Hasyim Muhammad
IAIN Walisongo Semarang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KEZUHUDAN ISA AL-MASIH DALAM KITAB AL-ZUHD WA’L-RAQĀ’IQ DAN AL-ZUHD Muhammad, Hasyim
WALISONGO Vol 20, No 2 (2012): Walisongo, Spiritualisme
Publisher : IAIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract   The ascetisc of Isa al-Masih is the most polular model in strengtening the ascetism doctrines among tasawwuf experts in clasical periods. At least it was depicted in clasical sunnite sufism that narrated the messages and stories about the escatism of Isa al-Masih. Above all, the more valid source, i.e. al-Qur’an and al-hadits are more than enough to strengten the doctrine of ascetism for the tasawwuf experts (sufi). Ascetism of Isa al-Masih was conformable to the concept of ascetismof the sufi, which meant that have nothing and belong to nothing (lā yamliku shaian walā yamlikuhu shaiun). Ascetism is not only merely spiritual position which is depicted in tasawuf, but ascetisme in this context is the spiritual it self.   *** Asketisme Isa al-Masih merupakan model yang paling populer dalam memperkuat doktrin asketisme di kalangan ahli tasawuf dalam periode klasik. Setidaknya itu digambarkan dalam sufisme sunni klasik yang menarasikan pesan dan kisah mengenai asketisme Isa al-Masih. Di luar itu semua, sumber yang lebih valid, yaitu al-Qur’an dan hadits lebih dari cukup untuk memperkuat doktrin asketisme bag para ahli tasawuf (sufi). Asketisme Isa al-Masih sesuai dengan konsep asketisme sufi yang artinya tidak memiliki apa-apa dan bukan milik siapa-siapa (lā yamliku shaian walā yamliku shaiun). Asketisme bukan sekedar posisi spiritual yang digambarkan di dalam tasawuf, tetapi asketisme dalam konteks ini adalah spiritual itu sendiri.   Keywords: asketisme, Isa al-Masih, doktrin, sufi, spiritual
DISKURSUS DERADIKALISASI AGAMA: Pola Resistensi Pesantren terhadap Gerakan Radikal Muhammad, Hasyim; Anwar, Khoirul; Elizabeth, Misbah Zulfa
WALISONGO Vol 23, No 1 (2015): "PENDIDIKAN DAN DERADIKALISASI AGAMA"
Publisher : LP2M UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren had a specific perspective related to religious radicalism and violence.The purpose of this study is to uncover the discourse of radicalism and deradicalizationin Pesantren Soko Tunggal Semarang. Applying the qualitativeresearch, it was revealed that Pesantren Soko Tunggal against all forms of violencein the name of religion. According to Pesantren Soko Tunggal radical movements inthe name of religion is a form of misunderstanding of the religion. Islamicradicalism is generally based on the Wahhabi’s understanding, so that attitudes andbehavior are influenced by the teachings of Wahhabi. In the view of Wahabismheresy in religion is a form of desecration and denial that must be fought. Pesantrenassumed that Pancasila and UUD 1945 is a form of actual enforcement of Islamiclaw due to Pesantren Soko Tunggal kept to preserve the values of moderatism anddevelop a peaceful multicultural life.***Pesantren memiliki perspektif tersendiri terhadap radikalisme agama dan kekerasan.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap wacana radikalisme danderadikalisasi di Pesantren Soko Tunggal Semarang. Dengan menggunakan pendekatankualitatif penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Soko Tunggal menentangsegala bentuk kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan PesantrenSoko Tunggal bahwa gerakan radikal atas nama agama merupakan bentuk kesalahpahamanagama. Islam radikal umumnya didasarkan pada pemahamanWahabi, sehingga sikap dan perilaku dipengaruhi oleh Wahabi. Menurut Wahabi,bidah dalam agama adalah bentuk penodaan dan penolakan yang harus diperangi.Pesantren menganggap bahwa Pancasila dan UUD 1945 merupakan bentukpenegakan hukum Islam yang aktual. Karena di Pesantren Soko Tunggal ini inginmempertahankan nilai-nilai moderatisme dan mengembangkan kehidupan multikulturalyang damai.
KEZUHUDAN ISA AL-MASIH DALAM KITAB AL-ZUHD WA’L-RAQĀ’IQ DAN AL-ZUHD Muhammad, Hasyim
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.206

Abstract

The ascetisc of Isa al-Masih is the most polular model in strengtening the ascetism doctrines among tasawwuf experts in clasical periods. At least it was depicted in clasical sunnite sufism that narrated the messages and stories about the escatism of Isa al-Masih. Above all, the more valid source, i.e. al-Qur’an and al-hadits are more than enough to strengten the doctrine of ascetism for the tasawwuf experts (sufi). Ascetism of Isa al-Masih was conformable to the concept of ascetismof the sufi, which meant that have nothing and belong to nothing (lā yamliku shaian walā yamlikuhu shaiun). Ascetism is not only merely spiritual position which is depicted in tasawuf, but ascetisme in this context is the spiritual it self.***Asketisme Isa al-Masih merupakan model yang paling populer dalam mem­perkuat doktrin asketisme di kalangan ahli tasawuf dalam periode klasik. Setidaknya itu digambarkan dalam sufisme sunni klasik yang menarasikan pesan dan kisah mengenai asketisme Isa al-Masih. Di luar itu semua, sumber yang lebih valid, yaitu al-Qur’an dan hadits lebih dari cukup untuk memperkuat doktrin asketisme bag para ahli tasawuf (sufi). Asketisme Isa al-Masih sesuai dengan konsep asketisme sufi yang artinya tidak memiliki apa-apa dan bukan milik siapa-siapa (lā yamliku shaian walā yamliku shaiun). Asketisme bukan sekedar posisi spiritual yang digambarkan di dalam tasawuf, tetapi asketisme dalam konteks ini adalah spiritual itu sendiri.
DISKURSUS DERADIKALISASI AGAMA: POLA RESISTENSI PESANTREN TERHADAP GERAKAN RADIKAL Anwar, Khoirul; Muhammad, Hasyim; Elizabeth, Misbah Zulfa
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 23, No 1 (2015): Pendidikan dan Deradikalisasi Agama
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.23.1.230

Abstract

Pesantren had a specific perspective related to religious radicalism and violence. The purpose of this study is to uncover the discourse of radicalism and de-radicalization in Pesantren Soko Tunggal Semarang. Applying the qualitative research, it was revealed that Pesantren Soko Tunggal against all forms of violence in the name of religion. According to Pesantren Soko Tunggal radical movements in the name of religion is a form of misunderstanding of the religion. Islamic radicalism is generally based on the Wahhabi’s understanding, so that attitudes and behavior are influenced by the teachings of Wahhabi. In the view of Wahabism heresy in religion is a form of desecration and denial that must be fought. Pesantren assumed that Pancasila and UUD 1945 is a form of actual enforcement of Islamic law due to Pesantren Soko Tunggal kept to preserve the values of moderatism and develop a peaceful multicultural life.***Pesantren memiliki perspektif tersendiri terhadap radikalisme agama dan ke­kerasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap wacana radikalisme dan deradikalisasi di Pesantren Soko Tunggal Semarang. Dengan menggunakan pen­dekatan kualitatif penelitian menunjukkan bahwa Pesantren Soko Tunggal me­nentang segala bentuk kekerasan atas nama agama. Dalam pandangan Pe­santren Soko Tunggal bahwa gerakan radikal atas nama agama merupakan bentuk ke­salah­­pahaman agama. Islam radikal umumnya didasarkan pada pe­mahaman Wahabi, sehingga sikap dan perilaku dipengaruhi oleh Wahabi. Menurut Wahabi, bid'ah dalam agama adalah bentuk penodaan dan penolakan yang harus diperangi. Pesantren menganggap bahwa Pancasila dan UUD 1945 merupakan bentuk penegakan hukum Islam yang aktual. Karena di Pesantren Soko Tunggal ini ingin mempertahankan nilai-nilai moderatisme dan me­ngembang­kan kehidupan multi­kultural yang damai.
Sir William Jones (1746–1794) and the Early Orientalist Discourse on Sufism Munji, Ahmad; Muhammad, Hasyim
Teosofia: Indonesian Journal of Islamic Mysticism Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora - UIN Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/tos.v10i1.9190

Abstract

Many theories have been proposed to discuss Sufism in terms of its linguistic origins and its role in spiritual knowledge, its concepts and ideas, and cultural influences. Both Muslim and orientalist scholars have offered opposing views on the beginnings of Sufism. Unfortunately, Western orientalists were the first to research this topic, and their ideas greatly influenced later scholars. This study examines how early British orientalists, particularly Sir William Jones, approached the study of Sufism. Jones represents the early development of British orientalism, which started in the form of personal travel accounts long before orientalist societies were established to support them. Only the later ‘experts on the Orient’ created scholarly circles that followed a more objective and systematic approach to studying Muslim cultures, yet often persisted in the erroneous claim that Sufism was an external and foreign element in Islamic culture.