Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Social Media Sentiment Analysis to Measure Community Response in the Millennial Road Safety Festival Program Using TF-IDF and Support Vector Machine Saiful Bukhori; Sonya Sulistyono; Antonius Cahya Prihandoko; Januar Adi Putra; Windi Eka Yulia Retnani; Umroh Makhmudah; Muhammad Noor Dwi Eldianto
Journal of Indonesia Road Safety Vol 3 No 2 (2020): Journal of Indonesia Road Safety
Publisher : Traffic Accident Research Center, Indonesia Traffic Police Corps and University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/korlantas-jirs.v3i2.16768

Abstract

This Sentiment Analysis is a combination of data mining and text mining. Sentiment Analysis itself is used to process various opinions that the public or experts have given through a variety of existing media. The argument is given to a product, service, or agency. Sentiment Analysis has three types of opinions: negative opinions, positive opinions, and neutral opinions. Based on the test results, the resulting model achieves the highest accuracy of 83.33% when using 80:20 scenario data, while the lowest accuracy of 80.00% is achieved when using the 60:40 scenario data. The higher the precision that will be obtained, whereas using less training data will be slightly unstable. ABSTRAK Sentiment Analysis merupakan perpaduan dari data mining dan teks mining, dimana Sentiment Analysis sendiri digunakan untuk mengolah berbagai macam opini yang telah diberikan oleh masyarakat atau para pakar melalui berbagai media yang ada, opini tersebut diberikan untuk sebuah produk, jasa maupun sebuah instansi. Pada Sentiment Analysis terdapat 3 jenis opini, yaitu opini negatif, opini positif dan opini netral. Berdasarkan hasil pengujian, model yang dihasilkan mencapai akurasi tertinggi yaitu 83,33% saat menggunakan data skenario 80:20, sedangkan akurasi terendah 80,00% dicapai ketika menggunakan skenario data 60:40 Skenario data dapat memengaruhi tingkat akurasi semakin banyak jumlah data pelatihan yang diberikan, semakin tinggi akurasi yang akan diperoleh, sedangkan jika menggunakan lebih sedikit data pelatihan, hasilnya akan sedikit tidak stabil.
Perencanaan Peningkatan Akses Jalan Bandar Udara Notohadinegoro Inas Ade Zahra; Akhmad Hasanuddin; Nunung Nuring Hayati; Sonya Sulistyono
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v5i1.10903

Abstract

Notohadinegoro Airport access road according to road class is class III road. This road has a length of ± 3 km and a width of 3 m, where the traffic control is 2-way undivided. The direction of development of Notohadinegoro Airport as stated in the development plan document of the Jember Regency Transportation Agency in 2005, one of the development directions is widening the access road to the airport. This research was conducted to plan the improvement of road access to Notohadinegoro Airport. Improved road access is planned to be a 2-lane 2-way road type. The method in planning refers to the 1997 Intercity Road Geometric Planning Procedure, the 2017th Road Pavement Manual method for pavement thickness with a plan year of 20 years, and compiling the cost requirements for this road improvement work. The results were obtained for geometric planning using a road width of 7 m with a median width of 2 m. Planning for flexible pavement obtained surface layer thickness AC-WC = 40 mm, AC-BC = 60 mm, and aggregate foundation layer = 400 mm. Meanwhile, the cost needs to reach Rp. 11,265,996,400.00. Abstrak Akses jalan Bandar Udara Notohadinegoro menurut kelas jalan adalah jalan kelas III. Jalan ini mempunyai panjang ± 3 km dan lebar 3 m, dimana pengaturan lalu lintas adalah 2 arah tak terbagi. Arah pengembangan Bandar Udara Notohadinegoro yang tertuang dalam dokumen rencana pengembangan Dinas Perhubungan Kabupaten Jember pada tahun 2005, salah satu arah pengembangan adalah pelebaran pada akses jalan menuju bandar udara. Penelitian ini dilakukan untuk merencanakan peningkatan akses jalan Bandar Udara Notohadinegoro. Peningkatan akses jalan direncanakan menjadi tipe jalan 2 lajur 2 arah. Metode dalam perencanaan mengacu pada Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota tahun 1997, metode Manual Perkerasan Jalan tahun 2017 untuk tebal perkerasan dengan tahun rencana 20 tahun, dan menyusun kebutuhan biaya pada pekerjaan peningkatan jalan ini. Hasil penelitian diperoleh untuk perencanaan geometrik menggunakan lebar jalan 7 m dengan lebar median 2 m. Perencanaan perkerasan lentur diperoleh tebal lapis permukaan AC-WC = 40 mm, AC-BC = 60 mm, dan lapis pondasi agregat = 400 mm. Sedangkan untuk kebutuhan biaya mencapai Rp. 11.265.996.400,00.
Victim Fatality Study of Traffic Accident at KM SBY 106+200 (Jalan Pantura Probolinggo-Situbondo) in Efforts to Reduce the Traffic Accident Risk Sonya Sulistyono; Willy Kriswardhana; Nunung Nuring Hayati
Journal of Indonesia Road Safety Vol 3 No 2 (2020): Journal of Indonesia Road Safety
Publisher : Traffic Accident Research Center, Indonesia Traffic Police Corps and University of Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/korlantas-jirs.v3i2.24003

Abstract

An accident occurred between a bus and a truck on Jalan Pantura Probolinggo-Situbondo. As a result, a fatal accident occurred, ten people died instantly at the scene, and nine others suffered minor injuries. Therefore, the cause of the accident has to be revealed. This research will discuss the main causes that occur prominently. The results showed that some of the factors that became prominent hazards were truck dimensions, bus speed, geometric conditions and road equipment, as well as human factors and driving time. ROH dimensions, rear axle shift and trontoon body dimensions on the truck violate PP No. 55 of 2012 concerning vehicles Article 54. This is exacerbated by the fact that the truckload is 25 tonnes (exceeding the load limit of 18 tonnes). Field investigations show that the bus's last gear transmission is in 6th gear, indicating a high speed in the range 80 s.d. 100 km/hour. In terms of bus condition, the bus body is reconditioned with an iron plate that has undergone corrosion. The road's cross-section (superelevation) condition, which is only 3%, is one of the hazards. The results show that the total time for the bus driver to be was 8 hours. However, there are conditions where the rest time every 4 hours of travel is not fulfilled. Recommendations that can be given are in the form of geometric road improvements and road equipment. ABSTRAK Sebuah kecelakaan menonjol terjadi antara bus dan truk di ruas Jalan Pantura Probolinggo-Situbondo. Akibatnya terjadi kecelakaan fatal, 10 orang meninggal dunia seketika di tempat kejadian dan 9 orang lainnya mengalami luka ringan. Oleh karena itu, investigasi mengenai kondisi jalan serta penyebab kecelakaan tersebut perlu diketahui untuk menurunkan resiko kecelakaan di ruas jalan tersebut. Penelitian ini akan membahas mengenai penyebab-penyebab utama kecelakaan menonjol yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor yang menjadi hazard dalam kecelakaan menonjol adalah faktor dimensi truk, kecepatan bus, kondisi geometrik dan perlengkapan jalan, serta faktor manusia dan waktu mengemudi. Dimensi ROH, pergeseran sumbu belakang, dan dimensi bak tronton pada truk menyalahi PP No. 55 Tahun 2012 tentang kendaraan Pasal 54. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa muatan truk adalah 25 ton (melebihi batas muatan yaitu 18 ton). Investigasi lapangan menunjukkan bahwa transmisi gigi terakhir bus berada pada gigi 6 yang menunjukkan kecepatan yang tinggi pada rentang 80 s.d. 100 km/jam. Dari segi kondisi bus, bodi bus merupakan rekondisi dengan plat besi yang sudah mengalami korosi. Kondisi kemiringan melintang jalan (superelevasi) yang hanya 3% menjadi salah satu hazard. Hasil investigasi menyebutkan bahwa total waktu mengemudi pengemudi bus adalah 8 jam. Namun, terdapat kondisi dimana waktu istirahat setiap 4 jam perjalanan tidak terpenuhi. Rekomendasi yang dapat diberikan berupa perbaikan geometrik jalan dan perlengkapan jalan.
Kinerja Terminal Penumpang Tipe B Arjasa Masa Pandemi Covid-19 Rizqi Choirul Wahdana; Nunung Nuring Hayati; Sonya Sulistyono; Willy Kriswardhana; Dano Quinta Revana
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v6i1.31972

Abstract

Arjasa Terminal in Jember Regency is a Type B passenger terminal that functions to serve public passenger vehicles for inter-city transportation within the province (AKDP), city transportation (ANGKOT), and public passenger cars (MPU). The Covid-19 pandemic has forced activities at the terminal to experience many limitations, such as limited operational period, limited maintenance budget to limitations in providing passenger services. The existing condition of the observation data shows that some facilities are lacking to reach the standard. The purpose of this study was to determine the condition and completeness of the facilities at the terminal to meet the minimum service standards of PM No. 40 of 2015 during the Covid-19 pandemic. Evaluation of the level of satisfaction of service users with their facilities is carried out using the Customer Satisfaction Index (CSI) and Importance Performance Analysis (IPA) analysis methods. Based on the results of observations, 16 indicators (41%) were fulfilled from a total of 39 indicators. The CSI value of the facility is only 75.6% (Poor). While the IPA results obtained 6 quadrants I variables which are the main priority for improvement, 5 quadrant II variables that need to be maintained, 5 quadrant III variables which are a low priority for improvement, and 2 quadrant IV variables whose performance is excessive so it should be reduced. The results of CSI and IPA observations can be used as a basis for improving the operations and services of the Arjasa Terminal entering the post-Covid-19 pandemic. ABSTRAK Terminal Arjasa di Kabupaten Jember merupakan terminal penumpang Tipe B berfungsi melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota dalam provinsi (AKDP), angkutan kota (ANGKOT), serta mobil penumpang umum (MPU). Pandemi Covid-19, memaksa aktivitas pada terminal mengalami banyak keterbatasan, seperti: keterbatasan masa operasional, keterbatasan anggaran pemeliharaan hingga keterbatasan dalam pemberian pelayanan penumpang. Kondisi eksisting dari data observasi memperlihatkan beberapa fasilitas kurang untuk mencapai standarnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dan kelengkapan fasilitas di terminal terhadap pemenuhan standar pelayanan minimum PM No. 40 Tahun 2015 masa pandemi Covid-19. Evaluasi tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap fasilitasnya dilakukan menggunakan metode analisis Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil observasi menunjukkan terpenuhinya 16 indikator (41%) dari total 39 indikator. Nilai CSI fasilitas hanya 75,6% (Kurang Baik). Sementara hasil IPA diperoleh 6 variabel kuadran I yang menjadi prioritas utama untuk perbaikan, 5 variabel kuadran II yang perlu dipertahankan, 5 variabel kuadran III yang merupakan prioritas perbaikan rendah dan 2 variabel kuadran IV yang kinerjanya berlebihan sehingga sebaiknya perlu dikurangi. Hasil observasi CSI dan IPA dapat digunakan sebagai dasar dalam peningkatan operasional dan pelayanan Terminal Arjasa memasuki masa pasca pandemi Covid-19.
Kebutuhan Lahan TPA Sampah Berdasarkan Alternatif Skenario Pengurangan Sampah 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Yuliana Sukarmawati; Ivan Agusta Farizhka; Sonya Sulistyono; Cahyadi Setya Nugraha; Robit Dahnial
Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Rekayasa Sipil dan Lingkungan
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jrsl.v6i1.31394

Abstract

The development of urban areas and the increasing number of residents causes the need for waste management infrastructure to continue to grow, one of which is the availability of dumping site or landfill. This study aims to compare landfill sites using different waste management scenarios through the application of 3Rs and composting compared to the analysis of land requirements without the application of 3Rs. Methods used in this research were field survey at TPA Tegalasri, Kabupaten Blitar, and quantification using tools Ms.Excel. The results showed that the landfill site requirement for the Tegalasri landfill in the fifth year of planning was 6.9 Ha (without 3Rs and composting) while the application of 3Rs and composting would only require 2.8 Ha. Likewise, for the 10th year, 15th year, and 20th year, the need for TPA land for a waste management system without 3R and composting is 13.2 Ha, 20.8 Ha, 29.7 Ha, while TPA land with the application of 3R and composting is 5.4 Ha, 8.6 Ha, and 12.2 Ha, respectively. The layout of the TPA land is designed based on the condition of the land slope as well as the design criteria of a sanitary landfill, which divides into Zones I, II, and III for waste dumping cells, waste processing zones, buffer zones, IPAL zones, offices, and operational roads. ABSTRAK Berkembangnya kawasan perkotaan dan meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan kebutuhan infrastruktur pengelolaan sampah terus bertambah, salah satunya adalah kebutuhan penyediaan lahan untuk Tempat Pemrosesan Akhir Sampah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kebutuhan lahan TPA menggunakan skenario pengelolaan sampah yang berbeda yaitu dengan penerapan 3R dan pengomposan yang dibandingkan dengan analisis kebutuhan lahan tanpa penerapan 3R. Metode dalam penelitian ini adalah survey lapangan dengan studi kasus di TPA Tegalasri, Kabupaten Blitar serta perhitungan kuantitatif menggunakan alat bantu Ms.Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan lahan TPA Tegalasri di tahun kelima perencanaan adalah 6,9 Ha (tanpa 3R dan pengomposan) sedangkan dengan penerapan 3R serta pengomposan hanya akan membutuhkan 2,8 Ha. Demikian juga halnya untuk tahun ke-10, tahun ke-15 serta tahun ke-20 kebutuhan lahan TPA untuk sistem pengelolaan sampah tanpa 3R dan pengomposan berturut-turut yaitu 13,2 Ha, 20,8 Ha, 29,7 Ha, sedangkan kebutuhan lahan TPA dengan penerapan 3R dan pengomposan secara berturut-turut adalah 5,4 Ha, 8,6 Ha, dan 12,2 Ha. Tata letak lahan TPA dirancang dengan melihat kondisi kelerengan lahan dan prinsip desain lahan urug saniter yaitu adanya pembagian zona lahan menjadi Zona I, II dan III untuk sel penimbunan sampah, zona pemrosesan sampah, zona penyangga, zona IPAL, kantor, dan jalan operasional.