Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN C DENGAN DOSIS YANG BERBEDA PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla sp) Ambarwati, Ananti Trisno; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.396 KB)

Abstract

Peningkatan nilai nutrisi pakan buatan dapat dilakukan dengan penambahan vitamin C sehingga diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan serta mengetahui dosis terbaik vitamin C terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g), dan E (30 mg/100 g). Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (Scylla sp) dengan bobot rata-rata 114,7±1,6 g/ekor. Kepiting bakau (Scylla sp) dipelihara dengan metode single room dalam basket plastik berukuran 21 cm x 21 cm x 16 cm selama 56 hari dan pemberian pakan 5%/bobot biomassa/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak berbeda nyata terhadap kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp). Pertumbuhan bobot mutlak yang tertinggi dicapai oleh perlakuan D (18,90±5,60 g), efisiensi pemanfaatan pakan tertinggi pada perlakuan D (5,56±1,62%). Nilai kelulushidupan kepiting bakau (Scylla sp) berkisar antara 66,67–100,00%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penambahan vitamin C dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak dan efisiensi pemanfaatan pakan namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap kelulushidupan. Dosis vitamin C yang dapat ditambahkan pada pakan buatan untuk kepiting bakau (Scylla sp) adalah 12 mg/100 g hingga 24 mg/100 g pakan. Improvement of nutrition value of artificial feed can be done with the addition of vitamin C that are expected to enhance the growth and survival rate of mud crab (Scylla sp). This study aims to determine the effect of vitamin C with different doses on artificial feed, and know the best dose of vitamin C on the growth and survival of mud crab (Scylla sp). This study used a completely randomized design  with 5 treatments and 3 replications. The treatment is the addition of vitamin C with different doses on artificial feed, A (0 mg/100 g), B (12 mg/100 g), C (18 mg/100 g), D (24 mg/100 g) , and E (30 mg/100 g). The animal trials that used was mud crab (Scylla sp) with an average weight of 114.7±1.6 g/individual. Mud crab (Scylla sp) maintained by the method of single room in a plastic basket measuring 21 cm x 21 cm x 16 cm during 56 days of feeding 5% / biomass  weight/day. The results showed that the addition of vitamin C with different doses on artificial diets significantly (P <0.05) on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but not significantly different to the survival of mud crab (Scylla sp). The highest absolute weight growth achieved by treatment D (18.90 ± 5.60 g), the highest efficiency of feed utilization by treatment D (5,56±1,62%). The survival rate of mud crab (Scylla sp) ranged from 66.67 to 100.00%. The conclusion of this study is the addition of vitamin C with different doses significant effect on absolute weight growth and efficiency of feed utilization but no significant effect on survival rate. The dose of vitamin C can be added to artificial feed for mud crab (Scylla sp) is 12 mg/100 g to 24 mg/100 g of feed. 
Pola Osmoregulasi, Pertumbuhan dan Kelulushidupan Keong Macan (Babylonia spirata L) pada Media dengan Salinitas Berbeda Maulana, Reza; Anggoro, Sutrisno; Rachmawati, Diana
Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES) Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013
Publisher : Departemen Sumberdaya Akuatik,Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.644 KB)

Abstract

Keong macan (Babylonia spirata L) merupakan sejenis gastropoda yang mempunyai toleransi yang tinggi terhadap salinitas, namun salinitas juga merupakan faktor kritis terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan keong macan. Salinitas media berperan dalam mengendalikan proses osmoregulasi keong macan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap pola osmoregulasi, pertumbuhan dan kelulushidupan keong macan pada media dengan salinitas berbeda. Materi yang digunakan adalah keong macan (Babylonia spirata L) yang diperoleh dari perairan Jepara dengan rata-rata bobot awal ±8,4 g/ekor dengan kepadata 2 ekor/L. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Sistematis (RAS) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan pada tiap perlakuannya dengan faktor utamanya adalah salinitas media. Perlakuan yang diujikan adalah dengan perlakuan S1 dengan salinitas 27 ppt (Hipo-osmotik), S2 dengan salinitas 31 ppt (Iso-osmotik), dan S3 dengan salinitas 35 ppt (Hiper-osmotik). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap Tingkat Kerja Osmotik (TKO), pertumbuhan dan kelulushidupan keong macan. Pola osmoregulasi keong macan pada perlakuan S2 (31 ppt) mengalami pola regulasi iso-osmotik, sementara pada perlakuan S1 (27 ppt) mengalami pola regulasi hiper-osmotik, sedangkan pada perlakuan S3 (35 ppt) mengalami pola regulasi hipo-osmotik. TKO terendah berada pada perlakuan S2 (31 ppt) sebesar 0,14 mOsm/l H2O, sedangkan pada perlakuan S1 (salinitas 27 ppt) memiliki tingkat kerja osmotik (TKO) tertinggi yakni sebesar 135,87 mOsm/l H2O. Laju pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan spesifik terbaik berada pada perlakuan S2 (31 ppt) dengan nilai masing-masing sebesar 3,10% dan 0,35%. Tingkat kelulushidupan (SR) keong macan terbaik berada pada perlakuan S2 (31 ppt) dengan nilai SR 100%.
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN DAN LAJU PERTUMBUHAN SPESIFIK IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) Chrisdiana, Gradhika; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.476 KB)

Abstract

Budidaya ikan kerapu perlu memperhatikan beberapa aspek, salah satu aspek eksternal yang terpenting adalah pakan. Pakan dengan nutrisi seimbang merupakan faktor yang terpenting. Pakan buatan mengandung bahan nabati, bahan tersebut memiliki kekurangan yaitu mengandung zat anti nutrisi berupa asam fitat. Enzim fitase merupakan enzim eksogenus yang dapat mengurangi kandungan asam fitat dalam pakan buatan sehingga meningkatkan penyerapan nutrien oleh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim fitase dalam pakan buatan dan mengetahui dosis enzim fitase yang optimal dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.). Ikan uji yang digunakan adalah ikan kerapu cantang dengan bobot rata-rata 19,4±0,36 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (enzim fitase dosis 0 mg/kg pakan), B (enzim fitase dosis 500 mg/kg pakan), C (enzim fitase dosis 1000 mg/kg pakan), dan D (enzim fitase dosis 1500 mg/kg pakan). Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan rasio efisiensi protein (PER), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap EPP dan PER, berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap SGR. Dosis optimal enzim fitase sebesar 1.080 – 1.090 mg/kg pakan buatan mampu menghasilkan SGR optimal sebesar 0,519%/hari, 0,386% PER, dan EPP sebesar 25,3%. Kualitas air pada media pemeliharaan masih berada pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan kerapu cantang. The grouper culture need to pay attention to some aspects, one of the external aspects of the most important is the feed. Feed with balanced nutrition is the most important factor. Containing artificial feed vegetable matter , having a deficiency is the material containing the substance anti-nutrient such as phytic acid. Phytase is exogenous enzymes that can reduce phytic acid content in artificial feed so increase the absorption of nutrient by the body. This research aims to determine the effect of phytase in diet on the growth cantang grouper (Ephinephelus sp.) and determine optimal dose phytase in artificial feed cantang grouper (Ephinephelus sp.). The fish samples which are used are the seed of the grouper which have average of weight 19.4±0.36 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1. This research was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications. The treatments in this research were treatment A (phytase dose of 0 mg/kg of feed), B (phytase dose of 500 mg/kg of feed), C (phytase dose of 100 mg/kg of feed), and D (phytase dose of 1500 mg/kg of feed). The data observed were spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), and water quality. The results showed that addition of phytase in artificial feed highly significantly effect (P <0.01) on the EPP, and PER, significant (P<0.05) on the SGR. Optimal dose phytase is 1,080 – 1,090 mg/kg of feed able to produce SGR to 0.519%, 0.386% in PER, and EPP to 25.3%. Water quality in the media is still in decent condition for cantang grouper. 
PENGARUH PENAMBAHAN VITAMIN E PADA PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) Winestri, Jati; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.128 KB)

Abstract

Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan pertumbuhan kepiting bakau yang lambat yaitu penambahan vitamin E pada pakan buatan guna meningkatkan nutrisi pakan. Vitamin E yang berfungsi sebagai antioksidan yang menjaga kerusakan protein dan enzim dari radikal bebas yang dapat menghambat pertumbuhan dan proses metabolisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan vitamin E pada pakan buatan terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Penelitian ini dilaksanakan pada Januari hingga Maret 2014 di tambak Desa Tapak, Kecamatan Tugurejo, Mangkang, Semarang. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau (S. paramamosain) dengan bobot rata-rata 109,1±1,7 g/ekor yang dipelihara selama 56 hari dengan kepadatan 1 ekor/keranjang plastik dengan ukuran (25 x 16 x 15) cm3. Pemberian pakan sebanyak 5% bobot biomass/hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan penambahan vitamin E, yaitu perlakuan A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), dan D (0,8 g/100 g).  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan vitamin E memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap efisiensi pemanfaatan pakan protein efisiensi rasio dan laju pertumbuhan relatif. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan D dengan nilai (17,88±3,51%), (2,86±0,55%), dan (4,03±0,93%). Penambahan vitamin E tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap kelulushidupan kepiting bakau (S. paramamosain). Hasil kualitas air masih dalam kisaran kelayakan bagi budidaya kepiting bakau (S. paramamosain) terkecuali salinitas sedikit dibawah nilai kelayakan namun masih dapat ditolerir oleh kepiting bakau (S. paramamosain). Kesimpulan dari penelitian ini penambahan vitamin E 0,8 g/100 g pada pakan buatan memberikan hasil terbaik terhadap pertumbuhan kepiting bakau (S. paramamosain). One of alternative to overcome the problems in mud crab growthrates was dietary of vitamin E. Vitamin E have function as antioxidant to maintaince the proteins and enzymes by preventing free radicals which can disturb the growth and metabolism processes. This research aimed to assess effect of dietary of vitamin E on the growth and survival rate of mud crabs (S. paramamosain). The research was conducted in January until March 2014 in the brackish water pond Tapak Village, District Tugurejo, Mangkang, Semarang. The animals tested used were mud crab (S. paramamosain) with an average body weight of 109.1±1.7 g/individual, during 56 days at a density of 1 individual/basket with size (25 x 16 x 15) cm3. The feeding rate were 5% for weight biomass/day. The method used in this study is an experimental field with the pattern completely randomized design with 4 treatments and 3 replications of dietarary vitamin E, they were treatment A (0 g/100 g), B (0,4 g/100 g), C (0,6 g/100 g), and D (0,8 g/100 g). The results of this research indicate that dietary of vitamin E effect (P<0.05) on the efficiency of feed utilization, protein efficiency ratio and relative growth rate. The best results were obtained on treatment D with the value (17.88±3.51%), (2.86±0.55%), and (4.03±0.93%). Effects of dietary vitamin E didn’t give significant effect (P>0.05) on the survival rate of mud crab (S. paramamosain). Results of water quality was still within the range of feasibility for mud crab culture (S. paramamosain) except salinity slightly below the value of eligibility but can be tolerated by the mud crab (S. paramamosain). The conclusion of this research dietary 0.8 g/100 g vitamin E gives the best results on the growth of mud crab (S. paramamosain).
PENGARUH PENAMBAHAN ENZIM FITASE PADA PAKAN BUATAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN NILA MERAH SALIN (Oreochromis niloticus) Pratama, Alyosha Putra; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.786 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji pengaruh penambahan enzim fitase dan menentukan dosis terbaik enzim fitase dalam pakan buatan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan  ikan nila merah salin (Oreochromis niloticus). Ikan uji yang digunakan adalah ikan nila merah salin (O. niloticus) sebanyak 120 ekor dengan bobot rata-rata 3,49±0,28 g/ekor. Ikan uji dipelihara selama 42 hari dengan padat penebaran 1ekor/L. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah penambahan enzim fitase pada pakan uji dengan dosis yang berbeda, yaitu A (0 mg/kg pakan), B (400 mg/kg pakan), C (50 mg/kg pakan) dan D (600 mg/kg pakan). Pakan uji yang digunakan berupa pelet dengan diameter berukuran 1-2 mm, mengandung kandungan protein 25% dan dilakukan penambahan enzim fitase pada setiap perlakuan. Pengumpulan data berupa laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio efisiensi protein (PER) efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) dan parameter kualitas air. Data yang terkumpul setelah itu dilakukan analisa ragam (ANOVA). Apabila dalam analisa ragam menunjukkan pengaruh nyata (p<0,05) maka dilanjutkan dengan uji wilayah Duncan untuk mengetahui perbedaan nilai tengah antar perlakuan. Data kualitas air dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim fitase dalam pakan buatan berpengaruh nyata (p<0,05) dan berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan terhadap nila merah (O. niloticus) dalam media bersalinitas. Dosis terbaik enzim fitase terhadap SGR, PER dan EPP terdapat pada perlakuan C (500 mg/kg pakan) masing-masing sebesar 1,96% /hari, 1,76% dan 43,01%. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan nila merah (O. niltocus) dalam media bersalinitas. This research was aimed to know the effect of phytase enzyme addition and determine the best dosage of phytase enzym in artificial feed for feed utilization efficiency, growth and survival rate of saline red tilapia (Oreochromis niloticus.The fish used was red tilapia (O. niloticus) amount 120 fishes with average weight 3,49±0,28 g/fish. The fish were cultured in 42 days with stock density 1 fish/L. This reasearch were using experimental method with complete randomized design with 4 treatments and 3 replication. The treatment is adding phytase enzyme in the test feed with different dosage, are: A (0 mg/ kg feed), B (400 mg/kg feed), C (500 mg/kg feed) and D (600 mg/kg feed).. The form of feed test is pellet with diameter size 1-2 mm, containing protein 25% and adding phytase enzyme to each treatments. The data obtained are spesific growth rate (SGR), protein efficiency ratio (PER) feed utilizatione efficiency (EPP) and water quality. The collected data anylized by variance analysis (ANOVA). If the variance analysis shown the significant effect (p<0,05 and very significant effect (p<0,01). If the data is significantly effect, then continue with Duncan test to know the difference of mid-value for each treatments. Water quality is anlyzed descriptically. The result shown that the addition of phytase enzyme in artificial feed gives a significantly effect for spesific growth rate, protein efficiency ratio and feed utilization efficiency of red tilapia (O. niloticus) in salinity media. The best dosage of phytase enzyme for SGR, PER and EPP is treatment C (500 mg/kg feed) which 1,96%/day, 1,76% and 43,01% for each. The water quality in culture media was feasible for saline  red tilapia (O.niloticus) culture.
PENGARUH PERIODE PEMUASAAN TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) Mustofa, Arifin; Hastuti, Sri; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.913 KB)

Abstract

Ikan mas (Cyprinus carpio) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan banyak dibudidayakan karena mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan dan makanan yang tersedia.  Permasalahan yang sering muncul pada usaha budidaya ikan yakni adalah pemanfaatan pakan yang belum optimal.  Ikan hanya menyerap 25% pakan yang diberikan, sedangkan 75% sisanya menetap sebagai limbah didalam air.  Pemuasaan (starving) yang diikuti pemberian pakan yang cukup (satiation level) merupakan salah satu strategi pemberian pakan yang diharapkan bisa menunjang  pertumbuhan yang cepat (compensatory growth),  meningkatkan efektifitas pemanfaatan pakan dan menjaga kualitas air.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh periode pemuasaan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan, dan kelulushidupan pada ikan mas (C. carpio).  Data yang diamati meliputi total konsumsi pakan (TKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio konversi pakan (FCR), laju pertumbuhan relatif (RGR), pertumbuhan panjang mutlak, kelulushidupan (SR) dan kualitas air.  Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga bulan Juli 2017, di Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang.  Penelitian ini menggunakan metode experimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan yang diujikan adalah pemuasaan pemberian pakan dengan perlakuan A (pemberian pakan setiap hari), B (1 hari dipusakan 1 hari diberi pakan), C (1 hari dipuasakan 2 hari diberi pakan), dan D (1 hari dipuasakan 3 hari diberi pakan).  Ikan uji yang digunakan adalah ikan mas (C. carpio) dengan panjang rata-rata 5,13±0,06 cm dan bobot rata-rata 3,01±0,10 g.  Pemberian pakan pada pukul 08.00 dan 16.00 secara at satiation.  Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 10 ekor/wadah.  Wadah pemeliharaan  menggunakan ember bervolume 25 L, dengan lama pemeliharaan 72 hari.  Pakan yang digunakan adalah pakan komersil berupa (pellet) dengan protein 32%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pemuasaan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, RGR, dan pertumbuhan panjang mutlak, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR.  Hasil perlakuan A (tanpa dipuasakan) memberikan nilai TKP tertinggi sebesar 126,30±5,25 g, nilai RGR tertinggi sebesar 3,90±0,10%/hari, dan nilai pertumbuhan panjang mutlak tertinggi sebesar 3,96±0,01 cm.  Perlakuan B (dipuasakan 1 hari diikuti pemberian pakan 1 hari) memberikan nilai EPP tertinggi sebesar 76,44±2,46%, dan nilai FCR terrendah sebesar 1,22±0,04.Common carp (Cyprinus carpio) was a type of fish which has an economic value and widely cultivated because it has high adaptability to every conditions and dietary.  The common problem to this cultivation is the feed utilization which is not effectively efficient.  Fish absorbs only about 25% of feed, while the remaining 75% settles as waste in water.  The efforts are done by doing good feeding management.  Starving followed by adequate feeding (station level) is one of the strategies in feeding which is expected to support rapid growth (compensatory growth), increasing the effectiveness of feed utilization and maintaining water quality.  The aims of this study is to examine the influence of the starving period on efficiency of feed utilization, growth, and survival in common carp (C. carpio).  Observed data include feed consumption (FC), feed utilization efficiency (EPP), feed conversion ratio (FCR), relative growth rate (RGR), absolute longevity, survival rate (SR) and water quality.  This study was conducted in April 2017 until July 2017, at Balai Benih Ikan (BBI) Mijen, Semarang.  Method that used in this study was experimental withcomplete randomized design (CRD) 4 treatment and 3 replications.  Treatment that used in this study were A (daily fed), B (1 day starved, 1 day is fed), C (1 day starved 2 day is fed), and D (1 day is starved 3 day is fed).  The fish that used were common carp (C. carpio) with an average length 5,13±0,06 cm and weight 3,01±0,10 g.  Feeding time was on 08.00 and 16.00 with at satiation method.  The fish was cultured with density 10 fish/tank.  The water tank for treatment has a volume of 25 L.  Treatment was done for 72 days.  The feed used was commercial feed with 32% protein.  The results showed that starving with different periods had significant effect (P <0.05) on FC, EPP, FCR, RGR, and absolute longevity, but no significant effect (P> 0.05) on SR.  Results of treatment A (no starving) gave the highest TKP score of 126,30±5,25 g, the highest RGR value of 3,90±0,10%/day, and the highest absolute longest growth value of 3,96±0,01 cm.  Treatment B (1 day feed followed by 1 day feeding) gave the highest EPP score of 76,44±2,46%, and the lowest FCR value was 1,22±0,04.
PERFORMA KEMATANGAN GONAD, FEKUNDITAS, DAN DERAJAT PENETASAN UDANG WINDU (Penaeus monodon Fab.) MELALUI SUBTITUSI CACING LAUT DENGAN CACING TANAH Pujianti, Puput; Suminto, -; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 3, Nomor 4, Tahun 2014
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.254 KB)

Abstract

Pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah pada pembenihan udang windu diharapkan dapat meningkatkan kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh subtitusi cacing laut dengan cacing tanah dan untuk mengetahui jumlah subtitusi cacing laut dengan cacing tanah yang terbaik terhadap kematangan gonad, fekunditas dan derajat penetasan pada induk udang windu (Penaeus monodon Fab.). Materi yang digunakan induk udang windu yang berasal dari Pangandaran dengan berat tubuh rata-rata 160.47±14.88 gram. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu perlakuan A (Cumi-cumi 30%, Tiram 40%, Cacing laut 30%), perlakuan B (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 22,5%, Cacing tanah 7,5%), perlakuan C (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 15%, Cacing tanah 15%), perlakuan D (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing laut 7,5%, Cacing tanah 22,5%), dan perlakuan E (Cumi-cumi30%, Tiram 40%, Cacing tanah 30%) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah perlakuan A memberikan tingkat kematangan gonad paling cepat yaitu selama 4 – 5 hari. Hasil itu menunjukkan bahwa pemberian subtitusi cacing laut dengan cacing tanah berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap derajat penetasan (HR) dengan nilai tertinggi pada perlakuan B yaitu sebesar 94,40±1,49% tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kematangan gonad dan fekunditas induk udang windu (P. monodon Fab.). Berdasarkan pada hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Pemberian cacing tanah sebanyak 25% dari total pemberian cacing laut dapat digunakan sebagai substitusi cacing laut dalam strategi pemberian pakan induk udang windu. The substitute mudworm with earthworm in the tiger prawn hatchery can be expected to increase the maturation, fecundity and hatching rate. The purpose of the research was to observe the effect of the substitute mudworm with earthworm and to find out the best quantity of substitute earthworm on the maturation, fecundity and hatching rate (HR) brood stock of tiger prawn. This experiment used black tiger shrimp brood stock from Pangandaran with 160.47±14.88 grams weight. This experiment used was experimental method with completely randomized design with 5 treatments, i.e. treatment A (30% squid, 40% oyster, 30%mudworm, 0% earthworm), treatment B (30% squid, 40% oyster, 22,5%mudworm, and 7,5% earthworm), treatment C (30% squid, 40% oyster, 15%mudworm, and 15% earthworm), treatment D (30% squid, 40% oyster, 7,5%mudworm and 22,5% earthworm) and treatment E (30% squid, 40% oyster, 0% mudworm, 30% earthworm). The result showed that the substitute mudworm with earthworm in the treatment A was the fastest on the maturation during 4 – 5 days. the substitution treatments of mudworm with earthworm were significantly effect (P<0,05) on the Hatching Rate (HR) with the highest value in treatment B of 94,40±1,49% but not significantly effect (P>0,05) on the maturation and the fecundity of tiger prawn, P. monodon Fab. Base on the results and conclusion suggested that the gift of  earthworm 25% of total giving mudworn  can used  as substitution of  mudworm  in giving feed strategy for tiger prawn, P. monodon Fab.
PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI PAKAN IKAN RUCAH DAN BUATAN YANG DIPERKAYA VITAMIN E TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN KEPITING SOKA (Scylla paramamosain) Septian, Ricky; Samijan, Istiyanto; Rachmawati, Diana
Journal of Aquaculture Management and Technology Vol 2, No 1 (2013) : Journal of Aquaculture Management and Technology
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.387 KB)

Abstract

ABSTRAK Pakan merupakan salah satu modal operasional yang besar dalam usaha budidaya kepiting bakau.  Pakan yang digunakan harus dapat berperan efisien, supaya dapat menekan biaya tanpa mengurangi tingkat produksi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pakan terbaik terhadap perkembangan budidaya kepiting soka yang optimal.  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2011 di Pertambakan Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau dengan berat awal rata-rata 79,75±13,8 g. Pakan uji ikan rucah segar dan pakan buatan yang diperkaya vitamin E dengan dosis 0, 20, 40, dan 60 mg/kg pakan.  Penelitian ini menggunakan Metode Eksperimental yang dilakukan di lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 4 perlakuan dan 3 ulangan.  Perlakuan A (pakan kombinasi dengan 0 mg vitamin E/kg pakan), B (pakan kombinasi dengan 20 mg vitamin E/kg pakan, C (pakan kombinasi dengan 40 mg vitamin E/kg pakan, D (pakan kombinasi dengan 60 mg vitamin E/kg pakan).  Variabel yang diukur yaitu pertumbuhan (SGR), pemanfaatan pakan (TKP, FCR, PER, NPU), SR, serta kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi pakan ikan rucah segar dan buatan yang diperkaya vitamin E memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap PER tetapi tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap EPP, FCR, NPU dan SR kepiting bakau. Pakan dengan kombinasi dengan 60 mg/Kg vitamin E (perlakuan D)  memberikan pengaruh terbaik terhadap FCR (2,69±0,11), SGR (1,71±0,08%), dan SR (100±0,00%) pada kepiting bakau. ABSTRACT Feed is one of the major operating capital in the cultivation of mangrove crabs. Feed must have an efficient contribution, to reduce costs without reducing the level of production.  This study aimed to determine the effect of the combination of the feed to an optimal development of the soft shell crabs cultivation.  The study was conducted from August to September 2011 in the Mojo Village, District Ulujami, Pemalang. Test animals used were mangrove crabs with an initial average weight 79,75±13,8 g.  Forage testing was fresh grilled fish and an artificial feed enriched with vitamin E dosage 0, 20, 40, and 60 mg/kg feed.  This research used experimental methods carried out in the field with a completely randomized design (CRD), with 4 treatments and 3 replications.  Treatment A (feed combination with 0 mg vitamin E/kg feed), treatment B (feed in combination with 20 mg vitamin E/kg feed, Treatmen C (feed in combination with 40 mg vitamin E/kg feed, and treatmen D (feed in combination with 60 mg of vitamin E/kg of feed). The variables that measured was a Specific Growth Rate (SGR), Feed Utilization (TKP, FCR, PER, NPU), SR, and water quality. The results showed that combination of the fresh grilled  fish feed and an artificial (hand made) feed enriched with Vitamin E  significantly influence PER (P <0,05), but there was not significantly influence TKP, FCR, NPU and SR of the soft shell crabs (P > 0,05).  Feed in combination with 20 mg/kg feed (treatment B) gives the best effect on FCR (1,48±0,17) and PER (1,57±0,17 %), on the soft shell crabs
PERFORMA PERTUMBUHAN BENIH IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) MELALUI PENAMBAHAN ENZIM PAPAIN DALAM PAKAN BUATAN Khodijah, Dewi; Rachmawati, Diana; Pinandoyo, -
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 4, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.403 KB)

Abstract

Budidaya lele Sangkuriang memerlukan nutrisi yang berasal dari pakan buatan.  Pakan yang dikonsumsi ikan hendaknya memiliki nutrien yang mudah dicerna dan diserap dengan baik oleh ikan, sehingga pakan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.  Penambahan enzim pada pakan buatan dilakukan untuk dapat memanfaatkan protein secara maksimal untuk pertumbuhan kultivan.  Enzim papain merupakan enzim protease yang mampu meningkatkan penyerapan protein pakan yang dikonsumsi oleh ikan, sehingga meningkatkan pemanfaatan protein pakan oleh tubuh.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan enzim papain dalam pakan buatan dan mengetahui dosis enzim papain yang optimal dalam pakan buatan terhadap pertumbuhan ikan lele Sangkuriang (C. gariepinus).  Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan lele Sangkuriang dengan bobot rata-rata 1,38±0,24 g.ekor-1 dan padat tebar 1 ekor.l-1.  Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: perlakuan A (tanpa enzim papain), B (enzim papain dengan dosis 1,125%), C (enzim papain dengan dosis 2,25%), dan D (enzim papain dengan dosis 3,375%).  Data yang diamati meliputi laju pertumbuhan relatif (RGR), protein efficiency ratio (PER), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), kelulushidupan (SR), dan kualitas air.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim papain dalam pakan buatan memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap RGR, PER dan EPP namun tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap SR. Dosis optimal enzim papain sebesar 2,53% pada pakan buatan mampu menghasilkan laju pertumbuhan relatif maksimal sebesar 5,05%/hari untuk ikan lele Sangkuriang (C. gariepinus).  Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk budidaya ikan lele Sangkuriang. The catfish culture needs nutrients which derived from an artificial diet.  Feed consumed fish should have nutrients that are easily digested and absorbed by fish, so that the feed can be used optimally. Additional enzymes in the feed to maximize protein utilization by cultivan.  Papain enzyme is a protease enzyme that can enhance absorption of protein in the fish since the feed is consumed so that the utilization of protein is increased on the body.  The aim of this study to determine the effect of addition the papain enzyme in artificial diet againts the growth of the catfish (C. gariepinus) and for to knows the optimal dose of papain enzyme in artificial diets againts the growth of the catfish (C. gariepinus).  The fish samples which are used are the seed of the catfish which have average of weight, 1.38 ± 0.24 g.fish-1 and stocking density 1 fish.l-1.  The study was carried out experimentally by using a completely randomized design (CRD) of 4 treatments and 3 replications.  The treatments in this research were treatment A (without papain enzyme), B (papain enzyme with a dose of 1.125%), C (papain enzyme with a dose of 2.25%), and D (papain enzyme with a dose of 3.375%).  The data observed were relative growth rate (RGR), protein efficiency ratio (PER), efficiency of feed utilization (EPP), survival rate (SR), and water quality.  The results showed that the use of the papain enzyme significantly (P <0.05) of the RGR, PER and EPP but not significantly different (P> 0.05) to SR.  Optimal dose of 2.53% papain enzyme on artificial feed is able to produce maximum relative growth rate of 5.05%/day for catfish (C. gariepinus).  Water quality in the maintenance medium contained in a decent range for  farming catfish.
PENGARUH SUBSTITUSI SILASE TEPUNG BULU DALAM PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN BENIH IKAN LELE ( Clarias gariepinus ) Kurniawan, Andi; Rachmawati, Diana; Samidjan, Istiyanto
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.462 KB)

Abstract

Pakan merupakan faktor penting dalam proses pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Faktor pakan menentukan 60 - 70% biaya produksi dalam usaha budidaya ikan. Besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pakan menjadi kendala bagi pembudidaya. Tingginya harga pakan disebabkan oleh mahalnya bahan baku yang digunakan, terutama tepung ikan. Oleh karena itu, perlu dicari alternatif bahan pakan dengan harga relatif murah dan mengandung nutrisi yang baik untuk mengurangi penggunaan tepung ikan. Salah satu alternatif bahan sumber protein adalah bulu ayam. Bulu ayam mengandung keratin sehingga perlu dilakukan fermenfasi untuk memecah keratin agar lebih mudah dicerna. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung ikan dengan silase tepung bulu ayam terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan lele serta mengetahui komposis yang terbaik dalam pakan buatan terhadap laju pertumbuhan dan efisiensi pemanfaatan pakan. Ikan uji yang digunakan adalah benih ikan lele (Clarias gariepinus) dengan bobot rata-rata 2,27 ± 0,34 g/ekor dan padat tebar 25 ekor/m3. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap 5 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini: presentase tepung ikan ; silase tepung bulu ayam 0%;100%, 25%;75%, 50%;50%, 75%;25%, dan 100%;0%. Data yang diamati meliputi pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan  relatif (RGR), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan B 25% silase tepung bulu ayam dalam pakan buatan memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap RGR, pertumbuhan mutlak, dan EPP benih ikan lele yaitu 72,26±2,53(W), 2,96±0,11 (RGR), 66,06±2,37 (EPP).The feed is a very important factor in supporting the growth and survival of fish. Feed factor determining the cost of production reaches 60-70% in the cultivation of fish. The high feed prices caused by the high cost of raw materials used, mainly fish meal which is also an obstacle. Therefore, it is necessary to find alternative feed ingredients with a relatively cheap price and deliver good nutrition to reduce the use of fish meal. One alternative protein source material is chicken feathers. Feather meal protein content is high enough, but the feather meal also contains keratin that is hard to digest, so it is necessary to advance the process of fermentation. The purpose of this study to determine the effect of different substitution artificial feed on fish meal with a chicken feather meal silage on growth and survival rate of catfish and know the best composition in artificial feed the growing rate of catfish in the effect of adding silage chicken feather meal. The fish samples used are the seeds of catfish (Clarias gariepinus) with an average weight of 2,27 ± 0,34 g / fish and stocking density 25 fish / m3. This research used experimental method completely randomized design with 5 treatments and 3 repetitions. The treatment in this study: treatment 0%;100%, 25%;75%, 50%;50%, 75%;25% and 100%;0%. Data observed the growth of absolute weight, relative growth rate (RGR), efficiency of feed utilization (EPP),) and water quality. The results showed that treatment B 25% chicken feather meal in artificial diet provides highly significant effect (P <0,01) to RGR, absolute growth, and the EPP catfish ie 72,26±2,53(W), 2,96±0,11 (RGR), 66,06±2,37 (EPP).