Indah Margarethy
Balai Litbangkes Baturaja

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KEJADIAN MALARIA PADA ANAK DAN IBU HAMIL DAN PROGRAM PENGENDALIAN MALARIA DI DESA SUKAJAYA LEMPASING, KABUPATEN PESAWARAN Santoso Santoso; Indah Margarethy; Maya Arisanti; Rizki Nurmaliani
SPIRAKEL Vol 11 No 2 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Baturaja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.564 KB) | DOI: 10.22435/spirakel.v11i2.1837

Abstract

Provinsi Lampung merupakan salah satu daerah endemis malaria. Kabupaten dengan prevalensi tertinggi adalah Kabupaten Pesawaran dengan API sebesar 4,8‰. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu hamil dan balita yang ada di wilayah Desa Sukajaya Lempasing Puskesmas Hanura.Jumlah sampel dalam penelitian adalah 100 orang ibu hamil dan balita. Informan untuk wawancara mendalam adalah petugas pengelola program Malaria. Hasil pengambilan darah dengan RDT terhadap 100 sampel mendapatkan tiga sampel positif malaria falciparum. Hasil pemeriksaan mikroskopis tidak ditemukan slide positif Plasmodium. Penduduk yang pernah mengalami demam sebanyak 42%. Hasil analisis bivariat mendapatkan adanya hubungan yang bermakna antara riwayat demam dengan riwayat kontak dengan penderita malaria sebelumnya. Penggunaan kelambu pada saat tidur sudah merupakan kebiasaan masyarakat khususnya ibu hamil dan balita untuk mencegah gigitan nyamuk. Pengendalian malaria yang telah dilakukan diantaranya penyemprotan, larvasidasi, dan pembagian kelambu.
Kejadian Diare Ditinjau Dari Aspek Jumlah Penduduk dan Sanitasi Lingkungan (Analisis Kasus Diare di Kota Palembang Tahun 2017) Indah Margarethy; Nungki Hapsari Suryaningtyas; Yahya Yahya
Medica Arteriana (Med-Art) Vol 2, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : University of Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/medart.2.1.2020.10-16

Abstract

Latar Belakang: Diare adalah penyakit menular yang berpotensi menimbulkan kematian khususnya pada kelompok usia bawah lima tahun. Kota Palembang masih memiliki kasus diare tertinggi dibandingkan kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan. Pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 masing-masing sebanyak 38.721, 37.896 dan 41.957 kasus. Metode: Menyajikan hasil analisis dari data sekunder yang ada pada Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Palembang Tahun 2017. Analisis korelasi Pearson dilakukan untuk menentukan apakah hubungan yang terjadi secara statistik bermakna atau tidak (α = 0,05). Variabel yang diikutkan dalam analisis multivariabel harus memenuhi syarat nilai p-value <0,25 dari hasil seleksi uji bivariat. Analisis multivariabel menggunakan uji regresi linear berganda dengan metode enter. Hasil: Berdasarkan semua uji asumsi yang telah diuji maka model akhir kasus diare yang memenuhi syarat asumsi ada dua variabel independen  yaitu jumlah penduduk dan jumlah penduduk dengan akses jamban tidak sehat. Kesimpulan: Jumlah penduduk dan jumlah penduduk dengan jamban tidak sehat menjadi faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap kenaikan kasus diare di Kota Palembang sedangkan faktor jumlah rumah tangga tidak ber-PHBS tidak berpengaruh terhadap kasus diare
Kearifan lokal dalam pemanfaatan tumbuhan untuk mengatasi malaria oleh pengobat tradisional di Sumatera Selatan Indah Margarethy; Yahya Yahya; Milana Salim
JHECDs: Journal of Health Epidemiology and Communicable Diseases Vol 5 No 2 (2019): JHECDs Vol. 5, No. 2, Desember 2019
Publisher : Balai Litbangkes Tanah Bumbu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jhecds.v5i2.2088

Abstract

Malaria merupakan masalah kesehatan di Indonesia terutama pada masyarakat perdesaan. Pada tahun 2015 angka Annual Paracite Insidence di Provinsi Sumatera Selatan sebesar 0,26. Penelitian ini bertujuan menganalisis data penggunaan tumbuhan obat untuk malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang di Provinsi Sumatera Selatan. Data diperoleh dari hasil penelitian Riset khusus Tanaman obat dan Jamu tahun 2015 melalui tim manajemen data Badan Litbang Kesehatan. Informan penelitian ini sebanyak 14 battra dari Suku Taleko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan malaria pada Suku Teloko, Daya, Pegagan, Meranjat dan Lintang terdiri dari 21 jenis. Brotowali (Tinospora crispa (L)) merupakan tumbuhan yang paling banyak digunakan battra sebagai ramuan pengobatan malaria. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah daun. Battra memperoleh tumbuhan obat dengan mencari di sekitar tempat tinggal, namun masih ada beberapa tumbuhan yang harus didapatkan di dalam hutan. Tidak ada upaya melestarikan tumbuhan obat yang sudah langka dan sulit didapatkan dari dalam hutan seperti daun Tedimfuk (Claoxylon indicum (Reinw. Ex Blume) Hassk) dan Lengkenai duduk (Unidentiified). umbuhan obat yang masih bisa didapatkan di dalam hutan seperti daun Belidang seni (Unidentiified) dilestarikan battra dengan menanam di perkarangan/kebun. Simpulan dari tulisan ini bahwa tumbuhan obat untuk malaria yang habitatnya di hutan dan sudah sulit ditemukan menjadi alasan battra tidak dapat melestarikannnya maka perlu pemberdayaan masyarakat pada suku-suku di Sumatera Selatan tentang manfaat apotik hidup, sehingga masyarakat termotivasi memanfaatkan kebun dengan ditanami tumbuhan obat dan mewariskan pengetahuan mengenai tumbuhan obat ke generasi selanjutnya.