Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI (IMD) TERHADAP INVOLUSI UTERUS PADA IBU BERSALIN DI BPS KOTA PADANG TAHUN 2013 Nelwatri, Helpi
Jurnal Ipteks Terapan Vol 8, No 3 (2014): JIT
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.408 KB) | DOI: 10.22216/jit.2014.v8i3.2

Abstract

Salah satu perubahan yg terjadi di masa  nifas (post partum) pada alat reproduksi yaitu terjadi involusi. Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Involusi uteri dapat juga dikatakan sebagai proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil11. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain senam nifas, mobilitas dini ibu post partum, inisiasi menyusu dini, gizi, psikologis dan faktor usia serta faktor paritas13. Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan selama 1 jam. Tujuan penelitian adalah diketahui pengaruh pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) terhadap involusi uterus pada ibu bersalin di BPS Kota Padang.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik  dengan disain Kohort Prospektive. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di BPS Kota Padang tahun 2013 dengan teknik pengembilan sampel dengan concecutive sampling. Variabel-variabel yang dipelajari dalam penelitian ini adalah variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat yang diteliti adalah Involusi uterus Variabel bebas yang diteliti adalah inisiasi menyusu dini (IMD). Penelitian ini menggunakan analisis data secara kuantitatif yaitu: analisis univariabel dan analisis bivariabel dengan menggunakan uji t (t test).Hasil penelitian menunjukan bahwa rata rata Tinggi Fundus uteri pada ibu nifas hari ke 6 yang dilakukan Inisisasi Menyusu Dini (IMD) adalah 10,54 cm dengan standar deviasi 1,103 cm sedangkan tinggi fundus uteri pada ibu n ifas yang tidak dilakukan IMD adalah 13,33 dengan standar deviasi 1,129. Dari hasil uji statistik didapatkan perbedaan rata rata tinggi fundus uteri antara yang dilakukan IMD dan tidak IMD adalah dengan nilai p 0,000 dengan 95% CI 2,143-3,440.Terdapat perbedaan tinggi fundus uteri yang signifikan antara yang dilakukan IMD dan tidak dilakukan IMD pada ibu bersalin di BPS Kota Padang. Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya bidan agar dapat melakukan pertolongan persalinan dengan IMD.Doi: 10.22216/jit.2014.v8i3.2
PENGARUH INISIASI MENYUSU DINI (IMD) TERHADAP INVOLUSI UTERUS PADA IBU BERSALIN DI BPS KOTA PADANG TAHUN 2013 Helpi Nelwatri
Jurnal Ipteks Terapan Vol 8, No 3 (2014): JIT
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22216/jit.2014.v8i3.2

Abstract

Salah satu perubahan yg terjadi di masa  nifas (post partum) pada alat reproduksi yaitu terjadi involusi. Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Involusi uteri dapat juga dikatakan sebagai proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil11. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain senam nifas, mobilitas dini ibu post partum, inisiasi menyusu dini, gizi, psikologis dan faktor usia serta faktor paritas13. Inisiasi menyusu dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan selama 1 jam. Tujuan penelitian adalah diketahui pengaruh pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) terhadap involusi uterus pada ibu bersalin di BPS Kota Padang.Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik  dengan disain Kohort Prospektive. Populasi dan Sampel dalam penelitian ini adalah ibu bersalin di BPS Kota Padang tahun 2013 dengan teknik pengembilan sampel dengan concecutive sampling. Variabel-variabel yang dipelajari dalam penelitian ini adalah variabel terikat dan variabel bebas. Variabel terikat yang diteliti adalah Involusi uterus Variabel bebas yang diteliti adalah inisiasi menyusu dini (IMD). Penelitian ini menggunakan analisis data secara kuantitatif yaitu: analisis univariabel dan analisis bivariabel dengan menggunakan uji t (t test).Hasil penelitian menunjukan bahwa rata rata Tinggi Fundus uteri pada ibu nifas hari ke 6 yang dilakukan Inisisasi Menyusu Dini (IMD) adalah 10,54 cm dengan standar deviasi 1,103 cm sedangkan tinggi fundus uteri pada ibu n ifas yang tidak dilakukan IMD adalah 13,33 dengan standar deviasi 1,129. Dari hasil uji statistik didapatkan perbedaan rata rata tinggi fundus uteri antara yang dilakukan IMD dan tidak IMD adalah dengan nilai p 0,000 dengan 95% CI 2,143-3,440.Terdapat perbedaan tinggi fundus uteri yang signifikan antara yang dilakukan IMD dan tidak dilakukan IMD pada ibu bersalin di BPS Kota Padang. Diharapkan kepada petugas kesehatan khususnya bidan agar dapat melakukan pertolongan persalinan dengan IMD.Doi: 10.22216/jit.2014.v8i3.2
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Perkembangan Balita di Jorong Tabek Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar Tahun 2016 helpi Nelwatri; Agonwardi Agonwardi; Novantika Dwi Setyanie
JIK-JURNAL ILMU KESEHATAN Vol 2, No 1 (2018): JIK- April Volume 2 Nomor 1 Tahun 2018
Publisher : STIKes ALIFAH PADANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.175 KB) | DOI: 10.33757/jik.v2i1.80

Abstract

ABSTRAKGangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak di Indonesia tergolong dalam masalah kesehatan yang tinggi yaitu 35,7% menurut WHO. Diantara faktor yang mempengaruhi perkembangan balita adalah tingkat pengetahuan ibu, pola asuh dan ASI eksklusif. Tujuan Penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perkembangan balita di Jorong Tabek Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar Tahun 2016. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 – April 2017, sedangkan pengumpulan data dilaksanakan pada tanggal 27 November – 12 Desember 2016 di Jorong Tabek Kecamatan Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Populasi adalah seluruh ibu yang mempunyai balita dan balita umur >6 bulan 60 bulan dengan sampel 62 responden. teknik pengambilan sampel Systematic Random Sampling. Instrumen yang digunakan lembar kuesioner. Analisis data univariat dan bivariat yang diolah secara komputerisasi dengan uji statistik chi- square dengan = 0,05. Hasil penelitian didapatkan balita dengan perkembangan menyimpang 1,6%, balita perkembangan meragukan 40,3%, ibu berpengetahuan kurang baik 16,1%, responden yang memberikan pola asuh negatif 47,1% dan ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif 56,5%. Dapat disimpulkan ada hubungan tingkat pengetahuan ibu, pola asuh dan pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan balita. Diharapkan petugas kesehatan dapat bekerja sama dengan para orang tua dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas perkembangan balita dengan memberikan informasi terkait  dengan perkembangan balita.  ABSTRACT        The growth and development disorders on children in Indonesia was categorized in high health problem according to WHO.  Some factors that influence the development of toddlers are mother’s level of knowledge, parenting and exclusive breastfeeding. Mothers who have a good knowledge of developments it will assess the development in toddlers, so that each development disorders immediately known. In addition to the need in the physical aspects, education and parenting will also affect to the development of toddlers. Toddlers that getting exclusive breastfeeding is much more mature and better show progression in development compared they are not getting exclusive breastfeeding. This study aims to determine the associated factors with the development of toddlers in Jorong Tabek Pariangan of Tanah Datar district 2016.        This research is an analytical survey with cross sectional design. This research was conducted in August 2016-April 2017 and data collection on the November 27th to December 12th, 2016 in Jorong Tabek Pariangan of Tanah Datar district. The population of this research are mothers with toddlers aged > 6 months ≤ 60 months, with a sampel 62 respondent. The sampling technique is systematic random sampling. Instrument used are sheet questionnaire. Univariate and bivariate analyzes of data are processed in a computerized test of chi-square statistic with = 0,05. The Results of this research showed that 1,6% toddlers with deviating development, 40.3% toddlers with dubious development, 16.1% mothers with less knowledgeable, 47.1% of respondents giving negative parenting and 56.5% mother's not giving exclusive breastfeeding. There is significant relationship of mother’s knowledge with development of toddlers (p = 0.005),there is significant relationship of parenting with development of toddlers (p = 0.042) and there is significant relationship of exclusive breastfeeding with development of toddlers (p = 0.020).           The conclution of this research showed that there is a significant  relationship that mother's knowledge level, parenting and exclusive breastfeeding on development of toddlers. This research expected that health workers make a colaboration with volunteers and the leaders of community to improve the quality and quantity of toddlers development with counseling related to toddlers development it self. Keyword :"The level of knowledge, parenting, exclusive breastfeeding,Development, Toddler ".
Preventive Efforts of Youth Reproductive Health Problems Through Informative Media: Health Reproductive Pocket Book Based on Local Culture for Parents in Lima Puluh Kota Regency, West Sumatera Province Helpi Nelwatri
Science and Environmental Journal for Postgraduate Vol 1 No 1 (2018): Science and Environmental Journals for Postgraduate (SENJOp)
Publisher : Pascasarjana, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.289 KB) | DOI: 10.24036/senjop.v1i1.11

Abstract

This article was the result of study based on the low knowledge of adolescent about reproductive health. Lack of parental involvement in prevention efforts to prevent the adolescent reproductive health problems in Lima Puluh Kota Regency are one of the factors related to the low knowledge of adolescent about reproductive health. Therefore, a manual pocketbook about reproductive health for parents with local culture approach was needed. This study used the research and development method, which used to produce a particular product, and test the effectiveness of the product. The result was the sources of information on adolescent reproductive health in Lima Puluh Kota Regency are close person, health counselor, Integrated Service Post cadres, and mass media. The role of parents was being the first informant and monitoring the development of adolescents reproductive health. Preventive strategy by providing information to adolescents can be given through health education by parents using a reproductive health pocketbook based on local culture approach.
UPAYA PREVENTIF MASALAH KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA MELALUI MEDIA INFORMATIF BUKU SAKU KESPRO BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK ORANG TUA DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA PROVINSI SUMATERA BARAT Helpi Nelwatri
SOCIUS Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Socius: Journal of Sociology Research and Education, Universitas Negeri Pa
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scs.v4i1.13

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian yang dilatarbelakangi oleh randahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi. Salah satu faktor penyebab rendahnya pengetahuan remaja tersebut adalah karena kurangnya keterlibatan orang tua dalan upaya preventif mencegah masalah kesehatan reproduksi remaja di Kabupaten Lima Puluh Kota. Maka perlu buku panduan kesehatan reproduksi untuk orang tua dengan pendekatan budaya. Metode Penelitian yang digunakan adalah metode Pengembangan (Research and Development). adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji keefektifan produk tersebut. Hasil penelitian: Sumber informasi tentang kesehatan reproduksi remaja di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah dari orang terdekat, penyuluhan kesehatan dan kader posyandu, serta media massa. Peran orang tua dalam memberikan informasi kesehatan reproduksi remaja tersebut di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah berperan sebagai pemberi informasi pertama dan mengawasi perkembangan kesehatan reproduksi anak. Strategi preventif untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi pada remaja dalam mengatasi masalah kesehatan reproduksi, yaitu dengan cara pendidikan kesehatan reproduksi oleh orang tua menggunakan buku saku kesehatan reproduksi untuk orang tua berbasis budaya lokal.
KESEHATAN REPRODUKSI PADA ETNIS MINANGKABAU Helpi Nelwatri
Kafa`ah: Journal of Gender Studies Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/jk.v4i1.89

Abstract

In this paper, the author looks at various cultural issues on health reproduction in relation to Minangkabau cultural perspective in the province of West Sumatra. Minangkabau is one of the ethnics which adopt matrilineal system. That is why then this paper wants to highlight the cultural issue that is related to the problem of health reproduction that is commonly found in social context of Minangkabau society. At least this short article discusses the issue of health reproduction and  and local wisdom, especially women’s problems of health reproduction. Keywords: Health, reproduction, and Minangkabau ethnicCopyright © 2014 by Kafa`ah All right reservedDOI :  10.15548/jk.v4i1.89
Implementation of Learning Theory According to Behavioristic Psychology in Vocational Education Helpi Nelwatri; Neviyarni Neviyarni
International Journal of Educational Dynamics Vol 4 No 2 (2022): International Journal of Educational Dynamics (IJEDs)
Publisher : Postgraduate School, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/ijeds.v4i2.336

Abstract

The flow of behavioral psychology learning theory is one of the learning theories that prioritize changes in student behavior as a result of stimuli and responses. Learning is a form of change experienced by students, through the interaction between stimulus and response that aims to modify student behavior. Watson explained that student behavior is the result of innate influences from family and environment. While Pavlov explained that it refers to several training processes in vocational education, namely the training process between one stimulus and another to be able to develop a response. Meanwhile, Skinner argues that the relationship between stimulus and response occurs because through interaction with the environment the next change is caused by changes in behavior. Thus, it can be concluded that behavioral psychology theory focuses more on developing student behavior in a better direction, especially in vocational education. In principle, behavioral psychology learning theory is very relevant if it is implemented in the design of learning methods in vocational education.
Analysis of 2013 Curriculum Implementation in Elementary Schools Mardiani Bebasari; Helpi Nelwatri; Rhona Sandra; Nurhizrah Gistituati; Alwen Bentri
Bisma The Journal of Counseling Vol. 6 No. 1 (2022): Bisma The Journal of Counseling
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v6i1.43248

Abstract

This study aims to obtain an overview of implementation, analyze and formulate problem-solving strategies in implementing the 2013 curriculum at SD Negeri Padang City. This study uses a qualitative method, with a phenomenological approach. The results of the study show that the implementation of the 2013 curriculum mostly refers to Permendikbud No. 81A 2013 regarding the implementation of the 2013 curriculum. Then the results of the analysis show that the curriculum does not contain the unique content of the education unit which is the hallmark of the curriculum at SD Negeri Gunung Pangilun, Padang City. The 2013 curriculum is still limited, learning support facilities such as LCD, laptop, wireless, additional library books and air conditioning are still limited, infrastructure facilities such as science laboratory buildings, language fields and sports are not yet available. In addition, the problem-solving strategy used requires the design of an in-house training program to increase the understanding of teachers and parents regarding the implementation of the 2013 curriculum. LCD, laptop, wireless, additional library books and air conditioning, require infrastructure support in the form of procurement of science laboratory buildings, language laboratories and sports fields.
PERBEDAAN EFEKTIFITAS PENDIDIKAN KESEHATAN MELALUI MEDIA VIDEO ANIMASI DAN POWER POINT TERHADAP PENGETAHUAN REMAJA PUTRI DALAM MENGHADAPI MENARCHE Rahmi Hanifah; Nike Sari Oktavia; Helpi Nelwatri
JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR Vol. 4 No. 2 (2021): JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR
Publisher : STIKes MERCUBAKTIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36984/jkm.v4i2.232

Abstract

On 2017 Indonesian Youth Demographic and Health Survey (IDHS) report stated that 12.3% of young women still do not know about menstruation as a sign of physical changes during puberty. Lack of information and knowledge related to menstruation can affect the perception and readiness of young women in facing menarche. There needs to be an effort to increase adolescent knowledge about menarche through the provision of health education with appropriate methods and media. The purpose of this study was to determine the differences in the effectiveness of health education through animated video media and power point on the knowledge of young women in dealing with menarche. This type of research is a quasi-experimental research (quasi-experimental design) with a nonequivalent control group design. The study was conducted on June 19, 2021. The population in this study were all students of 13 elementary school Kapalo Koto class V and VI, totaling 48 people with a sample of 32 people obtained using the Federer formula. The sampling technique is purposive sampling. The instrument used is a questionnaire. Analysis test using Paired Sample T-Test and Independent Sample T-Test. Based on the results of the study, the average knowledge before being given health education through animated video was 13,62 and after being given health education it increased to 20,19. Meanwhile, the media power point is 13,31 increasing to 17.31. There was a significant difference in the knowledge of adolescent girls before and after being given health education through animated video media and power point=0,000 (p<0.05). There are differences in the effectiveness of health education through animated video media and power point on the knowledge of young women in dealing with menarche=0,006 (p <0.05).Animated video is more effective than power point in increasing the knowledge of adolescent girls in dealing with menarche. It is hoped that the headmaster can provide health education through animated video media because it is more effective in increasing the knowledge of young women in dealing with menarche. Laporan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, menyatakan bahwa 12,3% remaja putri masih belum mengetahui haid sebagai salah satu tanda perubahan fisik masa pubertas. Kurangnya informasi dan pengetahuan terkait menstruasi dapat mempengaruhi persepsi dan kesiapan remaja putri dalam menghadapi menarche. Perlu adanya suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan remaja mengenai menarche melalui pemberian pendidikan kesehatan dengan metode dan media yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektifitas pendidikan kesehatan melalui media video animasi dan power point terhadap pengetahuan remaja putri dalam menghadapi menarche. Jenis penelitian ini quasi experiment dengan desain non equivalent control group. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2021. Populasi pada penelitian ini seluruh siswi SDN 13 Kapalo Koto kelas V dan VI berjumlah 48 orang dengan jumlah sampel 32 orang yang didapatkan dengan Rumus Federer. Teknik pengambilan sampel purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket. Uji analisis menggunakan Paired Sample T-Tes dan Independent sample T-Tes. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh rata-rata pengetahuan sebelum diberikan pendidikan kesehatan melalui media video animasi adalah 13,62 dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan meningkat menjadi 20,19. Sedangkan dengan media power point adalah 13,31 meningkat menjadi 17,31. Terdapat perbedaan yang signifikan pengetahuan remaja putri sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan melalui media video animasi dan power point= 0,000 (p<0,05). Terdapat perbedaan efektifitas pendidikan kesehatan melalui media video animasi dan power point terhadap pengetahuan remaja putri dalam menghadapi menarche= 0,006 (p<0,05). Media video animasi lebih efektif daripada power point dalam meningkatkan pengetahuan remaja remaja putri dalam menghadapi menarche. Diharapkan kepada kepala sekolah agar dapat memberikan pendidikan kesehatan melalui media video animasi karena lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri dalam menghadapi menarche.
Analysis of Implementation of The Acceleration of Midwife Education Program through The Mechanism of Recognition of Past Learning (RPL) at Poltekkes Kemenkes Padang Helpi Nelwatri; Mardiani Bebasari; Nurhizrah Gistituati3; Rusdinal
International Journal Of Humanities Education and Social Sciences (IJHESS) Vol 1 No 6 (2022): IJHESS-JUNE 2022
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhess.v1i6.181

Abstract

Community needs for quality health services are increasing, in line with developments happening in the world today. Health workers are one of the main factors in health service efforts so that it is necessary to improve the quality of health workers. One of the efforts to improve the quality of health workers is through education. Recognition of Past Learning (RPL) as outlined in the Minister of Health Regulation Number 41 of 2016 concerning the Program for Accelerating the Improvement of Education Qualifications for Health Workers. knowing how to implement the Accelerated Nursing Education Program through the Recognition Mechanism of Past Learning (RPL) at Poltekkes Kemenkes Padang, using qualitative research methods with research designs using the Rapid Assessment Procedure (RAP) or rapid assessment procedures. Research result that the implementation of the Midwifery Education Acceleration Program through the RPL Mechanism at the Health Polytechnic of the Ministry of Health Padang has been going well despite experiencing several obstacles in program socialization and technical implementation of learning related to the status of students' study permit.