi yang menarik, membuat artbook dapat mempromosikan distro secara tidak langsung. Dengan pembuatan artbook tentang distro, dibantu menggunakan metode pengumpulan data seperti metode wawancara, kuesioner, observasi, dan studi pustaka kemudian data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan metode analisis matriks untuk mendapatkan kesimpulan. Data yang diperoleh dari responden melalui kuesioner juga akan digunakan untuk dijadikan pertimbangan selama proses perancangan. Diharapkan artbook ilustrasi ini dapat membantu meningkatkan awareness dan mengenalkan kembali akan keberadaan distro di Kota Bandung.
Performativitas Komunitas Virtual: Suatu Analisis dari Teori Jaringan-Aktor dalam Komunitas Virtual NFT Idhar Resmadi; Rendy Pandita Bastari; Lingga Agung; Luqman Rusdan Nugraha
Jurnal Sosioteknologi Vol. 21 No. 3 (2022): November 2022
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2022.21.3.4

Abstract

Visual artists used NFT (non-fungible tokens) to market artwork and build virtualcommunity networks. NFTs are special certificates or licenses for digitally sold items.In this context, the presence of NFT creators has given rise to a virtual communityinvolving many digital media activities. The phenomenon then offers a variety of newtechnology-based relationships (blockchain, metaverse, NFT, Twitter, Twitter Spaces,Discord, and Clubhouse) and human actors (artists, digital artists, and designers), whichgive rise to specific characteristics to interact with each other or market their artworkin a virtual community. This research aims to discuss the interaction process in the NFT virtual community to understand the NFT ecosystem based on digital media. The actor- network theory is used to understand the network relations between human and non-human actors interacting through various digital platforms. The results of this study showed that the NFT virtual community could not be separated from the presence ofhuman and non-human actors.
Deep Fear : The Digital Art Making Based On The Psychological Reaction of Pandemic Phenomenon Rendy Pandita Bastari; Iqbal Prabawa Wiguna
JURNAL RUPA Vol 7 No 2 (2022): Open Issue
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/rupa.v7i2.4741

Abstract

The Covid 19 pandemic is causing global fall down in almost every aspect, from health, economic, culture, and without exception, psychology, more specifically, on fear. Recent study on psychological impact concluded that specific groups from specific socio-demographic variables would act differently based on their fear of the disease. Every specific group have it’s priorities to survive the pandemic. The mass media also plays a role in driving the fear of people, reported and exaggerating information on the disease. This paper aims to give an artistic approach and respond of the pandemic situation through digital painting and serve as visual artefact of the 2020 pandemic. The method used during the creation process is literature studies on several case studies and relevant theories. The creation begins with phenomenon observation, theoretical approach, conceptualization, and finalizing. The result of the artwork conceptually is that essentially that people fear the most is death which is what being represented through the artwork.
Perancangan Media Informasi Berbasis Website Dengan Pendekatan Design thinking Untuk Penyebaran Konten Informasi dan Promosi Label Rekaman Musik Independen Warkop Musik Resmadi, Idhar; Bastari, Rendy Pandita
Visualita Jurnal Online Desain Komunikasi Visual Vol 10 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2482.308 KB) | DOI: 10.34010/visualita.v10i02.6230

Abstract

The dissemination and promotion are very important for an independent music records label business. However, with the change in consumer behaviour, conventional ways of disseminating information through radio, television, or magazine/newspaper advertisements are no longer relevant and too much expensive. The use of social media and websites are potential efforts to be developed. But, the dissemination of information and promotion through social media are very limited to algorithms and technological capabilities. The importance of website could be very an effective medium for records label players. Website can create many varieties content informations and product campaigns. Moreover, with changes in consumer behaviour in consuming recorded music, there is a need for an ideal means of information and promotion to consumers. Through a design thinking approach, this design will focus on the needs of the end-user through the stages of empathy, define, ideation, prototype, and test. This series of processes are the stages that will be carried out in designing this website. Making this website can be an access to information and promotion for independent record labels, which so far have had various limitations. With the presence of this website, it is also expected to encourage information dissemination, access to promotions and marketing, as well as user data needs that can encourage the creation of various economic opportunities.