Holish -
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGARUH TINGGI BEDENGAN PADA DUA VARIETAS LOKAL BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) Holish -; Eko Murniyanto; Catur Wasonowati
Agrovigor Vol 7, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.754 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v7i2.1442

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sejak lama telah diusahakan oleh petani secara intensif, komoditas ini juga merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah, karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan Jawa Timur yang  sangat fluktuatif  harga maupun produksinya. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura di Desa Telang, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan yang berada pada ketinggian ± 3 m di atas permukaan laut dengan jenis tanah grumusol. Penelitian dilakukan pada bulan November 2011 sampai dengan Februari 2012. Perlakuan  tinggi bedengan tidak menunjukkan  pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua parameter. Perlakuan tinggi bedengan 40 cm (T1) cenderung menghasilkan jumlah daun ( 29,66), bobot basah pertanaman (43,37 g) dan bobot basah umbi per bedengan (3450 g)  dan bobot kering umbi per bedengan (8,9 g)  lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan tinggi bedengan 50 cm (T2) dan 60 cm (T3). Perlakuan jenis varietas tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman bawang merah pada semua parameter. Perlakuan varietas Nganjuk (V2) cenderung menghasilkan tinggi tanaman (26,12 cm)  dan jumlah daun (27) lebih tinggi dibandingkan varietas lokal Madura (V1), sedangkan varietas lokal Madura  (V1) cenderung memberikan bobot basah umbi per tanaman (39,24 g) dan bobot basah umbi per bedengan  (3150 g) lebih tinggi dibanding varietas Nganjuk (V2). Perlakuan tinggi bedengan dan dua varietas bawang merah tidak menunjukkan pengaruh yang nyata pada semua parameter pengamatan.Kata Kunci : varietas lokal, bawang merah, tinggi bedengan.