Hari Nugroho
Departemen Teknik Sipil FT. UNDIP Jl. Prof. H. Soedarto SH., Tembalang, Semarang 50275

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PERENCANAAN EMBUNG SIDOMULIH KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH Aryowibowo, Utomo; Setiawan, Hendra; Nugroho, Hari; Nugroho, Priyo
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6 ,Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.127 KB)

Abstract

Kebutuhan air irigasi dan air baku di Desa Sidomulih, Kabupaten Banyumas semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Kebutuhan air baku selama ini diperoleh dari air sumur dan mata air sedangkan untuk kebutuhan irigasi menggunakan pola tadah hujan. Untuk itu Pemerintah dalam hal ini Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah berupaya mengembangkan sumber air baru dengan membangun Embung Sidomulih. Sebagai suatu tampungan air pada musim hujan, embung diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air pada musim kemarau.Tugas akhir ini didasarkan pada beberapa metode yang saling melengkapi. Metode pertama adalah analisis hidrologi yang termasuk analisis kapasitas tampungan dilakukan dengan simulasi. Analisis hidrologi lainnya adalah analisis debit banjir menggunakan Metode HSS Gamma I, analisis debit andalan menggunakan metode F.J Mock, analisis kebutuhan air dan analisis neraca air. Tahap terakhir adalah perencanaan pembangunan embung.Hasil perencanaan Embung Sidomulih mempunyai kapasitas tampungan 124.525,66  m3. Embung direncanakan akan dibangun setinggi 13,90 m, lebar efektif  53 m, dan debit banjir dengan periode ulang 50 tahun sebesar 15,21 m3/dt. Konstruksi embung dibangun menggunakan urugan tanah dengan estimasi biaya Rp. 6.251.246.000,00 (Enam Milyar Dua Ratus Lima Puluh Satu Juta Dua Ratus Empat Puluh Enam Ribu Rupiah).
PERENCANAAN NORMALISASI SUNGAI BERINGIN DI KOTA SEMARANG Putra, Dimaz Pradana; Suharyanto, Suharyanto; Nugroho, Hari
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.68 KB)

Abstract

Reduced green open areas and forests in upstream of Beringin watershed areas is affect the run-off, so it is possible resulting in increased surface run-off, decreased time of concentration, and at the same time a decrease in groundwater recharge. Thus the flow in the rainy season will tend to rise and discharge will decrease in the dry season. Comparison of river's Qmax (usually in the rainy season) and Qmin (in the dry season) is very large. The greater the ratio of river's Qmax to Qmin, indicating the further degradation of the watershed. Upstream areas in the South is quite hilly with steep slopes, with a height of 12.5 m to 250 m. The issue of Beringin River originated from land use change in the uplands, especially on open land (forest, shrubs, and farm or agricultural) into housing and settlement, causing flooding in the watershed  Beringin. To calculate the average maximum rainfall-average using Thiessen polygon method with three rainfall stations that affect which is the Mijen, Tugu, and Mangkang Waduk. Rainfall data were used from 2003 till 2012, while the flood discharge plans taken from the calculation method of HSS Gama I  with a return period of 10 years at 180.59 m3/s. Normalization is planned in the main river along the 7.18 km, from the estuary (STA 0) to the arround Mangkang regency (STA 23). Varying the width of the river is 14 m of STA 0 to STA 8, 12 m of STA 9 to STA 19, and 10 m of STA 20 to STA 23 with the same slope at 1: 1.5. This cross section plan has previously been simulated with HEC-RAS 3.1.3 program and the results was they were able to accommodate discharge plan that occurs. Safety height of 0.6 m was added in each cross section above the water level of the river. Revetments also added to the bend of the river in STA 22-23 with a length of 200 m and a height of 4m. This project implementation is scheduled for 28 weeks with a budget plan of of Rp 16,881,359,000.00.
PERANCANGAN WADUK MUNDINGAN DI KOTA SEMARANG Abror, Muhammad Taufiq; Setiawan, Rizka; Darsono, Suseno; Nugroho, Hari
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.507 KB)

Abstract

Flood in the Semarang City occur every year in the rainy season, drought and water shortages in the dry season. It has been built Jatibarang Reservoir and upstream there is a potential reservoir that could add to the raw water supply and flood control. The analysis used in planning reservoir that is the analysis of hydrology and hydraulics. Hydrological analysis using methods Soil Conservation Service Unit Hydrograph Synthetic (SCS) and Unit Hydrograph Synthetic of GAMA I. Q100 flood discharge plan with 165 mm of rain, the result of a method SCS unit hydrograph assisted HEC-HMS program amounting to 442 m3 / sec while the HSS GAMA I method with 218 mm of rain discharge plan generated at 359.02 m3 / sec. Flood discharge calculation used is a method SCS. PMF flood resulting from rainfall of 2408.7 mm deep as 677 m3 / sec. With the design of flushing water of 1.7 m3 / sec then storage volume up to 20,000,000 m3 and a storage volume of sediment up to 1,000,000 m3. With the reservoir can reduce flooding 100-year period by 77% from 442.9 m3 / sec to be 97.1 m3 / sec, and reduces the PMF discharge of 66% of 2408.7 m3 / sec to be 814.2 m3 / sec and reservoirs totaling 38 million m3. Dam 34 m high, dam crest 10 m wide, rock fill zone embankment type and spillway crest width of 20 m
PENYUSUNAN MANUAL OPERASI DAN PEMELIHARAAN WADUK SANGGEH KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH Kusumardi wibowo, Nur Rendra; Rohendi, Adi Putra; Darsono, Suseno; Nugroho, Hari
Jurnal Karya Teknik Sipil Volume 6 ,Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.288 KB)

Abstract

Waduk Sanggeh pasca rehabilitasi pada tahun 2015 belum diketahui kondisi terkininya dan belum dapat dioperasikan. Kondisi terkini waduk Sanggeh dapat diketahui dari evaluasi kelayakan. Kegiatan operasi dan pemeliharaan waduk membutuhkan suatu pedoman/manual. Pada waduk Sanggeh belum mempunyai manual operasi dan pemeliharaan. Manual tersebut digunakan sebagai dasar dalam kegiatan operasi dan pemeliharaan waduk Sanggeh. Evaluasi kelayakan yang dilakukan pada waduk Sanggeh meliputi evaluasi terhadap hidrologi waduk, hidrolika bendungan, serta stabilitas bendungan Sanggeh. Hidrologi waduk Sanggeh dianalisis dengan metode Hydrology Synthetic untuk mendapatkan debit banjir pada waduk. Hidrolika bendungan dianalisis dari muka air banjir maksimum. Muka air banjir maksimum nantinya dijadikan dasar dalam evaluasi bendungan dan bangunan pelengkapnya. Manual operasi dan pemeliharaan waduk Sanggeh disusun berdasarkan Pedoman Operasi, Pemeliharaan, dan Pemantauan Bendungan. Pola operasi waduk Sanggeh dibuat sebagai acuan pengaturan air untuk dapat memenuhi kebutuhan air. Pembuatan pola operasi tersebut menggunakan metode simulasi. Evaluasi hidrologi pada waduk Sanggeh didapatkan debit 100 tahunan sebesar 29,0 m³/s. Elevasi muka air banjir mencapai +47,5 m. Evaluasi hidrolika bendungan Sanggeh didapatkan bahwa bendungan Sanggeh aman untuk dilakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan. Stabilitas bendungan Sanggeh mencapai angka keamanan stabilitas bendungan dengan nilai 3,906 pada kondisi steady state. Pola operasi waduk Sanggeh mengikuti pola tanam daerah irigasi Sanggeh yang berdasar pada SK Bupati Grobogan Tahun 2013. Pola operasi yang dihasilkan dievaluasi kinerjanya berupa keandalan dengan nilai 71,4%, kelentingan dengan press index 0,0011 dan kerawanan sebesar 21,3%. Kegiatan operasi dan pemeliharaan waduk Sanggeh membutuhkan biaya pada tahun pertama yaitu sebesar Rp. 934.816.214,00.
Penatagunaan Kawasan Sekitar Waduk dalam Upaya Menjaga Kelestariannya (Model DAM) Nugroho, Hari; Suripin, Suripin
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 19, Nomor 2, DESEMBER 2013
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.254 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v19i2.8420

Abstract

Kedungombo reservoir has provided a substantial contribution in improving the welfare of society, so that its existence should be preserved. As time goes there are some issues Kedungombo. The problems are concerning with the condition of reservoirs, dams and problems in the surrounding area. To preserve the reservoirs, conservation efforts by reviewing the management of the reservoir area. The study results showed that there was no master plan to utilize the management of Kedungombo catchment. For this reason, it is proposed the development of Kedungombo area is directed to recover the potential and cultivitation areas, to empower community and to strengthen the protected and cultivitation areas in order to concerved Reservoir. Kedungombo area is directed as a center of tourism services, housing, aquaculture and local protected areas. Reservoir area is specified to 500 meters from the boundary of the highest reservoir water level, so hopefully all the activities in this area follows specified to the regulations. It is recommended to develop an institution to manage Kedungombo Area. The institution should be able to implementation the principle of management i.e. transparency, open to various parties; can be accounted for; clarity the limits of authority, territory under the following management roles and responsibilities and apply the principles and legal norms in the management of the Area Kedungombo. The model is expected to be implemented and become a model for Reservoir Management in Indonesia.
CHECKLIST OF VESPID SPECIES (INSECTA: HYMENOPTERA: VESPIDAE) OCCURRING IN INDONESIAN ARCHIPELAGO Nugroho, Hari; Kojima, Jun-ichi; Carpenter, James M
TREUBIA Vol 38 (2011): Vol. 38, December 2011
Publisher : Research Center for Biology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2156.575 KB) | DOI: 10.14203/treubia.v38i0.547

Abstract

A total of 383 vespid species belonging to 63 genera from Indonesia are listed, together with information of the type material deposited in the Museum Zoologicum Bogoriense (MZB). The references of their distribution in Indonesia are also provided.
Bebeberapa Aspek Ekologi Kohe sunda Rhyticeros undulatus (Shaw, 1811) Pada Musim Tidak Berbiak di Nusakambangan, Jawa Tengah Nugroho, Hari
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 4, No 4 (2007): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v4i4.3255

Abstract

TULISAN PENDEKBebeberapa Aspek Ekologi Kohe sunda Rhyticeros undulatus (Shaw,1811) Pada Musim Tidak Berbiak di Nusakambangan, Jawa Tengah. 
Potensi dan Pemanfaatan Serangga Penyerbuk untuk Meningkatkan Produksi Kelapa Sawit di Perkebunan Kelapa Sawit Desa Api-Api, Kecamatan Waru, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timu Kahono, Sih; Lupiyanindyah, Pungki; Erniwati, Erniwati; Nugroho, Hari
ZOO INDONESIA Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bunga kelapa sawit bersifat monoceus. Penyerbukannya dapat terjadi oleh bantuan serangga penyerbuk. Kumbang Elaeidobius kamerunicus adalah penyerbuk spesialis, yang bersama dengan jenis-jenis serangga lain melakukan penyerbukan kelapa sawit. Pengelolaan penyerbukan kelapa sawit di setiap perkebunan berbeda karena serangga penyerbuknya pun berbeda sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing. Tidak ada publikasi tentang serangga penyerbuk lokal pada kelapa sawit di Indonesia selain oleh kumbang E. kamerunicus. Pada penelitian ini ditemukan serangga penyerbuk kelapa sawit lainnya, disamping E. kamerunicus, yaitu enam jenis lebah yang terdiri dari Apis florea, A. cerana, A. koschevnicovi, Trigona laeviceps, T. melina, dan T. itama yang mengunjungi bunga jantan anthesis dan betina receptive. Berdasarkan analisa ukuran dan perilaku kunjungan pada bunga betina disimpulkan bahwa hanya tiga jenis A. florea, Trigona laeviceps, dan T. melina yang mempunyai potensi tinggi sebagai penyerbuk bunga kelapa sawit pada bagian permukaan bunga. Sedangkan kumbang E. kamerunicus lebih berperan sebagai penyerbuk bagian dalam dari perbungaan. Populasi kumbang E. kamerunicus per hektar relatif rendah yang menyebabkan sebanyak 35,1% buah kelapa sawit yang tidak berkembang. Pemanfaatan kumbang E. kamerunicus untuk penyerbukan buatan telah dilakukan oleh petani kelapa sawit, namun dilakukan dengan cara yang menimbulkan banyak kematian pada kumbang muda.
A TAXONOMICAL REVIEW OF PHERETIMOID EARTHWORMS (OLIGOCHAETA: MEGASCOLECIDAE) GROM INDONESIAN ARCHIPELAGO Nugroho, Hari
ZOO INDONESIA Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan
Beberapa Catatan Tentang Aspek Ekologi Cacing Tanah Metaphire javanica (Kinberg, 1867) di Gunung Ciremai, Jawa Barat Nugroho, Hari
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 4, No 5 (2008): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jbi.v4i5.3223

Abstract

TULISAN PENDEKBeberapa Catatan Tentang Aspek Ekologi Cacing Tanah Metaphirejavanica (Kinberg, 1867) di Gunung Ciremai, Jawa Barat