Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BUAH NAGA (Dragon Fruit) SEBAGAI PEWARNA ALAMI TERHADAP MUTU FISIK MI SAGU BASAH Adnan Engelen
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 7 No 1 (2019): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.077 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v7i1.323

Abstract

Tujuan dari penelitian adalah mengetahui kombinasi terbaik pada pembuatan mi sagu basah dengan penambahan ekstrak buah naga. Metode analisis data yang digunakan yaitu metode RAL (rancang acak lengkap), Parameter yang diamati yaitu warna, kadar air, profil tekstur (kelengketan dan kekerasan) dan uji organleptik. Berdasarkan hasil penelitian, warna mi sagu dengan ekstrak buah naga menunjukkan nilai rata-rata yang tertinggi pada perlakuan A yaitu 332,50, perlakuan B yaitu 331,74, dan perlakuan C yaitu 329,20. Nilai kadar air terendah terdapat pada perlakuan A yaitu 49,09% sedangkan pada perlakuan B yaitu 50,89% dan perlakuan C yaitu 51,41%. Tingkat kekerasan pada perlakuan A menunjukkan nilai rata-rata yang tertinggi yaitu 3839 sedangkan perlakuan B yaitu 3040, perlakuan C yaitu 2286. Nilai kelengketan pada perlakuan B yaitu 4,6 sedangkan perlakuan A yaitu 4,58 dan nilai kelengketan terendah pada perlakuan C yaitu 3,98. Adapun hasil uji organoleptik terbaik pada mi sagu basah adalah perlakuan C dengan nilai aroma rata-rata 4,4, parameter rasa nilai rata-rata 4,8, parameter tekstur nilai rata-rata 4,9, parameter warna nilai rata-rata 5,13.
KARAKTERISTIK MI SAGU (Metroxylon sagu) KERING DENGAN PENAMBAHAN SARI KUNYIT (Curcuma domestica) SEBAGAI PEWARNA ALAMI Adnan Engelen; Nurhafnita Nurhafnita
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 6 No 2 (2018): JURNAL TECHNOPRENEUR (November)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.09 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v6i2.194

Abstract

Sagu merupakan salah satu komoditi pangan Indonesia yang dapat diandalkan untuk mengurangi kebergantungan terhadap gandum sebagai bahan baku impor. Salah satu strategi yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan produksi sagu adalah dengan pemanfaatan sagu. Salah satu olahan sagu adalah mi sagu. Mi sagu dibuat dari bahan pati sagu. Mi sagu yang diproduksi di masyarakat masih memiliki warna yang gelap, sehingga perlu pengembangan mi sagu agar memiliki nilai mutu fisik yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan ekstrak kunyit sebagai pewarna alami pada pembuatan mi sagu. Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Gorontalo. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan; 1) penentuan konsentrasi perbandingan antara pati sagu tergelatinisasi (binder) dan pati sagu, 2) penentuan konsentrasi ekstrak kunyit, dan 3). Pengeringan mi sagu. Parameter yang akan diuji adalah analisis kadar air mi sagu, analisis cooking loss, analisis warna, analisis kekerasan dan kelengketan. Konsentrasi perbandingan binder dan pati sagu adalah 20% binder dari berat pati (200g) berbanding 150 mL air. Konsentrasi perbandingan terbaik antara kunyit dengan air yang digunakan adalah 1,5 g kunyit berbanding 15 mL air. Pengeringan mi sagu yang digunakan adalah suhu 100°C dengan lama pengeringan 120 menit. Adapun parameter yang didapatkana adalah nilai kadar air 13, 86%, cooking loss 29,83%, kekerasan 310,46 gf, kelengketan -27,56 gf dan nilai derajat hue 83,64.
VARIASI BINDER PATI SAGU DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KUNYIT (Curcuma domestica) PADA PEMBUATAN MI SAGU (Metroxylon sagu) KERING Adnan Engelen; Nurhafnita Nurhafnita
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 7 No 2 (2019): JURNAL TECHNOPRENEUR (November)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.787 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v7i2.384

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi binder pati sagu dengan penambahan ekstrak kunyit pada pembuatan mi sagu kering. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Gorontalo. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan; 1) penentuan konsentrasi binder pati sagu tergelatinisasi, 2) penentuan konsentrasi ekstrak kunyit, 3) dan penentuan pengeringan terbaik mi sagu kering. Parameter yang akan diuji adalah analisis kadar air, cooking loss, analisis warna, analisis kekerasan dan kelengketan (menggunakan Texture Analyzer), analisis sensori dengan uji rating hedonic serta analisis aktivitas antioksidan metode DPPH. Konsentrasi perbandingan binder dan pati sagu adalah 20% binder dari berat pati (200g) berbanding 150 mL air. Konsentrasi perbandingan terbaik antara kunyit dengan air yang digunakan adalah 1,5 g kunyit berbanding 15 mL air. Kadar air target (10%) dapat dicapai pada suhu 60°C, 70°C, dan 80°C dengan lama pengeringan 163 menit, 155 menit, dan 142 menit. Nilai parameter organoleptik tertinggi adalah pada suhu suhu 70°C dengan lama pengeringan 150 menit. Nilai cooking loss pada produk mi sagu kering yang memenuhi syarat mutu 1 (suhu 70°C dan 80°C dengan lama pengeringan 180 menit) adalah 8,23% dan 13,30%. Adapun kisaran nilai °hue adalah 84,63-91,35. Adapun nilai kekerasan 6502,25 gf, kelengketan -3068 gf, dan nilai IC50 yang terendah adalah 12,22.
KARAKTERISTIK MI KERING SINGKONG (MANIHOT ESCULENTA) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK KULIT BUAH NAGA (HYLOCAREUS COSTARICENSIS) SEBAGAI PEWARNA ALAMI Adnan Engelen; Desi Arisanti; Kadek Sugiarta
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 8 No 1 (2020): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.171 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v8i1.530

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap mi kering singkong ekstrak kulit buah naga merah dan mengetahui beberapa sifat fisik (dan kimia) mi kering. Proses pembuatan mi kering singkong meliputi persiapan bahan, pencampuran masing-masing perlakuan, pemipihan dan pembentukan lembaran mi, pengukusan, dan pengeringan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 3 faktor perlakuan yaitu perlakuan P1 (pati singkong 80% dan tepung singkong 20%), perlakuan P2 (pati singkong 70% dan tepung singkong 30%) perlakuan P3 (pati singkong 60% dan tepung singkong 40%) dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat formulasi yang terbaik antara konsentrasi pati singkong dan tepung tapioka ekstrak kulit buah naga merah terhadap tingkat kesukaan panelis adalah perlakuan P1 (pati singkong 80% dan tepung singkong 20%) sebesar 5,20%. Adapun hasil analisis sifat fisik dan kimia mi kering pada perlakuan P1 yaitu: kadar air 6,63%, kadar abu 1,75% dan tekstur 1.320,50 gf. Berdasarkan hasil analisa yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa mi kering berbahan pati singkong dan tepung tapioka ekstrak kulit buah naga merah berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar abu, nilai tekstur (kekerasan) tapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai warna. Adapun kisaran nilai kadar air dan kadar abu berturut-turut adalah 6,63-7,34% dan 1,75-1,86%.
MAKING DRY NOODLES MADE FROM CASSAVA FLOUR (MANIHOT ESCULENTA CRANTZ) AND CASSAVA STARCH Adnan Engelen; Rahmat A Rahman; Arif Murtaqi Akhmad Mutsyahidan
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 8 No 2 (2020): JURNAL TECHNOPRENEUR (November)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v8i2.616

Abstract

This study aimed to determine the best formulation of dry noodle making from cassava flour and cassava starch and to see the physical and chemical properties of dry noodles. This study used a completely randomized design (CRD) and LSD test if there was a significant effect. The tests carried out included organoleptic tests, air content analysis, ash content analysis, color analysis and texture analysis. The results showed that the best formulation of dry noodles was a composition of 120 grams of cassava flour and 80 grams of cassava starch (M1) with a moisture content value of 9.81%, an ash content analysis of 8,7%, a color analysis of 22,1% and a texture analysis. 117,27% and had a savory taste, the aroma was not too strong and the color was a bit pale yellow.
OPTIMASI PROSES DAN FORMULA PADA KARAKTERISTIK KELENGKETAN MI SAGU Adnan Engelen
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 3 No 1 (2015): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.693 KB) | DOI: 10.30869/jtech.v3i1.29

Abstract

Untuk menghasilkan mi sagu dengan karakteristik kelengketan yang mempunyai nilai minimum. Mi sagu dihasilkan melalui optimasi proses menggunakan twin screw extruder dan penambahan glycerol monostearate (GMS) serta isolated soybean protein (ISP). Optimasi proses dilakukan menggunakan response surface methodology (RSM) dengan tiga variabel proses yaitu suhu ekstruder (65-80oC), konsentrasi GMS (0-5%), dan ISP (0-10%). Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan yaitu 1) penetapan kisaran variabel proses dan formula, 2) optimasi proses dan formula, 3) verifikasi hasil optimasi, Kondisi proses optimum diperoleh pada suhu 80oC, GMS (4.5%), dan ISP (3,7%). Kondisi optimum menghasilkan mi yang memiliki kelengketan 235.10 gf.
Standar Prosedur Operasional (SPO) pada proses produksi pengolahan rumput laut menjadi tepung di PT Bantimurung Indah Kabupaten Maros Adnan Engelen
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 1 No 01 (2017): Journal of Agritech Science (JASc) - Mei
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.77 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v1i01.5

Abstract

Standard Procedure Operational (SOP) is organizational activator mechanism can walk effectively and efficient. This research aim to to get and apply obtained SOP in each step process processing of sea grass become flour. Beautiful PT Bantimurung of Sub-Province of Maros. Not yet been known by process step him able to bother applying of SOP, like if natural water rate of degradation and at drier process do not get rate irrigate 13% because influenced by season and climate. Hence needed by research with aim to study process processing of grass go out to sea so that can apply standard standard and written able to be used in course of processing of sea grass become flour so that get procedure or decision of activity to making of sea grass flour semi of carragenan refined good so that obtain, get result matching with consumer appetite. If SOP do not be applied by hence will incidence of less good best quality to product as well as the happening of variation quality of inexistence effect applying of SOP. Method used at this research is field survey, making of kusioner, interview,processing and presentation of data. From this research have got SOP processing of sea grass become flour at steps like wash, poaching, amputation, draining, flour and sortasi is so that got by quality of processing result by kontinu.
KARAKTERISTIK BUBUR BAYI INSTAN BERBAHAN DASAR TEPUNG BERAS MERAH DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA LAM) Nilmawati Husain; rosdiani Azis; Adnan Engelen
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 4 No 1 (2020): Journal of Agritech Science (JASc) - Mei
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.406 KB) | DOI: 10.30869/jasc.v4i1.558

Abstract

cooking process is not required. At the age of 6 months, babies need complementary foods for ASI (MP-ASI). Generally, instant baby porridge circulating in Indonesia is made with the main ingredients of white rice and brown rice, which are known as the main staples. In this study the researchers wanted to experiment with adding brown rice and Moringa leaf extract. This study aims to determine the level of preference for instant baby porridge with a combination of red rice flour with the addition of Moringa leaf extract, to determine the content of some chemical properties in instant porridge. The method used in this thesis is a method of testing organoleptic tests, water content tests, ash content tests, viscosity, and absorbency tests. The data needed is then tested using the RAL method and continued with the LSD test if there is a real effect. The stages in this final project include conducting a literature study, data collection, and analysis. The testing technique used is organoleptic test, water content test, ash content test, viscosity test, and absorbency test. The results showed that the organoleptic test results had a preference level resulting from three treatments of instant baby porridge made from red rice flour and moringa leaf extract as a whole were on a scale of 5.61-6.92 or in the usual up to very high level. And instant baby porridge that is favored by panelists or the public is A1 treatment of instant baby porridge made from red rice flour with the addition of Moringa leaf extract. Whereas in the chemical properties test, the best treatment is A3 treatment with 300 gr red rice flour substitution with the addition of 90 ml Moringa leaf extract
PEMBUATAN SELAI BERBAHAN DASAR PEPAYA SUPER THAILAND (Carica papaya L .) Iskandar Lumula; Adnan Engelen; Nurhafnita Nurhafnita
Journal Of Agritech Science (JASc) Vol 5 No 02 (2021): Journal of Agritech Science (JASc)
Publisher : Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jasc.v5i02.794

Abstract

Tujuan dari penelitian yakni melakukan analisis kimia dan organoleptik terhadap selai berbahan dasar pepaya jenis super Thailand. Adapun metode yang digunakan pada tugas akhir ini adalah metode pengujian terhadap tingkat kesukaan uji organoleptik, kadar air, kadar serat dan kadar gula. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa tingkat kesukaan panelis pada uji organoleptik yaitu warna, aroma, rasa, dan tekstur sudah memenuhi standar SNI. Hasil kandungan kimia pada kadar air yaitu A1 (25,66%), A2 (24,55%), dan A3 (11,34). Kadar serat A1 9,38%, A2 9,6 % dan A3 8,52%. Kadar gula A1 14,6%, A2 14,1% dan A3 14,7%.
PHYSICAL AND CHEMICAL QUALITY CHARACTERISTICS OF CORN TORTILLAS WITH SUBSTITUTE PURPLE SWEET POTATO FLOUR Nurfitrianti Bulotio; Adnan Engelen; Nursia Lateka
Jurnal Technopreneur (JTech) Vol 9 No 1 (2021): JURNAL TECHNOPRENEUR (Mei)
Publisher : UPPM Politeknik Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30869/jtech.v9i1.721

Abstract

This study aimed to test the physical and chemical quality characteristics of corn tortillas with substitute purple sweet potato flour. This study used a completely randomized design (CRD) and LSD test if there was a significant effect. The tests carried out included organoleptic tests, air content analysis, ash content analysis, color analysis and texture analysis. The results showed that the best formulation of tortillas chips was a P4 treatment with the addition of 75% purple sweet potato flour: 25% corn, with a texture value of 4.267, taste 4.75 and aroma 4.56 and for the best color treatment found in the addition of P3 had a value of 4.31. The best treatment in the chemical analysis is the P4 treatment had a color value of -10.93, moisture content of 8.94 and ash content of 2.57. For texture analysis test the highest treatment was P2 treatment with the addition of 25% purple sweet potato flour: 75% corn with a value of 1139.15.