Mia Kusmiati
Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung, Bandung

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Kontribusi Fakultas Kedokteran Unisba Dan Pemerintah Propinsi dalam Membantu Pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Barat Mia Kusmiati
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 22, No. 4, Tahun 2006 (Terakreditasi)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.052 KB) | DOI: 10.29313/mimbar.v22i4.226

Abstract

Pembangunan manusia tumbuh dari keprihatinan, kemiskinan masih belum tertanggulangi. Tujuan pembangunan adalah untuk membangun sebuah lingkungan yang memberdayakan rakyat.Masalah, bagaimana implementasi kontribusi Unisba meningkatkan IPM di Jawa Barat, penggunaan IPM & peranan pemerintah Propinsi. Tujuan dan Manfaat penulisan,memberi gambaran tentang IPM dan kontribusi FK Unisba.  Metode penulisan menggunakan analisis deskriftif. IPM sebagai alat ukur untuk melihat pencapaian pembangunan manusia, dengan 3 indikatornya: kesehatan, pendidikan dan ekonomi.  Tiga kelompok Negara berdasarkan skala IPM, yaitu: skala 0-0,5 ; skala 0,51-0,79 ; dan skala 0,8-1. Tabel nilai maksimum dan minimum komponen IPM terdiri : indeks komponen, nilai indikator dan standar UNDP. Kurikulum pendidikan dokter berbasis kompetensi, dengan kompetensi dokter layanan primer melalui pendekatan dokter keluarga. KIPDI III memiliki 7 area kompetensi dengan 6 tanggung jawab dokter Indonesia. Kompetensi tambahan Unisba  Penguasaan nilai-nilai Islami di bidang kedokteran dan pendalaman penguasaan kesehatan masyarakat industri. Kontribusi FK Unisba,lulusan dokter dari segi kualitas maupun kuantitas.  IPM sebagai gambaran komprehensif dan signifikan dalam menilai kinerja pembangunan.  Peranan pemerintah propinsi dalam mencapai IPM 80 harus dapat menjawab kebutuhan masyarakat dengan rencana strategi 2006-2010 yang memperhatikan aspek filosofis, yuridis dan sosiologis.
Validation of Patient Perception Instruments for Junior Doctor Performance: a Factor Analysis Mia Kusmiati; Rafidah Bahari; Noor Aini Abdul Hamid; Suhaila Sanip; Ova Emilia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.4611

Abstract

The patient is an essential stakeholder within the medical healthcare system and an important stakeholder of the medical education program. The patients should be able to assess the performance of junior doctors in general practitioner residency to ensure their competency. Some instruments of patient assessment are available, but they do not adapt to local needs and context. This study aims to validate newly developed evaluation instruments from the patient’s perspective against the performance of a junior doctor in a teaching hospital. Fifty patients from outpatient clinics of internal medicine of two teaching hospital Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung were selected to fill out the questionnaire in September–October 2018. The tool consists of 20 items and used a 4-point Likert scale of strongly disagree, disagree, agree, and strongly agree. The SPSS version 21 have used to extract the data as the principal axis factoring of analysis. Oblimin rotation method was applied with Kaiser normalization to simplify and describe the data structure. The detailed analysis identified five factors based on the initial eigenvalue >1. Patient perception instruments of junior doctor performance (PIJDP) showed that five constructs extracted explained 81.27% of the variance of them. Constructs were namely: humanism, responsibility-accountability, communication-empathy, altruism, and pleasant manner. Construct validity achieved after the PIJDP run fifteen times, and consistency internal with Cronbach’s alpha was 0.95. In conclusions, the PIJDP could be used to assess the performance of junior doctors and could make a novel contribution to the development of medical education. VALIDASI INSTRUMEN PERSEPSI PASIEN TERHADAP KINERJA DOKTER MUDA: SEBUAH ANALISIS FAKTORPasien merupakan stakeholder kunci dalam sistem pelayanan kesehatan dan stakeholder penting dalam program pendidikan kedokteran. Pasien dapat menilai kinerja dokter muda dalam pemagangan umum untuk memastikan kompetensi mereka. Beberapa instrumen penilaian pasien sudah dibuat, namun mereka tidak diadaptasi terhadap kebutuhan dan konteks lokal. Penelitian ini bertujuan memvalidasi instrumen evaluasi yang baru dikembangkan menurut perspektif pasien terhadap kinerja dokter muda di rumah sakit pendidikan. Lima puluh pasien dari klinik rawat jalan penyakit dalam dua rumah sakit pendidikan Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung dipilih untuk mengisi kuesioner pada September–Oktober 2018. Kuesioner berisi 20 item yang menggunakan Skala Likert empat poin dari sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. SPSS versi 21 digunakan untuk menganalisis data melalui principal axis factoring. Metode rotasi oblimin dengan normalisasi Kaiser diaplikasikan untuk menyederhanakan dan menjelaskan struktur data. Hasil analisis mengidentifikasi lima faktor berdasar atas eigenvalue awal >1. Instrument persepsi pasien terhadap kinerja dokter muda (PIJDP) menggambarkan 5 construct yang diekstraksi sebesar 81,27% dari varian indikator dapat dijelaskan oleh faktor yang terbentuk. Faktor tersebut adalah humanisme, tanggung jawab-akuntabilitas, komunikasi-empati, altruisme, dan sifat menyenangkan. Kesahihan construct dicapai setelah PIJDP diulang lima belas kali dan konsistensi internal dengan Cronbach’s alpha sebesar 0,95. Simpulan, PIJDP dapat digunakan untuk menilai kinerja dokter muda dan dapat memberi kontribusi baru dalam pengembangan pendidikan kedokteran.
Perbandingan Fungsi Paru Juru Parkir Basement dengan Juru Parkir Ruang Terbuka di Kota Bandung Galih Trissekti; Mia Kusmiati; Budiman Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1533

Abstract

Polusi udara bertanggung jawab atas 3,1 juta kematian seluruh dunia setiap tahunnya. Efek buruk dari polusi udara berdasarkan penelitian pada tiga lokasi berbeda di Beijing, Cina tahun 1986, menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi polusi udara sebesar 1 mikrogram/m3 mampu menurunkan forced expiratory volume in one second (FEV1) sebesar 35,6 mL. Populasi yang berisiko mengalami masalah pernapasan akibat terpapar asap kendaraan yang dapat terhirup setiap waktu ini secara jangka panjang, salah satunya adalah juru parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan fungsi paru juru parkir basement dengan juru parkir ruang terbuka di Kota Bandung periode Januari–Juni2014. Desain penelitian bersifat analitik kuantitatif dengan rancangan potong lintang terhadap masig-masing 33 subjek yang berprofesi sebagai juru parkir basement dan juru parkir ruang terbuka. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran data karakteristik fisik berupa usia (tahun) dan IMT (kg/m2), selanjutnya dilakukan pengukuran fungsi paru menggunakan parameter FEV1, forced vital capacity (FVC), dan FEV1/FVC dengan spirometri, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok juru parkir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai median FEV1 juru parkir basement (3.300 mL, range 2.600–4.400 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.000 mL, range 2.300–3.800 mL) dengan nilai p=0,011. Nilai FVC rata-rata juru parkir basement (3.587,88 ± 470,21 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.287,88 ± 478,77 mL) dengan nilai p=0,013. Nilai median FEV1/FVC juru parkir basement (0,94; range 0,79–0,98) dan juru parkir ruang terbuka (0,92; range 0,77–0,97) dengan nilai p=0,016. Simpulan hasil penelitian menunjukkan fungsi paru yang digambarkan dengan FEV1, FVC, dan FEV1/FVC pada juru parkir basement lebih baik daripada juru parkir ruang terbuka. THE COMPARISON OF LUNG FUNCTION BETWEEN BASEMENT PARKING AND STREET PARKING ATTENDANTS IN BANDUNG CITYAir pollutions responsible for 3.1 milion death in the world every years. The bad effect from it according to research in three different places of Beijing (1986) reveal that enhancement 1 microgram/m3 of air pollution concentration can cause reduction forced expiratory volume in one second (FEV1) about 35.6mL. Population with high risk to have respiratory disorder as consequence exposed to vehicle’s smoke that can inhaled anytime and long-term, one of which is parking attendants. This research is therefore conducted to obtain comparison of lung function between basement parking attendants and street parking attendants in Bandung city period January–June 2014. This research design is quantitative analysis with cross sectional method towards each 33 subjects that worked as basement parking attendants and street parking attendants. The demography characteristic such as age (years old) and BMI (kg/m2). Further performed test of lung function with parameters: FEV1, forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC by spirometer, furthermore compared between the two groups of parking attendants. The research result showed that FEV1 median score of basement parking attendants (3,300 mL, range 2,600–4,400 mL) and street parking attendants (3,000 mL, range 2,300–3,800 mL) with p=0.011. The FVC average score of basement parking attendants (3,587.88 ± 470.21 mL) and street parking attendants (3,287.88 ± 478.77 mL) with p=0.013. The FEV1/FVCmedian score of basement parking attendants (0.94; range 0.79–0.98) and street parking attendants (0.92; range 0.77–0.97) with p=0.016. In conclusion lung function described by FEV1, FVC, and FEV1/FVC in basement parking attendants are better than street parking attendants, with all score are significant.
Membangun Kesehatan Organisasi Institusi Pendidikan Dokter: Sebuah Transformasi menuju Akuntabilitas Sosial Mia Kusmiati
MIMBAR (Jurnal Sosial dan Pembangunan) Volume 31, No. 1, Year 2015 [Accredited by Ristekdikti]
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.853 KB) | DOI: 10.29313/mimbar.v31i1.1266

Abstract

Medical education institution has been changing dramatically nowadays. Competency-based curriculum legalized in medical education since 2006 has occured shifting paradigm from old paradigm, mastery of subject based to new paradigm, mastery of competencies. So, this caused medical education institution have building health of organization toward social accountability. Transformation of medical education is in fact inseparable to institution’s vision and mission. Therefore, the genuine identity of institution could be implemented and reflected in all aspects of institution. In order to develop health of organization in medical program, some points must be done carefully. Those points are (1) developing institution cultural based on value through growth and developed  idealism, character and community (Raka, 2008); (2) create atmosphere academic of institutional condusively; (3) continuing evaluation in all aspect, both of institutional and education program; (4).Building institution program that has futuristic but consistent with local wisdom
Hubungan Self Assessment-Peer Assessment dengan Nilai Kelulusan OSCE Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba Santun Bhekti Rahimah; Mia Kusmiati; Ermina Widyastuti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.1856

Abstract

Objective structured clinical examination (OSCE) adalah cara penilaian kompetensi klinik mahasiswa secara komprehensif dan konsisten serta dapat dijadikan media untuk meningkatkan hasil belajar. Feedback dapat dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri (self assessment) maupun mahasiswa lain yang satu level (peer assessment). Self dan peer assessment diharapkan akan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam melihat tujuan pembelajaran, meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan berpikir kritis, dan bertindak tepat dalam menghadapi ujian. Tujuan penelitian ini melihat hubungan self assessment dan peer assessment dengan nilai kelulusan OSCE mahasiswa tingkat dua dan empat FK Unisba tahun akademik 2012/2013. Nilai hasil ujian OSCE yang dipergunakan adalah pada periode Desember 2012–Juni 2013. Self dan peer assessment dilaksanakan setelah ujian OSCE. Self assessment dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri, sedangkan peer assessment didapatkan dari lima orang mahasiswa lain yang pernah berada dalam satu kelompok dengan subjek. Hasil penelitian menunjukkan untuk mahasiswa tingkat dua terdapat korelasi bermakna self assessment dan peer assessment dengan nilai OSCE (p<0,001), arah hubungan antara keduanya positif, serta kekuatan hubungan keduanya sedang (R=0,426). Pada mahasiswa tingkat empat terdapat korelasi bermakna antara self assessment dan nilai OSCE (p<0,001) dengan kekuatan hubungan keduanya sedang (R=0,451), serta terdapat korelasi yang bermakna antara penilaian peer assessment dan nilai OSCE. Simpulan, self assessment mempunyai korelasi positif terhadap nilai kelulusan OSCE pada mahasiswa tingkat dua dan tingkat empat, sedangkan peer assessment mempunyai korelasi positif dengan nilai kelulusan OSCE hanya pada mahasiswa tingkat dua. Self assessment mempunyai korelasi positif dengan peer assessment pada mahasiswa tingkat dua dan tingkat empat FK Unisba tahun akademik 2012/2013.RELATION BETWEEN SELF ASSESSMENT-PEER ASSESSMENT AND OSCE'S RESULTS FROM MEDICAL STUDENTS OF UNISBAObjective structured clinical examination (OSCE) is a tools to assess  students clinical competency comprehensively and consistently. It can also used as medium to improve the learning process. Feedback for student performance can be done trough self-assessment or peer assessment done by other students. Self and peer assessment are expected to enhance the ability of students to see the purpose of learning, improve self-confidence, the ability to think critically and act right in an examination. The aim of this study was to find the relationship between self assessment and peer assessment of the OSCE final mark of second and fourth grade student at Medical Faculty, Bandung Islamic University academic year 2012/2013. The OSCE mark used were taken from December 2012–June 2013, while the self and peer assessment carried out after the OSCE finished. Self assessment were done by students themselves, while peer assessment obtained from five persons which have been in one group with subject. Results showed that for second grade student showed there was significant correlation between self-assessment and peer assessment and OSCE's mark value (p<0.001) with the direction of the relationship was positive and had moderate strength (R=0.426). Fourth grade students showed significant correlation only between self-assessment and OSCE's mark value (p<0.001) with moderate strength (R=0.451). There was no significant relation between the assessment of peer assessment and OSCE's mark value. In clonclusion, self assessment correlated positively to OSCE's mark value for second and fourth grade students. Peer assessment correlated positively to the passing scores for second grade student. Self assessment had a positive correlation to peer assessment for second and fourth grade medical students.
Deteksi Dini Penyakit Parkinson: Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Petani Desa Tanjung Wangi Cicalengka Mengenai Bahaya Pestisida bagi Kesehatan Arief Budi Yulianti; Siska Nia Irasanti; Meta Maulida; Mia Kusmiati; Adhika Putra Rahmatullah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1730

Abstract

Pestisida bersifat toksik bagi manusia dan lingkungan sekitarnya. Petani adalah kelompok masyarakat berisiko tinggi terpapar pestisida. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku petani mengenai bahaya pestisida sangat diperlukan agar keputusan untuk menggunakan pestisida sesuai dengan jenis, waktu, dan cara menjadi tepat. Penelitian ini dilaksanakan selama bulan Maret–Juli 2015 dan merupakan penelitian observasional dengan subjek penelitian petani Desa Tanjung Wangi. Subjek penelitian diambil secara acak diperoleh 62 subjek penelitian yang terdiri atas 47 laki-laki dan 15 perempuan. Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku diukur dengan kuesioner yang sudah divalidasi. Pengukuran gejala dini Parkinson menggunakan kuesioner PDQ39 yang sudah dimodifikasi. Diperoleh tingkat pengetahun dan sikap petani mengenai bahaya pestisida skor terendah 0,70 dan tertinggi 0,97 dengan nilai median 0,80 dan modus 0,79. Perilaku pestisida ini mengenai tata cara penggunaan pestisida skor terendah 0,64, tertinggi 1 dengan modus 0,84. Gejala dini Parkinson pada petani di Desa Tanjung Wangi skor tertendah 0,74 dan tertinggi 1 dengan nilai median 0,84 dan modus 0,91. Simpulan, pengetahuan, sikap, dan perilaku petani Desa Tanjung Wangi mengenai bahaya pestisida baik. Hasil yang diperoleh dari kuesioner tidak menggambarkan kondisi petani di lapangan. Hal ini dapat terjadi karena peneliti tidak memasukkan unsur ekonomi sebagai salah satu faktor penentu pengambilan keputusan menggunakan pestisida sehingga diperlukan upaya edukasi petani. DETECTION-EARLY OF PARKINSON'S DISEASE: KNOWLEDGE, ATTITUDES, AND BEHAVIOR FARMER IN DESA TANJUNG WANGI ABOUT PESTICIDES TOXICITIES TOWARD HEALTHPesticides are toxic for human and environment. Farmers are people at high risk of exposure to pesticides. The level of knowledge, attitudes, and behaviors of farmers about pesticides toxicity needed, so the decision to use pesticides be expected right. This research held on March–July 2015, observational method with subjects farmers in Desa Tanjung Wangi were taken randomly. Number of samples were 62 person consisted of 47 men and 15 women. The level of knowledge, attitudes, behaviors and detectionearly of Parkinson’s disease were measured with a questionnaire PDQ39 modified. The lowest score of level knowledge and attitudes about pesticides toxicities was 0.70 and the highest was 0.97 with median and modus 0.80 and 0.79, respectively. The lowest score of behavior regarding the method of pesticides used was 0.64 and the highest was 1 with modus 0.84. The lowest score of detection-early of Parkinson’s disease was 0.74 and the highest was 1 with median and modus 0.84 and 0.91, respectively. In conclusions, farmers knowledge, attitudes and behavior regarding pesticides toxicities are good. But the questionnaire wasn’t describe the really condition in field, especially in economic issues that affecting decisions about pesticides to be used, so educating to understand about pesticides toxicities needs to be done.
Cogongrass (Imperata cylindrica L.) Ethanol Extract on Sepsis Mice Model Body Weight and Sepsis Score Mirasari Putri; Neni Anggraeni; Raden Aliya Tresna M. D.; Ghaliby Ardhia Ramli; Mia Kusmiati; Yuke Andriane; Eka Hendryanny; Abdul Hadi Hassan; Meta Maulida Damayanti; Nugraha Sutadipura; Mas Rizky A. A. Syamsunarno
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/gmhc.v8i3.6604

Abstract

Sepsis causes damage for cells, behavioral phenotype regression, and will end in most patients' death. The ethanol extract of cogongrass (Imperata cylindrica L.)  acts as an antioxidant. This study aimed to observe the effect of giving ECGR to body weight (BW) and the sepsis score of the sepsis mice model by lipopolysaccharide (LPS) induction. This study was an in vivo study with a randomized post-test controlled group design at the Animal Laboratory of Universitas Padjadjaran, 2018. We used 4 (four) groups of male mice (Mus musculus) DDY strains. Group 1 as a control, group 2: LPS 10 μL/kgBW, group 3, and 4: LPS+ECGR (90 mg/kgBW, and a dose of 115 mg/kgBW, respectively). This treatment was performed for two weeks. Every three days, we measured their body weight. After two weeks, group 2, group 3, and 4 were injected with LPS for 8 hours to induce sepsis. Next, we measured body weight and sepsis score using murine sepsis score (MSS). Then statistical analysis was performed using ANOVA and the Kruskal-Wallis test. The results showed no differences in body weight were found in the treatment groups (3 and 4) compared with control, suggesting no effect of ECGR in decreasing mice body weight. The sepsis score was more than 21 in groups treated with LPS (2, 3, and 4), suggesting LPS can induce sepsis. There was a slight decrease in scores in-group 3 and 4 compared with group 2. This study concludes that the treatment of ECGR caused no harm to body weight and slightly decreased sepsis score in the sepsis mice model. EKSTRAK ETANOL ALANG-ALANG (IMPERATA CYLINDRICA L.) TERHADAP BOBOT BADAN DAN SKOR SEPSIS MENCIT MODEL SEPSISSepsis menyebabkan kerusakan sel, regresi fenotipe perilaku, dan akan berakhir kematian pada sebagian besar pasien. Ekstrak etanol akar alang-alang (Imperata cylindrica L.) (ECGR) berperan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ECGR terhadap bobot badan (BB) dan skor sepsis pada mencit model sepsis yang diinduksi lipopolisakarida (LPS). Penelitian ini adalah penelitian in vivo dengan desain randomized post-test controlled group di Laboratoium Hewan Universitas Padjadjaran tahun 2018. Kami menggunakan 4 (empat) kelompok mencit jantan (Mus musculus) strain DDY. Kelompok 1 sebagai kontrol, kelompok 2 diinduksi LPS 10 μL/kgBB, kelompok 3 dan 4 diinduksi LPS+ECGR (dosis 90 mg/kgBB dan 115 mg/kgBB masing-masing). Perlakuan ini dilakukan selama 2 minggu. Setiap tiga hari dilakukan pengukuran bobot badan mencit. Setelah dua minggu, kelompok 2, kelompok 3, dan kelompok 4 diinjeksi LPS selama 8 jam untuk menginduksi sepsis. Selanjutnya, diukur bobot badan dan skor sepsis menggunakan murine sepsis score (MSS). Analisis statistik menggunakan ANOVA dan Uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan bobot badan pada kelompok perlakuan (3 dan 4) dibanding dengan kelompok kontrol yang menunjukkan ECGR tidak berpengaruh dalam menurunkan bobot badan mencit. Skor sepsis lebih dari 21 pada kelompok yang diinduksi LPS (2, 3, dan 4) menunjukkan LPS dapat menyebabkan sepsis. Terdapat sedikit penurunan skor pada kelompok 3 dan 4 dibanding dengan kelompok 2. Simpulan penelitian ini, pengobatan ECGR tidak membahayakan bobot badan dan mengakibatkan sedikit penurunan skor sepsis pada mencit model sepsis.
Nyeri Punggung Bawah serta Kebiasaan Merokok, Indeks Massa Tubuh, Masa Kerja, dan Beban Kerja pada Pengumpul Sampah Ida Astuti; Dony Septriana Rosady; Nurul Romadhona; Sadiah Achmad; Mia Kusmiati
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4326

Abstract

Kejadian nyeri punggung bawah (NPB) di Indonesia bervariasi antara 7,6% sampai 37%,  umumnya terjadi pada usia 45–60 tahun. NPB merupakan nyeri yang dirasakan daerah punggung bawah dan dapat terasa nyeri yang lokal maupun nyeri radikuler yang terasa di daerah lumbar atau lumbo-sakral. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi faktor risiko keluhan nyeri punggung pada petugas pengumpul sampah di Kecamatan Bandung Wetan periode Maret–Juli 2018. Jumlah sampel 84 responden yang diambil dengan menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional dan analisis data menggunakan chi square. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa sebagian besar responden memiliki keluhan NPB sebanyak 75%. Kebiasaan merokok sedang 64%, indeks massa tubuh (IMT) normal 62%, masa kerja baru 99%, dan responden dengan beban kerja yang ringan 99%. Tidak terdapat hubungan kebiasaan merokok (p=0,811), IMT (p=0,735), beban kerja (p=0,081), dan masa kerja (p= 0,561) dengan keluhan nyeri punggung bawah. Simpulan, tidak terdapat hubungan kebiasaan merokok, IMT, beban kerja, dan masa kerja dengan keluhan nyeri punggung bawah pada petugas pengumpul sampah di Kecamatan Bandung Wetan. Terdapat faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap NPB seperti posisi kerja dan lama kerja. LOW BACK PAIN AND SMOKING HABITS, BODY MASS INDEX, WORKING PERIOD AND WORKLOAD ON GARBAGE COLLECTORSIncidence low back pain (LBP) in Indonesia are varies between 7.6% to 37%, generally occurs at the age of 45–60 years. LBP is a pain that is felt in the low back area. It could felt local and radicular pain in lumbar or lumbo-sacral area. The objectives of the study was to identify the risk factors of back pain complaints on garbage collectors in Bandung Wetan sub-district during March to June 2018. The subjects were 84 respondents and used simple random sampling technique. This research used observational analytical method with cross sectional approach and data analysis used chi square. The results of this study reveald that most respondents had 75% LBP complaints. Respondents with moderate smoking habits were 64%, respondents with normal body mass index (BMI) of 62%, respondents with a new work period of 99%, and respondents with a light workload of 99%. The results of statistical analysis showed that there were no correlation between smoking habits (p=0.811), BMI (p=0.735), workload (p=0.081) and years of work (p=0.561) with complaints of low back pain. Conclusions, there are no relationship between smoking habits, BMI, workload, and years of service with complaints of low back pain in officers of garbage collectors in Bandung Wetan Subdistrict. There are other factors that have more influence on LBP such as work position and duration of work.
Karakteristik Nevus Pigmentosus berdasar atas Gambaran Histopatologi di Rumah Sakit Al-Islam Bandung Ennok Nisa Islamiati; Siska Nia Irasanti; Mia Kusmiati; Deis Hikmawati; Ismet Muchtar Nur
Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains Vol 1, No 1 (2019): Jurnal Integrasi Kesehatan dan Sains
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiks.v1i1.4327

Abstract

Nevus pigmentosus (NP) merupakan lesi melanositik jinak yang paling umum, puncaknya pada usia 25 sampai 26 tahun. Faktor yang memengaruhinya di antaranya penuaan, pubertas, kehamilan, penggunaan kortikosteroid sistemik, faktor genetik, lingkungan, usia, dan jenis kelamin. Tujuan penelitian ini mengetahui karakteristik pasien NP berdasar atas gambaran histopatologi di Rumah Sakit Al-Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif cross-sectional menggunakan metode pengambilan sampel berupa total sampling. Data yang digunakan berupa data sekunder dari rekam medis periode 2012−2017 dan didapatkan data berjumlah 48 rekam medis. Pengolahan data dilakukan menggunakan program Microsoft Exel tahun 2011. Hasil penelitian menunjukkan frekuensi tertinggi NP terdapat pada usia 25−45 tahun sebanyak 23 kasus (48%), NP lebih sering terjadi pada perempuan dibanding dengan laki-laki, nevus intradermal dengan jumlah 38 kasus (79%), dan regio kepala dengan frekuensi 39 kasus (81%). Perkembangan NP pada usia dewasa dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan di antaranya paparan sinar matahari, sering melakukan aktivitas di luar lingkungan, dan kurang penggunaan sunblock. Efek paparan sinar matahari secara langsung dapat menyebabkan proses melanogensis melalui aktivasi tirosinase akibat teraktivasinya protein kinase C. Simpulan penelitian ini menunjukkan frekuensi tertinggi NP terdapat pada usia 25−45 tahun dengan perbandingan perempuan lebih banyak dibanding laki-laki, serta gambaran histopatologi yang terbanyak adalah nevus intradermal yang berlokasi di regio kepala. THE CHARACTERISTIC OF NEVUS PIGMENTOSUS BASED ON HISTOPATOLOGICAL FEATURES IN AL-ISLAM HOSPITAL BANDUNGNevus pigmentosus (NP) is the most common benign melanocytic lesion and peak at 25 to 26 years of age. The factors that influence NP is included aging, puberty, pregnancy, the used of systemic corticosteroid, genetic factors, environment, age, and gender. The purpose of this study was to describe the characteristics of NP patients based on histopathological features at Al-Islam Hospital Bandung. This study used a cross-sectional descriptive method using a total sampling method to collect the samples. The data used in this study is a secondary data from medical records 2012−2017 and obtained 48 medical records. Data processed by using the Microsoft Excel program 2011. The results showed that the highest frequency of NP occurred at the age of 25−45 years as many as 23 cases (48%), NP is more common in women rather than men, nevus  intradermal with 38 cases (79%), and the head region with a frequency of 39 cases (81%). The progression of NP in adult can be caused by several possibilities including sun exposure, frequent activities outside the environment and lack use of sunblock. The effects of direct sunlight exposure can cause the melanogenesis process through activation of tyrosinase due to activation of protein kinase C. The conclusions in this study showed that the highest frequency of NP is found at the age of 25−45 years old with a ratio of women is more than men, and the highest number of the histopathological features is intradermal nevus located in the head region.