Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

ESTIMASI KETIDAKPASTIAN PADA PENGUJIAN KADMIUM DALAM PRODUK PERIKANAN MENGGUNAKAN GRAPHITE FURNACE ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY Christine Elishian; Willy Cahya Nugraha; Yohanes Susanto Ridwan
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.543 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v14i2.330

Abstract

Sumber – sumber ketidakpastian dan penyumbang ketidakpastian terbesar pada pengujian kadarkadmium dalam produk perikanan telah berhasil diidentifikasi melalui estimasi ketidakpastian denganpendekatan “bottom up” menggunakan diagram cause-effect. Sumber - sumber ketidakpastian yang ikutberkontribusi pada pengujian kadmium, yaitu massa sampel, massa larutan, standar larutan induk dan kalibrasi,faktor pengenceran, kadar air, konsentrasi kadmium dalam larutan yang diukur dengan GFAAS, recovery, dan presisi metode. Komponen yang paling mempengaruhi nilai ketidakpastian ini yaitu konsentrasi kadmium dalamlarutan hasil destruksi yang diukur dengan GFAAS yaitu sebesar 0,0452 mg/kg. Konsentrasi logam kadmiumdan ketidakpastiannya dalam produk perikanan yang dilaporkan yaitu 0,273 ± 0,025 mg/kg pada tingkatkepercayaan 95% dan faktor cakupan 2.Kata kunci : Ketidakpastian, Kadmium, Produk Perikanan, GFAAS, Validasi Metode
Adsorpsi Cu2+ Menggunakan Nanofiber Polisulfon-FeOOH Yang Disintesis Dengan Metode Elektrospinning Dini Hariyati Adam; Hamzar Suyani; Muhamad Nasir; Safni Safni; Willy Cahya Nugraha
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.154 KB) | DOI: 10.24960/jli.v3i2.629.101-108

Abstract

It had been done a research about adsorption of Cu2+ using polysulfone-FeOOH nanofiber prepared by elektrospinning method. Polysulfone-FeOOH nanofiber was synthesized by dissolving polysulfone pellets in 30 mL dimethylacetamide (DMAc). The effects of process conditions such as concentration, distance between the nozzle and collector, voltage and flow rate on the morphology and diameter of nanofibers were investigated. The optimum conditions of polysulfone nanofiber synthesizing was obtained with concentration 25%, distance 12 cm, voltage 25 kV, and flow rate  0.05 mL/min with average diameters of fibers was 762.927 nm. Polysulfone nanofiber was coated with FeOOH to increase the adsorbtion capacity of Cu2+. The results showed that optimum condition for removal of Cu2+ used polysulfone-FeOOH nanofiber was obtained in 2 hours contact time, pH 6, adsorbent dosage 25 mg, and concentration of Cu2+ 10 mg/L with adsorbstion capacity was 9.79 mg/g, while for polysulfone nanofiber the adsorption capacity was 8.34 mg/g. The adsorbtion pattern of Cu2+ by the both of adsorbent followed the Freundlich isotherm pattern.ABSTRAK Penelitian mengenai pemisahan ion Cu2+menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yang disintesis dengan metode elektrospinning telah dilakukan. Nanofiber polisulfon P-3500 disintesis dengan cara melarutkan pelet polisulfon ke dalam 30 mL dimethylacetamide (DMAc). Pengaruh kondisi seperti konsentrasi, jarak nozzle dengan kolektor, tegangan dan laju alir terhadap morfologi dan diameter serat dipelajari. Kondisi optimum pembuatan nanofiber polisulfon diperoleh dengan konsentrasi 23 %, jarak 12 cm, tegangan 25 kV, dan laju alir 0,05 mL/min dengan ukuran diameter serat rata-rata 762,927 nm. Nanofiber yang terbentuk dilapisi dengan FeOOH untuk meningkatkan kapasitas penyerapannya terhadap ion Cu2+. Dari hasil penelitian didapatkan kondisi optimum untuk pemisahan ion Cu2+ menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yaitu waktu kontak 2 jam, pH 6, bobot adsorben 25 mg, dan konsentrasi Cu2+10 mg/L dengan kapasitas penyerapan 9,79 mg/g, sedangkan untuk nanofiber polisulfon kapasitas penyerapan 8,34 mg/g. Pola penyerapan Cu2+ untuk kedua jenis adsorben lebih sesuai dengan pola isoterm Freundlich 
PENENTUAN LOGAM BESI DAN SENG TOTAL DALAM PRODUK PERIKANAN MENGGUNAKAN FLAME ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY DAN PENGUKURAN NILAI KETIDAKPASTIANNYA Willy Cahya Nugraha; Christine Elishian; Rosi Ketrin
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3300.389 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v16i2.9

Abstract

Besi (Fe) dan Seng (Zn) merupakan unsur yang berguna bagi manusia. Keberadaan logam Fe dan Zn dalam produk perikanan yang cukup kecil (trace), mudah tekontaminasi oleh kondisi lingkungan, dan metoda preparasinya yang komplek menyebabkan penentuan logam Fe dan Zn ini cukup sulit, sehingga perlu dicari suatu metoda uji  yang valid dan akurat. Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan metoda standar American of Analytical Chemistry (AOAC) tahun 2005 no. 999.10 dengan menggunakan bahan acuan bersertifikat DORM 3 (Fish Protein Certified Reference Material for Trace Metal) dari National Research Council of Canada (NRCC) untuk menguji keakuratan dan ketertelusuran hasil ke Standard Internasional (SI). Metoda ini sudah divalidasi berdasarkan parameter-parameter kimia analitik. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar Fe dan Zn dalam sampel perikanan sebesar 178 ±  14 mg.Kg-1  dan 59,8 ±  6,6 mg.Kg-1 (berat kering) dengan faktor cakupan 2 dan tingkat kepercayaan 95%, yang berada pada rentang yang ditentukan 183,5 ± 4,3 mg Kg-1 and 60 ± 1,1 mg Kg-1.Kata kunci : Fe, Zn, trace, CRM, perikanan Iron (Fe) and Zink (Zn) are  essential elements for human being. Determination of this elements in fish products is quite difficult because of Fe and Zn content  in trace level, easy to be contaminated by the environmental conditions, and, complex preparation methods so that it is needed to find a good and accurate method. In this paper, we have developed a standard method from American of Analytical Chemistry (AOAC), 2005, no. 999. using DORM 3 as Certified Reference Materials (CRMs) to check accuracy and traceability’s results to Standard International (SI). The method has been validated according to analytical parameters.  The results showed that means of Fe and Zn concentration in the investigated fish product were 178 ±  14 mg.Kg-1 and 59.8 ±  6,6 mg.Kg-1 respectively with coverage factor 2 and 95%  level of confident, and  in range of expected mass were 183,5 ± 4,3 mg.Kg-1 and 60 ± 1,1 mg.Kg-1in dry basis.Keywords : Fe, Zn, trace, CRM, fisher
PENENTUAN KADMIUM DALAM PRODUK PERIKANAN DENGAN GRAPHITE FURNACE ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY Willy Cahya Nugraha; Christine Elishian; Rosi Ketrin
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.631 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v14i2.337

Abstract

Penentuan kadmium dalam produk perikanan telah dilakukan menggunakan Graphite Furnace AtomicAbsorption Spectrometry (GF-AAS) dengan magnesium nitrat sebagai matrix modifier, platform atomizationtype A dengan sensitifitas yang tinggi untuk pengukuran kadmium, dan koreksi latar belakang Zeeman. Metodeanalisis  telah  divalidasi  berdasarkan  parameter-parameter  kimia  analitik.  Sebanyak  0,5  g  sampel  produkperikanan didestruksi menggunakan microwave digestion systems dengan menambahkan 5 mL asam nitrat pekatdan 2 mL hidrogen peroksida 30%, kemudian larutan hasil destruksi diencerkan hingga 25 g. Dari larutan inidibuat sederet larutan untuk pengukuran secara adisi standar, dan diukur dengan GF-AAS. Akurasi metodedilakukan dengan menganalisis bahan acuan bersertifikat  DORM 3 Fish Protein Certified Reference Materialfor Trace Metals dari National Research Council Canada dengan nilai recovery sebesar 99,9 ± 0,8%. Dari hasilpenelitian ini diperoleh kadar kadmium dan ketidakpastiannya sebesar 0,273 ± 0,025 mg kg-1berdasarkan beratkering.Kata kunci: GF-AAS, Microwave digestion systems, kadmium, validasi metoda
PENGGUNAAN BAHAN ACUAN BERSERTIFIKAT OYSTER TISSUE 1566b SEBAGAI INTERNAL QUALITY CONTROL UNTUK MENENTUKAN KADAR TIMBAL TOTAL DALAM TEPUNG IKAN MARLIN DENGAN ELECTROTHERMAL ATOMIC ABSORPTION SPECTROMETRY Willy Cahya Nugraha; Yohanes Susanto Ridwan
Jurnal Kimia Terapan Indonesia Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Research Center for Chemistry - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.081 KB) | DOI: 10.14203/jkti.v17i2.29

Abstract

Lead is widely knows as one of the harmful pollutants for humans. Contaminated fishery built by lead may endanger the consumption body. Therefore, contamination monitoring for the fishery products is necessary to be conducted. To ensure the validity of data, Oyster Tissue 1566b certified reference material was used as Internal Quality Control. Marlin fish powder and certified reference materials were analyzed with the same method, personnel, duration or time, equipment and environmental conditions. As the results, it was found that the lead contained in CRM was 0.306 mg.kg-1 with 11.9 % rsd, which is within range of lead content in  the certificate. The method was applied for Marlin Fish. Lead content obtained in this study (1.821 mg.kg-1 with 11.06 % rsd) can be reported with high level of confidence.Keywords: Lead, Certified Reference Materials, Marlin fish
Adsorpsi Cu2+ Menggunakan Nanofiber Polisulfon-FeOOH Yang Disintesis Dengan Metode Elektrospinning Dini Hariyati Adam; Hamzar Suyani; Muhamad Nasir; Safni Safni; Willy Cahya Nugraha
Jurnal Litbang Industri Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1725.154 KB) | DOI: 10.24960/jli.v3i2.629.101-108

Abstract

It had been done a research about adsorption of Cu2+ using polysulfone-FeOOH nanofiber prepared by elektrospinning method. Polysulfone-FeOOH nanofiber was synthesized by dissolving polysulfone pellets in 30 mL dimethylacetamide (DMAc). The effects of process conditions such as concentration, distance between the nozzle and collector, voltage and flow rate on the morphology and diameter of nanofibers were investigated. The optimum conditions of polysulfone nanofiber synthesizing was obtained with concentration 25%, distance 12 cm, voltage 25 kV, and flow rate  0.05 mL/min with average diameters of fibers was 762.927 nm. Polysulfone nanofiber was coated with FeOOH to increase the adsorbtion capacity of Cu2+. The results showed that optimum condition for removal of Cu2+ used polysulfone-FeOOH nanofiber was obtained in 2 hours contact time, pH 6, adsorbent dosage 25 mg, and concentration of Cu2+ 10 mg/L with adsorbstion capacity was 9.79 mg/g, while for polysulfone nanofiber the adsorption capacity was 8.34 mg/g. The adsorbtion pattern of Cu2+ by the both of adsorbent followed the Freundlich isotherm pattern.ABSTRAK Penelitian mengenai pemisahan ion Cu2+menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yang disintesis dengan metode elektrospinning telah dilakukan. Nanofiber polisulfon P-3500 disintesis dengan cara melarutkan pelet polisulfon ke dalam 30 mL dimethylacetamide (DMAc). Pengaruh kondisi seperti konsentrasi, jarak nozzle dengan kolektor, tegangan dan laju alir terhadap morfologi dan diameter serat dipelajari. Kondisi optimum pembuatan nanofiber polisulfon diperoleh dengan konsentrasi 23 %, jarak 12 cm, tegangan 25 kV, dan laju alir 0,05 mL/min dengan ukuran diameter serat rata-rata 762,927 nm. Nanofiber yang terbentuk dilapisi dengan FeOOH untuk meningkatkan kapasitas penyerapannya terhadap ion Cu2+. Dari hasil penelitian didapatkan kondisi optimum untuk pemisahan ion Cu2+ menggunakan nanofiber polisulfon-FeOOH yaitu waktu kontak 2 jam, pH 6, bobot adsorben 25 mg, dan konsentrasi Cu2+10 mg/L dengan kapasitas penyerapan 9,79 mg/g, sedangkan untuk nanofiber polisulfon kapasitas penyerapan 8,34 mg/g. Pola penyerapan Cu2+ untuk kedua jenis adsorben lebih sesuai dengan pola isoterm Freundlich