Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengolahan Air Tanah di Kawasan Politeknik Negeri Bandung menjadi Air Minum dengan Metoda Ultrafiltrasi Emma Hermawati Muhari; Ayu Ratna Permanasari; Fitria Yulistiani
Jurnal Teknik Kimia dan Lingkungan Vol 2, No 2 (2018): October 2018
Publisher : Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.065 KB) | DOI: 10.33795/jtkl.v2i2.73

Abstract

Di Indonesia, khususnya di sekitar Politeknik Negeri Bandung, sebagian besar sumber air berasal dari air tanah. Air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung memiliki pH asam (< 6), coliform > 2.400, dan colitinja positif. Proses pemanasan air kurang efektif untuk mengolah air tanah karena memerlukan waktu yang relatif lama, energi besar, dan tidak dapat meningkatkan pH air agar memenuhi standar air minum sebagaimana tercantum dalam Permenkes Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010. Untuk mengolah air tanah di lingkungan Politeknik Negeri Bandung, telah dibuat alat pengolahan air minum portabel dengan menggunakan konsep aliran dead-end filtration. Membran yang dipakai merupakan membran hollow-fiber, berjenis membran ultrafiltrasi berbahan dasar PVDF (Poly Vinylidene Flouride), ukuran pori 0,1μm, panjang membran 15cm, jumlah membran sebanyak 148 buah, dan dapat dioperasikan pada daya isap normal manusia.  Permeat yang dihasilkan sesuai dengan standar PERMENKES No. 492/MENKES/PER/IV/2010 dari parameter fisika, kimia, dan biologi. Lifetime membran diamati melalui jumlah permeat yang dihasilkan dari awal pemakaian membran hingga membran tersebut rusak. Lifetime pada alat pengolah air minum portabel ini adalah 38,879 L. Pengolahan air tanah menggunakan alat ini  dapat menaikkan pH sebesar 12,78%, menurunkan konduktivitas sebesar 39,31%, dan menurunkan Total Dissolved Solid (TDS) 13,72%. Dari segi ekonomi, penggunaan alat ini dapat menghemat biaya 50% dibandingkan dengan pembelian air minum kemasan 600 ml.In Indonesia, especially around the Bandung State Polytechnic, most of the water sources come from ground water. Ground water in the Bandung State Polytechnic environment has acidic pH (<6), coliform> 2,400, and positive colitis. The process of water heating is less effective for treating ground water because it requires a relatively long time, large energy, and can not increase the pH of the water to meet drinking water standards as stated in Permenkes No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010. To treat ground water in the Bandung State Polytechnic, portable drinking water treatment equipment has been made using the concept of dead-end flow filtration. The membrane used is a hollow-fiber membrane, a type of ultrafiltration membrane made from PVDF (Poly Vinylidene Fluoride), pore size of 0.1μm, membrane length of 15cm, membrane number of 148 pieces, and can be operated on normal human suction. The permeate produced is in accordance with PERMENKES No. 492 / MENKES / PER / IV / 2010 from physical, chemical and biological parameters. Lifetime membranes are observed through the amount of permeate produced from the beginning of the use of the membrane until the membrane is damaged. Lifetime of this portable drinking water treatment device is 38,879 L. Ground water treatment using this tool can increase pH by 12.78%, decrease conductivity by 39.31%, and reduce Total Dissolved Solid (TDS) 13.72%. From an economic standpoint, the use of this tool can save 50% costs compared to the purchase of 600 ml of bottled water.
Tofu Wastewater Treatment by using Sequencing Batch Reactor (SBR) with Variation of Feeding Rates Herawati Budiastuti; Ririn Rismawati; Luthfiana Nurfauziah; Laily Isna Ramadhani; Emma Hermawati Muhari
Rekayasa Hijau : Jurnal Teknologi Ramah Lingkungan Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/jrh.v5i3.197-206

Abstract

ABSTRAKLimbah cair tahu dari industri tahu di Kabupaten Bandung Barat memiliki kandungan senyawa organik yang tinggi. Salah satu sistem pengolahan air limbah yang dapat dilakukan secara efektif adalah Sequencing Batch Reactor (SBR). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peforma terbaik SBR dalam meningkatkan efisiensi pengolahan limbah cair tahu. Pada penelitian ini dilakukan pembibitan (seeding), aklimatisasi, dan sistem SBR dengan tahapan variasi kecepatan pengumpanan. Kecepatan pengumpanan SBR pada saat pembibitan (seeding), aklimatisasi, dan running 1 sebesar 200 ml/hari dan sebesar 400 ml/hari pada saat running 2. Hasil penelitian ini memperoleh penurunan konsentrasi COD terbaik dari 8.000 mg/L menjadi 96 mg/L diperoleh pada running 1 dan penurunan konsentrasi COD dari 8.000 mg/L menjadi 160 mg/L diperoleh pada running 2. Efisiensi tertinggi yang dihasilkan adalah 98,8% pada running 1 dan 98% pada running 2.Kata kunci : Limbah cair tahu, Sequencing Batch Reactor (SBR), Kecepatan Pengumpanan ABSTRACTTofu wastewater collected from the tofu industries in West Bandung Regency has a high organic content. One of the wastewater treatment systems that can be applied effectively is the Sequencing Batch Reactor (SBR) system. The purpose of this study was to find out the best performance of SBR in improving the efficiency of tofu wastewater treatment. This study conducted seeding, acclimatization, and SBR system that varied the feeding rates to find optimum value. The SBR feeding rate at the times of seeding, acclimatization, and running 1 amounted to 200 ml/day and amounted to 400 ml/day at the time of running 2. The results of this study were the best reduction in COD concentration from 8,000 mg/L to 96 mg/L obtained in the first running and reduction in COD concentration from 8,000 mg/L to 160 mg/L obtained in 2nd running. The highest efficiency produced was 98.8% on the first running 1 and 98% obtained from the 2nd running.Keywords: Tofu Wastewater, Sequencing Batch Reactor (SBR), Feeding Rates