Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pemaafan (Forgiveness) dan Resiliensi (Recilience) pada Pelajar yang mengalami Social Media Fatigue dimasa Pandemi Covid-19 H Hafnidar; Nursan Junita; Cut Ita Zahara
Journal of Psychological Perspective Vol 3, No 1: June 2021
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/jopp.311412021

Abstract

During the Covid-19 pandemic, communication technology increasingly controls all aspects of human life, in order to achieve success in studying, resilience is essential for Indonesian students. This study aims to empirically test the relationship between forgiveness and resilience in students who experience social media fatigue measured by the Social Media Fatigue Scale that the author created himself based on Bright (2015) concept. A total of 279 Indonesian students spread across several cities in Sumatra and Java, Indonesia, were respondents to the study. Data collection using Forgiveness Scale (4 items, α = 0.829) and Resilience Scale (7 items, α = 0.899), which researchers created based on forgiveness theory which developed by Enright (2001) and McCullough, et al (1998) and resilience theory which developed by Reivich and Shatte (2002). The results of a simple regression test showed a significant positive relationship between forgiveness and resilience (R= .781; p less than 0.001; F=18.03) where the effective contribution of forgiveness to resilience is 33.9%. The implications of the results of the study will be discussed.  Abstrak: Masa pandemic Covid-19 teknologi komunikasi semakin mengontrol segala aspek kehidupan manusia, untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, resiliensi sangat diperlukan pelajar Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan antara pemaafan dengan resiliensi pada pelajar yang mengalami social media fatigue berdasarkan Skala Social Media Fatigue yang penulis buat sendiri dari konsep Bright (2015). Sebanyak 279 orang pelajar Indonesia yang tersebar di beberapa kota di Pulau Sumatera dan Jawa, Indonesia, menjadi responden penelitian. Pengumpulan data menggunakan Skala Pemaafan (Forgiveness Scale, 14 aitem, α = 0.829) dan Skala Resiliensi (Recilience Scale, 7 aitem, α = 0.899), yang peneliti buat sendiri berdasarkan Teori Forgiveness yang dikembangkan oleh Enright (2001) dan McCullough, dkk (1998) dan Teori recilience dari Reivich dan Shatte (2002). Hasil uji regresi sederhana menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara pemaafan dengan resiliensi (R= .781; p kurang dari 0.001; F=18.03) dimana sumbangan efektif pemaafan terhadap resiliensi sebesar 33.9%. Implikasi hasil penelitian akan didiskusikan. 
Penerapan BSP (Brainspotting Therapy) dalam menurunkan Kecemasan pada Penderita Dermatitis Atopik Nursan Junita; Hafnidar Hafnidar; Yara Andita Anastasya
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 3, No 1 (2022): J-P3K APRIL
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v3i1.134

Abstract

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit inflamasi yang khas, kronis dan kerap mengalami kekambuhan. Penderita mengalami gatal, sakit pada kulit yang diperparah dengan garukan. Kondisi ini berdampak terhadap masalah psikososial seperti kecemasan. Penyakit ini genetik sehingga akan tetap dialami seumur hidup. Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan cara untuk membantu penderita menurunkan kecemasan agar kekambuhan dapat terkontrol. BSP merupakan tehnik terapi untuk mengatasi emosi negatif seperti stress, trauma, cemas, malu, panik, dan rendahnya rasa percaya diri. BSP adalah sebuah metode “Brain-Body integrated based”, terapi yang menggunakan posisi mata, karena mata memiliki akses kebagian area sub kortika yang disebut area bawah sadar sehingga membantu proses healing. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian case report dengan tiga orang subjek wanita yang berusia 22 tahun dengan diagnosis DA. Ketiga Subjek diberikan SUD (Subjek Unit Disturbance) untuk melihat tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi. Sesi intervensi dilakukan sebanyak 4 sesi dengan waktu 45 - 60 menit menggunankan instrumen pointer. Penelitian menunjukan penerapan BSP efektif untuk kasus kecemasan pada Dermatitis Atopik. Subjek dapat insight baru dan hal ini membantu subjek mengontrol kecemasannya, sehingga kekambuhan tidak menyebar. Penelitian lanjut terkait coping penting untuk dilakukan untuk mengetahui berbagai coping yang dilakukan agar pencetus kecemasan tidak memperparah kondisi.
Efektifitas Konseling Online Pada Mahasiswa Selama Pandemi Covid-19 Nursan Junita; Liza Adyani
Jurnal Diversita Vol 7, No 2 (2021): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v7i2.4554

Abstract

Konseling menjadi salah satu solusi menghadapi stres selama pandemi Covid -19. Konseling merupakan proses yang dapat membantu individu mengatasi berbagai hambatan perkembangan diri. Konseling online merupakan layanan kesehatan mental yang dapat membantu mengurangi kecemasan dan kebingungan semasa pandemik covid-19, dimana aturan sosial dan physical distancing diberlakukan. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana efektifitas konseling online selama pandemi covid-19 pada mahasiswa, dengan metode kualitiatif dan pendekatan eksploratif. Responden penelitian terdiri dari 9 mahasiswa yang mengalami kecemasan selama pandemic Covid-19. Hasil penelitian menunjukan bahwa konseling online sangat efektif karena membantu menurunkan kecemasan dan kekhawatiran yang muncul. Semua klien merasakan perubahan yang lebih baik secara kognitif, perilaku dan emosi walaupun tidak melakukan konseling secara tatap muka. Setelah sesi konseling semua klien merasa lebih lega, lebih tenang, kecemasan dan kekhawatiran berkurang dan mendapatkan insight yang lebih baik dalam melihat suatu persoalan, sehingga membuat fikiran lebih positif, perasaan lebih bersemangat dan termotivasi.  Hal ini sangat membantu klien dalam menghadapi berbagai masalah dengan lebih positif. Semua klien mempunyai keinginan untuk merekomendasikan layanan konseling online kepada kerabat, rekan kerja dan sahabat mereka. Lima (5) klien tetap ingin melanjutkan sesi konsultasi melalui online dan empat (4 klien) lebih tertarik untuk melakukan sesi konseling secara tatap muka. Keefektifan konseling online dapat dilihat dari perolehan nilai score yang tinggi pada post-test layanan konseling yang diberikan kepada semua klien. Hal ini menunjukkan bahwa hasil konseling online sangat efektif.
Skill Konseling Dasar Bagi Guru SMK Negeri 1 Nisam Nursan Junita; Hafnidar Hafnidar
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN, PSIKOLOGI DAN KESEHATAN (J-P3K) Vol 2, No 1 (2021): J-P3K APRIL
Publisher : Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v2i1.73

Abstract

Menciptakan kegiatan belajar yang menarik merupakan tuntutan bagi pendidik untuk menumbuhkan minat belajar peserta didik. Ini menunjukan bahwa tanggungjawab seorang guru bukan sebatas guru mata pelajaran, tetapi mampu meningkatkan minat belajar, dan motivasi berprestasi melalui perannya melakukan bimbingan konseling terhadap peserta didik nya. Permasalahan bolos di akhir jam pelajaran dan kurangnya motivasi belajar merupakan hal yang perlu diantisipasi dan ditelusuri lebih jauh penyebabnya. Banyak hal yang memicu kondisi ini, seperti kurang menariknya metode belajar dikelas, konflik antara peserta didik, permasalahan personal peserta didik sendiri dan ketidakfahaman guru terhadap perubahan psikologis yang muncul pada peserta didik. Berdasarkan hal tersebut penting untuk memberikan ketrampilan dasar konseling pada guru agar mampu memahami peserta didiknya lebih baik. Pelatihan peningkatan soft skill konseling dasar bagi guru SMK Negeri 1 Nisam, dilaksanakan selama 2 hari, yang dihadiri oleh guru mata pelajaran, wali kelas dan guru BK. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi, role play, studi kasus, serta latihan membuat laporan yang dilanjutkan dengan Praktek lapangan dan pembuatan laporan. Hasil praktek lapangan dilanjutkan dengan pemberian feedback. Hasil dari pelatihan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan ketrampilan konseling dasar bagi guru dalam memahami peserta didik secara psikologis, meningkatkan ketrampilan mendengar, ketrampilan bertanya dan ketrampilan observasi. Ketrampilan yang sudah didapat juga akan sangat berguna ketika berhadapan dengan peserta didik. Selain itu ketrampilan ini membantu mengidentifikasikan berbagai permasalahan peserta didik, sehingga peserta didik semakin merasa bahagia pergi kesekolah, minat belajar semakin meningkat, dan motivasi untuk berprestasi juga semakin tinggi.
A Study on the Forgiveness Concept of Aceh Conflict Victims Hafnidar Hafnidar; Nursan Junita; Ratna Ratna
Proceedings of AICS - Social Sciences Vol 7 (2017): 7th AIC in conjuction ICMR 2017 Universitas Syiah Kuala October 2017
Publisher : Proceedings of AICS - Social Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.623 KB)

Abstract

Acehnese people experience traumatic experiences due to conflict and prolonged war in Aceh. This research was conducted by using phenomenology as a qualitative method. The aims of research are to find the forgiveness basic concept of Aceh people. The total of research participants were 10 respondents which chosen from Aceh conflict victims by using purposive sampling technique, that is based on the following predetermined criteria: (1) is one of the following elements: Islamic leaders, scholars, casualty in remote areas and urban area, social activists, political organization activist, government official, housewife, as well as representatives of each profession in society, (2) Represents direct victims of Aceh conflict, (3) A native Acehnese and have lived in Aceh since the Aceh conflict (1976) until now. The data collection methods utilized in-depth interviews, observation, and analysis of documentation. This study applied the important principles in a phenomenology research: epoch, phenomenological reduction, imaginative variation, and synthesis of meanings and essences. The concept of forgiveness varies depending on the socio-cultural norms of each individual. The results reveal that for the Acehnese who are rooted in the conceptualized culture of Islam, the concept of forgiveness is closely related to the concept of spirituality, post traumatic growth (PTG), and coping strategic and positive self-concept.
Portrait of psychological condition people in Banda Aceh and Aceh Besar after ten years of earthquake and tsunami Nursan Junita; Eka Rumaisha; Yulia Direzkia
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v3i1.2217

Abstract

The aim of this study was obtained a portrait of Psychological condition of people in Banda Aceh & Aceh Besar After ten years of Earthquake and Tsunami Disaster. The traumatic event of December 26th, 2004, seriously impacts of psychological aspect of human being in Aceh. Moreover, people who experienced the disaster will predict to have seriously psychological problem in their life which is called PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Therefore, the study would like to see how the psychological condition of people in Banda Aceh, recently after ten years of earthquake and tsunami disaster through mental health aspect. The method was applied in this study was the qualitativeapproach that used the technique of Focus Group Discussion (FGD) by collecting the data from three (3) group of society. The subject were from kota Banda Aceh that representative of three (3) zone area that affected by earthquake and tsunami. The criteria of this zone were; Zone (1) is the most severe exposure to tsunami (within 0-3 km of the coastline); Zone (2) is a moderate impairment area that exposed to tsunami (within 3-5 km of coastline); Zone (3) is the area not exposed to tsunami (within 5-7 km of coastline). The result of study showed that people in zone 1 and zone 2, still have psychological reaction of trauma symptom such as numbing when re-experiencing the earthquake, easily worried, anxious, panic, and have sleep disturbance. However, the symptom does not disturbing their daily activities of life, so they are productive. Their coping skill also improves in facing the problem as well as more religious, acceptance, resilience, stronger, patience and more alert of disaster preparedness. However, the people in zone 3 does not show the psychological symptom of trauma, but they also become aware as well as take it this as the lesson learn for them this experienced.Key words: psychological of trauma, PTSD, tsunami Aceh, resilience
The Development Procedure of a Acehnese Forgiveness Scale Hafnidar Hafnidar; Nursan Junita
International Journal of Advances in Social and Economics Vol 1, No 5 (2019)
Publisher : Institute of Indonesian Education Studies Independent (IIES Independent)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ijase.v1i5.144

Abstract

The purpose of the present study was to develop a valid and reliable instrument to measure forgiveness of Aceh conflict victims. The construct of scale based on the forgiveness concept of Acehnese that known as Islamic culture. The Acehnese Forgiveness Scale (AFS) is a multi-dimensional tool assessing forgiveness of self, forgiveness of others, and forgiveness of situation. The test validity and reliability of Acehnese forgiveness scale on 101 conflict victims (30 males and 71 females), age 18 - 58 years old, 100% moeslim. Participants rate their responses on a 4-point scale, ranging from absolutely false to absolutely true. The construct of final scale were defined as: (1) forgiveness of self, (2) forgiveness of others, and (3) forgiveness of situations with total 28 items. This paper describes a four-stage procedure to develop the scale, data supporting the construct and first version of the instrument. 
Kecemasan Komunikasi pada Mahasiswa Psikologi Unimal Retna Aisyah Simahate; Nursan Junita
Jurnal Psikologi Terapan Vol 1, No 1 (2018): Juli
Publisher : Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jpt.v1i1.2871

Abstract

Communication anxiety is a fear experienced by individuals who deal with communication either directly or indirectly between individuals and other individuals. Establishment of communication anxiety tools is expected to help researchers and clinical parties who need these measurements to make appropriate interventions related to communication anxiety to students in Indonesia. Communication behavioral indicators of communication anxiety scale are obtained from 4 components: Internal Discomfort, Avoidance of Communication, Communication Disruption, and Overcommunication. The study participants were 115 people consisting of 35 men (30.4%) and 80 women (69.6%). The age range of participants 17-21 years consists of 26 people aged ≥20 years (22.6%), 50 persons aged 20 years (43.5%), 23 persons aged 19 years (20%), 15 persons aged 18 years (13%), and 1 person aged 17 years (0.9%). Based on the results of psychometric tests performed obtained alpha-cronbach results of α = 0.862 (very good) and 28 of 46 aitem have correlation value ≥.30 thus aitem of the scale of anxiety is considered good psychometrically.