Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KARAKTERISASI PARSIAL FAKTOR IMUNOMODULATOR KELENJAR SALIVA Aedes aegypti (DIPTERA: CULICIDAE) SEBAGAI KANDIDAT Transmission Blocking Vaccine (TBV) DEMAM BERDARAH DENGUE Wathon, Syubbanul; Senjarini, Kartika; Widajati, Sri Mumpuni Wahyu; Oktarianti, Rike
BERKALA SAINSTEK Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : My Home

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh infeksi virus dengue yang dibawa Aedes aegypti (Ae. aegypti) sebagai vektor primernya. Pengendalian vektor pada penyakit DBD masih belum maksimal. Selain itu vaksin yang belisensi untuk penyakit DBD masih belum dilaporkan. Melalui pengembangan TBV salah satunya dengan memanfaatkan komponen saliva vektor. aliva vektor memiliki potensi dalam meningkatkan transmisi patogen ke tubuh inang, maka perlu adanya karakterisasi molekul dalam saliva nyamuk termasuk faktor imunomodulator. Karakterisasi faktor imunomodulator saliva Ae. aegypti dilakukan melalui uji reaksi silang antara protein kelenjar saliva Ae. aegypti dengan beberapa plasma darah manusia. Hasil penelitian menunjukkan adanya protein spesifik yang dikenali antibodi dalam plasma darah orang endemik dengan berat molekul ~ 37 kDa. Hal ini megindikasikan bahwa di dalam tubuh penduduk endemik telah mengembangkan antibodi anti-saliva Ae. aegypti yang diduga berperan penting dalam resistensi terhadap infeksi virus dengue. Kata Kunci: Ae. aegypti, DBD, faktor imunomodulator, kelenjar saliva, TBV
Identifikasi dan Analisis Bionomik Vektor Malaria Anopheles sp. di Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi Renam Putra Arifianto; Dewi Masruroh; Maulana Jauharil Habib; Mochtar Gunawan Wibisono; Syubhanul Wathon; Rike Oktarianti; Kartika Senjarini
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 6 No. 1 (2018): Januari 2018
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.425 KB) | DOI: 10.29244/avi.6.1.44-50

Abstract

Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu daerah endemis malaria, khususnya Desa Bangsring Kecamatan Wongsorejo. Berdasarkan laporan survei entomologi, di desa tersebut terdapat lagun yang digunakan sebagai tempat perindukan Anopheles. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati beberapa karakteristik bionomik yang penting yaitu identifikasi spesies serta perilaku dan preferensi menghisap darah. Sampling dilakukan pada bulan Mei sampai bulan November2015, pada minggu ke 2 setiap bulannya. Penangkapan nyamuk dilakukan pada Manusia Dalam Rumah dan Manusia Luar Rumah di dua rumah berbeda. Masing-masing penangkapan setiap 40 menit, dimulai pukul 18.00 sampai 06.00. Penangkapan nyamuk yang Istirahat Dalam Rumah (IDR) dan Istirahat di Sekitar Kandang Ternak (ISKT) setiap 10 menit pada waktu yang sama. Hasil identifikasi menunjukkan spesies Anopheles yang dominan di lokasi penelitian adalah An. sundaicus. Beberapa spesies lainnya yang ditemukan diantaranya adalah An. vagus, An. subpictus, An. barbirostris dan An. indefinitus. Aktivitas mengigit Anopheles mengalami puncak kepadatan antara pukul 21.00 – 22.00. Sementara itu preferensi mengigitnya lebih bersifat eksofagik dan zoofilik. Hal ini dapat merupakan penyebab menurunnya kasus malaria di daerah tersebut selama 3 tahun terakhir semenjak terjadinya kejadian luar biasa malaria pada tahun 2011 dengan jumlah kasus sebanyak 107 kasus malaria.
PURIFIKASI PROTEIN IMUNOGENIK 31 DAN 56 kDa DARI KELENJAR SALIVA Aedes aegypti Wathon, Syubbanul; Mutiah, Fitria; Oktarianti, Rike; Senjarini, Kartika
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 7 No. 1 (2020): June 2020
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v7i1.3931

Abstract

Purification of 31 and 56 kDa Immunogenic Proteins from the Salivary Glands of Aedes aegyptiThe salivary gland of arthropod vector contains various bioactive compounds and plays a role in the transmission of pathogens to the host. The host develops anti-salivary antibodies against vector saliva exposure. Our previous research has identified two immunogenic proteins with molecular weights of 31 and 56 kDa from the Aedes aegypti salivary gland protein extract. However, the role of the 31 and 56 kDa immunogenic proteins from saliva Ae. aegypti is not fully known, so it is necessary to purify two immunogenic protein fractions to better specify the target of developing a dengue vaccine. This study aimed to purify the 31 and 56 kDa immunogenic protein fractions by electroelution and dialysis methods. The purification of the two protein fractions has been successful which were confirmed by the SDS-PAGE by the existence of single-band parallel to the positive control. These results were further supported by the dot blot analysis which showed a positive reaction in the form of dark spots in the two protein fractions which were reacted with dengue patients' serum, endemic healthy people, and neonates. These results indicated that the purified 31 and 56 kDa immunogenic protein fraction can be identified by specific antibodies.Keywords: dialysis, electroelution, immunogenic, purification, saliva  ABSTRAKKelenjar saliva vektor arthropoda mengandung berbagai senyawa bioaktif dan berperan dalam transmisi patogen ke tubuh inang. Tubuh inang mengembangkan antibodi anti-saliva terhadap paparan saliva vektor. Penelitian kami sebelumnya telah mengidentifikasi dua protein imunogenik dengan berat molekul 31 dan 56 kDa dari ekstrak protein kelenjar saliva Aedes aegypti. Namun demikian, peranan protein imunogenik 31 dan 56 kDa dari saliva Ae. aegypti belum diketahui sepenuhnya sehingga perlu dilakukan purifikasi dua fraksi protein imunogenik untuk lebih menspesifikkan target pengembangan vaksin dengue. Tujuan penelitian ini untuk melakukan purifikasi fraksi protein imunogenik 31 dan 56 kDa melalui metode elektroelusi dan dialisis. Keberhasilan purifikasi dua fraksi protein 31 dan 56 kDa terbukti dari hasil konfirmasi SDS-PAGE dengan terbentuknya pita tunggal sejajar dengan kontrol positif. Hasil tersebut diperkuat dengan analisis dot blot yang menunjukkan reaksi positif dengan munculnya noktah gelap pada dua fraksi protein tersebut ketika direaksikan dengan serum pasien DBD, penduduk sehat endemik dan neonatus. Hasil ini mengindikasikan bahwa fraksi protein imunogenik 31 dan 56 kDa hasil purifikasi dapat dikenali oleh antibodi spesifik.
FREKUENSI ALEL GOLONGAN DARAH SISTEM A-B-O PADA POPULASI SUKU OSING DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI Amania, Novita; Wiyono, Hidayat Teguh; Oktarianti, Rike
BIOMA Vol 5, No 1 (2020): BIOMA : JURNAL BIOLOGI DAN PEMBELAJARAN BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bioma.v5i1.3680

Abstract

Suku Osing di desa Kemiren, Banyuwangi memiliki tradisi perkawinan upek-upekkan, yaitu perkawinan antar kerabat. Perkawinan ini termasuk dalam perkawinan endogami yang menyebabkan menurunnya variasi genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi fenotip, frekuensi alel, dan kesetimbangan genetic Hardy-Weinberg golongan darah ABO pada populasi suku Osing di Desa Kemiren. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Identifikasi golongan darah dilakukan dengan metode slide test. Analisis penelitian menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan golongan darah pada populasi suku Osing di Desa Kemiren sebagai berikut: golongan darah O (45,95%), A (23,99%), B (21,97%), dan AB (8,09%). Frekuensi alel masing-masing adalah alel IA (0,16), frekuensi alel IB (0,16), dan frekuensi alel i (0,68). Hasil pengujian kesetimbangan genetik Hardy-Weinberg dengan uji Chi-square menunjukkan tidak ada penyimpangan yang signifikan.
FREKUENSI ALEL GOLONGAN DARAH SISTEM A-B-O PADA POPULASI SUKU OSING DESA KEMIREN KABUPATEN BANYUWANGI Novita Amania; Hidayat Teguh Wiyono; Rike Oktarianti
BIOMA Vol 5, No 1 (2020): BIOMA : JURNAL BIOLOGI DAN PEMBELAJARAN BIOLOGI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32528/bioma.v5i1.3680

Abstract

Suku Osing di desa Kemiren, Banyuwangi memiliki tradisi perkawinan upek-upekkan, yaitu perkawinan antar kerabat. Perkawinan ini termasuk dalam perkawinan endogami yang menyebabkan menurunnya variasi genetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi fenotip, frekuensi alel, dan kesetimbangan genetic Hardy-Weinberg golongan darah ABO pada populasi suku Osing di Desa Kemiren. Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Identifikasi golongan darah dilakukan dengan metode slide test. Analisis penelitian menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan golongan darah pada populasi suku Osing di Desa Kemiren sebagai berikut: golongan darah O (45,95%), A (23,99%), B (21,97%), dan AB (8,09%). Frekuensi alel masing-masing adalah alel IA (0,16), frekuensi alel IB (0,16), dan frekuensi alel i (0,68). Hasil pengujian kesetimbangan genetik Hardy-Weinberg dengan uji Chi-square menunjukkan tidak ada penyimpangan yang signifikan.
Detection of immunogenic protein from salivary gland of Aedes albopictus Oktarianti, Rike; Khasanah, Rochmatul Nuryu; Wathon, Syubbanul; Senjarini, Kartika
Universa Medicina Vol. 40 No. 3 (2021)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2021.v40.234-242

Abstract

BackgroundDengue virus is transmitted by several species of Aedes mosquitoes, with Aedes albopictus as secondary vector. During blood feeding, these vectors inject saliva into the vertebrate hosts. The saliva contains anticoagulant, anti-inflammatory and immunogenic factors. The objective of this research was to detect immunogenic proteins from Ae.albopictus salivary glands reacting with sera of people living in dengue endemic areas. MethodsThe identification of immunogenic proteins of Ae. albopictus salivary gland used one-dimensional gel electrophoresis (sodium dodecyl sulfate polyacrylamide gel electrophoresis), and western blot analysis, respectively. To determine the immunogenic nature of the candidate proteins, the antigens from the salivary gland of Ae. albopictus were reacted with sera from healthy persons, dengue hemorrhagic fever (DHF) patients, and neonates, each of the groups comprising 10 samples. ResultsThe protein profiles of Ae. albopictus salivary glands showed 13 bands with molecular weights from 16 kDa up to 97 kDa, i.e. 16, 17, 26, 28, 31, 32, 45, 55, 60, 67, 73, 76, and 97 kDa. According to western blot analysis result, the 31 kDa proteins were recognized in all endemic population sera, both in DHF patients and healthy persons. In contrast, protein bands of 47 and 67 kDa were only recognized by the sera of DHF patients. ConclusionThree immunogenic proteins of 31, 47 and 67 kDa were detected from Ae. albopictus salivary glands. These immunogenic proteins may be developed as candidate biomarkers for bite exposure to Ae. albopictus and as vector-based DHF vaccines.
KARAKTERISASI BERBASIS MARKA MOLEKULER ITS2 TERHADAP SUB-SPESIES KOMPLEKS Anopheles vagus vagus DAN Anopheles vagus limosus Senjarini, Kartika; Hasanah, Lailly Nur Uswatul; Septianasari, Miatin Alvin; Abdullah, Muhammad Khalid; Oktarianti, Rike; Wathon, Syubbanul
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol. 8 No. 2 (2021): December 2021
Publisher : Balai Bioteknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29122/jbbi.v8i2.4737

Abstract

The presence of intraspecies variations of An. vagus later categorized as the subspecies of An. vagus vagus and An. vagus limosus, could be an obstacle to the identification process, which is an important step for malaria vector’s competence characterization. Based on morphological identification, those subspecies could be distinguished by the presences of pale scales in prehumeral and pale bands  in proboscis. The objective of this research was to compare subspecies complexes of An. vagus morphologically and molecularly using Internal Transcribed Spacer 2 (ITS2). Anopheles samples were collected from Bangsring, Banyuwangi. Their phylogenetic tree was constructed by using NJ method based on their ITS2 sequences. BLAST result showed that An. vagus vagus and An. vagus limosus were similar to An. vagus FJ654649.1 from East Java Indonesia and East Timor based on its 99% homology and their molecular distance. The Neighbour Joining (NJ) tree grouped those subspecies in one clade with a boostrap value of 82%. This subspeciation might be due to the different rates of evolution. ITS2 sequences of An. vagus vagus and An. vagus limosus were submitted to GenBank with the accession number of MW314227.1 and MW319822.1, respectively. Kemunculan variasi intraspesies An. vagus yang kemudian dikategorikan sebagai subspesies An. vagus vagus dan An. vagus limosus menjadi kendala dalam proses identifikasi yang merupakan langkah penting dalam menentukan kompetensi vektor malaria. Berdasarkan karakter morfologi, subspesies tersebut dibedakan dengan adanya sisik pucat pada bagian prehumeral dan pita pucat pada probosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan subspesies An. vagus secara morfologis dan molekuler menggunakan Internal Transcribed Spacer 2 (ITS2). Nyamuk Anopheles didapatkan dari Bangsring, Banyuwangi. Konstruksi pohon filogeni dilakukan berdasarkan sekuen ITS2 yang dianalisis menggunakan metode NJ. Hasil BLAST menunjukkan, ITS2 An. vagus vagus dan An. vagus limosus memiliki tingkat homologi 99% dan jarak evolusi molekuler terendah dengan An. vagus FJ654649.1 dari Jawa Timur Indonesia dan Timor Timur. Pohon NJ mengelompokkan subspesies tersebut dalam satu klade dengan nilai boostrap 82%. Hal ini dapat terjadi karena perbedaan kecepatan evolusi yang memungkinkan terjadinya subspesiasi. Urutan basa ITS2 dari An. vagus vagus dan An. vagus limosus telah didaftarkan ke GenBank dengan nomor aksesi MW314227.1 dan MW319822.1.
KARAKTERISASI PARSIAL FAKTOR IMUNOMODULATOR KELENJAR SALIVA Aedes aegypti (DIPTERA: CULICIDAE) SEBAGAI KANDIDAT Transmission Blocking Vaccine (TBV) DEMAM BERDARAH DENGUE Syubbanul Wathon; Kartika Senjarini; Sri Mumpuni Wahyu Widajati; Rike Oktarianti
BERKALA SAINSTEK Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh infeksi virus dengue yang dibawa Aedes aegypti (Ae. aegypti) sebagai vektor primernya. Pengendalian vektor pada penyakit DBD masih belum maksimal. Selain itu vaksin yang belisensi untuk penyakit DBD masih belum dilaporkan. Melalui pengembangan TBV salah satunya dengan memanfaatkan komponen saliva vektor. aliva vektor memiliki potensi dalam meningkatkan transmisi patogen ke tubuh inang, maka perlu adanya karakterisasi molekul dalam saliva nyamuk termasuk faktor imunomodulator. Karakterisasi faktor imunomodulator saliva Ae. aegypti dilakukan melalui uji reaksi silang antara protein kelenjar saliva Ae. aegypti dengan beberapa plasma darah manusia. Hasil penelitian menunjukkan adanya protein spesifik yang dikenali antibodi dalam plasma darah orang endemik dengan berat molekul ~ 37 kDa. Hal ini megindikasikan bahwa di dalam tubuh penduduk endemik telah mengembangkan antibodi anti-saliva Ae. aegypti yang diduga berperan penting dalam resistensi terhadap infeksi virus dengue. Kata Kunci: Ae. aegypti, DBD, faktor imunomodulator, kelenjar saliva, TBV