Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Keragaman Struktur Tegakan Hutan Alam Sekunder (The Variability of Stand Structure of Logged-over Natural Forest) Muhdin; Endang Suhendang; Djoko Wahjono; Herry Purnomo; Istomo; Bintang C.H. Simangunsong
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 14 No. 2 (2008)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.399 KB)

Abstract

Differences in logging intensity, forestfires and forest encroachment have caused the variability of natural forest conditions, including its horizontal and vertical stand structures. Information on stand structure variability and dynamic of secondary forests is essential for projecting the future stand structure, which can be used to develop forest management plan. This study, which used 109 permanent sample plots data established on low and dry-land logged over natural forests in Kalimantan, showed that there was an obvious variability of the stand conditions after logging in terms of the trees number per hectare and horizontal stand structures.
MODEL PRODUKSI DAUN PADA HUTAN TANAMAN KAYU PUTIH ( Melaleuca cajuputi Subsp cajupti. POWELL) SISTEM PEMANENAN PANGKAS TUNAS utomo, Pudja Mardi; Suhendang, Endang; Syafii, Wasrin; Simangunsong, Bintang C H
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.865 KB)

Abstract

ABSTRACTCajuput oil is one of important non-timber forest product in Indonesia, which is resulted from processing of kayuputih ( Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi Powell) leaves. Perum Perhutani is now managing about 24,000 hectarsof kayu putih plantation in Java and 10 units of leaves processing mills with installed capacity of 53,760 tonnes peryear. However, these mill were not optimally operation due to low leaves kayu putih production. The objective of thisstudy were: (1) to develop kayu putih leaves production model, for one leaves harvesting rotation, and (2) to developkayu putih leaves production model for one biological rotation, to determine a silviculture rotation age of kayu putihstand. Subject to field condition, number of tree, stand density, and biomass by part of tree from36 temporary sampleplot (TSP) of Age Class II at BKPH Sukun were then measured to develop kayu putih leaves production model andfrom 24 TSP of all Age Class (Age Class I - VIII) at BKPH Sukun were measured to determine a biological rotationage. The result show that Morgan-Mercer-Flodin (MMF) equation was the best model representing kayu putih leavesproduction model, with option sprout age of 7 months. Polynomial equation was a model inrepresenting kayu putihleaves production model. Abiological rotation age was estimated around 25 years (with Age Class V).ABSTRAKKayu putih merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang penting di Indonesia. Hutan tanaman kayu putih di Jawacukup besar, diperkirakan Perum Perhutani mengelola sekitar 24.000 ha areal produktif jenis ini dan memiliki 10Pabrik Pengolahan Minyak Kayu Putih (PMKP). Namun Pengelolaannya belum optimal karena sampai saat iniproduksi daun kayu putih masih jauh dari kapasitas terpasang pabrik, yaitu sebesar 53.760 ton daun kayu putih pertahun. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui model produksi daun tanaman kayu putih dalam satu periodepemangkasan dan (2) mengetahui model produktivitas daun tanaman kayu putih dalam satu daur biologis. Hasilmodel yang diperoleh digunakan untuk menentukan saat daun dipanen dan saat tanaman kayu putih diganti dengantanaman baru. Metode pengambilan data dilakukan dengan survey, pengamatan langsung di lapangan denganpengukuran plot-plot ukur sementara (PUS). Plot ukur untuk pembuatan model dalam satu daur panen dibuatsebanyak 36 PUS dan 24 PUS untuk pembuatan model dalam satu daur biologis. Model produksi daun kayu putihterbaik dalam satu daur panen adalah Morgan-Mercer-Flodin model (MMF) dan pemangkasan optimum adalah padaumur tunas 7 bulan, dimana kurva laju pertumbuhan rata-rata bulanan maksimum berpotongan dengan kurvapertumbuhan bulan berjalan. Model produktivitas dalam satu daur silvikulktuyr adalah model polinomial. Daurbiologis atau saat tanaman diganti dengan tanaman baru diperkirakan pada umur 25 tahun (kelas umur V), dimanaproduk-tivitas setelah umur ini menurun.
DAMPAK KEBIJAKAN MAKROEKONOMI DAN FAKTOR EKSTERNAL EKONOMI TERHADAP LAJU DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN ALAM: STUDI KASUS DEFORESTASI UNTUK PERLUASAN AREAL TANAMAN PANGAN DAN PERKEBUNAN SERTA HUTAN TANAMAN INDUSTRI DAN DEGRADASI HUTAN ALAM AREAL KONSESI Astana, Satria; Sinaga, Bonar M.; Soedomo, Sudarsono; Simangunsong, Bintang C.H.
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di subsektor kehutanan, pengurangan emisi CO2 dapat diwujudkan dengan mempertahankan dan mengkonservasi hutan alam yang tersisa dan/atau meningkatkan hutan tanaman yang ada dengan mereboisasi kawasan hutan yang terdegradasi. Efektivitas kebijakan tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal hutan. Dalam penelitian ini, faktor eksternal hutan yang dianalisis dibatasi pada: (1) kebijakan makroekonomi dan (2) faktor eksternal ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kebijakan makroekonomi dan faktor eksternal ekonomi terhadap laju deforestasi dan degradasi hutan alam. Menggunakan model ekonometrika, hasil analisis mengindikasikan bahwa laju deforestasi dan degradasi hutan alam dipengaruhi oleh kebijakan makroekonomi dan faktor eksternal ekonomi. Dalam hal ini, suku bunga merupakan saluran transmisi kebijakan dan faktor eksternal ekonomi yang signifikan dan karenanya dapat digunakan sebagai instrumen kebijakan insentif-disinsentif yang efektif untuk mengendalikan laju deforestasi dan degradasi hutan alam.
DAMPAK KEBIJAKAN PROVISI SUMBERDAYA HUTAN DAN DANA REBOISASI TERHADAP KESEJAHTERAAN Erwinsyah, Erwinsyah; Harianto, Harianto; Sinaga, Bonar M.; Simangunsong, Bintang C.H.
ISSN 0216-0897
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tiga dasawarsa terakhir sektor kehutanan memberikan penerimaan negara, antara lain dari Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR). Untuk mengetahui dampak penerapan kebijakan PSDH dan DR terhadap kesejahteraan maka digunakan pendugaan elastisitas penawaran dan permintaan pasar kayu bulat dan pasar kayu olahan, yang digunakan atas dasar penelitian yang dilakukan sebelumnya. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series dari tahun 1995 sampai dengan 2009. Hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan PSDH dan DR secara terpisah akan meningkatkan harga kayu bulat, kecuali harga kayu bulat HTI pulp , dan meningkatkan harga produk kayu olahan. Kenaikan PSDH dan DR secara bersamaan akan meningkatkan harga kayu bulat dan kayu olahan. Kenaikan PSDH akan meningkatkan produksi kayu bulat dan kayu olahan, kecuali kayu lapis yang tidak didukung oleh kenaikan harga pasar. Kenaikan DR akan meningkatkan produksi kayu bulat, kecuali dari HTI pulp yang hampir tidak terpengaruh. Kenaikan DR akan meningkatkan produksi kayu gergajian, sedangkan kenaikan PSDH dan DR bersamaan akan meningkatkan produksi kayu bulat hutan alam, HTI perkakas dan HTI pulp , serta kayu gergajian dan pulp . Kenaikan PSDH dan DR akan meningkatkan kesejahteraan produsen serta menurunkan kesejahteraan konsumen kayu bulat.
Nilai Ekonomi Tanaman Obat di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat Ginting, Thasia; Ismail, Ahyar; Simangunsong, Bintang Charles
Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia Vol 18 No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Department of Economics-FEB UI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (759.219 KB) | DOI: 10.21002/jepi.v18i1.696

Abstract

Economic Value of Medicinal Plants in Danau Sentarum National Park, West KalimantanDanau Sentarum National Park (DSNP) is a conservation area which has an important role in people’s lives and society Kapuas Hulu in West Kalimantan. The objective of this study was to estimate the value of medicinal plants in the area TNDS. Contingent Valuation Method (CVM) with a single bounded was use to determine the willingness to pay for medicine plants. Data collected through direct interviews with 90 local households in DSNP using a questionnaire. Data analysis was done with MS. Excel® and SPSS® statistical software. The results show the variable value of the bid, income, age, education, and knowledge of medicinal plants significantly aect the value of WTP. The expected WTP is found between IDR50.354,22 to IDR72.312,44 per household per month.Keywords: Contingent Valuation Method; Single BoundWillingness to Pay; Danau Sentarum National Park (DSNP) AbstrakTaman Nasional Danau Sentarum (TNDS) adalah kawasan konservasi yang memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat di Kabupaten Kapuas Hulu dan masyarakat Provinsi Kalimantan Barat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi nilai tanaman obat yang ada di dalam kawasan TNDS. Contingent Valuation Method (CVM) dengan single bounded digunakan untuk menentukan nilai kesediaan membayar tanaman obat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara langsung dengan 90 kepala keluarga di TNDS menggunakan kuesioner. Analisis data dilakukan dengan perangkat lunak MS Excel® dan SPSS®. Hasil penelitian menunjukkan variabel nilai tawaran bid, pendapatan, usia, pendidikan, dan pengetahuan mengenai tanaman obat secara signifikan memengaruhi nilai WTP. Nilai dugaan WTP adalah sebesar Rp50.354,22 sampai Rp72.312,44 per keluarga per bulan.
Analisis Daya Saing Produk Pulp dan Kertas Indonesia di Pasar Dunia (Competitiveness Analysis of Indonesia’s Pulp and Paper Products in a Global Market) Bintang CH Simangunsong; Rizka A Wulandari
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 14, No 1 (2016): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.877 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v14i1.399

Abstract

The objective of this research is to analyze competitiveness of Indonesia pulp and paper products, particularly chemical wood pulp, newsprint, printing-writing paper and other paper-paperboard products in international market in the period 2002-2011. The Revealed Comparative Advantage (RCA) and the Trade Specialization Index (TSI) were then calculated to determine comparative and competitive advantages, respectively. In addition, the Constant Market Share (CMS) technique was also used to identify factors that affect competitiveness of those products.  The results show printing-writing paper and chemical wood pulp had an extremely strong comparative advantage (RCA index > 2,50), newsprint a moderate to strong comparative advantage (0,89 < RCA index ≤ 1,70), and other paper-paperboard a weak comparative advantage (0,63 < indeks RCA ≤ 0,92).  Further, TSI indicated newsprint (0,84 ≤ TSI ≤ 0,99) and printing-writing paper (0,84 ≤ TSI ≤ 0,93) were in a maturation stage,  chemical wood pulp in an export expansion stage (0,39 ≤ TSI ≤ 0,58) and other paper-paperboard in an import substitution stage (-0,14 ≤ TSI ≤ 0,16).  In order of importance, world market growth, competitiveness, and product composition were the influential factors that affect Indonesia’s pulp and paper products competitiveness.Keywords: pulp and paper, competitiveness, revealed comparative advantage, trade specialization index, constant market share
Analisis Biaya Produksi Pelet Kayu (Cost Analysis of Wood Pellet Production) Bintang CH Simangunsong; Karina A Wilma; EG Togu Manurung; Vera J Sitanggang; Armansyah H Tambunan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 15, No 1 (2017): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.179 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v15i1.401

Abstract

Eco-friendly renewable energy such as wood pellet is necessary to replace fossil fuels. Hence, the wood pellet industry has been rapidly developed, particularly, in European and America countries. To capitalize a high demand of wood pellet in those countries, Indonesia’s wood pellet companies need analysis tools to make decision on management and operation of their wood pellet production such as productivity, efficiency, production cost and and profitability assessments. The objectives of this study were to analyze cost, break-event point and profitability of wood pellet production. This study was conducted at a large integrated wood based panel and wood working products company, which produces wood pellet from its forest products residues. The results showed that the production cost was about IDR 1.41 millions per ton or US$ 114 per ton. The break-even point was about 1400 tons per year or about 84.7% of actual production. The return on investment (ROI) was about 14.15 %, which was slightly higer than a lending rate of 10.25%.Key words: energy, production cost, profitability, wood pellet, wood residues
Analisis Levelized Cost of Energy Pelet Kayu (Levelized Cost of Energy Analysis of Wood Pellet) Bintang CH Simangunsong; Ganesha SJ Silalahi; Mohammad DG Maulana; Elisa GT Manurung; Vera J Sitanggang; Armansyah H Tambunan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 15, No 2 (2017): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.158 KB) | DOI: 10.51850/jitkt.v15i2.402

Abstract

The availability of fossil energy resources as an input of production is limited and eventually will be rare. One of potential alternative energy that is recently developed to partly substitute fossil fuels based energy is wood pellet. The objective of this research was to analyze the levelized cost of energy (LCoE) of wood pellet made from wood processing residues. LCoE was the minimum energy prices that should be sold for an energy project to break even. The LCoE of wood pelet was obtained about IDR 259 per kWh or USD 0.02 per kWh. This LCoE value is lower than the LCoE of fossil fuels. It is indicating that energy derived from wood pellet is a very competitive.Keywords: LCoE, renewable energy, wood pellet, wood industry, wood residues
Pendugaan Dinamika Struktur Tegakan Hutan Alam Bekas Tebangan Muhdin; Endang Suhendang; Djoko Wahjono; Herry Purnomo; Istomo; Bintang Charles H Simangunsong
Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 17 No. 1 (2011)
Publisher : Institut Pertanian Bogor (IPB University)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.184 KB)

Abstract

Dynamics of stand structure (DST), which could indicate the growth performance of logged-over forests, may vary depending on various factors, e.g. stand density, initial stand structure, species composition, time after logging, and environmental factors (rainfall, elevation, etc.). The variations of such factors could result in the variations of DST’s components (e.g. proportion of trees upgrowth and staying). However, this study, which used 75 permanent sample plots data of lowland and dryland natural forests in Kalimantan, showed that the proportion of trees upgrowth and staying could not be predicted satisfactorily using the number of trees, stand basal area, time after logging, and elevation as independent variables in multiple linear regression models. The regression models produced unrealistic projections of stand structures. In contrast, the projection of stand structures using the DST’s components that were calculated using arithmetic mean was better than that of the regression models.
MODEL PRODUKSI DAUN PADA HUTAN TANAMAN KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi Subsp cajupti. POWELL) SISTEM PEMANENAN PANGKAS TUNAS Pudja Mardi utomo; Endang Suhendang; Wasrin Syafii; Bintang C H Simangunsong
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 9, No 4 (2012): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.865 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2012.9.4.195-208

Abstract

Kayu putih merupakan salah satu hasil hutan non kayu yang penting di Indonesia. Hutan tanaman kayu putih di Jawa cukup besar, diperkirakan Perum Perhutani mengelola sekitar 24.000 ha areal produktif jenis ini dan memiliki 10 Pabrik Pengolahan Minyak Kayu Putih (PMKP). Namun Pengelolaannya belum optimal karena sampai saat ini produksi daun kayu putih masih jauh dari kapasitas terpasang pabrik, yaitu sebesar 53.760 ton daun kayu putih per tahun. Tujuan penelitian adalah: (1) mengetahui model produksi daun tanaman kayu putih dalam satu periode pemangkasan dan (2) mengetahui model produktivitas daun tanaman kayu putih dalam satu daur biologis. Hasil model yang diperoleh digunakan untuk menentukan saat daun dipanen dan saat tanaman kayu putih diganti dengan tanaman baru. Metode pengambilan data dilakukan dengan survey, pengamatan langsung di lapangan dengan pengukuran plot-plot ukur sementara (PUS). Plot ukur untuk pembuatan model dalam satu daur panen dibuat sebanyak 36 PUS dan 24 PUS untuk pembuatan model dalam satu daur biologis. Model produksi daun kayu putih terbaik dalam satu daur panen adalah Morgan Mercer Flodin model (MMF) dan pemangkasan optimum adalah pada umur tunas 7 bulan, dimana kurva laju pertumbuhan rata-rata bulanan maksimum berpotongan dengan kurva pertumbuhan bulan berjalan. Model produktivitas dalam satu daur silvikulktur adalah model polinomial. Daur biologis atau saat tanaman diganti dengan tanaman baru diperkirakan pada umur 25 tahun (kelas umur V), dimana produktivitas setelah umur ini menurun.