Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Keberlanjutan Permukiman Rawa Desa Baru di Kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan Chaidir, Ahmad; Murtini, Titien Woro
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 1 (2014): JPWK Vol 10 No 1 March 2014
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.15 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v10i1.7633

Abstract

As the traditional village, Desa Baru has a value and local wisdom which is represented by spatial planning and environmental management. In terms of environmental management, the social behavior of local people in Desa Baru strengthens the existence of resided activity. However, the resided activity in Desa Baru conducted by local people can't be revealed as sustainable activity unless an assessment of sustainability has been conducted. Thus, the researcher is eager to examine the sustainability of swamp settlement area in Desa Baru: "How is the sustainability assessment of swamp settlement area in Desa Baru, Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara?" Referring to the objectives of study, the analysis has been conducted in several dimensions namely economic, socio culture, ecology, infrastructure and institutional dimension. The research used kuantitative method. All dimensions have been analyzed by Multi Dimensional Scalling (MDS). Each attribute uses scoring method in order to determine the sustainability. Moreover, the scoring result has been analyzed by using Rapfish Software resulting sustainability status. According to the analysis result, sustainability status the sustainability of swamp settlement area in Desa Baru can be categorized as "sustainable enough" since the percentage of sustainability resulted by MDS is 57,76%.
PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI RUANG TERBUKA PUBLIK DI KOTA LAMA SEMARANG TERHADAP CITRA KAWASAN Rizka, Fadzilla; Murtini, Titien Woro; Suprapti, Atik
TEKNIK Volume 34, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.039 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v34i3.6709

Abstract

Old City in Semarang as cultural reservation by Semarang undergone several changes over the times. One of that is change the function of public open space, every space change in an area affects on the image of the Old City in Semarang as the historical area. In the end, the change of public open space function affects on the image of The area of Old City in Semarang as Historical Area which existence is reserved. The purpose of this research is to acknowledge effects caused by the change of public open space function according to era development on the image of The area of Old City in Semarang as historical area fulfilled with buildings which have colonial architecture style. However, there are two kinds of variables in this research which are based on discussed research substance, they are independent variable which includes public open space function (ecology function, architectural/esthetical function, social function) and dependent variable which includes area image ( area identity, area structure, meaning of area). Both variables are analyzed using rationalistic quantitative method which techniques are multiple analysis technique and descriptive analysis. After doing analysis process, the results are: Taman Srigunting and Polder Tawang are successful to conduct each function, but generally, respondents say that Taman Srigunting is much better in doing its function as public open space than Polder Tawang. As for BTPN buiding, public agrees that the building disturbs the image of The area of Old City in Semarang because the design of the building does not adjust the neighborhood and the buildings surrounding it, and also, the condition of the empty building which is not taken care of and used gives more negative effect on the image of The area of Old City in Semarang. Conclusion drawn from this research is the existence of Taman Srigunting and Polder Tawang which have three functions as public open space such as ecology, esthetical, and social function, and the existence of BTPN building affect on the image of The area of Old City in Semarang. Key words :  function, open spaces, image
PENGARUH KONSEP POLA GRID TERHADAP KEMAMPUAN JANGKAUAN LANSIA DI KELURAHAN KROBOKAN Pratiwi, Busada Eka Kristi; Suprapti, Atiek; Murtini, Titien Woro
TEKNIK Volume 34, Nomor 2, Tahun 2013
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.665 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v34i2.5635

Abstract

Elderly is people who aged 60 years and older and generaly has decreased physical and psychological. Thenumber of elderly in Kelurahan Krobokan has reached 8.9%, its means that the region can be said to havean old structure. Elderly in Kelurahan Krobokan can still use their environment can still use theirenvironment to get to a certain social facilities to meet their needs. Existing spatial pattern in the district isusing a grid that has a lot of intersections. The purpose of this study was to determine the physical aspects ofthe elements forming a regular grid patterns that exist in the area of research, so as to affect the nonphysicalaspects of the ability range of the elderly.Research methods that will be used is a qualitative method rationalistic. Where the assessment is used toform a grand theory of concept consisting of the variables that will be connected. Then the data analysisstarts from reviewing and systematics of data that has been obtained by grouping data into variables thathave been previously determined. The group is then presented in the form of maps, patterns, percentages andnarrative text. The data that has been arranged, then made a conclusion and interpretation.An analysis found that the grid pattern affect the ability of elderly to use their environment. The positiveinfluence that can reach the elderly Kelurahan Krobokan social facilities they want them to go the distanceeven beyond their ability.
Faktor Pembentuk Karakteristik Permukiman Bontang Kuala Kota Bontang Kalimantan Timur M, Suparman; Setioko, Bambang; Murtini, Titien Woro
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.686 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.2.2014.71-78

Abstract

Permasalahan permukiman adalah permasalahan yang selalu ada dan terus meningkat mengikuti pertumbuhan penduduk, dinamika kependudukan dan tuntutan sosial ekonomi yang semakin maju. Perkembangan permukiman yang tidak berdasar teori perencanaan permukiman akan menjadikan permukiman tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan kenyamanan bagi penghuninya.Seperti halnya permukiman yang tumbuh di Kawasan Permukiman Apung Nelayan Bontang Kuala – Kalimantan Timur.Pada permukiman settle pola pertumbuhan permukiman secara visual terlihat tertata dengan baik. Sedangkan pola pertumbuhan permukiman yang berkembang setelah tahun 2009 disini tumbuh secara sporadis muncul dimana-mana bahkan semakin menjorok kelaut sehingga akan mengganggu kestabilan ekosistem.Fenomena ini yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman nelayan Bontang Kuala. Dengan metode penelitian deductive – kualitative – rasionalistik peneliti mengumpulkan berbagai variable – variable factor tentang karakteristik permukiman nelayan untuk di uji cobakan di Permukiman Nelayan Bontang Kuala – Kota Bontang Kalimantan Timur. Hasil dari analisa faktor-faktor pembentuk karakteristik permukiman Bontang Kuala menunjukan korelasi yang kuat antara permukiman lama dengan permukiman baru. Secara rinci faktor-faktor dominan yang signifikan menjadi faktor pembentuk karakteristik pada permukiman lama adalah persepsi dan kognisi,sikap dan keturunan,aktifitas ekonomi social dan budaya,fisik,legibility,transportasi dan air bersih serta pengolahan limbah yang baik.Sedangkan factor – factor pembentuk karakteristik pada permukiman baru adalah sikap dan motivasi,budaya dan kekerabatan,aktifitas ekonomi,sarana dan legibility serta factor fisik dan kognisi.
Evaluasi Keberadaan Pohon Pada Perumahan Di Daerah Perbukitan Terhadap Peraturan Menteri PU Nomor 05/Prt/M/2008 Kurniawan, Andri; Murtini, Titien Woro; Prianto, Eddy
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.575 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.2.2014.59 - 64

Abstract

Pembangunan perumahan merupakan salah satu upaya pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal. Kawasan perbukitan menjadi sasaran pengembang untuk mendirikan suatu hunian dengan potensi view yang menarik.  Sesuai Kebijakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum, Nomor: 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, seharusnya menjadi acuan bagi para pengembang  dalam penyediaan RTH untuk perumahannya. Namun,  yang terjadi saat ini, RTH  yang disediakan oleh developer (pengembang) perumahan justru sudah banyak dirubah oleh pemilik rumah, baik itu berubah fungsi maupun berubah bentuk, sehingga ruang terbuka hijau yang disediakan pengembang sudah tidak sesuai lagi dengan desain awal perumahan. Studi kasus penelitian dilakukan di  Perumahan  Syailendra,  Villa Pinus dan Villa Krista yang terdapat di Daerah Gedawang, Kota Semarang. Hasil penelitian membuktikan bahwa terjadi  perubahan pada RTH di tiga lokasi studi kasus namun mayoritas masih sesuai dengan peraturan yang ada. Faktor luas perkerasan, lamanya masa huni, serta adanya reward dan punishment akan berpengaruh tehadap jumlah pepohonan yang ada. Reward dan punishment dapat digunakan sebagi tools yang akan menjaga kelangsungan RTH di kawasan perumahan di daerah perbukitan. Kata Kunci : Perumahan, Peraturan Pemerintah, RTH
JALUR EVAKUASI BENCANA DI KAWASAN PERKOTAAN (Study Kasus : Gunung Sahari Jakarta Pusat) Auf, Abdurrohman Ibnu; Murtini, Titien Woro; Rukayah, Siti
MODUL Vol 16, No 1 (2016): Modul Volume 16 Nomer 1 Tahun 2016 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.503 KB) | DOI: 10.14710/mdl.16.1.2016.49-54

Abstract

Jalur pedestrian adalah jalur untuk pejalan kaki yang menghubungkan satu tempt ke tempat lainnya. Jalur pedestrian sangat dibutuhkan dalam sebuah kawasan kota. Jalur pedestrian dapat dikatakan juga sebagai ruang terbuka publik, karena pada jalur pedestrian ini dapat digunakan juga sebagai fasilitas untuk bersosialisasi antar individu. Selain itu juga pada jalur pedestrian yang aman dan nyaman bagi penggunanya, elemen-elemen pendukung juga harus disediakan. Berbagai fasilitas yang ada di jalur pedestrian dapat melengkapi fungsi jalur pedestrian sebagai ruang publik (maulani,dkk, 2013). Kawasan Gunung sahari jakarta pusat merupakan jalan utama dikota Jakarta yang memiliki jalur pedestrian, Jalur pedestrian pada Koridor Gunung Sahari mengalami peningkatan kegiatan yang cukup pesat menyusul meningkatnya perkembangan aktivitas dikoridor jalan tersebut (Rohman, 2015) . Namun, peningkatan hanya disalah satu sisi saja, beberapa faktor menjadi penyebabnya. Melihat fenomena tersebut muncul pertanyaan mengapa tidak difungsikan kembali jalur tersebut?. Bencana merupakan salah satu hal yang dapat terjadi dimana, kapan, dan kepada siapa saja. Bencana dapat berupa bencana alam dan human eror. Penanggulangan bencana belum terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Salah satunya jalur evakuasi bencana di kawasan kota. Tidak berfungsinya pedestrian di koridor gunung sahari layak untuk diteliti dan ditinjau apakah layak untuk difungsikan sebagai jalur evakuasi?
GEVEL SEBAGAI KARAKTER BANGUNAN KOLONIAL DENGAN FUNGSI RUMAH TINGGAL DI KOTA TEGAL (STUDI KASUS JALAN GAJAH MADA KOTA TEGAL) Fariz, Nuthqy; Sardjono, Agung Budi; Murtini, Titien Woro
MODUL Vol 17, No 2 (2017): MODUL vol 17 nomor 2 tahun 2017 (6 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.016 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.2.2017.56-61

Abstract

Sebagai kota yang berada di pesisir jawa bisa dikatakan Tegal telah mengalami beberapa perkembangan dan perubahan pada masa kolonial sampai dengan sekarang, baik dari segi manusianya, budaya ataupun peniggalannya. Kota tegal merupakan satu dari beberapa kota di pesisir pantai utara yang dijajah atau dikuasai oleh pemerintah belanda pada masa penjajahan dahulu.Bangunan peninggalan di tegal yang pertama yaitu gedung berau atau NIS Tegal yang masih bertahan sampai sekarang, bangunan tersebut dirancang oleh arsitek belanda yaitu Henricus Maclaine Pont, bukan gedung berau saja tetapi juga ada Stasiun Kereta Api Tegal yang masih difungsikan sampai sekarang. Dari beberapa bangunan kolonial yang dibangun pada masa itu banyak dari perumahan atau rumah rumah belanda yang meniru bentuk dan motif bangunan kolonial yang sudah dibangun terlebih dahulu.Dari bangunan yang ditiru yaitu bangunan DPRD Kota Tegal yang memiliki langam arsitektur eropa brgaya romawi dengan ciri bentuk kolom yang besar dan mempunyai gevel pada bagian depan bangunan. Dengan gevel yang semakin banyak digunakan pada bangunan di Kota Tegal tidak lepas dari rumah rumah yang menggunakan gevel sebagai penanda bangunan yang sangat manis pada masa itu.Gevel merupaka bagian dari atap dengan yang dibuat untuk menaungi bagian teras pad bangunan  gevel biasanya menyerupai bentuk segitiga dan bentuk persegi atau bujur sangkart, gevel banyak digunakan pada rumah-rumah di kawasan cagar budaya Kota Tegal yaitu di kelurahan mangkukusuman, kelurahan panggung, kelurahan tegalsari .Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan mencari tahu dilapangan rumah-rumah kolonial yang menggunakan gevel, sehingga bisa dkategorikan gevel menjadi karakter dari kawasan tersebut.Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui bahwa gevel menjadi bentuk karakter yang ada pada sepanjang jalan gajah mada Kota Tegal.
Panduan Desain Penggunaan Jenis Material Finishing Pada Desain Bangunan Arsitektur Ruang Spesifik (Studi Kasus Ruang Operasi pada Bangunan Rumah Sakit) Wahyuningrum, Sri Hartuti; Werdiningsih, Hermin; Murtini, Titien Woro
MODUL Vol 14, No 1 (2014): MODUL
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.208 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.1.2014.21-28

Abstract

Abstrak Perancangan arsitektur pada bangunan publik khususnya pada bangunan dengan fungsi spesifik seperti Rumah Sakit harus mempertimbangkan faktor perencanaan fungsional yang terpadu dalam penyelesaian desainnya . Mengingat Bangunan Rumah Sakit mempunyai persyaratan bangunan yang relatif kompleks karena spesifikasi masing-masing ruang pelayanan kesehatan yang disediakan. Persyaratan teknis khusus pada ruang spesifik menyebabkan pertimbangan penggunaan material yang tepat menjadi utama karena konsekuensi yang akan dihadapi adalah berkurangnya fungsi pelayanan atau kinerja ruang yang akan berakibat fatal pada penyelenggaraan prosedur tindakan pelayanan kesehatan yang menyangkut keselamatan nyawa manusia . Ruang Bedah/ Ruang Operasi (Operating Kamar) pada Bangunan Rumah Sakit mempunyai tingkat kinerja yang sangat tinggi, dan termasuk dalam Kategori Zona dengan Resiko Sangat Tinggi dalam persyaratan ruangnya. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai panduan dalam proses perancangan arsitektur untuk perancangan finishing ruang spesifik terutama untuk bangunan Rumah Sakit melalui kajian terhadap penyelesaian detail arsitektur yang terpadu sehingga akan membantu menemukenali perancangan yang bersifat komprehensif. Kata Kunci : Bangunan Fungsi Spesifik , Persyaratan Fungsional, Detail Finishing Arsitektur
PENGGUNAAN RUAS JALAN SEBAGAI PASAR TRADISIONAL DI GANG BARU PECINAN, SEMARANG Murtini, Titien Woro; Wahyuningrum, Sri Hartuti
MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.746 KB) | DOI: 10.14710/mdl.17.1.2017.17-21

Abstract

Pemanfaatan ruas jalan gang baru sebagai ruang untuk pasar tradisional sangat menarik untuk di kaji , karena kegiatan tersebut sudah terjadi sejak masa lalu hingga sekarang, walaupun fasilitas perbelanjaan modern saat ini di kota Semarang sudah tersedia dengan kondisi yang memadahi dan nyaman namun keberadaan pasar tradisional termasuk gang baru hingga saat ini masih tetap berlangsung dan diminati oleh masyarakat tidak hanya masyarakat disekitar Pecinan saja tetapi oleh masyarakat Semarang secara keseluruhan.Penelitian Penggunaan Ruas Jalan Sebagai Pasar Tradisional di Gang Baru Pecinan Semarang bertujuan menggali faktor-faktor yang menyebabkan pasar ini masih diminati hingga saat ini dan untuk mengetahui elemen ruang apakah yang membentuk ruas gang baru menjadi pasar tradisional. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan rasionalistik dengan paradigma kualitatif. Pendekatan  penelitian rasionalistik kualitatif ini sesuai dengan sifat masalah penelitian yaitu untuk mengungkap dan memahami faktor pendorong pembentukan ruas jalan lingkungan menjadi ruang ekonomi yang berpengaruh terhadap pembentukkan karakter di Kawasan Pecinan Semarang dan faktor yang menyebabkan ruang ekonomi itu tetap bertahan hingga sekarang.
PEMILIHAN PEDESTRIAN WAYS DITINJAU DARI PERSEPSI PENGGUNA DI KORIDOR JALAN GUNUNG SAHARI JAKARTA PUSAT Auf, Abdurrahman Ibnu; Murtini, Titien Woro; Rukayah, Siti
MODUL Vol 15, No 1 (2015): Modul Volume 15 Nomer 1 Tahun 2015
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.239 KB) | DOI: 10.14710/mdl.15.1.2015.39-46

Abstract

Koridor Jalan Gunung Sahari merupakan salah satu pusat pertumbuhan kota di Jakarta Pusat. Banyak aktivitas yang terjadi pada koridor tersebut. Seiring perkembangannya Jalan Gunung Sahari mengalami peningkatan aktivitas kendaraan bermotor yang cukup padat. Hal ini berpengaruh pada penggunakaan jalur pedestrian. namun, jalur pedestrian pada Jalan Gunung Sahari mengalami ketimpangan pengguna, yaitu di sisi sebelah timur lebih ramai pengguna, sedangkan di sisi sebelah barat hampir tidak terdapat pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi persepsi pengguna pedestrian ways dalam menentukan jalur yang diambil ketika berjalan pada pedestrian ways di koridor Jalan Gunung Saharari Jakarta Pusat. Penelitian ini menghasilkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan jalur pedestrian di koridor jalan gunung sahari adalah faktor aktivitas pendukung yang terdiri dari ruang, aktivitas, dan jalur pedestrian itu sendiri. Hipotesis yang mengatakan bahwa“Presepsi pengguna pedestrian ways dipengaruhi oleh perkembangan aktifitas di  koridor tersebut terutama pedestrian yang dianggap nyaman, aman, menyenangkan dan memiliki daya tarik akan lebih ramai” ternyata setelah diteliti lebih dalam faktor yang paling  berpengaruh terhadap pemilihan jalur pedestrian adalah aktifitas pendukung