Amin Setyo Leksono
Department of Biology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, University of Brawijaya,

Published : 25 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Soil Arthropod Diversity and Composition Inhabited Various Habitats in Universitas Brawijaya Forest in Malang East Java Indonesia Leksono, Amin Setyo; Putri, Ninda Merisa; Gama, Zulfaidah Penata; Yanuwiyadi, Bagyo; Zairina, Anisa
Journal of Tropical Life Science Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A study on soil arthropod abundance, diversity and composition have been done on November 2016 to March 2017 using pitfall traps. The objective of this study is to analyze variations of the soil arthropod abundance, diversity and composition among different habitats in a university forest.  The study was carried out in Universitas Brawijaya Forest (UBF) Malang, East Java (7°49'S, 112°34'E, 1,200 m in altitude), consisted of four locations: an agroforestry (AF), a gallery forest (GF), the pine stands (PS) and a settlement yard (SY). At each site, a total of 10 traps (5 by 2 rows) were placed systematically at 4-m intervals. Glass cups (10 cm in diameter and 7 cm deep) were buried in the ground during 24 hours. There were 2286 individuals of arthropod collected from all sampling locations. Overall the samples collected consist of 41 families of arthropods. The abundance (mean ± SE) of soil arthropod was highest in PS and the lowest in SY. Statistically, variations in abundance among locations were significant (F = 7.39, p < 0.01). The taxa richness of arthropod was highest in GF and the lowest in SY. Statistically, variations in taxa richness among locations were significant (F = 4.26, p < 0.05).  The diversity was the highest in the GF (1.9 ± 0.1) lowest in the SY (0.74 ± 0.1). Statistically, variations in diversity among study sites were significant (F = 26.73, p < 0.001). In general, scavenger dominated the composition of soil arthropods. The highest proportion of scavenger abundance present in SY was 84.9%, while the lowest in the GF was 29.3%. The highest litter transformer composition in GF was 33.9%, and the lowest in SY was 8%. The highest decomposer in PS was 26.9% and the lowest in AF was 12.9%. The highest predator in AF was 20.7% and the lowest in SY was 1%. Compositions of soil arthropod were affected by environmental factors such as soil temperature and light intensity.
Keanekaragaman Arthropoda Kanopi yang Berpotensi Polinator pada Tanaman Apel (Malus sylvestris Mill.) di Lahan Apel Bumiaji jumiatin, ervin; Yanuwiadi, Bagyo; Leksono, Amin Setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.76 KB)

Abstract

Desa Bumiaji adalah salah satu wilayah penghasil buah apel di Jawa Timur. Namun, selama beberapa dekade terakhir produktivitas tanaman apel di Bumiaji menurun. Salah satu penyebabnya adalah aplikasi pestisida, dan penurunan komposisi Arthropoda sebagai polinator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan kelimpahan Arthropoda polinator tanaman ape dimusim bunga dan buah, mengetahui komposisi dan struktur komunitas Arthropoda kanopi, dan mengetahui hubungan faktor lingkungan (suhu, cahaya, kelembaban) dan dilakukan pencuplikan empat hari sekali sebanyak empat kali pada bulan Juli sampai desember 2012. Pencuplikan dilakukan dengan metode jebakan ember (pan trap) warna biru dan kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jumlah keseluruhan Arthroposa kanopi yang ditemukan sebanyak 1121 individu, dari 9 odo, 33 famili. Nilai indeks diversitas (Shannon-wiener) musim bunga lebih tinggi (H’=3.1) dibanding musim buah (H’=2.7). Persentase kelimpahan Arthropoda polinator pada musim bunga lebih tinggi yaitu 25% dan 21% pada musim buah. Nilai KR dan INP paling tinggi bejana kuning musim bunga ditemukan pada famili Vespidae yaitu 6.1% dan 13%. Pada bejana biru di musim bunga kelimpahan dan INP tertinggi dari famili Formicidae yaitu sebesar 8.9% dan 18.3%. Kelimpahan dan INP pada bejana kuning musim buah tertinggi ditemukan pada famili Colletidae 4.4% dan 12%. Sedangkan pada bejana biru musim buah , kelimpahan relatif dan INP tertinggi dari ordo Formicidae sebesar  11.4% dan 19.9%. Tingkat kesamaan komposisi antar dua musim dihitung dengan indeks Bray-Curtis yaitu sebesar 0.66 pada musim bunga dan 0.83 pada musim buah. Berdasarkan uji Pearson-Correlation, kelembaban berkorelasi negatif dengan kelimpahan. Kata kunci : Faktor lingkungan, kelimpahan, komposisi, musim bunga, polinator.
Efek Blok Refugia (Ageratum conyzoides L., Ageratum houstonianum L., Commelina diffusa L.) Terhadap Pola Kunjungan Arthropoda di Perkebunan Apel Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang wardani, fevilia suksma; Leksono, Amin Setyo; Yanuwiadi, Bagyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 4 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (984.507 KB)

Abstract

ABSTRAK Ekosistem yang terganggu dan aplikasi pestisida menyebabkan penurunan diversitas Arthropoda. Keberadaan Arthropoda dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan refugia di sekitar perkebunan apel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan, struktur komunitas, diversitas dan komposisi Arthropoda, efek blok refugia terhadap pola kunjungan Arthropoda, pengaruh faktor abiotik dan status fungsional Arthropoda. Pengamatan Arthropoda dilakukan secara visual control.  Pengukuran faktor abiotik meliputi suhu udara dan intensitas cahaya. Pengambilan data dilakukan empat kali pada musim buah dan empat kali sehari di setiap kombinasi refugia selama 15 menit setiap periode. Analisis struktur komunitas Arthropoda didapat dari nilai penting dan diversitas (Indeks Shannon-Wienner). Pola kunjungan dan komposisi Arthropoda (IBC) dibandingkan antar blok. Kelimpahan Arthropoda berjumlah 1424 individu terdiri dari 8 ordo dengan 28 famili, 5 famili tertinggi yaitu Aleyrodidae, Syrphidae, Pieridae, Tabanidae  1 dan Formicidae 2 dengan INP tertinggi yaitu Aleyrodidae (33.95 %). Diversitas Arthropoda tinggi dengan nilai 2-3. Rata-rata kesamaan komposisi Arthropoda menunjukkan tingkat kesamaan yang sedang. Blok refugia yang digunakan memiliki pengaruh terhadap kunjungan Arhropoda. Blok 1, 2 dan 4 menunjukkan tingkat daya tarik yang tinggi untuk menarik Arthropoda sehingga dapat direkomendasikan antara blok 1 dan 2. Status fungsional Arthropoda terdiri dari herbivor (54.14 %), polinator (28.72 %) dan predator (17.13 %). Suhu dan intensitas cahaya berpengaruh pada kelimpahan Arthropoda.   Kata kunci: Arthropoda, refugia, musim buah, visual control
INTERAKSI ANTARA CAPUNG DENGAN ARTHROPODA DAN VERTEBRATA PREDATOR DI KEPANJEN, KABUPATEN MALANG Dalia, Bernadeta Putri Irma; Leksono, Amin Setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.082 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara capung dengan Arthropoda dan vertebrata di lahan pertanian Kepanjen, Jawa Timur. Pengamatan lapang dilakukan pada bulan Juni sampai Agustus 2013 pada area pertanian padi di Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode yang digunakan adalah visual kontrol, kemudian analisis data dilakukan secara deskriptif. Capung, Athropoda, dan vertebrata yang ditemukan selama pengamatan memiliki interaksi predasi. Capung berperan sebagai predator berbagai Arthropoda di pertanian, terutama bagi ordo Lepidoptera, Hymenoptera, Hemiptera, Orthoptera, dan Diptera. Capung juga menjadi mangsa bagi Arthropoda, seperti Araneida, dan vertebrata, seperti Anura,  Mabuya sp., dan Todiramphus chloris. Kata kunci : Capung, pertanian
Diversitas Arthropoda Tanah Di Area Restorasi Ranu Pani Kabupaten Lumajang ardillah, Jr sulthan; Leksono, Amin Setyo; Hakim, Luchman
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 4 (2014)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.751 KB)

Abstract

Ranu Pani is damaged areas ecosystem, so restoration activities are integrated to aspects of the ecosystem biotic and abiotic components are required. The important factor to succeed the restoration is land health. Arthropods has a very important role for the ecosystem, either directly or indirectly. The role of arthropods on ecosystems such as pollinators, decomposers, predators, parasitoids and bio-indicators. The aim of this study were to determine the type of soil arthropods found in Ranu Pani land restoration and to determine their roles in Ranu Pani and to determine the diversity index of soil arthropods in Ranu Pani. The method used in this research was Falltrap Pit (Bottle trap). Arthropods put in a bottle that has been filled with a solution of 70 % alcohol. Arthropods were identified in the laboratory. Arthropods from Ranu Pani restoration land was 916 specimens, consisting of 13 family. Three orders of arthropods with the largest number were Orthoptera (49.59 %), Amphipoda (44.17 %), Opiliones (6.23 %). Important value index (INP) of family land arthropods in the first year were Talitridae (72.658 %), Gryllidae (31.995 %), Acrididae (53.379 %) and larvae of Noctuidae (16.092 %). The dominant family in the second year were Talitridae (48.935 %), Gryllidae (73.057 %), Carabidae (23.769%) and Oxyopidae (14.147 %). The air temperature and the lower the light intensity could increased the abundance of soil arthropods. The Shannon-Wiener index of the second year location was lower (H = 1.899) compared to the first year location (H = 2.523). Key words: Arthropods, ecological indicators, community structure, restoration area.
Distribusi Spasial Nyamuk Diurnal Secara Ekologi Di Kabupaten Lamongan Johanudin, Nanang; leksono, amin setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.479 KB)

Abstract

Abstrak Daerah tropis seperti Indonesia merupakan daerah  yang disukai  nyamuk. Jawa Timur merupakan salah satu wilayah bagian Indonesia yang terdapat pada bagian jawa daerah timur. Akibat penyakit  yang ditularkan oleh nyamuk di Provinsi Jawa Timur masih merupakan masalah kesehatan bagi masyarakat, baik di perkotaan   maupun di pedesaan, seperti:  Demam Berdarah Dengue, Malaria,  Filariasis (kaki gajah), Chikungunya dan Encephalitis. Kabupaten  Lamongan termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang perna terserang penyakit karena vektor dari nyamuk diantaranya, Demam Berdarah Dengue (DBD). Nyamuk yang aktif dan bergerak pada pagi hari hingga sore hari merupakan nyamuk diurnal, sedangkan nyamuk yang aktif  ketika malam hari merupakan nyamuk nokturnal. Penelitian ini dilakukan dengan penyaringan  jentik nyamuk, pemeliharaan, dan pengamatan ketika dewasa.  Data yang telah diperoleh dianalisis dengan  populasi rata-rata menggunakan Microsoft Excel  2007. Kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik   uji t-test dan uji distribusi menggunakan SPSS 16.  Kemudian dilakukan pemetakan komposisi nyamuk dimasing-masing lokasi. Ditmukan tiga jenis nyamuk yang tertangkap. Anopheles, Culex, dan Culex quinquesfaciatus. Rata-rata  populasi nyamuk tertinggi yang didapatkan di lima titik merupakan nyamuk dari genus Anopheles yang terdapat didesa Dagan sebesar 15,3 populasi, dan genus Culex yang terdapat didesa kedungmegari sebesar 11,7 populasi.   Kata kunci: Anopheles, Culex, diurnal, Lamongan, nyamuk.
ATTRACTION OF ARTHROPODS IN REFUGIA BLOCKS (Ageratum conyzoides L., Capsicum frustecens L., and Tagetes erecta L.) WITH THE APPLICATION OF LIQUID ORGANIC FERTILIZER AND BIOPESTICIDE IN APPLE CROPS IN PONCOKUSUMO Muhibah, Tria Irma; Leksono, Amin Setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.998 KB)

Abstract

The objective of this research was to know the community structure of arthropods and to know visiting patterns of arthropods in refugia blocks. The method used in this research was Visual Encounter in fruiting season and flowering season. The observation was held four times in each season and four times a day. The observation was held on the refugia blocks that were applied a liquid organic fertilizer and biopesticide (POCB) and Control. Measurement of abiotic factors was done including temperature, humidity and light intensity. The result was analyzed using important value (INP) and Shannon-Wienner Index (HI). Overall the total abundance of arthropods was 32 family in flowering season and 33 family in fruiting season. All of the refugia blocks were dominated by family Muscidae in flowering season and dominated by family Apidae in fruiting season. The Diversity of arthropods in flowering season and fruiting season is quite high with the value was ranged from 3 to 4. Arthropods visiting patterns on the refugia block showed an increase in the abundance of arthropods in period 2 that was during 9:00 to 10:30 am.   Key word : Arthropods, Biopesticide, Flowering Season, Fruiting Season, Liquid Organic Fertilizer, Refugia Blocks, Visual Encounter
PENGARUH UMUR PETIK DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KANDUNGAN VITAMIN C PADA BUAH ANGGUR (VITIS VINIFERA L.) Purwantiningsih, Budi; Leksono, Amin Setyo; Yanuwiadi, Bagyo
El-Hayah : Jurnal Biologi Vol 2, No 2 (2012): EL-Hayah (Vol 2, No 2, Maret 2012)
Publisher : Department of Biology Science and Technology Faculty UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/elha.v2i2.2209

Abstract

Anggur merupakan salah satu buah berserat yang digemari oleh banyak orang, ka-rena rasanya enak, manis, segar dan mengandung gizi tinggi terutama vitamin C dan A. Kan- dungan  vitamn  C  dipengaruhi  oleh  umur  pemetikan  dan  lama  penyimpanan.  Jenis penelitian ini bersifat eksperimental menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap). Penelitian dilaku-kan pada bulan Agustus-September, untuk pengambilan sampel anggur langsung dari Wono-asih, Probolinggo dengan pemetikan 95,105, 115 hari dengan lama penyimpanan 0,3,6, dan 9 hari. Uji kadar vitamin C menggunakan metode titrasi yodium yang kemudian dianalisis menggunakan anava dua arah dan dilanjutkan dengan UJD 5%. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa ada pengaruh umur petik dan lama penyimpanan terhadap kandungan vitamin C pada buah anggur serta terdapat interaksi umur petik dengan lama penyimpanan. Vitamin C tertinggi terdapat pada umur petik 105 hari dengan lama penyimpanan 3 hari.
A review of Vertical and Spatial Variations of Canopy Insects in Secondary Forests in Central Japan and East Java, Indonesia Leksono, Amin Setyo; Nakagoshi, Nobukazu
Proceeding International Conference on Global Resource Conservation Vol 6, No 1: Proceeding of 6th ICGRC 2015
Publisher : Proceeding International Conference on Global Resource Conservation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (0.209 KB)

Abstract

The vertical and spatial variations in the abundance of canopy insects werecompared between secondary forests in Kanazawa, Japan and Trawas, East Java, Indonesia. The patterns of canopy insect abundance and composition change with layer and site weredetermined. The study in Central Japan was conducted at a mosaic habitat of a suburban forest in Kanazawa, Central Japan. Two patches were selected for sampling: a young deciduous patch and a mixed vegetation patch. Canopy insects were collected 12 times from June to October 2003. Another study site is located in Trawas, East Java, Indonesia. Insect sampling was performed at three sites along a gradient of anthropogenic disturbances, from a less-disturbed site in an upper hilly area, through a partly-disturbed site, to a highly-disturbed site. Samplings were performed by using window traps, suspended in the canopy layer and in the understory layer. This study revealed that canopy insect communities vary among canopy layers and sites. However, this study did not indicate consistent insect stratification between regions. Data in temperate region showed that the abundance of canopy insects is greater in the canopy layer than in the understory layer. In tropical region, the abundance of canopy insects between understory and canopy layer was similar. The young deciduous patch consisted of more individuals of canopy insects than in the mixed vegetation patch. Our study in tropical region demonstrated significant effects of disturbance on the abundance and family richness of canopy insects. The overall insect abundances and richness differed among sites.Keywords: Anthropogenic disturbance; canopy insect community; secondary forest; temperate and tropical region; window trap
Keragaman Serangga Musuh Alami Kutu Sisik Lepidosaphes beckii Pada Jeruk Keprok Dan Jeruk Manis Alviantono, Redy; Leksono, Amin Setyo
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Biotropika: Journal of Tropical Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.255 KB)

Abstract

Serangan hama dapat menurunkan nilai ekonomi jeruk. Salah satu hama penting yang menyerang jeruk adalah kutu sisik Lepidosaphes beckii. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman serangga musuh alami yang berasosiasi dengan kutu sisik Lepidosaphes beckii pada tanaman jeruk keprok dan jeruk manis. Penelitian dilakukan dengan cara pengamatan langsung, pengambilan sampel dan identifikasi. Data dianalisis untuk menentukan nilai indeks keanekaragaman, indeks kesamaan (IBC) dan indeks dominansi. Serangga musuh alami yang ditemukan meliputi kelompok predator Famili Coccinellidae (Chilocorus, Symnus dan Harmonia) dan Formicidae, serta kelompok parasitoid Famili Trichogrammatidae (Trichogramma) dan Aphelinidae (Aphytis dan Encarsia). Nilai IBC untuk kedua komunitas adalah 0,93. Nilai tersebut menunjukkan secara umum kerapatan semua jenis serangga musuh alami kutu sisik pada kedua komunitas adalah sama. Berdasarkan nilai indeks Shannon-Wiener, keanekaragaman jenis serangga musuh alami pada kedua lokasi tergolong rendah dan tidak terdapat perbedaan pada kedua jenis jeruk (jeruk keprok 1,5387 dan jeruk manis 1,5542). Formicidae merupakan serangga yang paling banyak ditemukan di kedua lokasi. Kelimpahan Formicidae yang lebih tinggi daripada kelimpahan serangga lain disebabkan karena bersifat polifaga dan memiliki struktur sosial populasi yang terorganisasi dengan baik. Kata Kunci : keanekaragaman, Lepidosaphes beckii, serangga musuh alami