Maula Nafi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

ANALISA PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN Cu DAN WAKTU AGING PADA HASIL PENGECORAN AlCu TERHADAP STRUKTUR MIKRO Santoso, Edi; Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 5 No 02 (2019): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.907 KB) | DOI: 10.12345/jm.v5i02.3341

Abstract

Beberapa Perlakuan panas merupakan proses kombinasi antara proses pemanasan dan pendinginan dari suatu logam atau paduannya dalam keadaan padat, ditahan pada temperature tertentu dan didinginkan untuk mendapatkan sifat-sifat tertentu. Pada penelitian ini menggunakan Perlakuan panas T5 pada hasil pengecoran Al-Cu dengan variasi penambahan Cu 3%, 4%, 5% dan waktu aging 2 jam, 3 jam, 4 jam untuk menganalisa ukuran butir dari struktur mikro yang didapat. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan didapatkan ukuran diameter butir AlCu tanpa perlakuan panas lebih kecil dibandingkan setelah diberi perlakuan panas, ukuran diameter butir AlCu setelah diberi perlakuan panas yang paling kecil ditunjukkan pada kondisi Al-5%Cu dengan waktu aging 4 jam yaitu sebesar 129,4 µm sedangkan ukuran diameter butir AlCu setelah diberi perlakuan panas yang paling besar ditunjukkan pada kondisi Al-3%Cu dengan waktu aging 2 jam yaitu sebesar 198,64 µm.Kata kunci: Perlakuan Panas T5, ukuran butir, struktur mikro
ANALISIS KEKERASAN AL-6061 HASIL COR DENGAN PERLAKUAN PANAS DOUBLE QUENCHING Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 02 (2016): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v2i02.1087

Abstract

Proses perlakuan panas dilakukan di akhir suatu proses manufaktur dengan tujuan adanya peningkatan nilai dari suatu material. Aluminium jenis Al-6061 adalah material yang biasanya digunakan untuk kepentingan konstruksi, serta manufaktur part mesin otomotif. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi double quenching dan waktu pendinginan pada hasil pengecoran Al-6061 terhadap nilai kekerasannya. Al-6061 dicor dengan temperature hingga 600oC dan dicetak kemudian diberikan perlakuan panas double quenching pada tiga jenis media, air, oli SAE40, dan solar, dengan tiga variasi waktu tahan, yaitu 5, 10, dan 15 detik. Spesimen hasil penelitian tersebut diuji nilai kekerasannya menggunakan alat uji kekerasan Rockwell. Hasil analisis menunjukkan nilai kekerasan tertinggi diperoleh 49.4 HRB dengan media oli SAE+air dan waktu 10 detik. Nilai kekerasan terendah adalah 45.7 dengan media air+oli SAE40 dan waktu 15 detik. Media paling optimum untuk perlakuan panas double quenching dan meningkatkan nilai kekerasan adalah media oli SAE40 + air. Dan waktu tahan quenching paling optimum adalah 10 detik. Jika terlalu cepat (5 detik) dan terlalu lama (15 detik), angka kekerasannya cenderung lebih rendah.Kata kunci: aluminium, double quenching, kekerasan, oli SAE40, Rockwell.
PENGARUH KERAPATAN PARANET TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT PENANGKAP KABUT DI DUSUN NGLURAH WONODADI KULON KAB. PACITAN Nafi, Maula; Aziz, Muhammad
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 3 No 02 (2017): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v3i02.1467

Abstract

Beberapa daerah di Indonesia, khususnya di daerah dataran tinggi masih dikategorikan sebagai daerah kekurangan air. Hal tersebut dikarenakan kontur tanah yang merupakan bebatuan, dan sumber air tanah yang terlalu dalam, lebih dari 50 meter, sehingga sumber air yang digunakan warga pada umumnya hanya dari sumber mata air. Hal yang bertolak belakang, di daerah dataran tinggi mempunyai potensi kabut yang sangat tinggi. Pada dasarnya, kabut adalah butiran air yang mengumpul dan belum menguap ke udara. Penelitian kali ini bertujuan untuk memanfaatkan paranet dan difabrikasi sebagai alat penangkap kabut, sehingga air dari kabut tersebut dikumpulkan dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Penelitian dikhususkan di Dusun Nglurah, Desa Wonodadi Kulon, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan. Alat penangkap kabut dibuat di dua titik dengan potensi kabut tertinggi, kemudian diambil data berapa air yang dapat ditampung selama lima bulan. Hasil menjanjikan dapat dilihat pada alat penangkap kabut pertama, karena lokasinya memang lebih tinggi dan mempunyai potensi kabut lebih banyak. Rata-rata produktivitas pada alat penangkap kabut pertama adalah 3,6 liter/m2/hari, dibandingkan dengan alat penangkap kabut kedua yaitu 3,2 liter/m2/hari. Secara umum, prototype alat penangkap kabut berfungsi dengan baik..Kata kunci: air, alat penangkap kabut, paranet, produktivitas kabut
Sintesis Grafena dengan Metode Dry Ice dan Aplikasinya sebagai Sensor Gas CO2 Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 4 No 02 (2018): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v4i2.2000

Abstract

Sensor gas karbon dioksida dapat difabrikasi dengan mensintesis material grafena, yang digadang-gadang adalah alotrofi karbon dengan sifat semikonduktor yang baik, sifat elektrik yang baik, konduktivitas tinggi, dan mobilitas elektron pada temperatur kamar tinggi. Grafena disintesis dengan reduksi karbon dioksida, yaitu dengan cara membakar magnesium pada kondisi lingkungan karbon dioksida. Pembakaran dilakukan di dalam dry ice, maka akan terbentuklah karbon yang merupakan grafena. Grafena tersebut kemudian diuji karakteristiknya dengan pengujian SEM, lantas dipreparasi untuk menjadi sampel sensor gas. Pengujian sensitivitas sensor gas CO2 dilakukan pada sebuah chamber yang dapat dialiri gas CO2 yang dapat diatur konsentrasinya dan temperatur operasinya. Pengujian dilakukan dengan konsentrasi gas 300, 400, dan 500 ppm, pada temperatur operasi 30, 50, dan 70oC. Nilai sensitivitas tertinggi didapatkan pada konsentrasi 500 ppm pada 30oC, yaitu 7,03. Semakin tinggi temperatur operasinya, semakin rendah nilai sensitivitasnya, disinyalir karena terjadi degradasi pada material sensor.Kata kunci: dry ice, grafena, karbon dioksida, SEM, sensor gas
Analisis Pengaruh Variasi Waktu dan Tegangan Listrik Proses Electroplating Warna Silver terhadap Ketebalan Pelapisan dan Kekerasan pada Baja Karbon wahid, ichlas; Nafi, Maula
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 6 No 1 (2020): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v6i1.4026

Abstract

Elektroplating adalah suatu proses pelapisan yang banyak digunakan dalam berbagai masalah, dengan cara melapisi suatu bendaakerja, metodeaini digunakan untuk perlindungan terhadap korosi, meningkatkananilai estetika, dan metode elektroplating ini dapat melapisi benda kerja yang bersifat mekanis. Penelitian iniAbertujuan untuk mengetahuiapengaruh variasiategangan listrik danavariasi waktuapelapisan sebesar 3 V ( 8 menit, 16 menit, 24 menit ), 3,5 V ( 8 menit, 16 menit, 24 menit ), dan 4 V ( 8 menit, 16 menit, 24 menit ) pada baja karbon rendah menggunakan larutan elektrolit warna silver nickel (Ni) terhadap ketebalan dan kekerasan lapisan. Metode yangaadigunakan dalam penelitian iniiiadalah pelapisan elektroplating, dalam metode ini objek direndam dalam beckerglas yang sudah terisi larutan elektrolit dengan waktu dan tegangan yang diatur pada mesin rectifier. Pengujian ketebalan menggunakan teori hukum  faraday dan pengujian kekerasan menggunakan alat uji Akhasi tipe MVK-H10 Herness Testing Machine untuk mengetahui tingkat kekerasan pelapisan. Hasil penelitian dan pengujian pada variasi tegangan 4 V dan waktu 24 menit menunjukan hasil pelapisan tebal dan merata dan warna yang dihasilkan solid. Ketbalan pelapisan bertambah seiring bertambahnya tegangan listrik dan waktu secara teoritis. Hasil ketebalan tertinggi didapatkan pada tegangan 4 V dan waktu 24 menit dalam perhihitungan didapatkan sebesar 51,7 µm, dan hasil nilai kekerasan tertinggi didapatkan pada pada 4 V dan waktu 24 menit dalam perhihitungan didapatkan sebesar 168,08 HV lebih besar 55,5% lebih besar dari spesimen uji normal tanpa pelapisan.Kata kunci : Electroplating, Baja Karbon, Tegangan, Ketebalan, Mikro Vicker,   
Analisa Kekerasan dan Strukturmikro Material Gear Sprocket pada Proses Pressing dan Perlakuan Panas Hardening Quenching dengan Variasi Temperatur dan Waktu Penahan Nafi, Maula; Sulistiyono, Djoko
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 6 No 2 (2020): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v6i2.1999

Abstract

Di Indonesia pengguna sepeda motor lumayan masih banyak, yang mana untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu spare part sepeda motor yang sering diganti adalah Gear Sprocket. Dalam sistem kerja mesin sepeda motor, rantai selalu bersinggungan dengan Gear Sprocket. Dari singgungan tersebut menyebabkan berkurangnya umur pemakaian dan keausan maka dibutuhkan kekuatan dan kekerasan Gear Sprocket  yang tinggi. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan melakukan hardening pada Gear Sprocket imitasi yaitu dengan cara memanaskan Gear Sprocket hingga temperatur 800, 850900 dengan tungku pemanas dan holding time selama 5, 10, 15 menit kemudian didinginkan cepat dengan menggunakan media pendinginan oli. Kemudian spesimen di-pressing dengan menggunakan metode kekerasan Rockwell  pada skala B karena material pada baja karbon rendah, serta diuji mikrostrukturnya. Dari hasil pengujian memperoleh kekerasan Gear Sprocket setelah hardening yang paling tinggi sebesar  88,8 HRB sedangkan kekerasan Gear Sprocket tanpa hardening sebesar 73,2 HRB. Diambil kesimpulan jika semakin besar temperatur dan holding time pada proses hardening Gear Sprocket dapat meningkatkan sifat mekaniknya. Dan semakin besar suhu dan waktu penahan pada uji mikrostruktur dapat meningkatkan strukturmikronya dari ferrit mendominasi menjadi martensit yang mendominasi.Kata kunci: perlakuan panas, media pendingin, kekerasan, strukturmikro, gear sprocket
Pengaruh Variasi Waktu Inhibisi dan Media Asam Terhadap Laju Korosi dan Sifat Mekanik Baja ST-41 dengan Inhibitor Ekstrak Kacang Kedelai Nafi, Maula; Wahid, Ichlas; Sulistyono, M.T., Ir. Djoko
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 7 No 1 (2021): July
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v7i1.5435

Abstract

Korosi dapat mengakibatkan kerusakan pada material baja yang menyebabkan baja cepat lelah dan mudah rusak. Baja ST-41 merupakan baja karbon sedang dengan komposisi kimia karbon 0,10% : mangan 0,6% : silikon 0,25%. Baja ST-41 memiliki arti tensile strength atau tegangan tarik dengan 40 kg/mm2. Inhibitor korosi adalah suatu zat kimia yang bila ditambahkan kedalam suatu lingkungan, dapat menurunkan laju penyerangan korosi lingkungan itu terhadap suatu logam. Pada penelitian ini menggunakan spesimen materia lBaja ST-41  dengan melakukan perlakuan pada medium korosif atau media asam HCl, asam sulfat dan asam nitrit, sehingga material terkorosif. Dalam kondisi terkorosif material spesimen medapatkan perlakuan pada medium inhibitor ekstrak kacang kedelai Penguji menggunakan dua sample material, sample tanpa perlakuan inhibitor dan dengan perlakuan inhibitor. sehingga pengujian ini dapat mengetahui pengaruh inhibisi terhadap laju korosi. Diuji dengan menggunkan pengujian weight loss atau pengujian dengan menghitung berat awal material spesimen dengan menghitung berat akhir spesimen setelah terkorosif. Kemudian material spesimen diuji dengan pengujian kekerasan atau pengujian hardness dan pengujian strukturmikro. Dari hasil penelitian didapatkan laju korosi material baja ST-41 tertinggi terdapat pada spesimen tanpa perlakuan inhibitor dengan media asam sulfat, pengaruh inhibitor pada laju korosi terdapat pada spesimen dengan variasi perendaman inhibisi 2 hari pada media asam nitrat dengan laju korosi terendah. Nilai kekerasan tertinggi terdapat pada spesimen dengan media asam HCl tanpa perlakuan perendaman inhibisi dan lama waktu perendaman inhibsi pengaruh terhadap nilai kekerasan spesimen yang semakin meningkat. Pada strukturmikro Spesimen didominasi perlit terdapat pada spesimen dengan media HCl dan asam nitrat tanpa perlakuan waktu perendaman inhibisi, semakin berkurangnya waktu perendaman inhibisi mempengaruhi berkurangnya ferit terhadap spesimen.Kata kunci : laju korosi, ST-41, baja karbon, inhibitor organik, asam, asam klorida, asam sulfat, asam nitrat, uji kekerasan, uji mikrostruktur.
Analisis Pengaruh Preheating terhadap Hasil Pengelasan SMAW pada ASTM A53 dengan Variasi Temperature dan Waktu dengan Pengujian Kekerasan dan Struktur Mikro Nafi, Maula; Sulistyono, Djoko; Wahid, Ichlas; Albab, Adib Ulil
MEKANIKA: Jurnal Teknik Mesin Vol 7 No 2 (2021): December
Publisher : Program Studi Teknik Mesin, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12345/jm.v7i2.6095

Abstract

Dalam dunia industri, baja merupakan material yang sangat banyak dijumpai dari Sebagian bahan bahan baja yang dijumpai sebagai bahan dalam pembuatan mesin, ada banyak beberapa baja yang kita jumpai salah satunya adalah ASTM A53, penyambungan antara dua bagian logam atau lebih dengan menggunakan energi panas merupakan atau bisa disebut dengan pengelasan merupakan hal yang sering kita temui atau dilakukan salah satu pengelasan yang sering kita temui itu adalah pengelasan SMAW (shield metal arc welding) pemanasan yang berlebihan atau tidak merata dapat mengakibatkan tegangan sisa, distorsi, atau perubahan metalurgi yang tidak diinginkan pada logam induk, Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan preheating atau bisa disebut dengan pemanasan awal sebelum dilakukan pengelasan, Adapun tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetauhi pengaruh preheating terhadpa kekerasan untuk hasil pengelasan material baja ASTM A53 (2) mengetauhi dampak dari variasi temperature dan waktu untuk struktur mikro, pada hasil pengelasan baja ASTM A53 (3) mengetauhi efek dari temperature dan waktu pada kekerasan pada hasil pengelasan baja ASTM A53. Proses preheating digunakan variasi temperature 160℃,210℃,260℃ dengan waktu tunggu 7menit,15menit,20menit. Setelah pengelasan SMAW selesai, dilakukan pengujian kekerasan dan mikrostruktur baja ASTM A53 untuk mengetahui besarnya kekerasan dan struktur mikro baja, yang disebut sebagai pengelasan. Pengelasan SMAW (shield metal arc welding) adalah jenis pengelasan yang sering kita jumpai atau lakukan. Panas yang diterapkan terlalu cepat atau tidak merata dapat menyebabkan regangan sisa, deformasi, atau perubahan metalurgi yang tidak diinginkan pada logam dasar jika prosesnya tidak dilakukan dengan benar. Adapun cara untuk memperbaikinya adalah dengan melakukan preheating atau pemanasan awal sebelum dilakukan pengelasan, adapun tujuan dari penelitian yang dilakukan yaitu (1) mengetauhi pengaruh preheating terhadpa kekerasan untuk hasil pengelasan material baja ASTM A53 (2) mengetauhi pengaruh pada variasi temperature dan waktu terhadap struktur mikro untuk hasil pengelasan baja ASTM A53 (3) mengetauhi pengaruh temperature dan waktu pada kekerasan untuk hasil pengelasan baja ASTM A53. Proses preheating digunakan variasi temperature 160℃,210℃,260℃ dengan waktu tunggu 7menit,15menit,20menit. Setelah itu dilakukan pengelasan SMAW dengan memutar dan dilanjutkan melakukan Baja ASTM A53 menjalani pengujian kekerasan dan struktur mikro untuk menentukan kekerasan dan struktur mikronya. Kata kunci: Preheating, Pengelasan SMAW, Rockwell, Metalografi, Struktur Mikro, ASTM A53, Baja karbon menengah