Priyantoro Widodo
Sekolah Tinggi Teologi Baptis Indonesia

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Literasi Alkitab Digital dalam Pemuridan Pemuda: Sebuah Refleksi Kritik Puisi terhadap Mazmur 119:9 Leonardus Rudolf Siby; Priyantoro Widodo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i1.28

Abstract

Current technological developments indicate a change in direction for literacy habits, from physical literacy to digital literacy. Therefore, it is important to promote Bible literacy for young people who are accustomed to using and accessing digital content. This writing is a biblical study of the text of Psalm 119:9, as a biblical foundation for digital Bible literacy, in the process of discipleship of today's church youth. The data used in this study comes from the results of the APJII survey, while the exegesis method used is poetry criticism and interpretive journey. APJII data shows that (1) internet users in Indonesia have increased very rapidly in the last 10 years (2) there has been a decline in physical literacy. The results of the text study produce (1) the Word of God that is studied has the will to shape human behavior; (2) God's word needs to be creatively communicated in human life situations; (3) The Bible has a unified theme, and it is that theme that is communicated to God's people throughout the ages. These findings lead to recommendations for the formation of digital literacy and Bible study groups, as well as aiding youth in these studies. Literacy and learning need to be arranged in certain varied themes. The church and family also have a role to play in familiarizing young people with Bible literacy, so that their behavior can be educated and formed as early as possible. The use of various digital platforms can be a means of contextual learning and literacy for youth.  AbstrakPerkembangan teknologi saat ini menunjukkan perubahan arah bagi kebiasaan literasi, dari literasi secara fisik kepada literasi secara digital. Karena itu mengupayakan literasi Alkitab kepada para pemuda yang telah terbiasa menggunakan dan mengakses konten digital menjadi sebuah hal yang penting untuk dilakukan. Penulisan ini merupakan kajian biblika terhadap teks Mazmur 119:9, sebagai landasan alkitabiah bagi literasi Alkitab digital, dalam proses pemuridan pemuda gereja masa kini. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil survey APJII, sedangkan untuk metode eksegesis yang digunakan adalah poetry criticism, dan interpretive journey. Data APJII menunjukkan bahwa (1) pengguna internet di Indonesia melonjak dengan sangat pesat dalam 10 tahun terakhir (2) terjadi penurunan dalam literasi secara fisik. Hasil kajian teks menghasilkan (1) Firman Tuhan yang dipelajari memiliki akan membentuk perilaku manusia; (2) firman Tuhan perlu dikomunikasikan secara kreatif dalam situasi hidup manusia; (3) Alkitab memiliki kesatuan tema, dan tema itu juga yang dikomunikasikan kepada umat Allah di sepanjang zaman. Temuan ini mengarah pada rekomendasi untuk pembentukan kelompok-kelompok literasi dan pembelajaran Alkitab secara digital, serta memberikan pendampingan kepada para pemuda dalam pembelajaran tersebut. Literasi dan pembelajaran tersebut perlu disusun dalam tema-tema tertentu yang secara variatif. Gereja dan keluarga juga memiliki peran untuk membiasakan literasi Alkitab bagi para pemuda, sehingga perilaku mereka dapat terdidik dan terbentuk sedini mungkin. Penggunaan berbagai platform digital dapat menjadi sarana pembelajaran dan literasi yang kontekstual bagi para pemuda. 
Kajian Etis Penggunaan Isu Agama dalam Politik Polarisasi Jhon Leonardo Presley Purba; Priyantoro Widodo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.948 KB) | DOI: 10.55884/thron.v2i2.23

Abstract

The phenomenon of politicization of religion that has caused the polarization of Indonesian society has occurred massively recently. The impact of the division caused is very dangerous for the integrity and unity of the nation. This paper is qualitative research with a phenomenological approach to describe the ethical problems of politicizing religion that causes polarization or division, from the perspective of the Christian faith. The results of this study conclude that there are three parties responsible for this phenomenon, namely fundamentalist Islamic groups, political parties and politicians, and society in general. These three parties must behave and act ethically by prioritizing the interests of the nation and state before deciding to get involved and politicize religion with an overdose in practical politics that causes polarization in society.AbstrakFenomena politisasi agama yang menyebabkan polarisasi masyarakat Indonesia terjadi secara massive belakangan ini. Dampak perpecahan yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi keutuhan dan kesatuan bangsa. Paper ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenome-nologi untuk mendeskripsikan problematika etis politisasi agama yang menyebabkan polarisasi atau perpecahan, dari perspektif iman Kristen. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada tiga pihak yang bertanggungjawab atas fenomena ini yaitu kelompok-kelompok Islam fundamentalis, partai politik dan politisi, dan masyarakat secara umum. Ketiga pihak ini harus bersikap dan bertindak etis dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara sebelum memutuskan untuk terlibat dan melakukan politisasi agama dengan overdosis dalam politik praktis yang menyebabkan polarisasi dalam masyarakat.
Tinjauan Etis Kristen Terhadap Kebebasan Beragama Di Lingkungan Sekolah Negeri Dengan Dicabutnya SKB Tiga Menteri Suriawan Surna; Priyantoro Widodo
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 1, No 1 (2021): SEPTEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.703 KB) | DOI: 10.54592/jct.v1i1.7

Abstract

In order to protect the equal right to freedom of thought, belief and religion of all students in all public schools in Indonesia; in February 2021, the central government represented by three ministers, namely Minister of Education and Culture, Home Affairs Minister, and Religious Affairs Minister issued Joint Ministerial Decree (SKB) on the Use of Uniforms and Attributes for Students, Educators, and Education Personnel in state schools at the primary and secondary level .On 3 May 2021, the Supreme Court of the Republic of Indonesia revoked it. The purpose of this paper is to state a universal Christian ethical attitude in the midst of national and state life which is based on Pancasila and Bhineka Tunggal Ika (“Unity in Diversity”), especially in response to the revocation of the 3 Ministerial Decree that used to guarantee and protect religious freedom in state schools. The method used in this paper is phenomenological-qualitative research. The result is hoped to become a consideration for the central government and every child of the nation in general, and especially for followers of the Lord Jesus Christ in the land of Pancasila, Indonesia.Keywords: freedom of religion, Christian ethics, universal AbstrakDemi menjaga kebebasan dalam mengekspresikan keyakinan yang dianut semua siswa di semua sekolah negeri di Indonesia, maka pemerintah pusat yang diwakili tiga Menteri yaitu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB). Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan di Lingkungan Sekolah yang diselenggarakan Pemda pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah pada bulan Februari 2021. Namun SKB tiga Menteri tersebut terkesan mengekang dan membatasi tradisi atau budaya masyarakat yang sudah lama ada di daerah di Indonesia. Pada tanggal 3 Mei 2021, Mahkamah Agung Republik Indonesia mencabut SKB 3 Menteri tersebut. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menyatakan sikap etis Kristen di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dalam menyikapi ketiadaan SKB 3 Menteri yang menjamin dan melindungi kebebasan beragama di lingkungan sekolah negeri. Metode yang digunakan di dalam makalah ini adalah metode penelitian fenomenologi-kualitatif. Hasilnya diharapkan menjadi pertimbangan bagi pemerintah pusat dan setiap anak bangsa pada umumnya serta khususnya bagi pengikut Tuhan Yesus Kristus di bumi Pancasila, Indonesia.Kata Kunci: Kebebasan Beragama, Etika Kristen
Kitab Mazmur: Inspirasinya bagi Kehidupan Manusia Menyejarah Priyantoro Widodo
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 2: Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i2.59

Abstract

The Psalms are part of The Holy Canon. This book has four synonym names. Why is that? Inn addition, this book indicates the form of poetry and so it is called Psalms number 1 to 150. This unity of 150 poetry has what meaning and importance to the life of the Christian faithful? Research on this is based on the Christian Canonical Scriptures in their final form. In order to answer the two research questions above, the researcher used the biblical library research method with the literary criticism approach. The research of Psalms biblical literature is valuable written literary data as it is owned and maintained by the community of users, so the research on it also pays attention to this phenomenon. Synonymization of the mention of the Holly Book of the Canon of the Psalms in several translations indicates the importance of the Scriptures to be revitalized by the, of faith in their lives. The Psalms are still relevant for the life of the faithful in motivating to live historically on this earth. The historical life that is meant to be true and wise with the considerations of the mind, and be firm in the decision to live in the guidance and enlightenment of the Law of God.AbstrakKitab Mazmur merupakan bagian dari kitab Kudus Kanonik. Kitab ini memiliki sebutan sinonim yang jumlahnya ada empat. Mengapa demikian? Selain itu, kitab ini mengindikasikan bentuknya berupa syair atau puisi sehingga disebut Mazmur nomor 1 hingga 150. Kesatuan syair atau puisi yang jumlahnya 150 ini memiliki makna dan kepentingan apa bagi kehidupan umat beriman Kristen? Penelitian atas hal ini dilandasakan kepada teks Kitab Kudus Kanonik Kristen dalam bentuknya yang sudah final.  Dalam rangka menjawab dua pertanyaan penelitian di atas, peneliti menggunakan metode riset pustaka biblika dengan pendekatan kritik kesusasteraan. Riset kesusastraan biblika Mazmur sebagai data sastra tulis berharga sebagaimana dimiliki dan dipelihara oleh komunitas penggunanya, maka dalam penelitian atasnya pun dengan mengindahkan fenomena ini. Sinonimisasi penyebutan kitab Kudus Kanonik Mazmur dalam beberapa terjemahan mengindikasikan kepentingan Kitab Kudus itu untuk direlevansikan oleh komunitas beriman dalam kehidupannya. Kitab Mazmur masih relevan bagi kehidupan umat beriman dalam memotivasi untuk hidup menyejarah di bumi ini. Hidup menyejarah yang dimaksud harus secara benar dan bijaksana dengan pertimbangan akal-budinya, serta teguh dalam keputusan untuk hidup dalam tuntunan dan pencerahan oleh Taurat TUHAN.
Kajian Biblika Kebebasan Finansial Alkitabiah Jhon Leonardo Presley Purba; Priyantoro Widodo
Manna Rafflesia Vol. 8 No. 1 (2021): Oktober
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.042 KB) | DOI: 10.38091/man_raf.v8i1.188

Abstract

Finance is an important aspect of human life, so having financial freedom is the hope of many people. But poor financial management often makes a person depressed and frustrated. For Christians, the topic of discussion about money and its management is also often considered taboo and has worldly connotations. But in fact, the Bible has a lot to say about money and the principles of its management. The purpose of this study is to build a biblical study of financial freedom by explaining biblical principles on financial management to gain financial freedom. This research is presented in a qualitative-descriptive form through a topical presentation on finance to conduct a study and theological construction of Biblical financial freedom. The data collection and analysis model used is a literature study. Biblical financial freedom is a construction of financial management based on biblical principles. The results of this study a person can have the right heart and morals in managing finances wisely and well, refrain from falling into debt and credit bonds, use the money to help others in need, dedicate all money and wealth to the glory of God with good management. , true, obedient, and faithful to tithe.
Analisis Terhadap Sebutan Nama Tuhan Keadilan Kita di Yeremia 33:16 dan Aplikasinya dalam Kehidupan Kharisda Mueleni Waruwu; Priyantoro Widodo
Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia Vol 2, No 2 (2022): Ritornera - Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia
Publisher : Pusat Studi Pentakosta Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54403/rjtpi.v2i2.39

Abstract

Understanding of the designation for God among Christians, of course, some know and also have understood it and even become a familiar name. The designation for the name of God or the title given to that name, always has a different background according to what the people experienced at that time. For example "The Lord is my shepherd", the title of this title is motivated by David's reflection in his work as a shepherd over the sheep, David realized how the real relationship between him and his God himself so David said "The Lord is my shepherd ..." (Psalm 23:1). The title "God provided" (Gen 22:14) a name that Abraham remembered when he was tested and God provided a ram to be sacrificed in place of Isaac. The use of the name has a different background which will lead a person to give his own title to his experience of God. However, in the Old Testament there is also a name/title of God that is used without having a story to understand why that name is used. As in Jeremiah 33:16 "Lord our justice!" Based on these problems, the researchers will examine the meaning of the use of the name Tihan our justice. The researcher will use a term study method based on a language dictionary and parsing analysis. In research using this method, the researcher concludes that the name of the God of our justice is related to the Israelites and Judah in a time of suffering in exile. So that they will be called, God who speaks the truth (because He does not break His promise) God is the one who provides justice for humans, especially through His Son, Jesus ChristPemahaman tentang sebutan bagi Tuhan dalam kalangan umat Kristiani tentunya sebagian mengetahui dan juga telah memahaminya bahkan menjadi sebuah nama yang tidak asing lagi. Sebutan untuk nama Tuhan atau gelar yang diberikan kepada nama itu, selalu memiliki latar belakang yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dialami umat pada saat itu. Sebagai contoh “Tuhan adalah gembalaku,” sebutan akan gelar ini dilatar belakangi oleh perenungan Daud dalam pekerjaannya sebagai gembala atas domba-domba, Daud menyadari bagaimana hubungan yang sebenarnya antara ia dengan Allahnya sendiri sehingga Daud berkata “Tuhan adalah gembalaku….” (Mzm 23:1). Sebutan “Tuhan menyediakan” (Kej 22:14) sebuah nama yang dikenang oleh Abraham ketika mengalami ujian dan Allah menyediakan domba jantan untuk dikurbankan sebagai pengganti Ishak. Penggunaan nama tersebut memiliki latar belakang yang berbeda yang akan membawa seseorang memberikan gelar sendiri akan pengalamannya tentang Allah. Namun, dalam Perjanjian Lama juga ada nama/gelar Tuhan yang dipakai dengan tidak memiliki cerita yang menjadi pemahaman mengapa nama tersebut dipakai. Seperti dalam Yeremia 33:16 “Tuhan keadilan kita!.” Berdasarkan masalah tersebut, maka peneliti akan meneliti makna dari penggunaan nama Tuhan keadilan kita. Peneliti menggunakan metode studi istilah berdasarkan kamus bahasa dan analisa parsing. Dalam penelitian menggunakan metode tersebut, maka peneliti menyimpulkan bahwa nama Tuhan keadilan kita berkaitan dengan bangsa Israel dan Yehuda dalam masa penderitaan dalam pembuangan. Sehingga mereka akan dipanggil pulang; Tuhan  yang mengucapkan kebenaran (karena Dia tidak mengingkari janji-Nya) Tuhanlah yang menyediakan keadilan bagi manusia terutama melalui Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus.
Makna Kebenaran dari Sudut Pandang Sang Pemazmur dalam Mazmur 111 Dian Juli Adisaputra; Priyantoro Widodo
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v4i2.87

Abstract

Truth is a statement or act of a person that will not harm others or himself. The statement or act must have evidence that can support it and must be in accordance with the facts of the actual act. This writing uses the Literature Study method with a Biblical Book of Poetry approach, as for the results obtained from the meaning of truth according to the Psalmist's point of view in Psalm 111, namely every act that God has done is really great, God's work is also very great and lively with His justice which always forever and ever, God remembers his covenants, the works of his hands are righteousness and justice, holy and terrible is the name of God, and the beginning of wisdom is the fear of the Lord. In today's life, it is also hoped that you will always be grateful to God and surrender your life completely only to God, and remain a person who is always obedient to God, in any situation. Kebenaran merupakan suatu pernyataan atau perbuatan seseorang yang tidak akan merugikan orang lain maupun dirinya sendiri. Pernyataan atau perbuatan tersebut harus memiliki bukti yang dapat mendukung dan harus sesuai dengan fakta perbuatan yang sebenarnya. Penulisan ini menggunakan metode Studi Literatur dengan pendekatan Biblika Kitab Puisi, adapun hasil yang diperoleh dari makna kebenaran menurut sudut pandang Pemazmur dalam Mazmur 111 ini yaitu setiap perbuatan yang telah dilakukan Allah sungguh besar, pekerjaan Allah pun sangat agung dan bersemarak bersama keadilan-Nya yang selalu tetap dari dulu sampai selamanya, Allah mengingat setiap perjanjian-Nya, perbuatan tangan-Nya merupakan kebenaran dan keadilan, Kudus dan dahsyat selalu nama Allah, dan permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Dalam kehidupan saat ini juga diharapkan supaya tetap selalu bersyukur kepada Tuhan dan menyerahkan hidup ini sepenuhnya hanya di dalam Allah, serta tetap jadilah pribadi yang selalu taat kepada Allah, baik dalam situasi kondisi apapun itu.
Kebenaran: Keadilan dan Kejujuran menurut Mazmur 111 Jhon Leonardo Presley Purba; Priyantoro Widodo
ELEOS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): PAK dan Teologi 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kalvari Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53814/eleos.v2i2.43

Abstract

Abstract: Truth is not just a conception of idealism in the mind but also a real and concrete experience in human life. As seen in the text of Psalm 111, the psalmist writes of praise and his real experience of God's truth. Using a descriptive-qualitative approach with literature study methods and hermeneutic exegesis, this study aims to understand the real and concrete meaning of God's truth, which is manifested in the form of justice and integrity as contained in the text of Psalm 111. The results of this study conclude that based on the text and context of Psalm 111, we get the theological concept of God's truth, which is manifested in real and concrete justice and integrity in the spiritual and actual experience of human life through God's righteous, just, straight, honest, and wise actions toward humans. This has anthropological implications for human actions that are right, fair, straight, honest, and wise horizontally towards others, which the psalmist stated concretely through his caring attitude towards the poor and being willing to give or share with fellow human beings in his day. These attitudes and actions are imitations of God's character. Right attitudes and actions in the form of justice and integrity are absolute and universal, so they are relevant to be applied horizontally in today's human life, especially for believers who have faith in Christ. As the New Testament emphasizes the transformation and renewal of man into the image and likeness of God through faith in Christ and the likeness of Christ's character, so today's believers must care for the poor, be willing to share with others in need, and have integrity in their horizontal relationships with others.Abstrak: Kebenaran bukan hanya sekedar konsepsi idealisme dalam pikiran tapi juga pengalaman nyata dan konkrit dalam kehidupan manusia. Sebagaimana tampak dalam teks Mazmur 111, pemazmur menuliskan pujian dan pengalamannya yang nyata atas kebenaran Tuhan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literature dan hermeneutik-eksegeses, penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kebenaran Tuhan yang rill dan konkrit yang termanifestasi dalam wujud keadilan dan kejujuran sebagaimana yang terdapat dalam teks Mazmur 111. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa berdasarkan teks dan konteks Mazmur 111 didapatkan konsep teologis kebenaran Tuhan yang diwujudkan dalam keadilan dan kejujuran yang nyata dan konkrit dalam pengalaman spiritual dan aktual hidup manusia melalui tindakan-tindakan benar, adil, lurus, jujur, dan bijaksana Tuhan kepada manusia. Hal ini berimplikasi secara antropologis terhadap tindakan-tindakan manusia yang benar, adil, lurus, jujur, dan bijaksana secara horizontal terhadap sesamanya yang dinyatakannya secara konkrit oleh pemazmur melalui sikap peduli terhadap orang miskin dan rela memberi/berbagi dengan sesama manusia pada zamanya. Sikap dan tindakan ini merupakan peniruan atas karakter Tuhan. Sikap dan tindakan benar dalam wujud adil dan jujur ini bersifat absolut dan universal sehingga relevan diterapkan secara horizontal dalam kehidupan manusia masa kini, khususnya orang percaya yang beriman kepada Kristus. Sebagaimana Perjanjian Baru menekankan transformasi dan pembaharuan manusia menuju gambar dan keserupaan dengan Allah melalui iman kepada Kristus dan keserupaan dengan karakter Kristus, karenanya orang percaya masa kini harus perduli terhadap orang miskin, rela berbagi dengan sesama yang membutuhkan dan jujur/berintegritas dalam hubungan horizontal dengan sesamanya.
Inkripsi Nazaret: Tanggapan Pemerintah Romawi Mengenai Kebangkitan Kristus? Yulius Wijaya; Priyantoro Widodo
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 6, No 1: Agustus 2023
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v6i1.191

Abstract

Fakta mengenai kebangkitan Yesus Kristus merupakan pondasi iman kekristenan yang bahkan sampai sekarang ini masih menjadi perbincangan, baik yang mendukung ataupun sebaliknya yang menyangkal kabar kebangkitan-Nya tersebut. Kontroversi mengenai fakta kebenaran ini terjadi di berbagai bidang, dan salah satunya dalam bidang ilmu arkeologi. Penemuan-penemuan artefak bagi kaum maksimalis merupakan fakta sejarah yang memperkuat dan menegaskan bahwa kebenaran Alkitab merupakan hal yang benar-benar terjadi secara sejarah. Inkripsi Nazaret merupakan salah satu temuan artefak yang dikaitkan dengan fakta sejarah kebangkitan Yesus. Penelitian ini menjelaskan penemuan inkripsi Nazaret dan fakta sejarah yang terkait dengan kebangkitan Yesus sehingga dapat menambah keyakinan iman Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat yang menyelamatkan manusia
Problematika Etis Penyalahgunaan Dana Bantuan Mengatasnamakan Kemanusiaan Yonathan Wingit Pramono; Priyantoro Widodo
APOSTOLOS Vol 1 No 2 (2021): November
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52960/a.v1i2.64

Abstract

The protracted conflict between Israel and Palestine until now, heated up again after the incident at the Al Aqsa Mosque, made many sympathetic people to raise aid funds, using the momentum in this incident. Misuse of aid funds in the name of Palestine is likely to occur, with the phenomenological method of seeking information on various social media with events that occur in the community, so that the misuse of aid funds in the name of Palestine is reduced and can be distributed properly. regents, can make fundraising activities right on target and carried out with clear reports to the community in their management.