Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Tabel Hidup Nyamuk Vektor Filariasis Limfatik Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) di Laboratorium Ramadhani, Tri; Yuliani, Vina; Hadi, Upik Kesumawati; Soviana, Susi; Irawati, Zubaidah
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 18, No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.18.2.73-80

Abstract

Latar belakang: Kelangsungan hidup nyamuk merupakan aspek yang penting dalam penularan penyakit tular vektor. Culex quinquefasciatus merupakan vektor filariasis limfatik yang disebabkan oleh wuchereria bancrofti. Pengetahuan kehidupan nyamuk berperan penting dalam keberhasilan program pengendalian vektor. Tujuan penelitian ini mendiskripsikan tabel hidup nyamuk Cx. quinquefasciatus di laboratorium.Metode: Penelitian diawali dengan koleksi larva Cx. quinquefasciatus di  Kota Pekalongan, kemudian diidentifikasi dan kolonisasi dalam kondisi laboratorium. Parameter yang diukur meliputi masa inkubasi, ekslosi, eksdisis, ketahanan hidup, laju reproduksi, waktu generasi dan laju pertumbuhan intrinsik.  Hasil: Cx. quinquefasciatus mempunyai siklus hidup 12.5 hari. Umur telur, larva, dan pupa masing-masing adalah 2.07; 10.2; dan  2.25 hari. Nyamuk jantan mempunyai ketahanan hidup yang lebih pendek dibandingkan betina. Laju reproduksi  bersih (Ro) sebesar 196.75, laju pertumbuhan intrinsik 0.35  dan waktu generasi (T) 14.91 hari.Simpulan: Pertumbuhan populasi Cx. quinquefasciatus  dapat diatur dan dikendalikan oleh kelulusan hidup dan mortalitas. ABSTRACTTitle: The Live Table of Vector Lymphatic Filariasis Culex quinquefasciatus (Diptera: Culicidae) in the LaboratoryBackground: The survival of a mosquito is an important aspect in the transmission of vector borne disease. Culex quinquefasciatus, which is a vector of lymphatic filariasis caused by wuchereria bancrofti. The knowledge of mosquito life is important in providing the foundation for the success of the vector control program. The research  aim to describe the life table Cx. quinquefasciatus in the laboratoryMethods:. This study was originated from the collecting larve  of Cx. quinquefasciatus from Pekalongan City, which were then identified and colonized under laboratory conditions. Parameters measured include the incubation period, ekslosi, eksdisis, survival rate, reproduction rate, and generation time.Results:The results showed that Cx. quinquefasciatus has a 12.5 day life cycle. Egg, larva, and pupa respectively were 2.07; 10.2; and 2.25 days. The males have a shorter survival period compared to  the  females. The net  reproductive  rate  (Ro)  was  196.75;  the  intrinsic  growth  rate  (rm)  was  0.35  and  the average generation time (T) was 14.91 days.Conclusion : The population growth of Culex quinquefasciatus can be regulated and controlled by life graduation and mortality 
Karakteristik Individu dan Kondisi Lingkungan Pemukiman di Daerah Endemis Leptospirosis di Kota Semarang Ramadhani, Tri; Astuti, Novia Tri
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol 25, No 3 Sep (2015)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.22 KB)

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit demam akut yang dapat menginfeksi manusia dan hewan (zoonosis) dandisebabkan oleh bakteri leptospira. Kota Semarang merupakan salah satu daerah endemis leptospirosisdengan insiden pada tahun 2009 sebanyak 13,27/100.000 penduduk dan kematian 3,5%. Penelitian inibertujuan untuk mengetahui karakteristik individu penderita leptospirosis dan hubungannya denganlingkungan pemukiman. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional.Populasi adalah semua pengunjung Puskesmas, sedangkan sampel adalah pengunjung Puskesmasdengan gejala klinis leptospirosis (terutama: demam dengan suhu tubuh > 37oC) atau demam disertaisakit kepala, nyeri otot, konjungtivitis dan ruam). Data lingkungan pemukiman diperoleh denganmelakukan pengamatan sedangkan karakteristik individu kasus leptospirosis dengan wawancara, datadianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristikresponden sebagian besar kelompok usia 10-19 tahun (38,1%), jenis kelamin laki-laki (56,2%), dantingkat pendidikan tidak tamat SD (30,5%). Kasus leptospirosis lebih banyak terjadi pada laki-laki,kelompok usia 0-19 tahun dengan (CFR=3,6). Kondisi lingkungan yang berhubungan dengan kejadianleptospirosis meliputi dinding dapur tidak permanen, tidak ada langit-langit, tempat sampah terbukadan kondisi rumah yang kotor. Upaya pencegahan penularan leptospirosis dapat dilakukan melaluikebersihan lingkungan, penanganan sampah yang baik sehingga tidak menjadi tempat bersarang tikus.
IDENTIFIKASI SEROVAR BAKTERI LEPTOSPIRA PADA TIKUS KAITANNYA DENGAN KEJADIAN LEPTOSPIROSIS DI BEBERAPA KABUPATEN DI PROVINSI JAWA TENGAH Ramadhani, Tri; Widiastuti, Diah
Publikasi Penelitian Terapan dan Kebijakan Vol 8 No 3 (2014): Jurnal Pembangunan Manusia
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leptospirosis adalah penyakit zoonotik yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang berbentuk spiral dari genus leptospira yang patogen, menyerang hewan dan manusia. Penyakit ini lebih sering terjadi dan luas penularannya pada musim penghujan. Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan urin yang terinfeksi leptospira atau kontak langsung dengan lingkungan yang terkontaminasi. Tahun 2013 jumlah kejadian leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah sebanyak 130 dengan CFR 10,8%. Penelitian dilakukan di Kabupaten Demak, Pati, Banyumas dan Klaten yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap angka kejadian leptospirosis di Jawa Tengah. Tujuan penelitian menganalisis serovar bakteri leptospira pada tikus terhadap kejadian leptospirosis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Data kejadian leptospirosis diperoleh dengan melakukan screening pada penderita suspect leptospirosis, data tikus diperoleh dari survei dengan perangkap hidup. Identifikasi bakteri leptospira dengan metode MAT (Microscopic Aglutination Test). Hasil penelitian menunjukkan 3 sampel serum manusia terinfeksi bakteri leptospira dari 19 sampel yang diperiksa. Serovar bakteri leptospira teridentifikasi L.Icterohaemorhagiae dengan titer 1/400, L.Javanica 1/1600, L.cynopteri 1/100, L.bataviae 1/400, L.Naam 1/320, L.Sejroe 1/160 dan L.Castello 1/320. Tikus positif bakteri leptospira sebanyak 3 dari 126 sampel yang diperiksa, dengan serovar L. icterohaemorhagie, L.Javanica, L. Pyrogenes, L. Cynopteri dengan titer 1/100 ~ 1/1600. Penderita leptospirosis dapat terinfeksi bakteri leptospira lebih dari satu jenis serovar demikian juga pada tikus. Ada kesamaan serovar bakteri pada human dan tikus sebagai reservoirnya.Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan mengurangi kepadatan tikus di lingkungan pemukiman dan meningkatkan personal hygiene.