Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektifitas Penggunaan Co immobilized - Lipase pada Reaksi Esterifikasi Asam Lemak Hasil Hidrolisis Minyak Kelapa Sigit Hadiantoro; Dwina Moentamaria; Muchamad Syarwani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.365 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i1.60

Abstract

Kinerja enzim immobilisasi dapat ditingkatkan dengan penambahan co immobilizer, hal ini dilakukan agar ikatan kovalen antara enzim dan matriks lebih kuat dan mempermudah reaksi dari gugus fungsional yang ada pada matriks sehingga tidak diperlukan penambahan bahan kimia sebagai pembawa. Pada penelitian ini digunakan matriks polyurethane foam (PUF) dengan penambahan co immobilizer yang terdiri dari gelatin, lesitin, MgCl2, dan polyethyleh glycol (PEG) 6000. Penelitian ini difokuskan untuk melihat efektivitas co immobilized-lipase pada reaksi hidrolisis-esterifikasi. PUF direndam dalam larutan co immobilizer dengan perbandingan 1:15; 1:20 dan 1:25 (b/b) selama satu jam setelah itu dipanaskan dalam oven selama satu jam pada suhu 30°C. Selanjutnya,  matriks PUF direndam dalam lipase selama 24 jam dan dikeringkan dalam oven pada suhu 30°C selama 24 jam sehingga terbentuk matriks lipase terko-immobilisasi pada PUF dengan yang digunakan untuk reaksi hidrolisis-esterifikasi sebagai biokatalis. Pada reaksi hidrolisis digunakan 10 gram minyak yang diemulsikan dalam air dengan variabel rasio minyak-air 1:0,6; 1:1; 1:3 dan 1:5 (b/b) dan waktu reaksi 5, 10, 15 dan 20 jam. Kadar FFA minyak kelapa awal sebesar 0,21%. Produk terbaik reaksi hidrolisis adalah asam lemak bebas dengan kenaikan kadar FFA menjadi 1,18% pada kondisi perbandingan minyak/air 1:5 (b/b). Reaksi esterfikasi dilakukan dengan cara mereaksikan asam lemak hasil terbaik hidrolisis dengan sitronelol dan co immobilized-lipase sebagai biokatalis. Reaksi ini dilakukan dengan variabel asam lemak: sitronelol 1:0,8 ; 1:1 dan 1:3 (b/b) serta waktu reaksi: 5, 10, 15 dan 20 jam. Produk yang dihasilkan adalah perisa alami sebagai ester. Analisis kadar sitronelol awal dan akhir reaksi esterifikasi dilakukan dengan menggunakan GC-FID. Hasil terbaik dari penelitian ini yaitu konversi sebesar 92,88% diperoleh pada ratio massa asam lemak/sitronelol 1:3.Immobilized enzyme performance can be enhanced by the addition of co-immobilizer, this is done so that the covalent bond between the enzyme and the matrix can become stronger and also to ease the reaction of the functional groups present in the matrix so that no addition of chemical as carrier is required. This study used Polyurethane Foam (PUF) as matrix with the addition of co-immobilizer which contain gelatin, lecithin, MgCl2, and PEG 6000. This study focused on looking at the effect of co-immobilized lipase on hydrolysis-esterification reactions. PUF is immersed in an co-immobilizer solution of 1:15; 1:20 and 1:25 ratio (w/w) for one hour and heated for another hour at 30°C. After that, PUF is immersed in the lipase for 24 hours, after which is heated at 30°C also for 24 hours. This research was conducted in 2 stages of reaction, which is hydrolysis then continued by esterification. In the hydrolysis reaction, we used variables such as oil-water ratio for 1:0.6; 1:1; 1:3 and 1:5 (w/w); the reaction time 5, 10, 15 and 20 hours; and also PUF:co-immobilized ratio in 1:15; 1:20 and 1:25 (w/w). The best fatty acid obtained from hydrolysis results in oil-water ratio of 1:5 (w/w), with FFA 1.18%.  Next is esterification reaction which is done by reacting  fatty acid from hydrolyzed coconut oil with citronellol, with the addition of immobilized lipase (as a biocatalyst). This reaction was carried out with variables like mass ratio of fatty acids-citronellol 1:0.8; 1:1 and 1:3 and reaction time: 5, 10, 15 and 20 hours. The resulting product is the flavor enhancer as ester. The analysis of the percentage of initial and final citronellol on the end of esterification reaction were performed using GC-FID. The best results of this study, conversion percentage respectively 92.88% obtained at mass ratio of fatty acid-citronellol 1:3.
Pengolahan Air Limbah Domestik Menggunakan Kombinasi Settlement Tank dan Fixed-Bed Coloumn Up-Flow Khalimatus Sa’diyah; Muchamad Syarwani; S. Sigit Udjiana
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.92 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.72

Abstract

Air limbah domestik yang memiliki kadar BOD, COD, TSS, Turbidity dan pH tinggi menjadi salah satu penyebab pencemaran air. Sehingga perlu adanya pengolahan lebih lanjut sebelum dibuang ke sungai atau badan air. Salah satu pengolahan air limbah yang bisa digunakan adalah kombinasi settlement tank dan fixed-bed coloumn up-flow. Alat ini dipilih karena harganya terjangkau, bahan mudah didapat dan peralatannya mudah dioperasikan. Tujuan utama penelitian ini untuk menurunkan kadar turbidity, TSS dan BOD. Penurunan parameter ini dipengaruhi oleh waktu settlement tank, waktu pengontakkan effluent dan tinggi unggun pasir. Hasil penelitian pada settlement tank secara aerob didapatkan persen penurunan turbidity, TSS dan BOD  yang tertinggi pada settlement tank 6 hari dengan nilai 48,21%; 75,27% dan 52,84 %. Pada alat fixed-bed coloumn up-flow secara kontinyu dengan waktu aerasi settlement tank 6 hari didapatkan persen penurunan turbidity yang tertinggi pada tinggi unggun pasir 20 cm sebesar 18,57%, sedangkan  persen penurunan TSS dan BOD yang paling tinggi pada tinggi unggun pasir 30 cm yaitu 41,46% dan 11,23%.Domestic waste water is one of the causes of water pollution. Domestic waste water has high levels of BOD, COD, TSS, Turbidity and pH. Therefore, it need futher processing so that the conditions is safe when discharged in river or lake. One of waste water treatment is combination of settlement tank and fixed-bed coloumn up-flow. This equipment is selected because the price is affordable, materials and equipment can be obtained, and easy to operate. The main purpose of this study is to decrease levels of turbidity, TSS and BOD. Decreased parameters are affected by time of seetlement tank, time of effluent contact and high of sand beds. Result of research on settelement tank aerob obtained highest percentage of turbidity, TSS and BOD decrease in 6 day settlement tank with value 48.21%, 75.27% and 52.84%. In a continuous fixed-bed coloumn up-flow with aeration time,  6-day in settlement tank, obtained the highest percentage of turbidity reduction at 20 cm sand bed height of 18.57%, while the highest percentage of TSS and BOD reduction in sand bed height was 30 cm is 41.46% and 11.23%.