Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Pengembangan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan perspektif kosmopolitanisme Halimah, Lili
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.237 KB) | DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9749

Abstract

Tulisan ini mengajukan masalah utama seberapa besar dampak kosmopolitanisme dalam terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Riset ini menggunakan perspektif studi kosmopolitanisme yang didukung perspektif teori situasional dan teori relasional. Lokasi penelitian tersebar di Kota Cimahi Jawa Barat. Populasi penelitian berjumlah 20.702 orang dan sampel penelitian berjumlah 400 peserta didik.  Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey cross-sectional. Data diambil melalui kuesioner dan uji kompetensi, dianalisis dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kosmopolitanisme terhadap pendidikan kewarganegaraan memiliki angka yang cukup signifikan (dengan R2 = 0,6971 atau 69,71%). Karena itu, perlu adanya proses harmonisasi kosmopolitanisme bagi siswa-siswi sekolah menengah dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kosmopolitanisme memiliki efek lebih tinggi terhadap pendidikan kewarganegaraan (31,44%). Kosmopolitanisme yang dipelajari dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan memiliki efek pada siswa-siswi sekolah menengah di Cimahi, sebesar 13,42%. Kosmopolitanisme menjadi faktor krusial dalam mengembangkan kualitas pembelajaran pendidikan kewarga-negaraan di tengah proses globalisasi. Hal ini memberikan implikasi bahwa pemerintah perlu meninjau kembali kurikulum pendidikan kewarganegaraan, agar siswa tidak terpengaruh budaya global yang negatif dan pola pikir yang dapat mencabut nilai-nilai keindonesiaan.
Eksistensi budaya erturtur atau tradisi santun bertegur sapa pada Komunitas Persadaan Batak Karo Kota cimahi Lili Halimah; Heni Heryani; Mada Kencana Barus
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 4, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/citizenship.v4i2.21587

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk menganalisis budaya ertutur atau suatu tradisi bertegur sapa adat Batak Karo yang semakin hari semakin mulai ditinggalkan para generasi mudanya. Mereka umumnya tidak mengenal kembali silsilah atau keturunan terdahulunya. Di Kota Cimahi sendiri sebagian besar di Komunitas Batak Karo sebagian besar tidak mengenal budaya erturtur. Metode penelitan yamh digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara kepada anggota Komunitas Batak Karo. Hasil penelitian meunjukkan bahwa budaya erturtur sudah mulai dipahami oleh komunitas tersebut. Hal ini menjadi tugas para tokoh adat, para pemimpin keagaan untuk membumikan kembali budaya erturtur di kalangan generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.
Refleksi terhadap kewarganegaraan ekologis dan tanggung jawab warga negara melalui program ecovillage Lili Halimah; Siti Fauziah Nurul
Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan Vol 17, No 2 (2020): Budaya, Kewarganegaraan, Politik, dan Pendidikan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jc.v17i2.28465

Abstract

Penelitian ini mengangkat permasalahan Sungai Citarum yang keadaannya sangat memprihatinkan walaupun pemerintah daerah telah berupaya menanganinya dengan berbagai program dan dengan biaya yang sangat besar.  Ecological citizenship merupakan gerakan sebagai upaya mengubah perilaku masyarakat agar sadar lingkungan. Civic responsibility adalah kesadaran akan hak dan kewajiban sebagai warga negara yang bertanggung jawab. Tujuan penelitian adalah menganalisis program agar dapat mengubah mindset masyarakat mempunyai kesadaran untuk mencintai lingkungan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi, dan wawancara. Hasil penelitian masyarakat masih belum memiliki kesadaran untuk membantu program pemerintah daerah, hal ini disebabkan karena faktor pendidikan, status sosial dan ekonomi. Cara yang tepat untuk mempromosikan ecological citizenship dan civic responsibility adalah edukasi tingkat sekolah menengah untuk menghindari krisis lingkungan, ekonomi, dan budaya di masa depan dengan menambahkan Kurikulum Kewarganegaraan. Komunikasi aktif dari pemerintah daerah kepada masyarakat terbangun kesadaran untuk ikut membangun lingkungan. ABSTRACTThis research about the Citarum River problem is in deplorable condition even though the local government has tried to solve it with various programs and at a very high cost. Ecological citizenship is a movement to change people's behavior so that they are environmentally aware. Civic responsibility is an awareness of the rights and obligations of the citizen. The research objective is to analyze the program to change the mindset of having the awareness to love the environment. The research method used a qualitative approach with observation and interviews. The results of the community research still do not have the awareness to help local government programs. It is due to factors of education, social, and economic status. An appropriate way to promote ecological citizenship and civic responsibility is secondary school level education to avoid future environmental, economic, and cultural crises by adding a citizenship curriculum in school. Citizen awareness can build from a good partnership between government and society
Eksistensi Budaya Ekturtur atau Tradisi Santun Bertegur Sapa pada Komunitas Persadaan Batak Karo Kota Cimahi Lili Halimah; Heni Heryani; Mada Kencana Barus
PKn Progresif: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Kewarganegaraan Vol 16, No 1 (2021): Jurnal PKn Progresif Volume 16 Nomor 1 Juni 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan FKIP Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/pknp.v16i1.56835

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis untuk menganalisis budaya ertutur atau suatu tradisi bertegur sapa adat Batak Karo yang semakin hari semakin mulai ditinggalkan para generasi mudanya. Mereka umumnya tidak mengenal kembali silsilah atau keturunan terdahulunya. Di Kota Cimahi sendiri sebagian besar di Komunitas Batak Karo sebagian besar tidak mengenal budaya erturtur. Metode penelitan yamh digunakan adalah kualitatif dengan teknik wawancara kepada anggota Komunitas Batak Karo. Hasil penelitian meunjukkan bahwa budaya erturtur sudah mulai dipahami oleh komunitas tersebut. Hal ini menjadi tugas para tokoh adat, para pemimpin keagaan untuk membumikan kembali budaya erturtur di kalangan generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.Kata Kunci : Budaya, Erturtur, dan Komunitas Persadaan, Batak Karo
The Improvement of Civic Virtue through Civic Education in Higher Education in Forming Young Generation Communication Patterns Lili Halimah; Yayuk Hidayah; Nufikha Ulfah; Risti Aulia Ulfah
Edunesia: Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : research, training and philanthropy institution Natural Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.33 KB) | DOI: 10.51276/edu.v2i2.155

Abstract

This study purposed to describe the communication pattern of students at the University of Ahmad Dahlan Yogyakarta and described Civic Virtue implementation through civic education in higher education in terms of forming young generation communication patterns. This study employed a qualitative descriptive method. The subject of the study was five lecturers of civic education. Data were collected through interviews, observation, documentation, and focus group discussion (FGD). The data were analyzed by using Miles and Huberman’s principles as data reduction, data display, and stating the conclusion. The result of the research showed that the students’ pattern of communication at higher education was influenced by some factors were environment and knowledge factor. The fostering of Civic Virtue through civic education in higher education in forming young generation communication pattern has existed in the process of Civic Virtue fostering that involves democratic values, self-control, and prioritizing plurality interest. The Civic Virtue in the category civic disposition involves responsibility, self-discipline, human rights respect, willingness to hear, negotiating, and compromising. Besides, the Civic Virtue in the category of civic commitment involves a commitment to the implementation of democratic citizenship rights, responsibility for democratic citizenship, constitutionalism, and tendency to participate politically
The Influence Of Honesty Cantine On Improvement Student Understanding About Anti-Corruption Values At SMPN 2 Cipunagara Subang Arnie Fajar; Sopii Sopii; Lili Halimah
JED (Jurnal Etika Demokrasi) Vol 7, No 1 (2022): JED (Jurnal Etika Demokrasi)
Publisher : Universitas of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jed.v7i1.6738

Abstract

The word corruption is covered almost every day by the mass media and has become a topic of discussion in various circles of society. Corruption is an extraordinary crime because it can affect the community, and in the long run, it is more dangerous for the younger generation's behavior. If conditions like that are allowed, the country's future will be very bleak. Therefore, it is necessary to instill anti-corruption values through education to internalize anti-corruption values in various ways, one of which is through the application of an honesty canteen. The purpose of this study was to determine the effect of the honesty canteen in increasing students' understanding of anti-corruption values at SMPN 2 Cipunagara. The method used is quantitative with descriptive verification method. The population is 391 students with a sample of 78 students. The approach used is quantitative with a descriptive verification method.Data collection techniques through questionnaires, interviews, observation, and document analysis. Data analysis relies on statistical tests of questionnaire results which are supported by interviews, observations, and document analysis. The results showed that the honesty canteen development model had a significant effect on the culture of anti-corruption values. This is evidenced by finding a correlation coefficient (r) of 0895 which means that the degree of relationship between variable X, namely honesty canteen, is very close and even perfectly related to variable Y, namely understanding anti-corruption values. The magnitude of the significance in the regression analysis is 0.174 0.05. The t value is 17.463 t table 00003289 so it can be concluded that H1 is accepted, that is, there is an effect of X on Y. And the R-square value of 0.800 in the analysis of the coefficient of determination, which means the effect of X on Y is seen as 80 ,0%. This shows that the existence of honesty canteen activities in schools has a very positive impact on students' understanding of anti-corruption values.Kata korupsi hampir setiap hari diliput oleh media massa dan menjadi perbincangan di beragai kalangan masyarakat. Korupsi merupakan kejahatan yang tidak biasa (ekstra ordinary crime) karena dapat menimpa masyarakat dan  dalam jangka panjang lebih membahayakan perilaku generasi muda. Jika kondisi seperti itu dibiarkan masa depan suatu negara akan sangat suram. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah-langkah menanamkan nilai-nilai antikorupsi melalui pendidikan untuk menginternalisasikan nilai-nilai antikorupsi dengan berbagai cara salah satunya melalui penerapan kantin kejujuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kantin kejujuran dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai-nilai antikorupsi di SMPN 2 Cipunagara. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode deskriptif verifikatif. Populasi adalah 391 siswa dengan sampel 78 siswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode deskriptif verifikatif. Teknik pengumpulan data melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan analisis dokumen.  Analisa data bertumpu kepada uji statistika hasil kuesioner yang didukung hasil wawancara, observasi, dan analisa dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model pengembangan kantin kejujuran berpengaruh signifikan terhadap budaya nilai-nilai anti korupsi. Hal ini diuktikan dengan ditemukannya koefisien korelasi (r) sebesar 0895 yang berarti bahwa derajat hubungan antara variael X yaitu kantin kejujuran sangat erat bahkan berhubungan  sempurna dengan variael Y yaitu pemahaman anti- nilai korupsi. Besarnya signifikansi dalam analisis regresi adalah  0,174 0,05  dan nilai t hitung 17.463 t tabel 00003289 sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima yaitu terdapat pengaruh X terhadap Y. Dan nilai Rsquare sebesar 0.800 pada analisis koefisien determinasi yang berarti pengaruh X terhadap Y seesar 80,0%. Hal ini menunjukkanb bahwa adanya kegiatan kantin kejujuran di sekolah berdampak sangat  positif terhadap  pemahaman siswa terhadap nilai-nilai antikorupsi.
THE UTILIZATION OF ARTIFICIAL INTELLIGENCE COMPONENTS IN TECHNOLOGY ERA’S LEARNING Lili Halimah; Arnie Fajar; Yayuk Hidayah; Anis Suryaningsih
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 2 No. 2 (2021): Volume 2 Nomor 2 Tahun 2021
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37478/jpm.v2i2.925

Abstract

This study was to analyze the importance of component utilization of Artificial Intelligence (AI) in learning. This study was acknowledged by the results of a survey to the secondary school education teachers in the Subject Teachers' Association (MGMP) for Citizenship Education field in Cimahi as many as 42 schools and 146 teachers through the Google Form application and 104 teachers responded according to the Krejcie and Morgan tables. The method used in this research was descriptive survey. Based on the survey results, the main findings in this survey were not very encouraging, because most teachers in the learning process were not always even inclined. They sometimes never used technological media, social networks, use current issues, and assigned learning material widely and in depth. Further research on teachers must be able to master technological assiatance in to make the Citizenship Education was more crucial and urgent for students. On the other hand, students must be able to utilize social media in the daily lives. The school should also provide internet access for the continuation of the learning process. Thus, the government must be able to provide internet access for schools in remote areas, so that technology-based learning is no longer a barrier for teachers and students
Pengembangan pembelajaran pendidikan kewarganegaraan perspektif kosmopolitanisme Lili Halimah
Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol 1, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.237 KB) | DOI: 10.12928/citizenship.v1i1.9749

Abstract

Tulisan ini mengajukan masalah utama seberapa besar dampak kosmopolitanisme dalam terhadap pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Riset ini menggunakan perspektif studi kosmopolitanisme yang didukung perspektif teori situasional dan teori relasional. Lokasi penelitian tersebar di Kota Cimahi Jawa Barat. Populasi penelitian berjumlah 20.702 orang dan sampel penelitian berjumlah 400 peserta didik.  Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan metode survey cross-sectional. Data diambil melalui kuesioner dan uji kompetensi, dianalisis dengan menggunakan analisis Structural Equation Modeling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak kosmopolitanisme terhadap pendidikan kewarganegaraan memiliki angka yang cukup signifikan (dengan R2 = 0,6971 atau 69,71%). Karena itu, perlu adanya proses harmonisasi kosmopolitanisme bagi siswa-siswi sekolah menengah dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Kosmopolitanisme memiliki efek lebih tinggi terhadap pendidikan kewarganegaraan (31,44%). Kosmopolitanisme yang dipelajari dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan memiliki efek pada siswa-siswi sekolah menengah di Cimahi, sebesar 13,42%. Kosmopolitanisme menjadi faktor krusial dalam mengembangkan kualitas pembelajaran pendidikan kewarga-negaraan di tengah proses globalisasi. Hal ini memberikan implikasi bahwa pemerintah perlu meninjau kembali kurikulum pendidikan kewarganegaraan, agar siswa tidak terpengaruh budaya global yang negatif dan pola pikir yang dapat mencabut nilai-nilai keindonesiaan.
Penguatan Nilai-Nilai Ketahanan Nasional Di Sekolah Melalui Pendidikan Kewarganegaraan (Studi Di SMK Pusdikhubad Kota Cimahi, Jawa Barat) Lili Halimah; Anis Suryaningsih Suryaningsih; Yayuk Hidayah; Risti Aulia Ulfah
Jurnal Ketahanan Nasional Vol 27, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkn.64022

Abstract

ABSTRACT             The idea of the strengthening of citizenship values came with implications on the perspective of realizing national resilience in the school. The purpose of this study was to analyzed the strengthening of citizenship values to realized national resilience in the School environment.                 This research used a qualitative approach with a case study design. Data collection used interview, observation and documentation techniques. Data analysis used interactive analysis consisting of data reduction, data presentation and data verification.                 The results showed that strengthening the values of citizenship to realized national resilience in the school environment was through three ways, namely: 1) learning innovative citizenship education, 2) internationalizing the values of national resilience in the school environment by habituation and 3) the existence of extracurricular activities which was a discussion forum for students to deepened the values of national resilience in the school environment. Citizenship values were important for students because they would form a person who had a national spirit, loves the motherland and had an identity as an Indonesian nation.         ABSTRAK Gagasan penguatan  nilai-nilai kewarganegaraan hadir dengan implikasi pada perspektif  mewujudkan ketahanan nasional pada lingkungan sekolah. Tujuan penelitian ini menganalisis penguatan nilai-nilai kewarganegaraan dalam mewujudkan ketahanan nasional pada lingkungan sekolah.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan disain studi kasus. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Analsisi data menggunakan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan nilai-nilai kewarganegaraan untuk   mewujudkan ketahanan nasional pada lingkungan sekolah dilakukan melalui tiga cara, yaitu: 1) pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang inovatif, 2) internasliasi nilai-nilai ketahanan nasional pada lingkungan sekolah dengan pembiasaan dan 3) adanya aktivitas ekstra kurikuler yang menjadi forum diskusi bagi siswa dalam memperdalam nilai-nilai ketahanan nasional pada lingkungan sekolah. Nilai-nilai kewarganegaraan penting bagi siswa karena akan membentuk pribadi yang memiliki jiwa nasioalisme, cinta tanah air dan memiliki identitas sebagai bangsa Indonesia.    
Internalisasi nilai pendidikan kewarganegaraan pada tradisi pesta laut blanakan dalam rangka pengembangan ideal democratic citizen Lili Halimah; Anisah Anisah
Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan Vol 15, No 2 (2018): Pembelajaran, Hukum, dan Kewarganegaraan
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.494 KB) | DOI: 10.21831/jc.v15i2.21641

Abstract

Pendidikan memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia, dan diharapkan dapat menciptakan manusia yang berkualitas. Pendidikan Kewarganegaraan memiliki tiga kompetensi yang dapat  membentuk “the ideal democratic citizen” yakni kompetensi civic knowledge, civic skills, dan  civic disposition. Pembelajaran PPKn mengaitkan antara teori dengan praktek nyata di lapangan, dan berhubungan dengan nilai-nilai budaya yang beragam dan majemuk. Faktor yang mempengaruhi nilai budaya lokal dalam melestarikan kebudayaan melalui  upacara adat pesta laut Blanakan Kabupaten  Subang Jawa Barat yang dilakukan setahun sekali  guna  menghormati leluhurmya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian (a) Masyarakat nelayan memunculkan civic knowledge yang diarahkan oleh para tokoh, sehingga memiliki kesadaran untuk melestarikan nilai-nilai kebudayaan, yang mampu mengeksplorasi dan memanfaatkan potensi alam daerah, (b) Nilai-nilai dalam pesta laut, selalu memerlukan civic skill yang cakap dalam mengorganisasikan kegiatan, semua ini diperlukan partipatory skill, dan (c) Membentuk karakter masyarakat nelayan pada pesta laut, dengan cara memberi tahu dan mengajarkan hal-hal yang baik oleh para tokoh budaya. Dengan demikian perlu ditanamkan the ideal democratic citizen untuk meningkatkan kecintaan pada  nilai budaya lokal, dan tidak terpengaruh oleh budaya asing.----------------------------------------------------------- Internalization the value of citizenship education in the traditional sea party tradition (Pesta Laut Blanakan)  in order to develop the ideal democratic citizenEducation has an important role in human life and is expected to create quality human beings. Citizenship Education has three competencies that can form the ideal democratic citizen, namely civic knowledge, civic skills, and civic disposition competencies. PPKn learning links theory with real practice in the field, and deals with diverse and pluralistic cultural values. Factors that influence the value of local culture in preserving culture through the Blanakan Subang regency West Java regency traditional ceremony which is conducted annually to honor its ancestors. This study uses a qualitative approach. Research results (a) The fishing community raises civic knowledge directed by leaders, so that they have an awareness to preserve cultural values, which are able to explore and utilize the natural potential of the region, (b) Values in sea party, it always requires civic skills that competent in organizing activities, all of this requires participatory skills, and (c) forming the character of fishing communities at sea party, by telling and teaching good things by cultural leaders. Thus it is necessary to instill the ideal democratic citizen to increase the love of local cultural values, and not be influenced by foreign cultures.