Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Tinggi Pangkasan Batang Utama dan Jumlah Cabang Primer yang Dipelihara terhadap Produksi Minyak Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Ince Raden; Bambang S. Purwoko; , Hariyadi; Munif Ghulamahdi; Edi Santosa
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 37 No. 2 (2009): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.721 KB) | DOI: 10.24831/jai.v37i2.1409

Abstract

The objective of this research was to study shoot architecture in relation to growth, increase production and seed oil content through various stem pruning and number of primary branches. This research was conducted using Randomized Complete Block Design with single factor. It consisted of ten treatments, i.e., K=kontrol, T20= height of stem pruning at 20 cm from soil and without control on number of primary branches, T20-2=height of stem pruning at 20 cm from soil and two primary branches, T20-3= height of stem pruning at 20 cm and three primary branches, T30= height of stem pruning at 30 cm and without control on number of primary branches, T30-2= height of stem pruning at 30 cm and two primary branches, T30-3=height of stem pruning 30 cm and three primary branches, T40=height of stem pruning at 40 cm and without control on number of  primary branches, T40-2=height of stem pruning at 40 cm and two primary branches, and T40-3=height of stem pruning 40 cm and three primary branches. The results showed that stem pruning increased number of primary branches. The highest seed oil content and seed production was achieved T40 and T30-3 treatments i.e., 323.81 g/plant or 0.810 ton/ha and 320.61 g/plant or 0.802 ton/ha with seed oil yield 244.56 kg/ha and 276.61 kg/ha, respectively.   Key words : Jatropha curcas L., seed oil content, pruning, primary branches
Karakteristik Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) dan Hubungannya dengan Fotosintesis Ince Raden; Bambang S. Purwoko; , Hariyadi; Munif Ghulamahdi; Edi Santosa
Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) Vol. 36 No. 2 (2008): Jurnal Agronomi Indonesia
Publisher : Indonesia Society of Agronomy (PERAGI) and Department of Agronomy and Horticulture, Faculty of Agriculture, IPB University, Bogor, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.507 KB) | DOI: 10.24831/jai.v36i2.20513

Abstract

The objective of this research was to study the morphology and physiology of jatropha leaves and its relation to photosynthesis. Research was conducted using Randomized Complete Block Design with single factor, i.e., leaf ages at the canopy with ten replications. The results showed that jatropha had phyllotaxy 5/13 with angular divergence 1380 . In early growing leaf enlarged sharply and then constant after 9 week, remaining green for 14 weeks. Chlorophyll a, b, and total achieved maximum at 9 week, i.e., 0.45 g/cm2 , 0.19 g/cm2 , and 0.62 g/cm2 , respectively. Photosynthesic rate was maximum at 6 week, i.e., 8.99 µmol/m2 /s, while number of stomata was maximum at 9 week (289.47 mm2 ). This finding implies that leaf number 11 to 13 or age 6 week after emergence could be used as reference for photosynthetic evaluation.
Pengaruh POC Dan AB MIX Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Pakchoy (Brassica chinensis L.) Dengan Sistem Hidroponik Sundari, Sundari; Raden, Ince; Hariadi, Untung Slamet
Jurnal Magrobis Vol 16, No 2 (2016): 2016
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.464 KB)

Abstract

The purpose of this study to determine the effect of POC and AB Mix on the growth and yield of pakchoy. This research was conducted in February and March 2016. Starting from seeding to harvest. Research located in the village Sepakat, District Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara. The study used a randomized block design (RAK) with factorial analysis 2 with repetition as much as (3). The treatment is a liquid organic fertilizer (P), which consists of 4 levels, namely p0 (control), p1 (5 ml POC L-1 water), p2 (10 ml POC L-1 water), p3 (15 ml POC L-1 water) and provision of AB Mix (N), which consists of 4 levels, namely n0 (control), n1 (AB Mix 600 ppm), n2 (AB Mix 1,200 ppm), n3 (AB Mix 1,800 ppm). The results showed that treatment of liquid organic fertilizer results showed no significant effect on all parameters but treatment provision Mix AB showed a highly significant effect on all parameters with results of the highest weight at treatment plants n3 (AB Mix 1,800 ppm).Keyword : Hydroponik, pakchoy, AB mix
ANALISIS TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH UNTUK PEMBANGUNAN PERTANIAN BERBASIS KOMODITAS UNGGULAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Thamrin, Thamrin; Raden, Ince
Jurnal Magrobis Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.256 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat perkembangan  wilayah untuk pembangunan pertanian berbasis komoditas unggulan di kabupaten kutai kartanegara. Penelitian menggunakan metode analisis skalogram,  analisis sentralitas, dan analisis komoditas unggulan dan andalan, dengan dukungan data sekunder dan data primer dari berbagai sumber. Sesuai hasil analisis disimpulkan; a) Pembangunan pertanian berbasis wilayah dibangun melalui tiga zona yaitu zona hulu berpusat di Kecamatan Kota Bangun, zona tengah berpusat di Kecamatan Tenggarong, dan zona pantai berpusat di Kecamatan Muara Jawa; dan b) Pembangunan pertanian dilaksanakan dalam 3 tahap, yaitu tahap pertumbuhan (tahap 1), tahap pengembangan (tahap 2), dan tahap pemantapan (tahap 3). Tahap 1 adalah penguatan on-farm didukung pengembangan industri hulu. Tahap 2 dan 3 fokus pada pengembangan industri hilir (off-farm) dan perluasan investasi pembangunan industri penunjang didukung oleh kegiatan on-farm; c) Komoditas unggulan di Kabupaten Kutai Kartanegara antara lain : padi sawah, jagung dan singkong (tanaman pangan); kelapa sawit dan karet (tanaman perkebunan); sapi potong, kambing, ayam kampung, ayam pedaging dan ayam petelur (peternakan); dan perikanan laut, tambak, dan keramba (perikanan); dan d) Pembangunan pertanian berbasis wilayah akan mendukung pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu meningkatkan kelestarian lingkungan melalui konservasi tanah, air dan tanaman.
IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Raden, Ince; Thamrin, Thamrin; Darmi, Darmi; Fadli, Mohamad
Jurnal Magrobis Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.359 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan sektor pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara. Untuk mencapai tujuan tersebut ada tujuh kriteria yang dijadikan dasar penilaian, yaitu kesesuaian lahan, dominasi pengusahaan, tingkat produktivitas wilayah (nilai relatif produktivitas komoditas), keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, perdagangan komoditas antar wilayah, dan keterkaitan produk ke depan. Penelitian dilaksanakan di 8 kecamatan dan analisis data dilakukan secara deskripsi kuantitatif menggunakan skor 1 sampai 5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi sawah, padi ladang, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelei merupakan komoditas unggulan tanaman pangan, sementara itu komoditas ungggulan sayuran adalah ketimun, kacang panjang, sawi, semangka, kangkung, cabe rawit, bayam, terung dan tomat. Komoditas unggulan buah-buahan adalah rambutan, pisang, durian, nangka, sukun, nenas, papaya, dan mangga, Sementara itu komoditas unggulan perkebunan meliputi karet, kopi, kelapa, kelapa sawit, lada, dan kakao Komoditas unggulan peternakan adalah karbau, ayam buras, itik, sapi, kambing, dan ayam potong. Sedangkan komoditas komoditas unggulan perikanan, yaitu tambak, perikanan laut, kolam, keramba dan perairan umum. Komoditas unggulan tersebut tersebar di 8 kecamatan dan masing-masing kecamatan memiliki tiga komoditas unggulan.
Evaluasi Pembangunan Bidang Pertanian Di Kabupaten Kutai Kartanegara Tahun 2013 Thamrin, Thamrin; Sabran, Sabran; Raden, Ince
Jurnal Magrobis Vol 15, No 1 (2015): 2015
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.262 KB)

Abstract

Kegiatan pembangunan bidang pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara perlu dievaluasi dalam rangka mengetahui kinerja pembangunan pertanian yang telah dilaksanakan sekaligus untuk pengambilan kebijakan pengembangan pertanian ke depan yang lebih baik. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pembangunan pertanian di Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode analisis diskriftif kualitatif-kuantitatif, analisis komofitas unggulan, analisis statistika, dan analisis stakeholder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumbangan sektor pertanian terhadap PDRB Kutai Kartanegara pada tahun 2013 cukup tinggi dibanding sektor lainnya yaitu mencapai 13,84 % (tanpa migas) dan dengan migas sekitar 7,50 %. Hal yang sama dengan PDRB perkapita juga cukup tinggi dan menduduki urutan kedua dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Timur, yaitu sebesar Rp 190.250.000,- pada tahun 2013. Sumberdaya manusia di sektor pertanian cukup besar yaitu sekitar 30,25 % atau sekitar (207.330 jiwa dari seluruh penduduk Kutai Kartanegara. Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada tahun 2013 rata-rata di atas dari nilai 100, kecuali perikanan budidaya. Komoditas padi sawah, jagung, ubi kayu, kelapa sawit, karet, lada, sapi, ayam, perikanan laut, keramba dan tambak merupakan komoditas unggulan daerah. Khusus untuk padi sawah, luas panen mencapai 37.113 Ha dengan produksi sebesar 189.393 ton. Dari produksi tersebut, daerah ini surplus beras sebesar 37.815,60 ton atau 60.311.97 ton GKG.Key Word : Evaluasi, Pembangunan, Pertanian
AKLIMATISASI PERTUMBUHAN BIBIT ANGGREK CATTLEYA (Orchidaceae cattleya sp) HASIL KULTUR JARINGAN DENGAN PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) Rahmawati, Eka; Raden, Ince; Mutiah, Mutiah
Jurnal Magrobis Vol 17, No 2 (2017)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.371 KB)

Abstract

The study is aimed to know the effect of liquid organic fertilizer, given toward of orchicidaceae cattleya growth. The study was arranged by complate randomized design: non factorial. By OFL treatment (coconut water and water of rice washing) was repeated three times. The treatmant of (OFL) was consisted of 10 level k0 (Without Liquid Organic Fertilizer), k1 (coconut water 2,5 ml L-1 water), k2 (coconut water 5,0 ml L-1 water), k3 ( coconut water 7,5 ml L-1 water), b4 (water of rice washing 2,5 ml L-1 water), b5 (water of rice washing 5,0 ml L-1 water), b6 (water of rice washing 7,5 ml L-1 water), kb7 (coconut water 2,5 ml L-1 + water of rice washing 5,0 ml L-1 water), kb8 (coconut water 5,0 ml L-1 + water of rice washing 5,0 ml L-1 water), and kb9 (coconut water 7,5 ml L-1 + water of rice washing 7,5 ml L-1 water).The result of this study showed that OFL treatment didnt give an effect to the avarege, number of high plants, and number of leaves at the age of days 25, 35, 45, and 55 after planting period. The unreal effect was on the paremeter of roots number at the age of days 25, 35, 45, and 55 after planting period. Meanwhile, the POC treatmen gave an real effect to the avareg of roots number at the age of days 45 after planting period.Keywords: Growth, Orchid, Liquid organic fertilizer.
PENGARUH AKTIVATOR MOL IKAN TERHADAP pH, C/N RASIO, UNSUR HARA MAKRO DAN MIKRO PUPUK ORGANIK CAIR ASAL LIMBAH PASAR Raden, Ince; Fadli, Mohamad
Jurnal Magrobis Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.31 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan pH, C/N rasio, unsur hara makro dan unsur hara mikro Pupuk Organik Cair (POC) asal limbah pasar dengan menggunakan MOL ikan. Metode penelitian dilaksanakan secara deskriptif dengan hanya membandingkan peubah yang diamati antara sistem fermentasi aerob dan anaerob. Peubah yang diamati adalah pH, C/N rasio, N-total, P2O5, K2O, Catotal, Mg, S, Fe, Mn, Co, Cu, B, dan Zn. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair yang difermentasi aerob memiliki pH (5.14) dan N-Total (0,02 %) lebih tinggi dibandingkan anaerob, sebaliknya sistem fermentasi anaerob memberikan nilai kandungan bahan kimia atau unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan kondisi aerob pada peubah C/N rasio (22,14), C/N rasio (4,19%), P2O5 (0,0095%), Ca-Total (86,695 ppm), Mg (520.6 ppm), dan S (700,00 ppm). Sementara itu K2O merupakan unsur hara yang memiliki nilai 0,051% yang sama antara kondisi aerob maupun anaerob.Key word : Mol ikan, aerob, anaerob, POC
Peran Pupuk Organik Kompos Berbasis Kotoran Hewan Terhadap Peningkatan Kesuburan Tanah Dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Raden, Ince; Fadli, Mohamad; Efendi, Aswan
Jurnal Magrobis Vol 14, No 1 (2014): 2014
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.91 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan dan hasil bawang merah akibat pemberian kombinasi jenis dan dosis pupuk organik. Penelitian dirancang dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non factorial dengan perlakuan kombinasi dosis dan jenis pupuk organik yang terdiri dari 10 (sepuluh) taraf perlakuan dengan 3 (tiga) ulangan, yaitu k0= Kontrol; k1 = 15 t ha-1 atau 1.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran sapi); k2 = 30 t ha-1 atau 3.0 kg petak-1 (bahan dasar kotoran sapi); k3 = 45 t ha-1 atau 4.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran sapi); k4 = 15 t ha-1 atau 1.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran kambing); k5 = 30 t ha-1 atau 3.0 kg petak-1 (bahan dasar kotoran kambing); k6 = 45 t ha-1 atau 4.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran kambing); k7 = 15 t ha-1 atau 1.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran ayam); k8 = 30 t ha-1 atau 3.0 kg petak-1 (bahan dasar kotoran ayam); dan k9 = 45 t ha-1 atau 4.5 kg petak-1 (bahan dasar kotoran ayam). Analisis dilakukan dengan uji F (sidik ragam). Pengambilan sampel tanah untuk analisis sifat fisik dan kimia tanah dilakukan pada 5 titik yang ditentukan secara diagonal pada kedalaman + 20 cm kemudian dikompositkan. Sedangkan pengambilan sampel tanah dengan menggunakan ring sampel diambil pada 2 kedalaman yaitu 0 30 cm dan 30 60 cm. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium PPHT Fakultas Kehutanan Unmul Samarinda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik berpengaruh sangat nyata terhadap rata-rata tinggi tanaman dan jumlah anakan umur 35 hari setelah tanam, bobot umbi per tanaman dan bobot umbi kering per petak saat panen, dan berpengaruh nyata terhadap rata-rata jumlah umbi per tanaman. Pemberian pupuk organik k9 (45 t ha-1 bahan dasar kotoran ayam) menghasilkan bobot umbi kering per petak tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya yaitu 130,25 g petak-1 atau 3,62 t ha-1.Keyword: Pupuk Organik, Produksi, Bawang Merah.
REKLAMASI LAHAN PASCA TAMBANG BATUBARA MENJADI LAHAN PRODUKTIF DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Thamrin, Thamrin; Raden, Ince
Jurnal Magrobis Vol 18, No 2 (2018)
Publisher : Agriculture Faculty, University of Kutai Kartanegara, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.075 KB)

Abstract

Pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara  merupakan kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Penambangan batubara secara terbuka memberikan dampak negatif terhadap penurunan kualitas  lahan, seperti perubahan bentang lahan (alam), rusaknya pipa-pipa kapiler dan permeabilitas tanah, kurangnya  daya  penyimpanan  air, dan terjadinya penurunan kualitas tanah sehingga reklamasi lahan pasca tambang yang benar menjadi sangat strategis untuk pemanfaatan lahan selanjutnya agar menjadi produktif.Tujuan kajian ini adalah untuk  meningkatkan kualitas lahan  pasca tambang guna untuk dimanfaatkan menjadi lahan produktif dengan berbagai kegiatan reklamasi. Kajian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2014 dalam wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.Metode analisis  yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa reklamasi lahan pasca tambang harus dilakukan sejak tahap  prakonstruksi, konstruksi,   operasi sampai pasca operasi tambang. Pada tahap prakonstruksi,  upaya   reklamasi melalui pembebasan lahan dengan sistem sewa lahan  kepada   pemilik lahan lebih cepat terjadi peningkatkan kualitas lahan dibanding sistem pembebasan lahan ganti putus karena perusahaan dituntut memperbaiki kondisi lahan sehingga menjadi produktif. Pada tahap   konstruksi, upaya reklamasi dengan pembukaan lahan tanpa pembakaran (zero burning) dan pengolahan biomassa hasil   pembersihan   lahan menjadi pupuk organic mempercepat perbaikan kualitas lahan.  Kemudian pada tahap operasi, tanah pucuk (top soil) dan tanah   penutup (sub soil) yang dikembalikan pada posisi semula (sebelum penambangan) dan dilanjutkan dengan kegiatan revegetasi dengan pengayaan tanah   melalui   penambahan pupuk  organik   dan  pertanian  terpadu melalui integrasi ternak dengan tanaman produktif  dan  bernilai   ekonomis sangat mendukung peningkatan kualitas lahan. Selanjutnya,    pada tahap pasca operasi yang dilakukan kegiatan reklamasi lanjutan minimal tiga tahun pasca tamban dapat  memperbaiki kondisi tanaman   sehingga  lahan  menjadi produktif.Keyword : Reklamasi, lahan pasca tambang, lahan produktif