Muhammad Nasrum
Program Studi Antropologi Sosial Universitas Tadulako

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Anthropology and egalitarianism : ethnographic encounters from Monticello to Guinea-Bissau Nasrum, Muhammad
Academica Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.916 KB)

Abstract

Salah satu antropolog yang paling berpengaruh dalam kurunwaktu terakhir, Clifford Geertz, mengatakan bahwa antropologi budayaadalah studi tentang orang yang tinggal di luar "tempat tinggal kita."Bagi Geertz, hal ini dimaksudkan karena antropolog mempelajari orangorangyang jauh dari dunia mereka sendiri yang mereka terima begitusaja, di mana antropologi telah memberikan sumbangsih pentingterhadap pemahaman kolektif kita mengenai kemanusiaan. Dalam erasebelumnya, era yang lebih polos, para antropolog telah menulis bukutentang " pikiran orang liar, "tentang" kehidupan seksual liar "atau"pemerintahan primitif "atau " agama primitif." Mereka menggunakanistilah-istilah - primitif atau liar - tidak dengan maksud merendahkan,tetapi untuk memberikan visi-visi alternatif tentang apa artinya menjadimanusia dalam masyarakat yang menganggap dirinya beradab. Orangorangberadab pada hari ini berharap bahwa mereka masih dekat denganalam, satu sama lain, dan kepada Tuhan. Tetapi orang-orang beradabjuga benci orang-orang liar - atau setidaknya memandang rendah atastakhayul mereka, kekumalan mereka, dan kekusutan mereka. Namun,dalam sudut pandang yang bertentangan, yang sesungguhnya liar adalahkita.
Anthropology and egalitarianism : ethnographic encounters from Monticello to Guinea-Bissau Nasrum, Muhammad
Academica Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Academica

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.916 KB)

Abstract

Salah satu antropolog yang paling berpengaruh dalam kurunwaktu terakhir, Clifford Geertz, mengatakan bahwa antropologi budayaadalah studi tentang orang yang tinggal di luar "tempat tinggal kita."Bagi Geertz, hal ini dimaksudkan karena antropolog mempelajari orangorangyang jauh dari dunia mereka sendiri yang mereka terima begitusaja, di mana antropologi telah memberikan sumbangsih pentingterhadap pemahaman kolektif kita mengenai kemanusiaan. Dalam erasebelumnya, era yang lebih polos, para antropolog telah menulis bukutentang " pikiran orang liar, "tentang" kehidupan seksual liar "atau"pemerintahan primitif "atau " agama primitif." Mereka menggunakanistilah-istilah - primitif atau liar - tidak dengan maksud merendahkan,tetapi untuk memberikan visi-visi alternatif tentang apa artinya menjadimanusia dalam masyarakat yang menganggap dirinya beradab. Orangorangberadab pada hari ini berharap bahwa mereka masih dekat denganalam, satu sama lain, dan kepada Tuhan. Tetapi orang-orang beradabjuga benci orang-orang liar - atau setidaknya memandang rendah atastakhayul mereka, kekumalan mereka, dan kekusutan mereka. Namun,dalam sudut pandang yang bertentangan, yang sesungguhnya liar adalahkita.
Tentang Kata Korupsi yang Datang Silih Berganti: Suatu Penjelasan Budaya Muhammad Nasrum
Antropologi Indonesia Vol 34, No 1 (2013): Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper is intended to provide an overview of anthropological perspectives on corruption as political, social, and cultural phenomenon. The author attempted that anthropological concerns on corruption was driven by a number of epistemological reasons, institutionalized and embedded in the broader context of power relations both of globally and locally. The biggest challenge for anthropology, which deals with the complexity of corruption, lies in: how to explain or interpret such phenomenon without apprehensively will be going into ethical and moral pitfalls. On the one hand anthropologists should be described corruption as an inevitable part of wider power relations at the heart of the state and the law, where in many cases are not clearly demarcated or intentionally obscured; and the other, there was a need of a reflexive anthropological understanding which traditionally always been trying to understand the rules and norms of social orders as a cultural framework.Key-words: corruption, culture, anthropologist, anthropology, power, state
FRONTIR-ISASI DAN DE-FRONTIR-ISASI SEBAGAI KERANGKA UNTUK STUDI MARJINALITAS: STUDI KASUS LINDU DI SULAWESI TENGAH Acciaioli, Gregory Lawrence; Nasrum, Muhammad
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.1017

Abstract

AbstractDrawing on past and recent literature using the concept frontier, this paper presents a case study of processes of frontierisation and defrontierisation in the Lindu plain of Central Sulawesi. After establishing the rationale for a more processual framework to analyse frontiers, it traces the history of the Lindu plain along the four dimensions of frontierisation related to control, extraction, settlement and conservation from the precolonial era to the contemporary post-Reformasi period. Using this Lindu case study, it seeks to reconceptualise such notions as the closing of frontiers by drawing attention away from certain demographic and economic thresholds of occupation and by emphasising instead the exercise of agency on the parts of marginalised local peoples in frontier regions, allowing them to reverse the asymmetric relations of the (dominant) occupiers and (subordinated) occupied that have constituted frontiers. This is illustrated by the changing position of the Indigenous Lindu people as subordinated first by colonial incursions and then in the immediate postcolonial period through domination by entrepreneurial Bugis migrants whose own position was buttressed by alliances with governmental agencies to the contemporary reassertion of their control over their own territory through alliances with both the Indonesian Indigenous people?s movement and with transnational conservation.Keywords: Frontier, Frontierisation, Defrontierisation, Marginality, Marginal Societies, Lindu Bugis, Central Sulawesi  AbstrakBersandar kepada naskah lama dan mutakhir yang menggunakan konsep frontir, makalah ini menyajikan studi kasus proses frontir-isasi dan de-frontir-isasi di dataran Lindu, Sulawesi Tengah. Sesudah memberikan alasan untuk kerangka yang memusatkan proses, artikel ini menggambarkan sejarah Lindu melalui empat dimensi frontir-isasi ? kendali, ekstraksi, pemukiman dan konservasi ? dari zaman prakolonial sampai era Pasca-Reformasi. Studi kasus ini digunakan untuk memikirkan kembali gagasan seperti penutupan frontir; daripada indicator demografis dan ekonomis, daya tindak (agensi) dari masayakarat lokal yang didominasi/dipinggirkan dalam usaha membalikkan relasi-kuasa menjadi kriterium yang dipusatkan sebagai unsur utama penutupan frontir atau de-frontir-isasi. Proses penggulingan ini dicontohkan oleh perubahan posisi To Lindu sebagai orang asli di wilayah ini. Mulai dari keadaan dipinggirkan di masa kolonial sampai ke era paska-kolonial waktu mereka didominasi oleh migran Bugis yang memperkuat usaha kewiraswastaannya dengan menggunakan alasan pembangunan dan aliansi dengan instansi permerintah, akhirnya di era Reformasi dan Pasca-Reformasi To Lindu sempat menarik kembali penguasaan atas wilayahnya melalui aliansi dengan gerakan masyarakat adat dan organisasi konservasi.Kata kunci: Frontir, Frontir-isasi, Defrontir-isasi, Marjinalitas, Masyarakat Pinggiran, Lindu, Bugis, Sulawesi Tengah
Frontir-isasi dan De-frontir-isasi sebagai Kerangka untuk Studi Marjinalitas: Studi Kasus Lindu di Sulawesi Tengah Gregory Lawrence Acciaioli; Muhammad Nasrum
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 22 No. 1 (2020)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v22i1.1017

Abstract

AbstractDrawing on past and recent literature using the concept frontier, this paper presents a case study of processes of frontierisation and defrontierisation in the Lindu plain of Central Sulawesi. After establishing the rationale for a more processual framework to analyse frontiers, it traces the history of the Lindu plain along the four dimensions of frontierisation related to control, extraction, settlement and conservation from the precolonial era to the contemporary post-Reformasi period. Using this Lindu case study, it seeks to reconceptualise such notions as the closing of frontiers by drawing attention away from certain demographic and economic thresholds of occupation and by emphasising instead the exercise of agency on the parts of marginalised local peoples in frontier regions, allowing them to reverse the asymmetric relations of the (dominant) occupiers and (subordinated) occupied that have constituted frontiers. This is illustrated by the changing position of the Indigenous Lindu people as subordinated first by colonial incursions and then in the immediate postcolonial period through domination by entrepreneurial Bugis migrants whose own position was buttressed by alliances with governmental agencies to the contemporary reassertion of their control over their own territory through alliances with both the Indonesian Indigenous people’s movement and with transnational conservation.Keywords: Frontier, Frontierisation, Defrontierisation, Marginality, Marginal Societies, Lindu Bugis, Central Sulawesi  AbstrakBersandar kepada naskah lama dan mutakhir yang menggunakan konsep frontir, makalah ini menyajikan studi kasus proses frontir-isasi dan de-frontir-isasi di dataran Lindu, Sulawesi Tengah. Sesudah memberikan alasan untuk kerangka yang memusatkan proses, artikel ini menggambarkan sejarah Lindu melalui empat dimensi frontir-isasi – kendali, ekstraksi, pemukiman dan konservasi – dari zaman prakolonial sampai era Pasca-Reformasi. Studi kasus ini digunakan untuk memikirkan kembali gagasan seperti penutupan frontir; daripada indicator demografis dan ekonomis, daya tindak (agensi) dari masayakarat lokal yang didominasi/dipinggirkan dalam usaha membalikkan relasi-kuasa menjadi kriterium yang dipusatkan sebagai unsur utama penutupan frontir atau de-frontir-isasi. Proses penggulingan ini dicontohkan oleh perubahan posisi To Lindu sebagai orang asli di wilayah ini. Mulai dari keadaan dipinggirkan di masa kolonial sampai ke era paska-kolonial waktu mereka didominasi oleh migran Bugis yang memperkuat usaha kewiraswastaannya dengan menggunakan alasan pembangunan dan aliansi dengan instansi permerintah, akhirnya di era Reformasi dan Pasca-Reformasi To Lindu sempat menarik kembali penguasaan atas wilayahnya melalui aliansi dengan gerakan masyarakat adat dan organisasi konservasi.Kata kunci: Frontir, Frontir-isasi, Defrontir-isasi, Marjinalitas, Masyarakat Pinggiran, Lindu, Bugis, Sulawesi Tengah
LATIHAN UJI JALAN 6 MENIT TERHADAP KAPASITAS FUNGSIONAL PENDERITA POST TUBERKULOSIS DI PUSKESMAS BATUA RAYA MAKASSAR : LITERATURE REVIEW: Examination of 6 Minutes Walking Test Towards Functional Capacity of Post Tuberculosis Patients in Puskesmas Batua Raya Makassar: Literature Review Andi Fajriansi; Kusrini Kadar; Muhammad Nasrum
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 5 No. 2 (2019): JIKep | September 2019
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.23 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v5i2.228

Abstract

LATIHAN UJI JALAN 6 MENIT TERHADAP KAPASITAS FUNGSIONAL PENDERITA POSTTUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANIANGPAJO DAN PUSKESMAS MAJAULENG KAB WAJO SULAWESI SELATAN : LITERATURE REVIEW Andi Fajriansi¹, Kusrini Kadar², Muh. Nasrum³ ¹Mahasiswa Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar ²Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Hasanuddin, Makassar ³Dosen Program Studi Ilmu Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar Korespondensi : ansi.hermawan@gmail.com ABSTRAK Latar Belakang: Data WHO 205 negara tercatat laporan TB dunia kurang lebih 99% populasi dunia dalam tahap pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit. Pada tahun 2014 Indonesia menempati urutan ketiga kasus TB terbanyak sebanyak 322.806 kasus dengan angka keberhasilan pengobatan di Indonesia tinggi sebanyak 88%. Tuberkulosis menyerang paru yang menurunkan fungsi pengembangan paru akibat fibrosis paru difus sehingga menurunkan kapasitas fungsional hal ini berlanjut meskipun penderita telah dinyatakan sembuh. Dalam meningkatkan kapasitas fungsional dapat dilakukan dengn uji klinis kemampuan berjalan yaitu dengan cara latihan jalan 6 menit untuk menilai prognosis pasien dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Metode : Dalam pencarian literatur mengidentifikasi artikel 5 tahun terakhir. Kata kunci yang digunakan 6MWT dan Tuberculosis didapatkan 10 artikel yang mendukung. Data base yang digunakan Pubmed, Ebsco dan google elektronik. Kritikal appraisal dilakukan untuk memilih artikel pendukung. Hasil : Dengan melakukan latihan tes berjalan 6 menit secara intensif maka akan menimbulkan perubahan kapasitas fungsional, cepat atau lambatnya kelelahan seseorang dapat diperkirakan dari kapasitas paru. Kapasitas paru menunjukkan kapasitas maksimal oksigen yang digunakan oleh tubuh (VO2 maks). Semakin banyak oksigen yang diserap oleh tubuh menunjukkan semakin baik kinerja otot dalam bekerja sehingga semakin tinggi VO2maks maka menunjukkan kapasitas fungsional yang prima. Kesimpulan : Penyakit tuberkulosis yang tidak hanya menimbulkan dampak terhadap perubahan fisik, tetapi juga sosial. Meskipun telah dinyatakan sembuh tapi kapasitas fungsional untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari mengalami keterbatasan untuk itu diperlukan latihan uji jalan 6menit untuk meningkatkan kapasitas fungsional. Kata kunci : Post tuberkulosis, kapasitas fungsional, latihan uji jalan 6 menit