Swandari Paramita
Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman Samarinda

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

High parity and hormonal contraception use as risk factors for cervical cancer in East Kalimantan Paramita, Swandari; Soewarto, Soetomo; Widodo, M. Aris A.; Sumitro, Sutiman B.
Medical Journal of Indonesia Vol 19, No 4 (2010): November
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.845 KB) | DOI: 10.13181/mji.v19i4.414

Abstract

Aim: To find risk factors associated with cervical cancer.Methods: This a case-control study conducted in A.W. Sjahranie County General Hospital at Samarinda East Kalimantan from January until July 2009. There were 58 patients for each case and control group. Variables in this study were age, menarche, menopause, age of first marriage, parity, spouse’s smoking status, hormonal contraception use, type of hormonal contraception, duration of hormonal contraception, IUD (intra uterine device) contraception use and duration of IUD contraception.Results: final data analysis shows that parity and duration of hormonal contraception use increased the risk of cervical cancer. Women who had 5-12 children than 0-4 children had 2.6-folds increased risk to be cervical cancer. Compared to women never use of hormonal contraception, those who ever had hormonal contraception for 1-4 years and 5-25 years had two time and 4.5 times increased risk to be cervical cancer respectively.Conclusion: Cervical cancer screening recommended to be focused on high-risk groups, among others, women with the number of children born more than fi ve people or women in particular users of hormonal contraception methods with a range of use more than fi ve years. (Med J Indones 2010; 19:268-72)Keywords: Cervical cancer, hormonal contraception, menarche, parity
Polimorfisme Gen CYP1A1 (3801 T/C dan Ile462Val) pada Pasien Kanker Serviks Paramita, Swandari; Soewarto, Soetomo; Aris, Mohammad; Bambang, Sutiman
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 26, No 1 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.783 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2010.026.01.5

Abstract

ABSTRAKKanker serviks menempati peringkat pertama kanker di Indonesia dengan faktor risiko merokok, paritas tinggi dan penggunaan kontrasepsi hormonal. Sitokrom P450 1A1 (CYP1A1) memegang peran dalam metabolism karsinogen pada kanker servik yaitu Benzo[a]pyrene dan estrogen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi frekuensi dan distribusi polimosfisme gen CYP1A1 (3801 T/C and LLe462Val) pada kanker servik. Polimorfirme gen CYP1A1 dianalisis dengan menggunakan metode PCR-RFLP. Pada polimorfisme gen CYP1A1 (3801TC) ditemukan 36.1% dengan tipe wild-types T/T, 37.9% heterozigot T/C dan 25.9% homozigot C/C. Pada polimorfisme gen CYP1A1 (Ile 462Val) didapatkan 56.9% tipe wild-types Ile/Ile, 37.9% heterozigot Ile/Val dan 5.2% homozigot Val/Val. Gambaran polimorfisme tersebut sama dengan penelitian lain di Asia.Kata Kunci:  CYP1A1 gene polymorphisms, kanker servik
Pathological Q wave as an indicator of left ventricular ejection fraction in acute myocardial infarction Tiyantara, Muhammad S.; Furqon, Muhammad; Paramita, Swandari
Medical Journal of Indonesia Vol 25, No 2 (2016): June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (600.066 KB) | DOI: 10.13181/mji.v25i2.1274

Abstract

Background: Q-wave myocardial infarction (QMI) has higher mortality and lower myocardial viability than non-Q-wave myocardial infarction (NQMI), suggesting the existence of pathological Q waves reflects the worse ventricular function. The aim of the study is to determine difference in left ventricular ejection fraction (LVEF) between QMI and NQMI.Methods: The study design was cross-sectional analysis conducted in patients with AMI that were hospitalized and undergone echocardiography in Abdul Wahab Sjahranie County General Hospital Samarinda during February 2014 to March 2015. Standard 12-lead electrocardiograms (ECG) were recorded at presentation, 1 day and 2 days after the onset of AMI as well as using the classical criteria for pathological Q wave. LVEF assessment was performed using echocardiography after the second day since the onset of AMI. Independent-T test was used to determine difference in LVEF using PSPPIRE 0.8.4.Results: There were 34 subjects comprising 16 QMI patients and 18 NQMI patients.  QMI had a lower LVEF (42±13%) compared to NQMI (60±11%, p<0.001). The presence of pathological Q waves was associated with LVEF ≤40% (p=0.002).Conclusion: QMI had a lower LVEF than NQMI, provides information about the role of pathological Q wave as an indicator of LVEF.
Layanan Komplementer di Klinik Universitas Mulawarman pada Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus Ismail, Sjarif; Paramita, Swandari; Aminyoto, Meiliati; Kosala, Khemasili; Bakhtiar, Rahmat
Jurnal SOLMA Vol 7 No 2 (2018)
Publisher : Uhamka Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/solma.v7i2.2119

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK) telah dilaksanakan di Universitas Mulawarman dengan dibentuk Layanan Komplementer di Klinik Universitas Mulawarman. Tujuan kegiatan PPUPIK ini adalah diversifikasi usaha di Klinik Universitas Mulawarman untuk meningkatkan perolehan pendapatan secara mandiri dan bermanfaat untuk masyarakat, serta memberikan kesempatan dan pengalaman kerja kepada  mahasiswa dengan memberikan layanan komplementer di Klinik Universitas Mulawarman. Sebelum dibukanya layanan komplementer dilakukan analisis SWOT untuk mendapatkan gambaran keberhasilan, dan hasil analisis disimpulkan layak untuk dibuka. Layanan komplementer meliputi akupunktur (tusuk jarum) dan jamu (herbal), resmi dibuka tanggal 02 Mei 2018. Jumlah kunjungan sampai akhir bulan Agustus adalah 110 dan jumlah pasien yang berobat 47 orang dengan total pendapatan sebesar Rp. 3.777.900,-. Karakterisik pasien yang berobat perempuan (88,2%) dan pria (11,8%), sebagian besar berhubungan dengan kelainan muskuloskeletal diikuti obesitas, dan dispepsia, hampir semua menyukai jamu dan lebih dari 50% mendapat terapi jamu. Pada pasien yang kontrol ulang telah merasakan manfaat dari pengobatan komplementer yang didapatkan baik yang mendapat pengobatan jamu, akupunktur dan gabungan akupunktur dan jamu. Mahasiswa Fakultas Kedokteran juga telah dilibatkan untuk membantu pelayanan dalam hal pemeriksaan fisik tekanan darah. Luaran PPUPIK yang telah dicapai adalah jasa layanan komplementer di Universitas Mulawarman telah diterapkan dan menghasilkan pendapatan, publikasi di jurnal nasional (accepted) dan buku pedoman pengobatan herbal (draf), dua paten sederhana telah didaftarkan dan satu granted paten hasil mediasi.
OPTIMALISASI POS PEMBINAAN TERPADU PENYAKIT TIDAK MENULAR DI DESA LOA KUMBAR, KECAMATAN SUNGAI KUNJANG, KOTA SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Paramita, Swandari; Ismail, Sjarif; Nuryanto, M. Khairul; Putro, Trijono Patono
Jurnal Pengabdian Masyarakat Borneo Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : LPPM UBT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2888.991 KB) | DOI: 10.35334/jpmb.v3i1.792

Abstract

Masalah kesehatan masyarakat yang dihadapi saat ini adalah makin meningkatnya kasus PTM atau Penyakit Tidak Menular. PTM merupakan penyakit kronis, tidak ditularkan dari orang ke orang. PTM mempunyai durasi yang panjang dan umumnya berkembang lambat. PTM juga merupakan masalah utama di Samarinda, ibukota propinsi Kalimantan Timur. Walaupun berstatus ibukota propinsi, namun masih ada daerah yang terisolir selama puluhan tahun di Samarinda, yaitu Desa Loa Kumbar di Kecamatan Sungai Kunjang. Warga yang ingin menjangkau daerah lainnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, harus menggunakan jalur sungai. Salah satu strategi dalam meningkatkan pembangunan kesehatan adalah pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat. Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) PTM merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor risiko PTM utama yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Hasil program yang telah dilakukan adalah mitra dalam hal ini pihak Puskesmas telah memulai pembentukan Posbindu PTM melalui sosialisasi program, serta melakukan pelaporan ke Dinas Kesehatan Kota Samarinda terkait kegiatan Posbindu PTM. Luaran pengabdian masyarakat yang telah tercapai adalah telah mulai dilakukan penerapan iptek kepada masyarakat, terutama penggunaan alat kesehatan untuk skrining faktor risiko penyakit tidak menular, khususnya tekanan darah tinggi dan kencing manis.
GAMBARAN KARAKTERISTIK IBU PENDERITA HIV/AIDS YANG MELAHIRKAN BAYI DI RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE SAMARINDA Sholihatuz Zahro, Abidah; Pasaribu, Marihot; Paramita, Swandari; Sinaga, Tumpak; Yasir, Yadi
Jurnal Kebidanan Mutiara Mahakam Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mutiara Mahakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1732.531 KB)

Abstract

Penelitian mengenai " Gambaran Karakteristik Ibu Penderita HIV/AIDS yang Melahirkan Bayi di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda", telah dilakukan untuk periode Desember 2015 sampai dengan Maret 2016. Penelitian ini dilakukan secara deskriptif terhadap ibu penderita HIV/AIDS yang melahirkan bayi. Penelitian bertujuan mengetahui usia, asal kabupaten/kota, pekerjaan, risiko tinggi, pengobatan ARV, terjadinya AIDS dan status bayi dari penderita HIV/AIDS di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan usia terbanyak ibu penderita HIV/AIDS yang melahirkan bayi terdapat pada rentang usia 30-34 tahun, Asal kabupaten/kota terbanyak berasal dari Samarinda, pekerjaan terbanyak adalah ibu rumah tangga, risiko tinggi terbanyak adalah pasangan risti. Pederita lebih banyak yang sudah mendapatkan pengobatan ARV dan belum masuk ke tahap AIDS, status bayi terbanyak adalah belum diperiksa.