Naidah Naing
Department of Architecture, Faculty of Engineering Universitas Muslim Indonesia Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PEMETAAN KARAKTERISTIK PERMUKIMAN KUMUH PESISIR UNTUK PENGELOLAAN BENCANA DI MAKASSAR Naing, Naidah
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol.1 No.1, Februari 2016
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.004 KB) | DOI: 10.33096/losari.v1i1.26

Abstract

Makassar merupakan salah satu kota yang sebagian wilayahnya merupakan kawasan permukiman pesisir. Namun perubahan iklim yang terjadi terus-menerus dilingkungan permukiman di pesisir, terkadang menyebabkan bencana banjir (ROB), angin kencang dan gelombang arus deras, yang setiap saat mengancam rumah-rumah berada dikawasan pemukiman pesisir. Hal ini akan mempengaruhi keberlanjutan ekonomi dan keberlanjutan kehidupan di kawasan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik permukiman pesisir untuk pengelolaan bencana di kawasan pesisir Kota Makassar, agar kehidupan dapat terus berlangsung. Secara umum penelitian bersifat deskriptif-evaluatif dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Behaviour Approach dan Architectural Appproach (Neer, 1999). Pendekatan pertama berkaitan dengan dengan kajian proses memukimi oleh penduduk, “survival strategy” yang dimiliki oleh penduduk yang dimanifestasikan dalam kondisi sosio-ekonominya. Pendekatan yang kedua berkaitan dengan kajian perumahan dan pola permukiman. Kedua pendekatan tersebut dioperasionalisasikan dengan comparative perspective, yaitu dengan membandingkan eksistensi permukiman yang disaring melalui mekanisme penentuan tipologi karakteristik permukiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik permukiman kumuh cenderung mengelompok dan menyebar tidak teratur. Masyarakat menempatkan rumahnya secara alami langsung berhadapan dengan pantai, dengan mata pencaharian sebahagian nelayan sehingga rumah-rumah diletakkan menyebar tak teratur. Hal ini akan ditata kembali berdasarkan struktur ruang kawasan yang telah ada. Kemudian akan dikembangkan sesuai dengan standar penataan kawasan tepi air/ waterfront city yang berlaku. Dari karakteristik ini akan menghasilkan model pengelolaan bencana di kawasan pesisir Makassar.
MODEL PENATAAN PERMUKIMAN KUMUH UNTUK PENGELOLAAN BENCANA DI KAWASAN PESISIR MAKASSAR ( Studi Kasus : Kelurahan Cambaya Kecamatan Ujung Tanah ) Naing, Naidah; B, Andi Muhammad Ikhsan
LOSARI Jurnal Arsitektur, Kota dan Permukiman Vol.1 No.2, Agustus 2016
Publisher : Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1243.443 KB) | DOI: 10.33096/losari.v1i2.46

Abstract

Setelah menemukan model sistem pemetaan karakteristik berdasarkan kearifan lokal untuk untuk pengelolaan bencana pada kawasan pesisir pada Tahun I, maka penelitian tahun selanjutnya akan diarahkan pada penelitian terapan lanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti teknologi adaptasi bencana terhadap permukiman dan infrastruktur di kawasan pesisir berdasarkan permasalahan dasar dan kearifan lokal yang ada. Penelitian teknologi menyangkut teknologi yang digunakan dalam mengantisipasi permukiman dari abrasi pantai, angin kencang dan perubahan iklim lainnya. Selain itu juga akan diteliti struktur lingkungan permukiman dalam menanggulangi bencana, struktur dan konstruksi perumahan dan infrastruktur permukiman. Hasil penelitian tahap kedua ini berupa sistem teknologi yang dapat diaplikasikan langsungpada area sekitar permukiman, perumahan dalam mengelola bencana di pesisir pantai Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian tahunke-2 ini adalah deskriptif-evaluatif dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan Morphological Approach dan Behaviour Approach dan Architectural Appproach. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis spasial dan analisis deskriptif . Hasil penelitian tahun ke-2 adalah sebuah disain teknologi kawasan permukiman untuk mitigasi bencana. Yang meliputi (1) Desain teknologi struktural kawasan permukiman yang terdiri dari; a) penahan ombak b) pencegah abrasi pantai c) vegetasi pantai d) fasilitas infrastruktur e) sarana dan prasarana; (2) Desain konstruksi rumah untuk mitigasi bencana, terdiri dari : a) struktur bawah b) struktur badan rumah c) struktur atap d) material rumah e) struktur rangka f) dan bagian-bagian rumah (lantai, dinding atap/plafon).
KEARIFAN LOKAL TRADISIONAL MASYARAKAT NELAYAN PADA PERMUKIMAN MENGAPUNG DI DANAU TEMPE SULAWESI SELATAN Naing, Naidah; Santosa, Happy Ratna; Soemarno, Ispurwono
Local Wisdom : Jurnal Ilmiah Kajian Kearifan Lokal Vol 1, No 1 (2009): November 2009
Publisher : Merdeka Malang University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/lw.v1i1.1362

Abstract

Masyarakat nelayan yang bermukim pada rumah mengapung di Danau Tempe memiliki kearifan lokal berupa hukum adat yang bersumber pada keyakinan dan berkembang melalui proses adaptasi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal ini diyakini dapat menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan dan kelestarian antara manusia, lingkungan permukiman dan lingkungan alam di Danau Tempe. Jika tradisi dan hukum adat ini dilanggar, maka akan merusak keseimbangan sistem kehidupan di lingkungan danau, sehingga Macoa Tappareng sebagai ketua adat akan memberikan sangsi kepada setiap orang yangmelakukan pelanggaran tersebut. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etno-arsitektur digunakan untuk menggali kearifan tradisi masyarakat nelayan yang bermukim pada permukiman mengapung yang alamiah di Danau Tempe. Teknik analisis Model Spradley dipakai dalam menguraikan bentuk-bentuk kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hasil penelitian menggambarkan adanya kekuatan hukum adat sangat dominan mempengaruhi perilaku dan kehidupan masyarakat nelayan dalam bermukim di floating house, beraktifitas sosial, budaya dan beraktifitas ekonomi diatas air. Pembagian area privat, semi privat dan area publik di lingkungan Danau Tempe adalah kearifan tradisi yang telah dilakukan oleh beberapa generasi. Jika terjadi pelanggaran terhadap hukum adat, diyakini akan merusak keseimbangan hidup nelayan dan merusak kelestarian lingkungan, sehingga dikenakan sangsi-sangsi yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah idosa (di hukum) dengan melakukan upacara Maccerak Tappareng secara perorangan yang dipimpin oleh Macoa Tappareng. Hal ini di yakini sebagai bentuk permohonan maaf masyarakat nelayan atas kesalahan perlakukan terhadap lingkungan alamdi Danau Tempe.