Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Kondisi terumbu karang di pulau Salawati kabupaten Raja Ampat Papua Barat Sagai, Bonnke; Roeroe, Kakaskasen; Manembu, Indri
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.2.2017.15947

Abstract

Terumbu karang adalah suatu ekosistem di laut dangkal tropis, di mana unsur penyusun utamanya karang batu, dengan berbagai biota lainnya yang hidup berasosiasi di dalamnya. Fenomena alam dan berbagai kegiatan antropogenik mengancam kesehatan maupun keberadaan terumbu karang. Pengambilan data dilakukan dengan metode UPT (Underwater Photo Transect) atau Transek Foto Bawah Air dilakukan dengan pemotretan bawah air menggunakan kamera digital yang diberi pelindung (housing). Analisis gambar dengan menggunakan piranti software CPCe (Coral Point Count with Excel extensions). Hasil penilaian kondisi kesehatan terumbu karang ditiga  Stasiun di Pulau Salawati, tutupan terumbu karang di setiap Stasiun adalah sebagai berikut, Stasiun 1 55,13% termasuk dalam kategori baik, Stasiun 2 15,80% termasuk dalam kategori buruk, dan Stasiun 3 18,20% termasuk dalam kategoti buruk.
KERAGAMAN SUBSTRAT BAGI NUDIBRANCH DI SELAT LEMBEH Marpaung, Yehezkiel S.P.H.; Ompi, Medy; Manembu, Indri; Roeroe, Kakaskasen A.; Mamangkey, N. Gustaf F.; Lumingas, Lucky
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 2 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.2.2019.24144

Abstract

Research on the diversity of nudibranch substrates was carried out in Lembeh Strait at 3 locations, at Nudifall, Makawide, and Nudiritrit.  The purpose of the researchs 1) to discover the nudibranch species at Nudifall, Makawide, Nudiritrit in the Lembeh Strait. 2) to knowing the substrate occupied by nudibranchs in the Lembeh Strait. 3) to knowing the overlapping substrate that was occupied by the nudibranch. Subtrates can to be used by nudibranches to get food sources, shelter from predators, and as a place to live. Nudibranch species found in the Lembeh Strait were 19 species in this study. Dead Coral with Algae (DCA), sponges, algae, hard coral, and tunicates were the types of substrate where nudibranches live in the Lembeh Strait The most dominant or overlapping substrate between types of nudibranchs was Dead Coral with Algae. Keywords : Nudibranch, Substrate, Lembeh Substrate diversity of nudibranch at Lembeh Strait            Penelitian mengenai keragaman substrat nudibranch dilakukan di Selat Lembeh pada 3 lokasi yaitu Nudifall, Makawide, dan Nudiritrit.  Tujuannya yaitu 1) mengetahui jen nudibranch di Nudifall, Makawide, Nudiritrit di Selat Lembeh. 2) mengetahui substrat yang ditempati nudibranch di Selat Lembeh. 3) mengetahui substrat yang tumpang tindih (overlap) yang ditempati oleh nudibranch. Subtrat dapat dimanfaatkan oleh nudibranch untuk mendapatkan sumber makanan, tempat berlindung dari predator, dan sebagai tempat tinggal.  Jenis nudibranch yang ditemukan di Selat Lembeh ada 19 spesies dalam penelitian ini.  Dead Coral with Algae (DCA), spons, alga, hard coral, dan tunikata merupakan substrat-substrat tempat hidup nudibranch di Selat Lembeh. Substrat yang paling dominan atau tumpang tindih antar jenis dari nudibranch adalah DCA. Kata kunci : Nudibranch, Substrat, Lembeh.
Identifikasi jenis alga Koralin di pulau Salawati, Waigeo Barat kepulauan Raja Ampat dan pantai Malalayang kota Manado Tampanguma, Biondi; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Manembu, Indri; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14986

Abstract

Alga koralin merupakan kelompok alga laut (seaweed) yang diklasifikasikan kedalam Divisi Rhodophyta, Kelas Florideophyceae, Ordo Cryptonemiales, Famili Corallinaceae. Secara morfologi (external appearance) kelompok famili ini terbagi atas 2 bagian, yaitu: alga koralin bersegmen (articulated/geniculated Coralline Algae) dan alga koralin tidak bersegmen (non-articulated/nongeniculated Coralline Algae). Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis alga koralin dan mendeskripsikan morfologi alga koralin. Pengambilan sampel dilakukan di Pulau Salawati, Waigeo Barat Kepulauan Raja Ampat dan Pantai Malalayang Kota Manado. Pengambilan sampel dilakukan dengan bantuan peralatan SCUBA dan diambil pada kedalaman 1-5 meter dengan menggunakan metode survey jelajah. Setiap alga koralin yang di ambil dimasukan ke dalam plastik sampel. Sampel alga koralin di bawah ke Laboratorium Biologi Kelautan FPIK UNSRAT. Selanjutnya, setiap alga diidentifikasi, dicatat dan didokumentasi menggunakan kamera. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi berjumlah 4 spesies alga koralin. Keempat spesies tersebut yaitu 1 Mastophora rosea dari Waigeo Barat, 2 dari Pulau Salawati Amphiroa rigida dan Galaxaura rugosa, dan 1 dari Pantai Malalayang Peyssonnelia caulifera.
Konservasi penyu di Pulau Talise, Gangga dan Bangka Kabupaten Minahasa Utara Arunde, Preti; Boneka, Farnis B.; Wagey, Billy Th.; Mamangkey, Gustaf; Manembu, Indri; Kambey, Alex
e-Journal BUDIDAYA PERAIRAN Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/bdp.6.2.2018.20634

Abstract

Generally, this study was intended to examine the problems or implementation of turtle conservation in Talise, Gangga and Bangka Islands and specifically with a number of objectives to: know the introduction of sea turtle, to know sea turtle fishing and turtle exploitation, to know the knowledge of the people about turtle as a protected animal. Survey results on Talise Island, Gangga and Bangka showed that people who had seen turtles directly: Talise Island 94%, Gangga 58%, and Bangka 92%. Local residents of Talise, Gangga and Bangka Islands know well the turtles even see directly in their habitat and spawning time. In Talise, Gangga and Bangka Islands,  turtles are still commonly caught, traded and consumed by local people.  People's awareness about turtles as protected animals is lacking.  Keywords: Turtle, Talise Island, Gangga and Bangka
DISTRIBUSI KARANG DAN IKAN KARANG DI KAWASAN REEF BALL TELUK BUYAT KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Manembu, Indri; Adrianto, Luky; Bengen, Dietriech G; Yulianda, Ferdinan
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 8, No 1 (2012)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.013 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.8.1.2012.342

Abstract

Penempatan reef ball di perairan Teluk Buyat dan sekitarnya telah dilakukan pada tahun 1999 oleh PT. Newmont Minahasa Raya. Tujuan penempatan reef ball untuk membangun habitat berbagai biota yang berasosiasi dengan karang sehingga dapat meningkatkan populasi ikan ekonomis penting. Kehadiran ikan karang pada reef ball sangat penting secara ekologis dan ekonomis. Penurunan kualitas terumbu berarti hilangnya nilai ekonomi barang dan jasa, serta hilangnya jaminan makanan dan pekerjaan untuk masyarakat pesisir, yang umumnya hidup dalam kemiskinan. Secara keseluruan, komposisi spesies ikan yang ditemukan di reef ball terdiri dari 19 famili, 34 genus, 50 spesies dan 290 individu, yang tertinggi dihuni oleh jenis dari famili Mullidae. Seiring dengan bertambahnya waktu dan usia reef ball, beberapa spesies terlihat sudah menetap seperti Lutjanus kasmira, dan beberapa spesies dari famili Acanthuridae. Keberadaan reef ball membantu terbentuknya ekosistem terumbu karang yang baru dan meningkatkan kesuburan perairan, sehingga lebih meningkatkan keberadaan komposisi ikan karang, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan nelayan dari hasil tangkapan ikan karang.Kata kunci: Reef ball, karang batu, ikan karang Distribution of Coral Reefs and Fish in Buyat Bay Area Reef Ball Southeast Minahasa Regency The placement of reef ball in Buyat Bay and surrounding areas have been carried out since 1999 by PT. Newmont Minahasa Raya. The goal of this placement was to build a habitat for many biota associated with reef thus may improve economically important fish populations. The presence of reef fish on the reef ball is indispensable ecologically and economically. Furthermore, the degradation of reefs might cause the disappearance of economic value of goods and services, as well as the disappearance of food security and employment for coastal communities, who generally live in poverty. Overall, the composition of fish species found in the reef ball consists of 19 families, 34 genera, 50 species and 290 individuals, the highest inhabited by species of the family Mullidae. As time went by and the increase of reef ball age, some species seem have settled down such as Lutjanus kasmira, and several species of the Acanthuridae family. In addition, the presence of reef ball helps the formation of a new coral reef ecosystem and increase the fertility of waters, therefore enhancing the presence of reef fish composition, which might increases the income of fishermen. Keywords: Reef ball, coral reef, reef fish  
KARAKTERISTIK SAMPAH LAUT DI PANTAI TUMPAAN DESA TATELI DUA KECAMATAN MANDOLANG KABUPATEN MINAHASA Patuwo, Nafiri C.; Pelle, Wilmy Etwil; Manengkey, Hermanto W.K.; Schaduw, Joshian N.W.; Manembu, Indri; Ngangi, Edwin L.A.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 8, No 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.8.1.2020.27493

Abstract

The coastal region is the transitional area between the terrestrial and marine environment that has a great change of experiencing pressure due to pollution. This matter can caused by the strong population of Indonesia, quite high tourist activities, sea transportations, and large infra structure development. Marine debris in particular plastic is a big problem, not only in Indonesia, but also around the world. Hence, Indonesia is considered to be the second largest plastic waste producer in the world. Marine debris is part of a broader problem regarding waste management. Solid waste management has become a challenge for public health. In this research, garbage observation was done by adapting the shoreline survey method based on the national oceanic and atmospheric administration (NOAA, 2013). The results of observations of the research found that the type of macro-debris and meso-debris collected in the transect of observations were 228 items with a total weight of 2062.32 grams. Plastics debris were found in most quantities followed by rubbers, glasses and metals. The main factor for the abundance of marine debris in the coastal area of Tateli dua village Mandolang subdistrict Minahasa regency was the household waste, indicating that land-based sources provide a key factor for plastic pollution on the coastal area. Keywords: Marine debris, shoreline survey, pollution, coastal environment, Minahasa regency. AbstrakWilayah pesisir yang merupakan sumber daya potensial di Indonesia, adalah daerah peralihan antara daratan dan lautan. Sumber daya ini sangat besar yang didukung oleh adanya garis pantai sepanjang sekitar 81.000 km. Garis pantai yang panjang ini menyimpan potensi kekayaan sumber alam yang besar.Potensi itu diantaranya potensi non hayati dan hayati. Disamping potensi sumberdaya alam yang tersebar luas di pesisir Indonesia, potensi pencemaran terhadap lingkungan pesisir dan laut pun memiliki peluang yang cukup besar.Peluang ini dapat disebabkan oleh padatnya penduduk Indonesia, aktivitas wisata yang cukup tinggi termasuk transportasi, dan pembangunan yang besar.Sampah laut khususnya plastik merupakan masalah besar, bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia.Indonesia juga dianggap sebagai produsen sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia.Sampah laut merupakan bagian dari masalah yang lebih luas terkait pengelolaan sampah.Pengelolaan sampah padat telah menjadi tantangan kesehatan masyarakat.Pengamatan sampah dilakukan dengan adaptasi metode shoreline survey methodology berdasarkan National Oceanic and Atmospheric Administration(NOAA, 2013). Hasil pengamatan di lokasi penelitian di temukan jenis sampah makro-debris dan meso-debris yang dikumpulkan pada transek pengamatan sebanyak228 item dengan bobot total 2062,32 gram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plastik debris ditemukan dalam jumlah terbanyak diikuti oleh karet, kaca dan logam. Faktor utama penyebab kelimpahan sampah laut di Pantai Tumpaan Desa Tateli Dua, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa adalah sampah aktivitas penduduk yang menunjukkan bahwa sumber-sumber berbasis lahan menyediakan input utama untuk polusi plastik di pantai tersebut. Kata Kunci: Sampah laut, survey garis pantai, pencemaran, lingkungan pesisir, Kabupaten Minahasa
KONDISI TERUMBU KARANG PULAU MANTEHAGE KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Kase, Ardy; manembu, Indri; Schaduw, Joshian
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24466

Abstract

Coral reefs are coastal ecosystems with the highest level of diversity. Corals are invertebrates that are included in the Phylum Coelenterata (hollow animal) or Cnidaria. Whereas coral reefs are a collection of millions of polyps. Natural phenomena and various anthropogenic activities threaten the health and presence of Mantehage Island coral reefs and the lack of information about the health conditions of coral reefs on Mantehage Island. The purpose of this study is to determine the condition of coral reefs andto  provide baselines data on Mantehage Island. Data collection was done by using UPT  method (Underwater Photo Transect). Underwater Photo Transect carried out by underwater shooting using a digital camera that was shielded (housing). Image analysis were done using the CPCe software (Coral Point Count with Excel extensions). The results of coral reef health conditions at four stations on Mantehage Island shows, coral reef cover at each station as follows, station 1 (one) 53.00% were in good condition, station 2 (two) 25.40% were in a moderate condition, station 3 (three) 16.49% were in poor condition, and station 4 (four) 42.07% were in a moderate condition. From the four stations, the condition of Mantehage Island's coral reefs were in the moderate category with a percentage of 34.24%.Keywords:. Mantehage Island, Terumbu Karang, UPT, CPCe
Identifikasi keanekaragaman lamun dan ekhinodermata dalam upaya konservasi Bengkal, Krisandy; Manembu, Indri; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Schaduw, Joshian; Lumingas, Laurence
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 7, No 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.1.2019.22819

Abstract

Lamun memegang peran penting di komunitas pesisir karena merupakan salah satu faktor pendukung dari berbagai macam flora dan fauna, mempengaruhi produktivitas perairan pesisir, penstabil sedimen  mengontrol kejernihan dan kualitas air, serta dapat mempengaruhi ekosistem lain di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman spesies lamun dan mengidentifikasi keanekaragaman ekhinodermata yang ditemukan di pesisir Kelurahan Tongkaina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Seagrass Watch. Data hasil penelitian, ditemukan lima jenis lamun, yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dan Enhalus acoroides yang terdiri dari dua famili yaitu Hydroccharitaceae dan Potamogentonaceae. Jenis lamun yang sering ditemui di Stasiun I adalah Cymodocea rotundata dengan nilai INP = 109,10 dan di Stasiun II Syringodium isoetifolium dengan nilai INP = 141,80. Enhalus acoroides adalah jenis lamun yang jarang ditemui pada kedua stasiun pengamatan, dengan nilai INP = 3,19 di Stasiun I dan di Stasiun II nilai INP = 52,30. Ditemukan tiga spesies ekhinodermata yang terdapat dalam transek kuadrat yaitu Protoreaster nodosus Ekhinothrix calamaris dan Linckia laevigata. Indeks keanekaragaman ekhinodermata di Stasiun I dengan nilai H' = 0,500 dan di Stasiun II dengan nilai H' = 0,410.
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN IKAN KARANG di DAERAH TERUMBU KARANG PULAU LIHAGA LIKUPANG MINAHASA UTARA Coloay, Clive Griffen; Schaduw, Joshian N.W.; Kusen, Janny D; Roeroe, Kakaskasen A; Manembu, Indri; Rondonuwu, Ari B
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 10, No 1 (2022): JURNAL PESISR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.1.2022.39106

Abstract

Lihaga Island is located in West Likupang District, North Minahasa Regency. When the Likupang area has been designated as a Special Economic Zone (SEZ), and one of the five super priority tourist destinations based on Government Regulation Number 84 of 2019. This indicates that the waters of Lihaga Island will become a diving tourism destination. Data on the abundance and diversity of reef fish in these waters need to be known. The method used in this research is the Underwater Visual Census. The data obtained is then analyzed for abundance index, diversity index, uniformity index and dominance index using the Microsoft Excel program. The results show that reef fish in the waters of Lihaga Island are categorized as abundant, according to Djamali and Darsoono. (2005) with the number found > 50 individuals, dominated by the species Chromis margaritifer from the family Pomacentridae or commonly known as 'damselfishes'. The results of the analysis were based on the total number of reef fish recorded at 3 observation stations, namely the abundance index scored 1,780 ind/m2, the diversity index was in the high category with a value of H`>3.0 which was 3.15, then the uniformity index was included in the unstable category with a value <0.75. which is 0.73 and the dominance index value is categorized as low with a value of 0.10 or <0.50.  Keywords: Likupang, Lihaga Island, reef fish, underwater visual census.