Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN DUKUNGAN SUAMI PADA IBU HAMIL DENGAN KUNJUNGAN ANTENATAL CARE (ANC) DI BPS USWATUN KHASANAH LIMAN BENAWI KECAMATAN TRIMURJO LAMPUNG TENGGAH TAHUN 2014 Imronah Imronah; Yuli Widiyastuti
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v1i1.540

Abstract

Antenatal Care adalah uapaya preventif program pelayanan kesehatan obstetric untuk optimalisasi luaran maternal dan neonatal. Menurut WHO pada tahun 2012 sebanyak 536/100.000 persalinan hidup, di Indonesia pada tahun 2012 sebesar 228/100.000 kelahiranhidup,sedangkan di Provinsi Lampung padatahun 2012sebanyak 105/100.000 kelahiran, di kabupaten Lampung Tengah pada tahun 2012 mencapai 17 kasus. Berdasarkan pra survey di BPS Uswatun Khasanah pada tanggal 13 Februari 2014 data tentang kunjungan K4 tahun 2011 sebesar 77,8%menurun ditahun 2012 menjadi 63,4%. Maka, Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya hubungan dukungan suami pada ibu hamil dengan kunjungan Antenatal Care di BPS Uswatun Khasanah Liman Benawi Kecamatan Trimurjo Lampung Tengah Tahun 2014.Jenis penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan rancangan analitik dan menggunakan pendekatan croos sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil  yang melakukan kunjungan antenatal care (ANC) pada saat penelitian sebanyak 48 responden dengan sampel accidental sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan lembaran kuesioner. Analisa data univariat dengan distribusi frekuensi dan analisa bivariat dengan uji chi  square.Hasil penelitian dengan analisa univariat terdapat 28 responden (58,3%) yang kurang mendapatkan dukungan dari suami dan terdapat 26 (54,2%) responden yang kurang teratur melakukan kunjungan antenatal care (ANC), hasil analisa bivariat, Adanya hubungan yang signifikan dukungan suami dengan kunjungan antenatal care (ANC) pada ibu hamil dimana p-value = 0,000. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan suami mempunyai pengaruh positif terhadap kunjungan Antenatal Care ibu yang berarti semakin ibu mendapatkan dukungan suami akan mempengaruhi meningkatnya keteraturan kunjungan antenatal care (ANC). Maka, saran dari responden bagi suami untuk ikut aktif dalam melakukan kunjungan antenatal agar informasi dapat diterima oleh suami istri dan target kunjungan antenatal care (ANC) minimal 4x selama kehamilan dapat tercapai. Kata Kunci :Dukungan Suami, Kunjungan Antenatal  Care (ANC)
Karakterisasi Morfologi dan Kandungan Minyak Atsiri Beberapa Jenis Sirih (Piper sp.) Yuli Widiyastuti; Sari Haryanti; Dyah Subositi
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 3 (2016): Spesial Issue of Mulawarman Pharmaceuticals Conference Proceeding (Prosiding Semnas T
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.53 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v3i2.148

Abstract

Piper merupakan salah satu marga dalam famili Piperaceae yang meliputi lebih dari seribu jenis tumbuhan yang tersebar di daerah tropis dan sub tropis. Sirih (Piper betle L.) adalah salah satu spesies dalam genus Piper yang sangat dikenal masyarakat, karena tidak hanya dimanfaatkan sebagai herbal namun juga memiliki nilai penting dalam kultur atau budaya masyarakat. Berdasarkan bentuk dan warna daun, rasa dan aroma, dikenal beberapa jenis sirih antara lain sirih cacing, sirih Jawa, sirih gading, sirih banda, dan sirih cengkih. Untuk itu dilakukan penelitian karakterisasi morfologi dan kandungan minyak atsiri beberapa jenis sirih yang berasal dari beberapa daerah. Penelitian dilakukan secara eksploratif dengan mengambil spesimen beberapa jenis sirih, kemudian dilakukan karakterisasi morfologi di Laboratorium Sistematika Tumbuhan. Analisis minyak atsiri dilakukan secara stahl destilasi dan identifikasi kandungan minyak atsiri secara Kromatografi Lapis Tipis menggunakan fase diam Silikagel G dan fase bergerak toluene:etyl acetat: 93:7, visualisasi menggunakan vanillin asam sulfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis sirih yang dikenal dengan nama daerah sirih gading, sirih cacing, dan sirih hijau dengan nama botani Piper betle L., serta sirih merah dengan nama botani Piper crocatum L. atau Piper ornatum L. Perbedaan morfologi yang paling menonjol ada pada bentuk daun, tekstur daun, warna batang, warna tangkai daun, habitus, dan aroma. Kadar minyak atsiri masing-masing jenis sirih berturut turut: sirih hijau (0,6 %), sirih cacing (0,3%), sirih gading (0,3%), dan sirih merah (0,6%). Profil KLT dari minyak atsiri masing-masing jenis sirih menunjukkan perbedaan dalam jumlah spot maupun warna spot.
Efek Sinergis Kombinasi Ekstrak Etanolik Kayu Secang dan Rimpang Lempuyang pada Sel Kanker Payudara MCF-7 Sari Haryanti; Ika Yanti M. Sholikhah; Yuli Widiyastuti
Jurnal Kefarmasian Indonesia VOLUME 9, NOMOR 1, FEBRUARI 2019
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.212 KB) | DOI: 10.22435/jki.v9i1.324

Abstract

Cancer is one of critical, chronic, and complex disease, also becoming the high cause of death in the world. Brazilin and brazilein in sappan wood (Caesalpinia sappan L.) and zerumbone in bitter ginger rhizome (Zingiber zerumbet L.) are known having cytotoxic activity with different mechanisms. This study aimed to examine combination effect of sappan wood and bitter ginger rhizome. Sappan wood and bitter ginger rhizomes macerated with ethanol 96% for 3x24 hours, filtered, and evaporated to obtain dried extract.Cytotoxic effect on MCF-7 cells was done using MTT assay. Combination Index (CI) was determined by CompuSyn based on the result of cytotoxic combination. Cell cycle profile and apoptosis induction was analyzed by flow cytometry. Sappan wood extracts and bitter ginger rhizome exhibited cytotoxic effects on MCF-7 cells with the IC50 values of 30 and 155 μg/mL respectively. The combination of sappan wood 15 μg/mL and bitter ginger 8, 12, 24, and 60 μg/mL produced synergistic effect with the CI value of 0.57-0.85. Sappan wood 15 μg/mL combined with bitter ginger 8 and 24 μg/mL showed cell cycle inhibition at G2/M phase. The combination also increased apoptosis induction compared to untreated cells and its single treatment.The combination of sappan wood ethanolic extracts and bitter ginger rhizome showed synergistic cytotoxic effect. Its synergism effect revealed through cell cycle arrested at G2/M phase and acceleration of apoptotic induction.
Kaempferia galanga L. A Medicinal Plant Used By Indonesian Ethnic Groups: Genetic Diversity Based on Inter-Simple Sequence Repeats (ISSR) Dyah Subositi; Nina Kurnianingrum; Rohmat Mujahid; Yuli Widiyastuti
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 42, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v42i1.1850

Abstract

Kencur (Kaempferia galanga L.) has been recognized as a medicinal plant used by many ethnic groups in Indonesia. Up to present time, information on the diversity of the respected plant is still limited. The aim of this research was to reveal the genetic diversity of K. galanga in Indonesia as a baseline medicinal plant database. Inter-Simple Sequence Repeat (ISSR) molecular markers were employed to analyze the genetic diversity information of K. galanga from 12 selected locations in Indonesia where ethnic groups used the plant. Dice index similarity was used to calculate a similarity index, and Unweighted Pair Group Method Using Arithmetic Mean (UPGMA) was used to constructing a dendrogram. Ten selected ISSR primers generated 104 amplified DNA fragments, of which 98 fragments (94.2%) were polymorphic. The genetic similarity index among accessions ranged from 49.6–93.3%, indicating a high level of genetic diversity in K. galanga. The ISSR markers were thus able to genetically differentiate K. galanga accessions.