Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

KEMAMPUAN MENGGUNAKAN MAJAS PERBANDINGAN DALAM PRODUKSI TEKS EKSEMPLUM SISWA SMP KELAS IX LOMBOK UTARA Suriati, Ni Luh; Mahsun, Mahsun; Sudirman, Sudirman
LINGUA : Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 15 No. 2 (2018): September 2018
Publisher : Center of Language and Cultural Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30957/lingua.v15i2.481

Abstract

This study investigates how the nineth graders of SMP in Lombok Utara apply exemplum teks in writing expressions.  Two SMPN in Gangga and Bayan in Lombok Utara city were assigned as the research setting. An amount of 30 students and one teacer in each school was selected as participants. Of three states SMP in Lombok Utara, both schools have applied The 2013 Curriculum, so that both schools were seected as the research setting. Data were collected through written test the students made in exemplum, interviews with teachers to know strategies to express the exemplum.  The study reveals that the nineth graders of SMP in Lombok Utara perform succesfully to use figurative language for comparison. The mastery is colored as: of 58 students, 48 (79%) are succesful to use figurative language for comparison, 28% use incomplete text structure of exemplum emphasizing on orietnation and incidents.  The students have produced conjunctions, that include: conjunction intersentences, conjunction intra-sentences, and appropriate adverbs.  However, conjunctions to link paragraphs after another are short.  Exemplum that refers to example, story, or annecdote is not well developed by students.    
LINGUISTICS AND HUMANITIES STUDY Mahsun, Mahsun
LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : LITERASI: Jurnal Ilmu-Ilmu Humaniora

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (998.791 KB)

Abstract

Language is not merely one of cultural elements, but also medium of culture itself. As medium of culture, we can study cultural systems and behaviors of its members. This article offers conceptual and methodological formula about contribution of linguistics in reading cultural systems and behaviors of particular language speakers. By using Sumbawa and Sasak language as data, I will elaborate language units in both of them from which some cultural behaviors appear. Keywords: information, culture, humanism, linguistic,  
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM MELALUI INTEGRASI METODE KLASIK DENGAN METODE SAINTIFIK MODERN Mahsun, Mahsun
AL-AHKAM Volume 25, Nomor 1, April 2015
Publisher : Fakultas Syariah UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.419 KB)

Abstract

Artikel ini mendiskusikan tawaran pemikiran tentang integrasi metodologis antara metode klasik dengan metode saintifik modern dalam sebuah proyek rekonstruksi pemikiran hukum Islam. Ide tulisan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan pengembangan pemikiran keislaman khususnya pemikiran dalam hukum Islam. Secara filosofis sesungguhnya munculnya metodologi komprehensif dalam wujudnya sebagai metode manhaji eklektis hasil integrasi antara metode klasik dengan metode saintifik modern sangat memungkinkan. Implementasinya, perkawinan dua metode tersebut harus memenuhi prasyarat utama yaitu: pertama, menjadikan al-maṣlaḥah al-‘āmmah (ke-patutan umum) atau maqāṣid al-sharī’ah sebagai pertimbangan penentu dalam meng-gali sebuah hukum pada tiga ranah utamanya, yaitu ḍarūriyyah (kebutuhan mendesak), ḥājiyyah (kebutuhan normal), dan taḥsīniyyah (kebutuhan komplementer. Kedua, adalah munculnya kesadaran manusia akan ketidakcukupan metode klasik untuk menjawab tantangan zaman yang berubah secara dinamis. Ketiga, adalah kemauan manusia untuk berubah menuju sesuatu yang baru yang lebih baik, sebagai implementasi al-muḥāfaẓah ‘alā al-qadīm al-ṣāliḥ wa al-akhdh bi ‘l-jadīd al-aṣlaḥ.   ***   This article discusses methodological thinking about integration deals between classical methods with modern scientific methods in a project of reconstruction of Islamic legal thought. The idea of this paper is motivated by the need for the development of Islamic thought, especially in Islamic law. Philosophically, the real emergence manhaji-eclectic method as a result of integration between the classical methods and modern scientific methods is possible. Implementation of the integration must meet the main prerequisites: first, making al-maṣlaḥah al-āmmah (public decency) or maqāṣid al-sharī’ah as a decisive consideration in seeking a legal aid in three main domains, namely ḍarūriyyah (urgent needs) ḥājiyyah (normal needs), and taḥsīniyyah (complementary needs). The second prerequisite, is the emergence of human consciousness that the classical method will not capable to answer the challenges that change dynamically. While the third, is the willingness of people to change to something new and better, as the implementation of al-muḥāfaẓah ‘alā al-qadīm al-ṣāliḥ wa al-akhdh bi ‘l-jadīd al-aṣlaḥ.  ***  Keywords: rekonstruksi,  integrasi,  metode  klasik,  metode  modern, maqāṣid  al-sharī’ah
ARBITRASI DALAM HUKUM PERKAWINAN DI MESIR, BANGLADESH, PAKISTAN, TUNISIA, DAN INDONESIA Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 6, No 1 (2013): (APRIL 2013)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ARBITRASI DALAM HUKUM PERKAWINAN  DI MESIR, BANGLADESH, PAKISTAN, TUNISIA, DAN INDONESIAMahsunJurusan Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Ngawi AbstrakHadirnya Dewan Arbitrasi sebagai penengah antara pihak si suami dan isteri adalah bentuk perluasan dan regulasi terhadap Undang-Undang positif yang sudah ada, baik yang berasal dari hukum Islam maupun keinginan untuk mereformasi hukum karena kebutuhan sosiologis politis. Artinya Negara ingin mengefektifkan Undang-Undang itu dengan membentuk suatu badan yang dapat membantu tugasnya demi pelaksanaan pembatasan poligami dan perceraian, walaupun dengan adanya Dewan arbitrasi tidak berarti menutup kasus poligami. Inti dari adanya Dewan Arbitrasi di Pakistan, Bangladesh, Tunisia, Mesir dan Indonesia secara formal adalah untuk menjamin terlaksananya aturan pembatasan poligami berjalan efektif.  
Hukum dan Manajerial Wakaf di Malaysia Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 2, No 1 (2011): (APRIL 2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam ranah epistemologi hukum Islam (kitab fiqih), secara terminologis wakaf sering didefinisikan sebagai “penahanan (pencegahan) harta yang bisa dimanfaatkan; yang tidak lenyap eksistensinya, dengan cara tidak melakukan tindakan (menghilangkan) bendanya, disalurkan kepada hal yang mubah yang konkrit.”Studi tentang wakaf di Malaysia biasanya terselip dalam liputan studi hukum keluarga yang lebih populer; perkawinan, perceraian, status anak angkat, dan hukum waris. Dengan kajian ini diharapkan tergambar tata cara pengaturan harta wakaf di Malaysia, yang akhirnya berimplikasi praktis; dapat dipertimbangkan aplikasinya untuk konteks Indonesia, sejauh hal itu konstruktif. Telaah atas tema ini akan coba diolah dengan pendekatan sosiologis-historis dengan asumsi bahwa pendekatan normatif dan historis per se tidak mampu lagi menghasilkan satu konklusi yang komprehensif. Kata Kunci : Wakaf, Hukum Wakaf, Manajerial Wakaf. 
GENESIS PEMIKIRAN HUKUM ISLAM NUSANTARA (Studi Pengaruh Islam Pertama terhadap Perkembangan Pemikiran dan Politik Hukum Islam Nusantara Klasik) Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 9, No 1 (2015): (APRIL 2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mendiskusikan persoalan Islam pertama dan pengaruhnya terhadap pemikiran hukum Islam; berbagai tokoh dengan pemikiran hukum Islamnya; dan dinamika perkembangan politik hukum yang pernah terjadi di Nusantara. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengetahui genesis dan paralelisme kajian dan pemikiran hukum Islam kontemporer yang berkembang di Nusantara.Islam pertama yang masuk di Nusantara adalah Islam dengan karakter tasawuf yang kuat. Karenanya, kreativitas dan improvisasi baru pada genesis pemikiran hukum Islam masa awal perkembangan Islam di Nusantara sangat sulit ditemui. Adanya anggapan telah terjadi keseimbangan baru antara tasawuf dan fiqih, sejatinya hanya merupakan keseimbangan yang paling mungkin, wajar, dan dalam batasan yang paling vulgar. Yakni, adanya kesamaan dan kedekatan orientasi, sekaligus epistemologi antara ajaran tasawuf dan mazhab Syafi’i, yang memungkinkan bertemu dalam satu titik kepentingan dan pengembangan. Karenanya, selain soal akomodasi aspek lokal sebagai bagian narasi pemikiran hukum, bisa dikatakan bahwa tidak ada gelombang pemikiran dan tawaran konsep “besar” yang telah dihasilkan dari sederet pemikir hukum Islam awal Nusantara. Kata kunci: Islam pertama, hukum Islam, Genesis  
PENDEKATAN TERPADU HUKUM ISLAM DAN SOSIAL (Sebuah Tawaran Pembaruan Metode Penemuan Hukum Islam) Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 3, No 1 (2012): (SEPTEMBER 2012)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembaruan metode penemuan hukum Islam dengan pendekatan terpadu analisis inferensi historis dan tekstual, merupakan satu capaian intelektual yang cukup maju. Dalam hal ini sifat sui-generis metode penemuan hukum Islam yang merupakan trade mark yang harus ada, coba diimbangi dengan apresiasi proporsional terhadap realitas sosial yang dibawa masuk dalam analisis penyimpulan hukumnya. Dengan membawa realitas empirik masuk ke dalam analisis penemuan hukum, terasa ada jaminan hukum Islam dapat tampil lebih kreatif dan hidup di tengah-tengah proses regulasi sosial modern.Tawaran pendekatan ini sengaja diarahkan pada upaya merekonstruksi pemahaman dalam wilayah baru yang belum ada teks hukumnya dengan menghargai tradisi secara proporsional sekaligus mengurangi kesan arogansi intelektual. Upaya ini dilakukan melalui penggabungan teori sistem dan teori aksi di dalam perangkat analisisnya. Inilah yang secara substansial membedakannya dari tawaran pembaruan pemikiran hukum Islam yang diajukan oleh Fazlur Rahman, Muhammad Sahrur dan lainnya yang lebih mengkonsentrasikan pada interpretasi makna baru terhadap teks yang ada dan kurang memberikan mekanisme yang jelas tentang bagaimana bersikap secara metodologis terhadap suatu fenomena yang tidak ada teksnya. 
Islamic Law and Its Implications for Modern World Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 2, No 1 (2011): (APRIL 2011)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul Buku                  :           Islamic Law and Its Implications for Modern WorldKarangan                     :           Sayed Hassan AminPenerbit                       :           Scotland U.K., Royston Ltd, 10 Crown Road North,                                                GlasgowTahun Penerbitan        :           1989 M.Tebal                           :           399 halaman, termasuk indeks
WALIMUJBIR DALAM PUSARAN PEMIKIRAN KH. MA. SAHAL MAHFUDH Mahsun, Mahsun
Al-Mabsut Vol 8, No 1 (2014): (APRIL 2014)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Ngawi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hak untuk melakukan perkawinan menjadi unsur yang penting dalam masyarakat, karena perkawinan menyangkut hak individu yang berhubungan dengan masyarakat. Masyarakat memandang bahwa perempuan tidak mempunyai hak mandiri dalam masalah perkawinan sehingga apabila memilih jodoh maka harus dipilihkan orang tua. Hal ini berbeda dengan pandangan masyarakat Islam tentang anak laki-laki bahwa bagi mereka jodoh adalah urusan Tuhan, bukan orang tua. Tulisan ini membedah secara tuntas pemikiran  KH. MA. Sahal Mahfudh tentang hak Ijbar. Pemikiran  KH. MA. Sahal Mahfudh tentang hak Ijbar berusaha mengambil jalan tengah di antara perbedaan pandangan antar madzab dengan tetap menjadikan pertimbangan kemaslahatan sebagai acuan utama.Kata kunci: hak ijbar, wali mujbir, istinbat al-ahkam  
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN HUKUM ISLAM MELALUI INTEGRASI METODE KLASIK DENGAN METODE SAINTIFIK MODERN Mahsun, Mahsun
Al-Ahkam Volume 25, Nomor 1, April 2015
Publisher : Faculty of Shariah and Law, State Islamic University (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.437 KB) | DOI: 10.21580/ahkam.2015.1.25.191

Abstract

This article discusses methodological thinking about integration deals between classical methods with modern scientific methods in a project of reconstruction of Islamic legal thought. The idea of this paper is motivated by the need for the development of Islamic thought, especially in Islamic law. Philosophically, the real emergence manhaji-eclectic method as a result of integration between the classical methods and modern scientific methods is possible. Implementation of the integration must meet the main prerequisites: first, making al-maṣlaḥah al-'āmmah (public decency) or maqāṣid alsharī’ah as a decisive consideration in seeking a legal aid in three main domains, namely ḍarūriyyah (urgent needs) ḥājiyyah (normal needs), and taḥsīniyyah (complementary needs). The second prerequisite, is the emergence of human consciousness that the classical method will not capable to answer the challenges that change dynamically. While the third, is the willingness of people to change to something new and better, as the implementation of al-muḥāfaẓah ‘alā al-qadīm al-ṣāliḥ wa al-akhdh bi ‘l-jadīd l-aṣlaḥ