S Silfia
Baristand Industri Padang

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Ekstraksi kayu secang (Caesalpinia sappan Linn) dan aplikasinya pada pewarnaan kain katun dan sutera F Failisnur; S Sofyan; S Silfia
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.758 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i1.5272.33-40

Abstract

Kayu secang (Caesalpinia sappanLinn) mengandung komponen kromofor brazilein yang dapat memberikan warna merah apabila dilarutkan dalam air. Tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh proses ekstraksi maserasi dan perebusan dari kayu secang menggunakan pelarut air terhadap pewarnaan kain katun dan sutera. Hasil pewarnaan memberikan warna merah muda, merah keunguan, coklat dan coklat keabu-abuan. Pewarnaan kain sutera dengan ekstrak kayu secang yang menggunakan proses perebusan memberikan intensitas warna rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, dengan ketahanan luntur warna yang cukup sampai sangat baik terhadap pencucian, keringat, sinar dan gosokan. abstractSappan wood (Caesalpinia sappan L.) contains a chromophore component of brazilein which can give red color when dissolved in water. The aim of the study was to see the effect of maceration and boiling extraction processes from sappan wood using water solvents on the dyeing of cotton and silk fabrics. The dyeing results gave pink, purplish red, brown and grayish brown. The dyeing of silk fabric with sappan wood extract using the boiling process provided a higher average color intensity compared to other treatments, with color fastness for washing, perspiration, lighting, and rubbing were sufficient to excellent.
Pengaruh jenis pelarut dan kecepatan homogenizer terhadap karakteristik partikel katekin gambir Gustri Yeni; S Silfia; Yulia Helmi Diza
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.983 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i1.5227.9-14

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut dan kecepatan homogenizer terhadap karakteristik partikel katekin gambir. Penelitian dilakukan dengan cara katekin gambir dilarutkan dengan variasi pelarut air, etanol 20%, campuran etanol 20% dan etil asetat (perbandingan 1:10) dan kecepatan homogenizer 500; 1.500; 2.000; dan 2.500 rpm. Karakteristik partikel hasil perlakuan diuji menggunakan particle size analyzer (PSA) diperoleh hasil bervariasi antara 2.148-3.354 nm. Proses pengadukan dengan kecepatan 2500 rpm dapat memperkecil ukuran partikel (2.148 nm), secara visual dilihat dari tingkat kejernihan larutan yang dihasilkan. Peningkatan kecepatan homogenizer menyebabkan terjadi kerusakan senyawa katekin yang ditandai dengan perubahan warna menjadi coklat, ditunjukkan dengan penurunan kadar katekin dari 84,32%  menjadi 75,91%. Sampel hasil perlakuan dikeringkan dengan spray dryer pada kondisi operasi suhu inlet 100oC dan outlet 90oC, tekanan vakum pada 15 Psi, terjadi penurunan ukuran partikel (209,45 nm). Sampel diuji menggunakan scanning electron microscope (SEM) menunjukkan morfologi katekin tidak simetris. Analisis ukuran partikel katekin dilanjutkan menggunakan software image-J dan diperoleh ukuran partikel antara 209,53-280,50 nm.ABSTRACTThis study was aimed to determine the effect of solvent type and homogenizer speed on the particle characteristics of gambier catechins. The research was conducted by dissolving the gambir catechins with solvents variation of water, ethanol 20%, mixture of ethanol 20% and ethyl acetate (ratio 1:10) and homogenizer speed 500; 1,500; 2,000; and 2,500 rpm. The particle characteristics of the treatment were tested using a particle size analyzer (PSA) and obtained the results varied between 2,148-3,354 nm. The stirring process at a speed of 2500 rpm can reduce the particle size (2,148 nm), visually seen from the clarity level of the solution produced. Increasing the speed of the homogenizer caused damage to the catechin compound which was marked by a change in color became brown, indicated by a decrease in catechin content from 84.32% to 75.91%. The treated sample was dried with a spray dryer under operating conditions of inlet temperature 100oC and outlet temperature 90oC, vacuum pressure at 15 Psi particle size decreased (209.45 nm). Samples were tested using a scanning electron microscope (SEM) showed the symmetrical morphology of the catechins. The analysis of catechins particle size was continued using the image-J software and obtained the particle size between 209.53-280.50 nm.  
Pengaruh waktu hidrolisis dan konsentrasi HCl terhadap karakteristik pati termodifikasi dari bengkuang (Pachyrrhizus erosus) Gustri Yeni; S Silfia; Wilsa Hermianti; Tri Wahyuningsih
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.4 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4334.53-60

Abstract

Tepung bengkuang dapat dimanfaatkan sebagai penyalut tipis (enkapsulan) bahan aktif. Untuk memenuhi spesifikasi produk tersebut tepung bengkuang perlu dilakukan modifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh hidrolisis asam terhadap pati secara lambat untuk menghasilkan tepung termodifikasi dari bengkuang dengan karakteristik fisiko-kimia yang dapat dimanfaatkan sebagai  enkapsulan. Proses hidrolisis asam tepung bengkuang menggunakan variasi perlakuan waktu hidrolisis (24, 48, dan 72 jam) dan konsentrasi HCl (1%, 2%, dan 3%). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan optimal diperoleh pada waktu hidrolisis 72 jam dan konsentrasi HCl 2% dengan nilai derajat polimerisasi (DP) 22,34 yang sudah memenuhi persyaratan jika digunakan sebagai matrik enkapsulan. Karakteritik dari tepung termodifikasi pada kondisi ini adalah kadar air 16,47%, kadar abu 1,17%, amilosa 31,01%, viskositas 155cP, kelarutan 80,83%, dan aktivitas antioksidan (IC50) 148 μgml-1. Morfologi granula tepung  hasil uji dengan mikroskop dan SEM bentuknya tidak terlalu banyak mengalami perubahan pada hidrolisis asam. AbstractJicama flour can be used as a thin coating (encapsulation) of an active ingredients. To meet the specifications of the product, jicama flour needs to be modified. The purpose of this study was to study the effect of acid hydrolysis on starch slowly to produce jicama modified flour with physico-chemical characteristics that could be used as an encapsulants. The process of acid hydrolysis of jicama flour using treatment variations of hydrolysis time (24, 48, and 72 hours) and HCl concentrations (1, 2, and 3%). The results showed that the optimal treatment was obtained at 72 hours hydrolysis and 2% HCl concentration with a polymerization degree (DP) of 22.34 which met the requirements if used as an encapsulation matrix. The characteristics of the modified flour in this condition were water content 16.47%, ash content 1.17%, amylose 31.01%, viscosity 155cP, solubility 80.83%, and antioxidant activity (IC50) 148 μgml-1. The test results of flour granular morphology with microscopy and SEM did not change too much in acid hydrolysis.
Biomordan gambir pada pewarnaan kain viskos menggunakan ekstrak pewarna dari limbah kulit jengkol (Archidendron jiringa) F Failisnur; S Sofyan; S Silfia; Salmariza Sy; A Ardinal
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.28 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4324.77-82

Abstract

Biomordan merupakan mordan alam yang berfungsi untuk meningkatkan afinitas zat warna terhadap serat dan membangkitkan warna dalam proses pencelupan. Pemanfaatan gambir sebagai biomordan adalah salah satu terobosan baru dalam pemanfaatan komoditi potensi lokal yang dapat menghasilkan kain berwarna yang ramah lingkungan.  Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara proses pewarnaan tanpa menggunakan mordan, pemakaian biomordan gambir pada konsentrasi 5, 10, dan 15%, serta pemakaian biomordan gambir yang dikombinasikan dengan mordan kimia CaO. Hasil penelitian menunjukkan terdapat komponen fenol pada ekstrak limbah kulit jengkol yang dapat memberikan warna pada kain viskos. Hasil pewarnaan meggunakan biomordan gambir dapat meningkatkan nilai intensitas warna. Sifat ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40⁰C meningkat dari 3 (cukup) dan 4 (baik) menjadi 4-5 (baik sampai sangat baik) serta terhadap pengaruh cahaya dari 3-4 (cukup sampai baik) menjadi 4 (baik).AbstractThe biomordant is a natural mordant that functions to increase the affinity of dyes to the fiber and generate color in the dyeing process. The use of gambier as a biomordant is one of inovation in the utilization of local potential commodities that can produce eco-friendly coloring fabrics. The study was conducted by comparing the dyeing process without using mordant, the use of biomordant gambier at a concentration of 5, 10, and 15%, as well as the use of biomordant gambier was combined with CaO chemical mordant. The results showed that there were phenol components in the extract of dogfruit pod waste which could give color to the viscous fabric. The coloring results using gambier biomordant could increase the color intensity value. The color fastness characteristics of washing 40oC increased from 3 (fairly good) and 4 (good) to 4-5 (good to very good) and to the fastness of light raised from 3-4 (fairly good to good) to 4 (good).
Biomordan gambir pada pewarnaan kain viskos menggunakan ekstrak pewarna dari limbah kulit jengkol (Archidendron jiringa) F Failisnur; S Sofyan; S Silfia; Salmariza Sy; A Ardinal
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.28 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4324.77-82

Abstract

Biomordan merupakan mordan alam yang berfungsi untuk meningkatkan afinitas zat warna terhadap serat dan membangkitkan warna dalam proses pencelupan. Pemanfaatan gambir sebagai biomordan adalah salah satu terobosan baru dalam pemanfaatan komoditi potensi lokal yang dapat menghasilkan kain berwarna yang ramah lingkungan.  Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara proses pewarnaan tanpa menggunakan mordan, pemakaian biomordan gambir pada konsentrasi 5, 10, dan 15%, serta pemakaian biomordan gambir yang dikombinasikan dengan mordan kimia CaO. Hasil penelitian menunjukkan terdapat komponen fenol pada ekstrak limbah kulit jengkol yang dapat memberikan warna pada kain viskos. Hasil pewarnaan meggunakan biomordan gambir dapat meningkatkan nilai intensitas warna. Sifat ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40⁰C meningkat dari 3 (cukup) dan 4 (baik) menjadi 4-5 (baik sampai sangat baik) serta terhadap pengaruh cahaya dari 3-4 (cukup sampai baik) menjadi 4 (baik).AbstractThe biomordant is a natural mordant that functions to increase the affinity of dyes to the fiber and generate color in the dyeing process. The use of gambier as a biomordant is one of inovation in the utilization of local potential commodities that can produce eco-friendly coloring fabrics. The study was conducted by comparing the dyeing process without using mordant, the use of biomordant gambier at a concentration of 5, 10, and 15%, as well as the use of biomordant gambier was combined with CaO chemical mordant. The results showed that there were phenol components in the extract of dogfruit pod waste which could give color to the viscous fabric. The coloring results using gambier biomordant could increase the color intensity value. The color fastness characteristics of washing 40oC increased from 3 (fairly good) and 4 (good) to 4-5 (good to very good) and to the fastness of light raised from 3-4 (fairly good to good) to 4 (good).
Pengaruh jenis pelarut dan kecepatan homogenizer terhadap karakteristik partikel katekin gambir Gustri Yeni; S Silfia; Yulia Helmi Diza
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.983 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i1.5227.9-14

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut dan kecepatan homogenizer terhadap karakteristik partikel katekin gambir. Penelitian dilakukan dengan cara katekin gambir dilarutkan dengan variasi pelarut air, etanol 20%, campuran etanol 20% dan etil asetat (perbandingan 1:10) dan kecepatan homogenizer 500; 1.500; 2.000; dan 2.500 rpm. Karakteristik partikel hasil perlakuan diuji menggunakan particle size analyzer (PSA) diperoleh hasil bervariasi antara 2.148-3.354 nm. Proses pengadukan dengan kecepatan 2500 rpm dapat memperkecil ukuran partikel (2.148 nm), secara visual dilihat dari tingkat kejernihan larutan yang dihasilkan. Peningkatan kecepatan homogenizer menyebabkan terjadi kerusakan senyawa katekin yang ditandai dengan perubahan warna menjadi coklat, ditunjukkan dengan penurunan kadar katekin dari 84,32%  menjadi 75,91%. Sampel hasil perlakuan dikeringkan dengan spray dryer pada kondisi operasi suhu inlet 100oC dan outlet 90oC, tekanan vakum pada 15 Psi, terjadi penurunan ukuran partikel (209,45 nm). Sampel diuji menggunakan scanning electron microscope (SEM) menunjukkan morfologi katekin tidak simetris. Analisis ukuran partikel katekin dilanjutkan menggunakan software image-J dan diperoleh ukuran partikel antara 209,53-280,50 nm.ABSTRACTThis study was aimed to determine the effect of solvent type and homogenizer speed on the particle characteristics of gambier catechins. The research was conducted by dissolving the gambir catechins with solvents variation of water, ethanol 20%, mixture of ethanol 20% and ethyl acetate (ratio 1:10) and homogenizer speed 500; 1,500; 2,000; and 2,500 rpm. The particle characteristics of the treatment were tested using a particle size analyzer (PSA) and obtained the results varied between 2,148-3,354 nm. The stirring process at a speed of 2500 rpm can reduce the particle size (2,148 nm), visually seen from the clarity level of the solution produced. Increasing the speed of the homogenizer caused damage to the catechin compound which was marked by a change in color became brown, indicated by a decrease in catechin content from 84.32% to 75.91%. The treated sample was dried with a spray dryer under operating conditions of inlet temperature 100oC and outlet temperature 90oC, vacuum pressure at 15 Psi particle size decreased (209.45 nm). Samples were tested using a scanning electron microscope (SEM) showed the symmetrical morphology of the catechins. The analysis of catechins particle size was continued using the image-J software and obtained the particle size between 209.53-280.50 nm.  
Ekstraksi kayu secang (Caesalpinia sappan Linn) dan aplikasinya pada pewarnaan kain katun dan sutera F Failisnur; S Sofyan; S Silfia
Jurnal Litbang Industri Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.758 KB) | DOI: 10.24960/jli.v9i1.5272.33-40

Abstract

Kayu secang (Caesalpinia sappanLinn) mengandung komponen kromofor brazilein yang dapat memberikan warna merah apabila dilarutkan dalam air. Tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh proses ekstraksi maserasi dan perebusan dari kayu secang menggunakan pelarut air terhadap pewarnaan kain katun dan sutera. Hasil pewarnaan memberikan warna merah muda, merah keunguan, coklat dan coklat keabu-abuan. Pewarnaan kain sutera dengan ekstrak kayu secang yang menggunakan proses perebusan memberikan intensitas warna rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, dengan ketahanan luntur warna yang cukup sampai sangat baik terhadap pencucian, keringat, sinar dan gosokan. abstractSappan wood (Caesalpinia sappan L.) contains a chromophore component of brazilein which can give red color when dissolved in water. The aim of the study was to see the effect of maceration and boiling extraction processes from sappan wood using water solvents on the dyeing of cotton and silk fabrics. The dyeing results gave pink, purplish red, brown and grayish brown. The dyeing of silk fabric with sappan wood extract using the boiling process provided a higher average color intensity compared to other treatments, with color fastness for washing, perspiration, lighting, and rubbing were sufficient to excellent.
Pengaruh waktu hidrolisis dan konsentrasi HCl terhadap karakteristik pati termodifikasi dari bengkuang (Pachyrrhizus erosus) Gustri Yeni; S Silfia; Wilsa Hermianti; Tri Wahyuningsih
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.4 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4334.53-60

Abstract

Tepung bengkuang dapat dimanfaatkan sebagai penyalut tipis (enkapsulan) bahan aktif. Untuk memenuhi spesifikasi produk tersebut tepung bengkuang perlu dilakukan modifikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh hidrolisis asam terhadap pati secara lambat untuk menghasilkan tepung termodifikasi dari bengkuang dengan karakteristik fisiko-kimia yang dapat dimanfaatkan sebagai  enkapsulan. Proses hidrolisis asam tepung bengkuang menggunakan variasi perlakuan waktu hidrolisis (24, 48, dan 72 jam) dan konsentrasi HCl (1%, 2%, dan 3%). Hasil penelitian menunjukkan perlakuan optimal diperoleh pada waktu hidrolisis 72 jam dan konsentrasi HCl 2% dengan nilai derajat polimerisasi (DP) 22,34 yang sudah memenuhi persyaratan jika digunakan sebagai matrik enkapsulan. Karakteritik dari tepung termodifikasi pada kondisi ini adalah kadar air 16,47%, kadar abu 1,17%, amilosa 31,01%, viskositas 155cP, kelarutan 80,83%, dan aktivitas antioksidan (IC50) 148 μgml-1. Morfologi granula tepung  hasil uji dengan mikroskop dan SEM bentuknya tidak terlalu banyak mengalami perubahan pada hidrolisis asam. AbstractJicama flour can be used as a thin coating (encapsulation) of an active ingredients. To meet the specifications of the product, jicama flour needs to be modified. The purpose of this study was to study the effect of acid hydrolysis on starch slowly to produce jicama modified flour with physico-chemical characteristics that could be used as an encapsulants. The process of acid hydrolysis of jicama flour using treatment variations of hydrolysis time (24, 48, and 72 hours) and HCl concentrations (1, 2, and 3%). The results showed that the optimal treatment was obtained at 72 hours hydrolysis and 2% HCl concentration with a polymerization degree (DP) of 22.34 which met the requirements if used as an encapsulation matrix. The characteristics of the modified flour in this condition were water content 16.47%, ash content 1.17%, amylose 31.01%, viscosity 155cP, solubility 80.83%, and antioxidant activity (IC50) 148 μgml-1. The test results of flour granular morphology with microscopy and SEM did not change too much in acid hydrolysis.