Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGURANGI RISIKO KERUSAKAN SITU-SITU DI KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK Naryanto, Heru Sri; Dewanti, Tiffa Yuki
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.806 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i2.3108

Abstract

ABSTRACTDepok City has a function as a water catchment in reducing flooding in Jakarta City and in Depok City itself, the existence of existing sites is very important to be maximized. At present there are only 21 small lake in Depok City whose existence is still maintained. The conditions there each year decrease both in terms of quality and quantity. There are 6 small lake in Cimanggis subdistricts, namely: Situ Gadog, Situ Pedongkelan, Situ Rawa Kalong, Situ Tipar, Situ Jemblung, and Situ Rawa Gede, which as a whole have an area of 32.4 Ha. To maintain small lake preservation in the Cimanggis sub-district, damage risk reduction is urgently needed to sustain the small lake's existence in a sustainable manner. There are 5 variables of community participation in damage risk reduction in Cimanggis sub-district. Five variables to measure the level of community participation are community participation in the form of thoughts, community participation in the form of property, community participation in the form of energy, community participation in the form of skills, and community participation in social forms. Keywords: Community participation, small lake, Cimanggis, damage risk reduction
ANALISIS KEJADIAN BENCANA TANAH LONGSOR TANGGAL 12 DESEMBER 2014 DI DUSUN JEMBLUNG, DESA SAMPANG, KECAMATAN KARANGKOBAR, KABUPATEN BANJARNEGARA, PROVINSI JAWA TENGAH Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1607.161 KB) | DOI: 10.29122/alami.v1i1.122

Abstract

AbstrakKejadian bencana tanah longsor semakin sering terjadi di Indonesia, termasuk di Kabupaten Banjarnegara. Bencana tanah longsor kembali menimpa warga Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah pada hari Jumat, 12 Desember 2014 jam 17.30 WIB. Tipologi tanah longsor yang terjadi adalah tipe rotasi, yang kemudian ke arah bawah berkembang menjadi aliran debris akibat material longsoran yang bercampur dengan massa air yang sangat jenuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor di Banjarnegara 12 Desember 2014 antara lain adalah: geomorfologi terbentuk oleh perbukitan di sedang sampai terjal, batuan penutup berupa soil berasal dari pelapukan batuan breksi vulkanik, terbentuknya rekahan batuan di bagian atas mahkota longsor, curah hujan yang sangat ekstrim, terbentuk mataair pada bagian atas dan tengah bukit, tataguna lahan yang sudah banyak berubah dan aktivitas manusia yang sudah menjarah daerah kritis. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya tanah longsor, tetapi dari hasil analisis ada tiga faktor utama penyebab terjadinya tanah longsor yaitu: terjadinya hujan ekstrim (lebat) selama tiga hari berturut-turut sebelum terjadi longsor, topografi pembentuk tanah longsor sangat terjal, tanah (soil) hasil pelapukan batuan sangat tebal dan bersifat menyerap air sehingga mudah jenuh. Berkaitan dengan hal tersebut sangat dibutuhkan berbagai kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB) untuk meminimalisasi jumlah korban baik jiwa maupun harta. Kata kunci: Tanah Longsor, Banjarnegara, Topografi Terjal, Soil Tebal, Curah Hujan Ekstrim, Pengurangan Risiko Bencana
ANALISIS PATAHAN BAWAH PERMUKAAN DARI PENGUKURAN GEOLISTRIK UNTUK ANTISIPASI BENCANA GEMPA DI KABUPATEN GROBOGAN Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.782 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i2.3053

Abstract

ABSTRAKPembangunan yang sangat pesat di Kabupaten Grobogan harus seiring dengan keamanan dan keselamatan terhadap produk dari pembangunan tersebut. Kabupaten Grobogan termasuk salah satu kawasan yang rawan terhadap bahaya gempa. Bencana gempa berpotensi merusak segala infrastruktur yang sudah terbangun, termasuk keselamatan jiwa. Struktur patahan bisa menjadi penyebab pemicu terjadinya gempa, serta merupakan zona lemah yang mudah rapuh apabila terjadi gempa. Banyak sekali struktur patahan yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Penelitian kondisi geologi bawah permukaan sangat penting untuk memberikan informasi yang detil segala sesuatu yang ada di bawah permukaan termasuk struktur patahannya. Salah satu metodologi analisis bawah permukaan adalah dengan pengukuran geolistrik. Pengukuran geolistrik dilakukan pada 5 lintasan pada 3 kecamatan di Kabupaten Grobogan, yaitu: Kecamatan Pulo Kulon, Kecamatan Kradenan dan Kecamatan Gabus. Pengukuran geolistrik dilakukan sebagian besar di atas endapan aluvial, dimana patahan tidak terekspose di permukaan. Dijumpai banyak patahan berdasarkan analisis data dari 5 lintasan geolistrik. Patahan yang banyak dijumpai adalah patahan turun (normal) dan sebagian patahan geser. Untuk keselamatan masyarakat maka perlu mitigasi bencana gempa pada kawasan yang dilalui patahan. Untuk penataan kawasan yang aman berkelanjutan, diperlukan konstruksi bangunan yang kuat apabila dibangun di atas kawasan patahan. Katakunci: Pengukuran geolistrik, bawah permukaan, patahan, gempa, mitigasi
KAJIAN PETA BAHAYA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH (STUDY OF LANDSLIDE HAZARD MAP IN THE BANGGAI LAUT DISTRICT, CENTRAL SULAWESI PROVINCE) Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.192 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i1.2695

Abstract

ABSTRACTBanggai Laut District which consists of islands has many threats to natural disaster, one of them is landslide hazard. The landslides hazard in Banggai Laut District is formed due to morphology which mostly in the form of wavy morphology up to the hills. The thematic map data used in landslide hazard map analysis is the official data held by the Banggai Laut District Government. The weighting and rating system is carried out on several parameters: geology (15%), slope (40%), land cover (25%) and rainfall (20%). Data from these parameters are overlaid with geographic information system (GIS) to obtain the classification of landslide hazard maps, ie: high landslide hazard zones, moderate landslide hazard zones and low landslide hazard zones. High landslide hazard zones are evenly spread over 4 large islands, namely Banggai Island, Bangkurung Island, Labobo Island and Bokan Kepulauan Islands. The potential for high landslide hazard will become bigger with added disturbance of human activities. To smooth the development process in integrated Banggai Laut District, landslide hazard maps and other hazard maps are very necessary. The limited availability of data and information on the disaster in Banggai Laut District, the creation of landslide hazard map is very important as one of the parts to complement the data. With the establishment of Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Banggai Laut District, disaster risk reduction is expected to be implemented more focused, integrated, comprehensive and well coordinated with related institutions. Keywords: Landslides, Hazard Maps, Banggai Laut, Disaster Risk Reduction, Focused and Integrated Development.   ABSTRAKKabupaten Banggai Laut yang terdiri dari kepulauan mempunyai banyak ancaman terhadap bencana alam, salah satunya adalah bencana tanah longsor (gerakan tanah). Bahaya tanah longsor di Kabupaten Banggai Laut terbentuk akibat morfofologi yang sebagian besar berupa morfologi bergelombang sampai perbukitan. Data peta tematik yang digunakan dalam analisis peta bahaya tanah longsor adalah data resmi yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Banggai Laut. Sistem pembobotan dan penilaian dilakukan pada beberapa parameter yaitu: geologi (15%), lereng (40%), tutupan lahan (25%) dan curah hujan (20%). Data dari parameter-parameter tersebut dioverlay dengan sistem informasi geografi untuk mendapatkan klasifikasi peta bahaya tanah longsor, yaitu: zona bahaya tanah longsor tinggi, zona bahaya tanah longsor sedang dan zona bahaya tanah longsor rendah. Zona bahaya tanah longsor tinggi merata tersebar di 4 pulau besar, yaitu Pulau Banggai, Pulau Bangkurung, Pulau Labobo dan Bokan Kepulauan. Potensi bahaya longsor tinggi tersebut akan menjadi semakin besar dengan tambahan gangguan aktivitas manusia. Untuk kelancaran proses pembangunan secara terpadu di Kabupaten Banggai Laut, peta bahaya longsor dan peta-peta bahaya lainnya sangat diperlukan. Ketersediaan data dan informasi tentang kebencanaan yang masih terbatas di Kabupaten Banggai Laut, maka pembuatan peta kawasan rawan bahaya tanah longsor sangat penting sebagai salah satu bagian untuk melengkapi data tersebut. Dengan terbentuknya BPBD Kabupaten Banggai Laut, maka pengurangan risiko bencana diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah, terpadu, menyeluruh serta terkoordinasi dengan baik dengan instansi terkait. Kata kunci: Tanah Longsor, Peta Bahaya, Banggai Laut, Pengurangan Risiko Bencana, Pembangunan Terarah dan Terpadu.
ANALISIS BAHAYA, KERENTANAN DAN RISIKO BENCANA TSUNAMI DI PROVINSI PAPUA BARAT Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.267 KB) | DOI: 10.29122/alami.v3i1.3399

Abstract

ABSTRACTThe meeting of the 3 world plates, the Eurasian Plate, the Indo-Australian Plate, and the Pacific Plate in eastern Indonesia, caused a high potential for earthquake and tsunami events in the area. The frequency of tsunami events in eastern Indonesia including West Papua Province is quite large. Tsunamis are mostly caused by earthquakes originating from the sea, but can also be triggered by submarine landslides, volcanic eruptions at sea, gas extrusions, celestial bodies, nuclear explosions and other generating sources. With the high potential of tsunamis in West Papua Province, tsunami hazard and risk maps are urgently needed to become a reference in the development planning process and tsunami disaster risk reduction activities that are more effective, efficient and integrated to reduce the possible impact of victims. The danger of a high tsunami in West Papua Province which has a far enough landward direction is on the coast of Sorong City, Sorong District, South Sorong District, Bintuni District and north of Fakfak District (Bomberay Sub-District). Based on the area of high-risk areas, Bintuni District is the district that has the widest high-risk area, with an area of 116,728 Ha or 5.61% of the total area of the Bintuni District, while Tambrauw District is the district with the smallest high risk area of 2,076 Ha or 0,32% of the total area. The only district that does not have a tsunami threat because it is not in the coastal area is Maybrat District.Keywords: tsunami, West Papua, hazard, risk, risk reduction ABSTRAKPertemuan 3 lempeng dunia, Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik di Indonesia bagian timur, menyebabkan potensi tinggi kejadian gempa dan tsunami di  daerah tersebut.  Frekuensi kejadian tsunami di Indonesia bagian timur termasuk Provinsi Papua Barat cukup besar. Tsunami sebagian besar disebabkan oleh gempabumi bersumber di laut, tetapi juga bisa dipicu akibat tanah longsor bawah laut, letusan gunungapi di laut, ekstrusi gas, benda-benda langit, ledakan nuklir dan sumber pembangkit lainnya. Dengan tingginya potensi tsunami di Provinsi Papua Barat, maka sangat dibutuhkan peta bahaya dan risiko tsunami untuk menjadi acuan dalam proses perencanaan pembangunan serta kegiatan pengurangan risiko bencana tsunami yang lebih efektif, efsien dan terpadu untuk mengurangi dampak korban yang mungkin terjadi. Bahaya tsunami tinggi di Provinsi Papua Barat yang mempunyai pelamparan cukup jauh ke arah daratan terdapat di pantai Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Bintuni dan sebelah utara Kabupaten Fakfak (Kecamatan Bomberay). Berdasarkan luas area berisiko tinggi, Kabupaten Bintuni merupakan kabupaten yang memiliki area berisiko tinggi terluas, yaitu dengan luas 116.728 Ha atau 5.61% dari luas keseluruhan Wilayah Kabupaten Bintuni, sedangkan Kabupaten Tambrauw merupakan kabupaten dengan wilayah berisiko tinggi paling kecil dengan luas 2.076 Ha atau 0,32% dari seluruh luas wilayahnya. Satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki ancaman tsunami karena tidak berada pada kawasan pesisir adalah Kabupaten Maybrat.Kata kunci: tsunami, Papua Barat, bahaya, risiko, pengurangan risiko
KAJIAN BAHAYA TSUNAMI DI PANTAI UTARA KABUPATEN SERANG Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 3, No 2 (2019): Jurnal Alami
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.107 KB) | DOI: 10.29122/alami.v3i2.3768

Abstract

 ABSTRAKKawasan pantai utara Kabupaten Serang telah berkembang dengan sangat pesat, terutama menjadi kawasan industri, pelabuhan dan permukiman. Kawasan pantai utara Kabupaten Serang mempunyai potensi tsunami, meskipun tidak sebesar yang berada di bagian barat yaitu pada kawasan Selat Sunda. Kawasan pantai utara Kabupaten Serang tersebut meliputi kecamatan-kecamatan Pulo Ampel, Bojonegara, Kramatwatu, Pontang, Tirtayasa, dan Tanara. Kawasan tersebut sebagian besar termasuk dalam zona bahaya tsunami sedang dan rendah. Tsunami pada kawasan tersebut bersumber dari gempa dengan episenter yang berasal dari Selat Sunda dan Samodra Indonesia, aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau serta longsoran bawah laut. Pengalaman bencana tsunami di Selat Sunda tahun 1883 dan 2019 menjadi pembelajaran bersama untuk lebih siap dalam pengurangan risiko bencana. Peta bahaya tsunami di kawasan pantai utara Kabupaten Serang sangat diperlukan dalam perencanaan penataan kawasan yang aman berkelanjutan serta untuk perencanaan mitigasi bencana secara komprehensif. Katakunci: Tsunami, Serang, peta bahaya, penataan kawasan, mitigasi bencana 
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGURANGI RISIKO KERUSAKAN SITU-SITU DI KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK Dewanti, Tiffa Yuki; Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Alami
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.806 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i2.3108

Abstract

ABSTRACTDepok City has a function as a water catchment in reducing flooding in Jakarta City and in Depok City itself, the existence of existing sites is very important to be maximized. At present there are only 21 small lake in Depok City whose existence is still maintained. The conditions there each year decrease both in terms of quality and quantity. There are 6 small lake in Cimanggis subdistricts, namely: Situ Gadog, Situ Pedongkelan, Situ Rawa Kalong, Situ Tipar, Situ Jemblung, and Situ Rawa Gede, which as a whole have an area of 32.4 Ha. To maintain small lake preservation in the Cimanggis sub-district, damage risk reduction is urgently needed to sustain the small lake's existence in a sustainable manner. There are 5 variables of community participation in damage risk reduction in Cimanggis sub-district. Five variables to measure the level of community participation are community participation in the form of thoughts, community participation in the form of property, community participation in the form of energy, community participation in the form of skills, and community participation in social forms. Keywords: Community participation, small lake, Cimanggis, damage risk reduction
KAJIAN PETA BAHAYA TANAH LONGSOR DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH (STUDY OF LANDSLIDE HAZARD MAP IN THE BANGGAI LAUT DISTRICT, CENTRAL SULAWESI PROVINCE) Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Alami
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.192 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i1.2695

Abstract

ABSTRACTBanggai Laut District which consists of islands has many threats to natural disaster, one of them is landslide hazard. The landslides hazard in Banggai Laut District is formed due to morphology which mostly in the form of wavy morphology up to the hills. The thematic map data used in landslide hazard map analysis is the official data held by the Banggai Laut District Government. The weighting and rating system is carried out on several parameters: geology (15%), slope (40%), land cover (25%) and rainfall (20%). Data from these parameters are overlaid with geographic information system (GIS) to obtain the classification of landslide hazard maps, ie: high landslide hazard zones, moderate landslide hazard zones and low landslide hazard zones. High landslide hazard zones are evenly spread over 4 large islands, namely Banggai Island, Bangkurung Island, Labobo Island and Bokan Kepulauan Islands. The potential for high landslide hazard will become bigger with added disturbance of human activities. To smooth the development process in integrated Banggai Laut District, landslide hazard maps and other hazard maps are very necessary. The limited availability of data and information on the disaster in Banggai Laut District, the creation of landslide hazard map is very important as one of the parts to complement the data. With the establishment of Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Banggai Laut District, disaster risk reduction is expected to be implemented more focused, integrated, comprehensive and well coordinated with related institutions. Keywords: Landslides, Hazard Maps, Banggai Laut, Disaster Risk Reduction, Focused and Integrated Development.   ABSTRAKKabupaten Banggai Laut yang terdiri dari kepulauan mempunyai banyak ancaman terhadap bencana alam, salah satunya adalah bencana tanah longsor (gerakan tanah). Bahaya tanah longsor di Kabupaten Banggai Laut terbentuk akibat morfofologi yang sebagian besar berupa morfologi bergelombang sampai perbukitan. Data peta tematik yang digunakan dalam analisis peta bahaya tanah longsor adalah data resmi yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten Banggai Laut. Sistem pembobotan dan penilaian dilakukan pada beberapa parameter yaitu: geologi (15%), lereng (40%), tutupan lahan (25%) dan curah hujan (20%). Data dari parameter-parameter tersebut dioverlay dengan sistem informasi geografi untuk mendapatkan klasifikasi peta bahaya tanah longsor, yaitu: zona bahaya tanah longsor tinggi, zona bahaya tanah longsor sedang dan zona bahaya tanah longsor rendah. Zona bahaya tanah longsor tinggi merata tersebar di 4 pulau besar, yaitu Pulau Banggai, Pulau Bangkurung, Pulau Labobo dan Bokan Kepulauan. Potensi bahaya longsor tinggi tersebut akan menjadi semakin besar dengan tambahan gangguan aktivitas manusia. Untuk kelancaran proses pembangunan secara terpadu di Kabupaten Banggai Laut, peta bahaya longsor dan peta-peta bahaya lainnya sangat diperlukan. Ketersediaan data dan informasi tentang kebencanaan yang masih terbatas di Kabupaten Banggai Laut, maka pembuatan peta kawasan rawan bahaya tanah longsor sangat penting sebagai salah satu bagian untuk melengkapi data tersebut. Dengan terbentuknya BPBD Kabupaten Banggai Laut, maka pengurangan risiko bencana diharapkan dapat dilaksanakan dengan lebih terarah, terpadu, menyeluruh serta terkoordinasi dengan baik dengan instansi terkait. Kata kunci: Tanah Longsor, Peta Bahaya, Banggai Laut, Pengurangan Risiko Bencana, Pembangunan Terarah dan Terpadu.
ANALISIS BAHAYA, KERENTANAN DAN RISIKO BENCANA TSUNAMI DI PROVINSI PAPUA BARAT Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 3, No 1 (2019): Jurnal Alami
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.267 KB) | DOI: 10.29122/alami.v3i1.3399

Abstract

ABSTRACTThe meeting of the 3 world plates, the Eurasian Plate, the Indo-Australian Plate, and the Pacific Plate in eastern Indonesia, caused a high potential for earthquake and tsunami events in the area. The frequency of tsunami events in eastern Indonesia including West Papua Province is quite large. Tsunamis are mostly caused by earthquakes originating from the sea, but can also be triggered by submarine landslides, volcanic eruptions at sea, gas extrusions, celestial bodies, nuclear explosions and other generating sources. With the high potential of tsunamis in West Papua Province, tsunami hazard and risk maps are urgently needed to become a reference in the development planning process and tsunami disaster risk reduction activities that are more effective, efficient and integrated to reduce the possible impact of victims. The danger of a high tsunami in West Papua Province which has a far enough landward direction is on the coast of Sorong City, Sorong District, South Sorong District, Bintuni District and north of Fakfak District (Bomberay Sub-District). Based on the area of high-risk areas, Bintuni District is the district that has the widest high-risk area, with an area of 116,728 Ha or 5.61% of the total area of the Bintuni District, while Tambrauw District is the district with the smallest high risk area of 2,076 Ha or 0,32% of the total area. The only district that does not have a tsunami threat because it is not in the coastal area is Maybrat District.Keywords: tsunami, West Papua, hazard, risk, risk reduction ABSTRAKPertemuan 3 lempeng dunia, Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik di Indonesia bagian timur, menyebabkan potensi tinggi kejadian gempa dan tsunami di  daerah tersebut.  Frekuensi kejadian tsunami di Indonesia bagian timur termasuk Provinsi Papua Barat cukup besar. Tsunami sebagian besar disebabkan oleh gempabumi bersumber di laut, tetapi juga bisa dipicu akibat tanah longsor bawah laut, letusan gunungapi di laut, ekstrusi gas, benda-benda langit, ledakan nuklir dan sumber pembangkit lainnya. Dengan tingginya potensi tsunami di Provinsi Papua Barat, maka sangat dibutuhkan peta bahaya dan risiko tsunami untuk menjadi acuan dalam proses perencanaan pembangunan serta kegiatan pengurangan risiko bencana tsunami yang lebih efektif, efsien dan terpadu untuk mengurangi dampak korban yang mungkin terjadi. Bahaya tsunami tinggi di Provinsi Papua Barat yang mempunyai pelamparan cukup jauh ke arah daratan terdapat di pantai Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Bintuni dan sebelah utara Kabupaten Fakfak (Kecamatan Bomberay). Berdasarkan luas area berisiko tinggi, Kabupaten Bintuni merupakan kabupaten yang memiliki area berisiko tinggi terluas, yaitu dengan luas 116.728 Ha atau 5.61% dari luas keseluruhan Wilayah Kabupaten Bintuni, sedangkan Kabupaten Tambrauw merupakan kabupaten dengan wilayah berisiko tinggi paling kecil dengan luas 2.076 Ha atau 0,32% dari seluruh luas wilayahnya. Satu-satunya kabupaten yang tidak memiliki ancaman tsunami karena tidak berada pada kawasan pesisir adalah Kabupaten Maybrat.Kata kunci: tsunami, Papua Barat, bahaya, risiko, pengurangan risiko
ANALISIS PATAHAN BAWAH PERMUKAAN DARI PENGUKURAN GEOLISTRIK UNTUK ANTISIPASI BENCANA GEMPA DI KABUPATEN GROBOGAN Naryanto, Heru Sri
Jurnal Alami : Jurnal Teknologi Reduksi Risiko Bencana Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Alami
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (707.782 KB) | DOI: 10.29122/alami.v2i2.3053

Abstract

ABSTRAKPembangunan yang sangat pesat di Kabupaten Grobogan harus seiring dengan keamanan dan keselamatan terhadap produk dari pembangunan tersebut. Kabupaten Grobogan termasuk salah satu kawasan yang rawan terhadap bahaya gempa. Bencana gempa berpotensi merusak segala infrastruktur yang sudah terbangun, termasuk keselamatan jiwa. Struktur patahan bisa menjadi penyebab pemicu terjadinya gempa, serta merupakan zona lemah yang mudah rapuh apabila terjadi gempa. Banyak sekali struktur patahan yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Penelitian kondisi geologi bawah permukaan sangat penting untuk memberikan informasi yang detil segala sesuatu yang ada di bawah permukaan termasuk struktur patahannya. Salah satu metodologi analisis bawah permukaan adalah dengan pengukuran geolistrik. Pengukuran geolistrik dilakukan pada 5 lintasan pada 3 kecamatan di Kabupaten Grobogan, yaitu: Kecamatan Pulo Kulon, Kecamatan Kradenan dan Kecamatan Gabus. Pengukuran geolistrik dilakukan sebagian besar di atas endapan aluvial, dimana patahan tidak terekspose di permukaan. Dijumpai banyak patahan berdasarkan analisis data dari 5 lintasan geolistrik. Patahan yang banyak dijumpai adalah patahan turun (normal) dan sebagian patahan geser. Untuk keselamatan masyarakat maka perlu mitigasi bencana gempa pada kawasan yang dilalui patahan. Untuk penataan kawasan yang aman berkelanjutan, diperlukan konstruksi bangunan yang kuat apabila dibangun di atas kawasan patahan. Katakunci: Pengukuran geolistrik, bawah permukaan, patahan, gempa, mitigasi