Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALOGUE SAUSAGE FORMULATION OF TEMPEH-WHITE OYSTER MUSHROOMS (PLEUROTUS OSTREATUS) WITH THE ADDITION OF CARRAGEENAN Septi Rohmawati; Akhmad Mustofa; Yannie Asrie Widanti
Food ScienTech Journal Vol 1, No 1 (2019)
Publisher : University of Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.521 KB) | DOI: 10.33512/fsj.v1i1.6194

Abstract

Sausage is a food product that is processed as a variety of food. Tempeh and white oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) contain many nutrients needed by the body. In addition, carrageenan also contributes to the nutritional content of the product. This research was conducted to determine the chemical and sensory characteristics of sausage that are rich in fiber and received by consumers. This study used completely randomized design method (CRD) which consists of two factors. The first factor was the substitution of tempeh and white oyster mushroom with a ratio of 50:100; 75:75; 100:50. The second factor was the addition of carrageenan, including 4, 6 and 8 g. The chosen formulation was on the treatment of a comparison of 75 g of tempehh and 75 g of white oyster mushroom with the addition 6 g of carrageenan. The chemical properties of the analogue sausage was:14% of protein, 11.22% of fat, 44.24% of moisture, 6.02% of crude fiber, 2.37% of ash and 27.29% of total cabohydrate. While for sensory test color was 2.96, flavour tempeh 2.45, flavour of mushroom 1.74, texture of 2.55 and overall preference 2.45.
SIFAT SENSORIS DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN WEDANG UWUH KELOR DENGAN VARIASI CARA PENYEDUHAN Yannie Asrie Widanti, Vivi Nuraini & Sidiq Dwi Ariyanto
RESEARCH FAIR UNISRI Vol. 3 No. 1 (2019): RESEARCH FAIR UNISRI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.797 KB) | DOI: 10.33061/rsfu.v3i1.2588

Abstract

Wedang uwuh merupakan salah satu minuman tradisional yang diyakini memiliki berbagai sifat fungsional. Wedang uwuh biasanya terdiri dari berbagai komponen rempah-rempah seperti jahe, daun manisjangan, daun pala, daun cengkeh, cengkeh, daun secang dan dilengkapi dengan gula batu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar total fenol, aktivitas antioksidan dan sifat sensoris wedang uwuh dengan penambahan daun kelor kering dan variasi cara penyeduhan. Penelitian ini merupakan penelitian acak lengkap faktorial dengan faktor pertama adalah penambahan daun kelor kering sebanyak 10%(K1),20%(K2), dan 30%(K3), sedangkan faktor kedua adalah cara penyeduah yaitu: direbus dalam air yang telah mendidih selama 15 menit,(P1) direbus bersama air sampai mendidih selama 15 menit (P2), dan direndam dalam air 100oC selama 15 menit (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan daun kelor kering dan perbedaan cara penyeduhan berpengaruh nyata terhadap kadar total fenol, aktivitas antioksidan, dan warna wedang uwuh. Sedangkan flavor dan tingkat kesukaan keseluruhan tidak dipengaruhi oleh perbedaan penambahan daun kelor meupun cara penyeduhan. Kadar total fenol tertinggi (461,54 mg GAE/g) terdapat pada penambahan daun kelor kering sebanyak 30% dan diseduh dengan cara direbus bersama air sampai mendidih 15 menit. Kombinasi perlakuan tersebut juga menghasilkan aktivitas antioksidan tertinggi sebesar 61,73 ( meggunakan metode DPPH). Maka dapat disimpulkan bahwa penambahan daun kelor kering pada wedang uwuh dapat meningkatkan kadar total fenol dan aktivitas antioksidan. Sedangkan cara penyeduhan yang paling efektif untuk menghasilkan seduhan wedang uwuh dengan kadar total fenol dan aktivitas antioksidan tinggi adalah dengan direbus bersama air sampai mendidih selama 15 menit.Kata-kata kunci: wedang uwuh, daun kelor, cara penyeduhan, total fenol, aktivitas antioksidan
PEMANFAATAN HASIL SAMPING PENGGILINGAN TEPUNG BERAS KETAN HITAM SEBAGAI BAHAN BAKU SNACK BARS DENGAN VARIASI TEPUNG LABU KUNING DAN JENIS GULA AYUK FEBRIANA SHAHERTIAN PUTRI; YANNIE ASRIE WIDANTI; NANIK SUHARTATIK
Jurnal Sagu Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.217 KB) | DOI: 10.31258/sagu.v16i2.5406

Abstract

Black glutinous rice flour, by product from local cake industry, were potential for next processing. Pumpkinwas a local product that has a high nutritional value and rarely use as a food substance. The purpose of thisresearch was to increase the economic value of black glutinous rice flour by processing in to snack bars withincrement of pumpkin flour. The research carried out by using a full factorial randomized block designconsists of two factors. The first factor was the ratio of black glutinous rice flour and pumpkin flour, that is80:20, 70:30, and 50:50 meanwhile, second factors was kinds of sweetener, e.i: honey, palm sugar, andfructose. The research showed that the most satisfactory snack bars was the one that use 50% of blackglutinouse rice flour and 50% of pumpkin flour with honey as a sweeteners. With the product have characteristicas : 16,19% moisture content; 1.71% of ash; 6,77% of protein; 10.77% of fat; 24.32 of sugar; brown colour’s(2.78); soft (2.33); flavor of black glutinous rice flour (2.11); and flavor of pumpkin flour (2.67).
KARAKTERISTIK KIMIAWI MIE KERING DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) DAN EKSTRAK BIT (Beta vulgaris L) DENGAN BERBAGAI PERLAKUAN PENDAHULUAN AKHMAD MUSTOFA; YANNIE ASRIE WIDANTI
Jurnal Sagu Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.905 KB) | DOI: 10.31258/sagu.v16i2.5404

Abstract

Noodles is one of the favorite foods in Indonesia. This condition is due to the practicality in processing thenoodles so that anyone does not take long to cook it and can be served in various variations. Therefore itneeds an innovation to make dry noodles with other useful compounds such as antioxidants so that the drynoodle can be more healthful for the consumers. The research was done by factorial completely randomizeddesign experiment, ie pre treatment of red beans and the amount of beet extracts added. The results showedthat the best results was found when using pre treatment boiling for red beans for 90 minutes and the additionof 50% beet extract for making dry noodles. This treatment produced dry noodles with phytic acid of 0.398%,acid number of 0.291 mg KOH / g of oil and antioxidant activity of 42.188%.
PREVALENSI, FAKTOR RISIKO, DAN DAMPAK STUNTING PADA ANAK USIA SEKOLAH Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 1 No 1 (2016): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.288 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v1i1.1512

Abstract

Stunting merupakan salah satu kondisi kegagalan pertumbuhan fisik yang diukur berdasarkan tinggi badanmenurut umur. Batasan stunting menurut WHO yaitu tinggi badan menurut umur berdasarkan Z‐score samadengan atau kurang dari ‐2SD di bawah rata‐rata standar. Studi pustaka ini bertujuan untuk mengetahuiprevalensi stunting pada anak usia sekolah di Indonesia, serta faktor risiko stunting dan upaya pencegahannya.Prevalensi stunting di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 37,2% pada balita (Riskesdas, 2013), 27,6 sampai 37,7% pada anak laki‐laki usia 5 – 12 tahun dan 25,1 sampai 35,8% untuk anak perempuan. Angka tersebut masihmelebihi batas non public health WHO yaitu 20%. Stunting disebabkan oleh berat bayi lahir rendah (BBLR),defisiensi gizi kronis sejak bayi, kurangnya asupan kalori, protein, vitamin dan mineral, terutama vitamin D.Stunting mengakibatkan kemampuan pertumbuhan yang rendah pada masa berikutnya, baik fisik maupunkognitif, dan akan berpengaruh terhadap produktivitas di masa dewasa.Kata Kunci : Stunting, Faktor Risiko, Anak Usia Sekolah
KARAKTERISTIK STIK VEGETARIAN DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG PISANG TANDUK (Musa paradisiaca formatypica) DAN TEMPE SEBAGAI SUMBER PROTEIN Angestia Sindu Fernanda, Yannie Asrie Widanti & Linda Kurniawati
JITIPARI Vol 2 No 2 (2017): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.066 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v2i2.1892

Abstract

Pisang jenis plantain salah satunya yaitu pisang tanduk tidak banyak disukai karena rasa yang kurangmanis, sehingga lebih cocok diolah menjadi tepung pisang tanduk. Tempe mempunyai kandungan gizi yangcukup tinggi salah satunya yaitu sebagai sumber protein. Substitusi tepung pisang tanduk dan tempe padapembuatan stik vegetarian sebagai salah satu upaya peningkatan mutu ekonomi pisang tanduk dan tempe,serta peningkatan nilai gizi pada produk stik vegetarian. Penelitian ini menggunakan metode RancanganAcak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor yaitu kadar tepung pisang tanduk (10, 20, 30%) dan kadartempe (10, 20, 30, 40%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar tepung pisang tanduk dan kadartempe yang optimal untuk menghasilkan stik vegetarian yang berkualitas dan disukai oleh konsumen. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang terbaik adalah pada kadar tepung pisang tanduk30% dan kadar tempe 40%. Hasil stik vegetarian tersebut mempunyai karakteristik sebagai berikut : kadarair 2,92%; kadar abu 2,52%; kadar protein 13,40%; warna coklat (2,00); rasa pisang tanduk sangat terasa(2,40); rasa tempe terasa (2,60) memiliki kerenyahan atau tekstur renyah (3,46); dan disukai panelis (3,46).Kata kunci: Tepung pisang tanduk, stick, substitusi, tempe.
PENAMBAHAN PUREE DAUN KELOR (Moringa oleifera) DAN PUREE PISANG AMBON UNTUK FORMULA MPASI (Makanan Pendamping ASI) Wuriana Ratma Asih Kapti Rahayu Kuswanto Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 3 No 1 (2018): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.134 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v3i1.1983

Abstract

Daun kelor memiliki nilai gizi yang sangat baik yaitu mengandung vitamin A, vitamin C, vitaminB6, kalsium, kalium, zat besi, dan protein sehingga digunakan bayi dan ibu menyusui sebagai makananpendamping ASI (MPASI). Daun kelor memiliki kelemahan yaitu mempunyai aroma langu. Penambahanpuree pisang ambon yaitu untuk menghilangkan aroma langu daun kelor karena rasa pisang ambon disukaibayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis dan komposisi makronutrienMakanan Pendamping ASI dengan penambahan puree daun kelor dan puree pisang untuk bayi. MakananPendamping ASI dengan formula yang memenuhi SNI dan Angka kecukupan gizi bayi dengan menggunakanRancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari 2 faktor, faktor pertama adalah penambahanpuree daun kelor (3,89; 5,19; 6,49%) sedangkan faktor yang kedua penambahan puree pisang ambon (5,19;7,79; 10,38%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi paling disukai yaitu penambahan pureedaun kelor 3,89% dan puree pisang ambon 6,49% dengan kadar air 51,13%, kadar abu 0,39%, kadar protein7,06%, kadar lemak 7,69%, kadar gula 3,5%, vitamin C 17,41 mg/100g , warna hijau (3,07), tekstur lembekdan lembut (4,67), rasa pisang sangat terasa (4,27), dan aroma langu kurang terasa (2,73).Kata kunci: pisang ambon, daun kelor, Makanan Pendamping ASI.
KARAKTERISTIK FRUIT LEATHER DENGAN VARIASI RASIO BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) – PEPAYA (Carica papaya L.) DAN SUHU PENGERINGAN Fikha Andita Puspitasari, Merkuria Karyantina & Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 4 No 1 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.337 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i1.3013

Abstract

Buah naga merah merupakan buah tropis yang kaya akan antioksidan, namun kurang disukai karenarasanya yang tidak begitu manis. Buah naga merah juga sangat mudah mengalami kerusakan karenakandungan kadar air yang tinggi. Fruit leather adalah jenis olahan produk makanan yang berasal dari buburdaging buah yang dikeringkan sampai kadar air berkisar 10-15%. Pembuatan fruit leather memerlukan buahyang memiliki kandungan serat yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristikfruit leather dengan perbandingan buah naga merah dan pepaya serta mengkaji suhu pengeringan yangtepat untuk mendapatkan karakteristik fruit leather yang baik.Perlakuan yang diberikan meliputi perbandingan buah pepaya: naga merah, yaitu 20:80, 30:70,dan 40:60. Perlakuan yang kedua adalah suhu pengeringan, yaitu 140, 150, dan 1600C. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa perbandingan buah naga merah - pepaya dan suhu pengeringan berpengaruh nyataterhadap karateristik kimia dan organoleptik fruit leather. Berdasarkan tujuan penelitian diperoleh fruitleather terbaik pada perlakuan perbandingan daging buah pepaya:daging buah naga (20:80) dan suhupengeringan 1400C. Fruit leather yang dihasilkan memiliki kadar air 14,41%, kadar abu 2,91%, kadar gula total48,91%, kadar vitamin C 25,24 mg/100, dan derajat keasaman (pH) 4,83. Uji sensori yang didapatkan padaperlakuan tersebut adalah warna orange kemerahan dengan nilai 3,51, rasa tidak begitu manis dengan nilai3,71, tekstur agak kenyal dengan nilai 2,93, kesukaan keseluruhan sangat suka dengan nilai 3,67.Kata kunci: buah naga merah, pepaya, fruit leather, suhu pengeringan.
FORMULASI SIRUP HERBAL DAUN KELOR (Morringa oleifera) DENGAN EKSTRAK BUNGA ROSELLA (Hibiscus sabdariffa L.) Alfonsus Airnando Bahtiam Ananta, Merkuria Karyantia & Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 4 No 2 (2019): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.194 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v4i2.3145

Abstract

Sirup termasuk minuman instan yang memiliki rasa dan aroma tertentu. Beberapa tanaman dapatdimanfaatkan sebagai bahan baku untuk formulasi sirup herbal antara lain daun kelor dan bunga rosella.Sirup daun kelor dan bunga rosella merupakan salah satu potensi sirup herbal dengan kandungan aktivitasantioksidan yang mudah dikonsumsi dan baik bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukanformulasi sirup herbal daun kelor dengan ekstrak bunga rosella sebagai minuman kesehatan bagi konsumendengan aktivitas antioksidan yang tinggi. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL)faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama yaitu daun kelor (5, 10, 15 g) sedangkan faktor keduaekstrak bunga rosella (5, 10, 15 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan konsentrasidaun kelor : bunga rosella 15:15 merupakan perlakuan terbaik didasarkan pada aktivitas antioksidan dan ujiorganoleptik terbaik yang terdapat pada sirup. Karakteristik sirup adalah pH 3,82, vitamin C 20,40 mg/100ml, total padatan terlarut 41,33%, aktivitas antioksidan DPPH 48,97%, gula total 13,82%, serta uji organoleptikterhadap warna 1,80 (merah muda), flavor kelor 2,56 (terasa kelor), flavor rosella 1,89 (terasa rosella), rasaasam 1,87 (terasa asam) dan kesukaan keseluruhan 1,72 (cukup disukai).Kata kunci: Formulasi sirup, daun kelor, rosella
KOMPOSISI GIZI DAN SIFAT SENSORIS SNACK BAR DENGAN VARIASI RASIO TEPUNG GEMBILI (Dioscorea esculenta L.) DAN TEPUNG PISANG (Musa paradisiaca L.) Fransisca Amanda Sari Dewi; Yustina Wuri Wulandari; Yannie Asrie Widanti
JITIPARI Vol 6 No 1 (2021): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.108 KB) | DOI: 10.33061/jitipari.v6i1.3994

Abstract

Snack bar adalah suatu makanan ringan yang berbentuk batang dan pada umumnya dikonsumsi sebagai makanan selingan. Pada penelitian ini bahan baku yang digunakan adalah tepung gembili dan tepung pisang. Penggunaan gembili dan pisang ini dikarenakan kandungan karbohidrat yang terdapat di dalam kedua jenis produk pertanian ini cukup tinggi, selain itu belum adanya pemanfaatan kedua jenis produk pertanian ini secara bersamaan digabungkan dalam satu produk pangan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh dari beberapa variasi rasio tepung gembili dan tepung pisang serta tepung  variasi jenis pisang  pada snack bar serta mengetahui komposisi gizi dan sensoris snack bar berbasis tepung gembili dan tepung  variasi jenis pisang. Komposisi gizi yang dihasilkan oleh snack bar ini adalah kadar air sebesar 8.11 – 8.84%, kadar abu sebesar 2.29 – 2.81%,  kadar lemak sebesar 16.57 – 23.00%, kadar protein sebesar 6.35 – 7.98%, kadar karbohidrat sebesar 59.00 – 65.32% dan kadar serat pangan sebesar 8.46 – 13.72%. Hasil uji organoleptik terbaik parameter warna adalah pisang kepok putih rasio 60:40, parameter tekstur keras adalah pisang raja rasio 60:40, parameter rasa pisang adalah pisang kepok putih rasio 70:30, parameter flavor pisang adalah pisang kepok rasio 70:30, parameter kepadatan adalah pisang kepok putih rasio 50:50 dan parameter kesukaan keseluruhan adalah pisang kepok putih rasio 60:40.