Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Antibiotik terhadap Kasus Stevens Johnson Syndrome Reva Dwi Yanty; Rasmi Zakiah Oktarlina
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 3 No 2 (2018): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.127 KB)

Abstract

Antibiotik memiliki kemampuan untuk melukai atau membunuh mikroorganisme penginvasi tanpa melukai sel inangnya. Penggunaan obat antibiotik haruslah digunakan secara rasional meliputi tepat dalam hal indikasi, tepat pasien, tepat dosis, tepat obat dan tepat cara dan lama penggunaan. World Health Organization (WHO) menerima laporan bahwa masih terdapat penggunaan obat yang tidak rasional. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dan tidak tepat dosis, dapat menggagalkan terapi pengobatan yang sedang dilakukan. Efek dari interaksi yang dapat terjadi cukup beragam, hipersensitivitas dan toksisitas termasuk dalam efek samping antibiotik secara langsung. Hipersensitivitas yang dimediasi kompleks imun yang disebabkan oleh obat-obatan biasanya menimbulkan kelainan Stevens Johnson Syndrome. Stevens Johnson Syndrome (SJS) merupakan kumpulan gejala klinis mucocutaneus eruption berupa kelainan pada kulit, mukosa dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat yang bersifat mengancam jiwa. Banyak penelitian yang dilakukan mengenai SJS, diketahui bahwa obat-obatan adalah etiologi utama yang dapat terjadi pada orang dewasa atau anak-anak. Gejala SJS muncul tidak lama setelah obat disuntikkan atau diminum, gejala yang ditimbulkan sangat ditentukan oleh reaksi tubuh pasien dan tidak berhubungan langsung dengan dosis obat yang dikonsumsi. Terdapat lebih dari 100 obat yang dikenal sebagai penyebab SJS. Obat golongan antibiotik memiliki peran dalam meningkatkan angka kejadian SJS. Antibiotik diduga sebagai penyebab tersering pada kasus SJS, antara lain penisilin, amoksisilin, rifampisin, sefadroksil, dan siprofloksasin.
Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Jenis Kontrasepsi Pada Wanita Usia Subur Reva Dwi Yanty
Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada Vol 8 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Akademi Keperawatan Sandi Karsa (Merger) Politeknik Sandi Karsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35816/jiskh.v10i2.127

Abstract

Projection results show that the population of Indonesia over the next twenty-five years continues to increase, which is from 238.5 million in 2010 to 305.6 million in 2035. Seeing this, the government has long launched a program to suppress the rate of population growth, which is the Family Planning program (KB). Family Planning program (KB) according to LAW No. 10 of 1992 (on the development of population and development of prosperous family) is an effort to raise awareness and participation of the community through the maturity of marital age (PUP), setting Birth, family endurance coaching, raising small, happy, and prosperous families. Types of contraception are available based on the contents of which there are two, hormonal contraceptives (pills, injections, implants and recently introduced IUD-Mirena or LNG-IUS) and non-hormonal contraceptives (condoms, IUD-tcu, and Kontap methods). While according to the length of effectiveness of contraception can be divided into and MKJP namely IUD, Implant, MOP and MOW Non MKJP namely condoms, pills, injections and other methods. Lawrence Green's theory says that the determinant that affects a person in taking an action is influenced by 3 major factors in the behaving i.e., the first predisposition factor (predisposing factor), the second supporting factor (enabling factor), and the third amplifier factor (reinforcing factor).