Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Guru Berkarakter di Era Milenial (Perspektif Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddah) Agus Setiawan
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 13, No. 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.182 KB) | DOI: 10.35931/aq.v3i2.181

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara konseptual guru yang berkarakter secara Islami di era millenial. Jenis dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library research). Penelitian ini menggunakan data primer adalah buku karya Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad yaitu Adab Suluk al-Murid. Penelitian ini juga menggunakan pendekatan berparadigma diskriptif kualitatif. Hasil penelitian mengemukakan bahwa karakter guru perspektif Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad yaitu niat yang tulus, taubatan yang sesunggunya, menjaga dari perbuatan maksiat, beribadah meluangkan waktu kepada Allah, dzikir dan tafakur setiap saat, jauhi sifat malas, kesabaran dalam segala hal, bersedekah, dan berlaku sosial kepada manusia dan jangan dengki kepada makhluk Allah. Artikel ini menyimpulkan bahwa beberapa temuan dalam kajian kitab sebagai pandangan Al-Habib Abdullah adalah dapat diimplementasikan pada era millennial saat ini. Implikasinya bahwa perspektif Al-Habib Abdullah memberikan gambaran bahwa dunia pendidikan saat ini sangat membutuhkan karakter guru yang demikian, sehingga dalam proses pendidikan akan berdampak manfaat bagi anak didik. Penelitian ini juga dapat memberikan khazanah keilmuan bagi dunia pendidikan dan guru khususnya, juga bagi peneliti lain yang akan menggali lebih lanjut mengenai perspektif Al-Habib Abdullah dalam bidang lain.
ANALISIS PENDIDIKAN ISLAM DI INDIA DAN PERBANDINGANNYA DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA Agus Setiawan
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 12, No. 2, Juli-Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.361 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.60

Abstract

India mempunyai universitas pertama di dunia dengan 1000 dosen berdiri Pada abad 6 dan 7. Di India memiliki perpustakaan yang buka 24 jam. Sehingga kapanpun bisa belajar atau membaca di perpustakaan tersebut. Ada banyak pelajaran di luar ruangan kuliah. Pendidikan Islam saat ini di India, mengalami masa-masa yang sulit, karena dianggap minoritas dan dianaktirikan oleh pemerintah. Namun dengan semangat dari minoritas muslim ini, maka sebagian mendesak untuk mereformasi pendidikan Islam di India. Faktanya bahwa pendidikan Islam di India seperti di Madrasah telah berkembang dengan kolaborasi kurikulum madrasah kepada kurikulum modern, sehingga banyak siswanya yang belajar disana. Tercatat tidak hanya siswa muslim yang belajar, namun kebanyakan malahan siswa beragama Hindu yang belajar disana. "Meskipun disebut madrasah (sekolah Islam), orang-orang di daerah melihatnya seperti sekolah reguler yang baik. Seperti Madrasah Orgram yang terletak 125 km utara ibukota negara bagian, Kolkata, mengatakan bahwa sebagian besar kurikulum modern telah membuat lembaga semakin populer dalam masyarakat mayoritas Hindu. "Orang-orang biasa percaya bahwa madrasah adalah tempat di mana siswa diajarkan hanya pelajaran agama, dan hal itu tidak ada hubungannya dengan pendidikan modern. Pengakuan dari guru disana bahwa selama beberapa tahun telah bekerja untuk mengubah gagasan mereka. Di India berbeda dengan di Indonesia ketika anak selesai sekolah/belajar di sekolah. Di India ketika guru pulang mengajar, tidak langsung pulang ke rumah. Tetapi, Guru diundang oleh orang tua siswa untuk menginap/berkunjung ke rumah orang tua siswa. Untuk mengajarkan pelajaran tambahan di rumah siswanya. Guru dilayani dengan baik oleh keluarga siswa diberikan pelajaran dengan cara memanggil guru ke rumah. Untuk memberikan pelajaran tambahan. Sistem pendidikan India sedikit berbeda dengan Indonesia, setidaknya dilihat dari usia pendidikan tingkat SD sampai Menengah. Di India menggunakan sistem 10 tahun pembelajaran. Terbagi dalam 3 jenjang, yaitu primary (5 tahun), upper primary (3 tahun), dan secondary (2 tahun). Struktur pendidikan sekolah yang seragam tersebut telah di adobsi oleh seluruh Negara bagian dan teritori India. Ini juga berlaku untuk pendidikan konvensionalnya dan pendidikan Islamnya. Karena keduanya di bawah kebijakan Nasional pemerintah India. Berbeda dengan Indonesia yang mewajibkan 6 tahun di SD, 3 tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 3 tahun di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Adapun untuk pendidikan tingginya yaitu pada jurusan, baik teknik maupun bisnis menetapkan pola pendidikan Ghandi, yaitu pembentukan manusia yang berkepribadian utuh, kreatif dan produktif. Ada istilah S1, S2 dan juga S3 di India. Ini berlaku sama perguruan tinggi di Indonesia. Hanya saja sistem perkuliahannya yang berbeda juga tugas akhirnya. Kalau di India S1 tidak dituntut untuk menyelesaian akhir seperti Skripsi, sedangkan yang diwajibkan hanya pada tingkat S3 yaitu ada tugas wajib pembuatan Disertasi. Terdapat perbedaan yang signifikan tentang orientasi berfikir dan pola studi mahasiswa India dengan mahasiswa Indonesia. Bagaimana tidak, mahasiswa di India nyaris tak punya waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak berkaitan dengan persoalan akademik. Setiap hari, waktu mereka terkuras untuk mengamati huruf-huruf dalam susunan beratus-ratus kertas bahkan beribu-ribu halaman tebalnya. Membaca yang awalnya merupakan suatu kewajiban dengan sendirinya terkonversi menjadi satu kebutuhan pokok yang wajib dipenuhi. Pada umumnya mahasiswa menghabiskan waktu 12 hingga 20 jam perhari untuk berkonsentrasi dengan materi-materi kuliah.
REORIENTASI KEUTAMAAN ILMU DALAM PENDIDIKAN PERSPEKTIF AL-GHAZALI PADA KITAB IHYA ‘ULUMUDDIN Agus Setiawan
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 12, No. 1, Januari-Juni 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.749 KB) | DOI: 10.35931/aq.v0i0.18

Abstract

Bahwa problem yang terbesar di kalangan umat manusia saat ini adalah acuh  terhadap ilmu agamanya. Faktanya terkadang ilmu agama dinomor duakan sedangkan yang nomor satu adalah ilmu umum. Bahkan sekarang yang menjadi panutan adalah media sosial, bukan ilmu yang dipelajari. Pada tataran di Indoneia idealnya pendidikan memberikan andil besar dalam memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan yang kini melanda kehidupan. Mulai pendidikan, kita ingin menghasilkan manusia yang jujur, bersemangat, pekerja keras, tidak malas, berani, kreatif, cinta kebersihan, toleran dan sebaginya.Oleh karena itu sangat sayang sekali kalau sebuah karya yaitu Ihya ‘Ulumuddin karya al-Ghazali tidak di implementasi. Karya tersebut tidak melulu membahas satu bahasan keilmuan saja namun berbagai ilmu terkadang dibahas dalam satu kitab. Semisal Ihya’ Ulumuddin. Dalam kitab tersebut membahas tentang konsep ilmu, konsep Aqidah, fiqh dan lainnya. Hal ini mengindikasikan bahwa al-Ghazali adalah seorang representatif ulama’ integral dengan keilmuannya dan sangat relevan untuk diimplementasikan saat ini. Al-Ghazali menyebutkan bahwa untuk meraih kebahagiaan negeri akhirat hanya bisa dicapai melalui penguasaan terhadap ilmu mengenai akhirat. Semua itu semakin menguatkan posisi ilmu, ketetapan tentangnya, dan kedudukan mulia mereka yang memiliki ilmu dalam pandangan Allah SWT. Manusia yang memiliki ilmu dikatakan oleh al-Ghazali dapat memperoleh derajat atau kedudukan paling terhormat di antara sekian banyak makhluk di permukaan bumi dan langit karena ilmu dan amalnya.
Needs Assessment of Blended Learning Based Islamic Education on Higher Islamic Education Samarinda Agus Setiawan
FIKROTUNA Vol. 11 No. 01 (2020): Juli 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v11i01.3934

Abstract

This research aims to determine the potential and needs of lecturers and students in PAI learning which will be applied with the blended learning strategy. This research is a descriptive research with triangulation method and data sources. Data was collected through preliminary observations, analysis of students condition got from survey results (google form online) to 21 students from 4 faculties and several study programs, and interviews (lecturers and students). As for the data analysis used by adopting models from Miles, Huberman and Saldana, namely with three steps: data reduction, data display and withdrawal of conclusion data. The results of the study state that the potential and needs based on need assessment at IAIN Samarinda are: 1) the blended learning model is indispensable for the current technological development conditions at IAIN Samarinda, and on the achievements of KKNI in implementing learning with ICT, 2) survey results through google online form states that the analysis of student needs for innovative and interesting learning is 100% and student opinions about the learning needs of blended learning at IAIN Samarinda is 81%. 3) the expectations of this assessment need are: a) the blended learning model should have been implemented at university by looking at technological developments, b) the need for a complete module on blended learning (including RPS, learning devices, e-learning and evaluation) so that the implementation can be achieved, c) pedagogical socialization of blended learning to lecturers and students, d) facilities and infrastructure, e) and policies regarding the implementation of blended learning.The implication of this research could be a reference for other researchers to develop blended learning model in higher education.
Implementasi Nilai-nilai Karakter Islam Berbasis Pembiasaan Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Batu Abdan Rahim; Agus Setiawan
SYAMIL: Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education) SYAMIL VOL. 7 NO. 1, 2019
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/sy.v7i1.1715

Abstract

This research aims to uncover the implementation of habituation method in Islamic education for the formation students character values at MTsN Batu, with sub focus includes: (1) a form implementation of habituation method in Islamic education for the formation students character values at MTsN Batu. (2) any characters that are formed on a student through a habituation method in Islamic education at MTsN Batu. (3) evaluation the implementation of habituation method in Islamic Education for the formation students character values at MTsN Batu. This study uses qualitative methods to do a descriptive approach. Checking the validity of the data is carried out by means of Triangulation and reference materials. While the principal Informant of this research is the head master of school, deputy head of student management, master of class, and other related parties in this research. The results of this research indicate that: a form implementation of habituation method in Islamic education for the formation students character values at MTsN Batu are: (1) Habituation of character, habituation in worship, and habituation in the annual event. (2) the resulting characters  of the students through habituation methods in Islamic education at MTsN Batu are: Culture religious, communicative/ amicable, care of environment, discipline, creative, the spirit of nationality, an avid reader, social care, and responsibility. (3) evaluation the implementation of habituation method in Islamic education for the formation students character values at MTsN Batu are: the ceremony on Monday, the assembly of the council of teachers (meeting), and through the book TATIBSI (the student code of conduct) with assessment scores and calculated each semester.
Prinsip Pendidikan Karakter dalam Islam: Studi Komparasi Pemikiran Al-Ghazali dan Burhanuddin Al-Zarnuji Agus Setiawan
Dinamika Ilmu Dinamika Ilmu Vol 14 No 1, June 2014
Publisher : UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.869 KB) | DOI: 10.21093/di.v14i1.4

Abstract

The implementation of character education that is done by the Indonesian government recently has been provoked by al-Ghazali and Burhanuddin al-Zarnuji long ago. It was proven by some written thoughts of al-Ghazali and Burhanuddin al-Zarnuji. They were very famous scientists in their era and widely welknown as educational experts who produced some phenomenal thoughts many people use today. Al-Ghazali and Burhanuddin al-Zarnuji lived in the era of Bani Abbasiyah monarchy, but Both of them lived in different era. Al-Ghazali was born first, then Burhanuddin al-Zarnuji. They had different mazhab, al-Ghazali went to the traditional principle of mazhab Syafi’I and Burhanuddin al-Zarnuji went to the modern principle of mazhab Hanafi. The differences, of course, would create a different thought. Still, they might have a similar principle of Islamic character education. The thoughts of character education of al-Ghazali have been poured in the “Ayyuha Walad” focusing to the students’ character building characterized by religiously obedient, skillfull of general and religious knowledge, socially helpful, affectionate, generous, good citizen, and coloring the society. Some applicable thoughts of character education of Ayyuha al-Walad of al-Gazhali to the contemporary education are: the balance of the happiness purposes of the recent life and the life after death, qana’ah and tawakal, affectionate, caring other, patience, honesty, philanthrophy, social works, generousity, democratic, peace makers, and patriotic. Those characters are also directed in the islamic character education nowdays. So that, the thoughts of al-Ghazali positively and responsively are absorbed by the Indonesian government to build the national character widely implementing in the national curriculum based on the local wisdom and the Islamic values. In the end, the students are able to live happily based on the Islamic rules by implementing the good behavior. Similar to the al-Ghazali’s thought, Burhanuddin al-Zarnuji, in “Ta’lim al-Muta’alim”, wrote some important principles of character building consists of the phisycal and inner values in education.