Aneka Prawesti Suka
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perubahan Iklim dan Kebijakan

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERANAN KAYU DAN HASIL BUKAN KAYU DARI HUTAN RAKYAT PADA PEMILIKAN LAHAN SEMPIT: KASUS KABUPATEN PATI Setiasih Irawanti; Aneka Prawesti Suka; Sulistya Ekawati
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2012.9.3.113-125

Abstract

Kabupaten Pati dipilih sebagai lokasi studi karena memiliki potensi hutan rakyat sengon. Hutan rakyat disini meliputi tegalan dan pekarangan rakyat yang ditanami kayu-kayuan dengan teknik agroforestri. Lokasi studi difokuskan di tiga desa, yakni Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal, Desa Gunungsari Kecamatan Tlogowungu, dan Desa Payak Kecamatan Cluwak. Unit analisis pada tingkat individu adalah rumahtangga petani dan pada tingkat sosial adalah dusun. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, pencatatan data sekunder, diskusi kelompok terarah, dan penelusuran wilayah. Jumlah sampel rumah tangga sebanyak 15 KK/dusun, peserta diskusi kelompok terarah untuk laki-laki tani dan perempuan tani masing-masing sebanyak 10-15 orang/dusun. Analisis data menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hutan rakyat sengon dibangun di lahan tegalan dan pekarangan secara tumpangsari dengan berbagai jenis tanaman semusim, empon-empon, rumput pakan ternak, tanaman perkebunan, tanaman penghasil buah-buahan, dan tanaman kehutanan, sehingga diperoleh HK dan HBK. Program pemerintah KBR, BLM-PPMBK, dan KBD berperan memperkaya lahan rakyat dengan tanaman kayu dan mendorong peningkatan produksi HK dan HBK. Kontribusi pendapatan hasil kayu paling tinggi terjadi di Desa Payak (67%) sedangkan kontribusi pendapatan dari HBK yang tinggi terjadi di Desa Giling dan Gunungsari (71% - 87%). Jenis HBK yang mempunyai kontribusi pendapatan besar yakni tanaman buah-buahan (31,58% - 75,11%) dan tanaman perkebunan (22,13% - 55,41%). Kontribusi pendapatan dari tanaman semusim di Desa Payak relatif tinggi dibandingkan kedua desa lainnya. HBK berperan penting dalam mempertahankan eksistensi hutan rakyat pada pemilikan lahan yang sempit karena dapat memberi pendapatan pada petani selama menunggu panen kayu. Selain itu, bila tanaman kayu dicampur dengan berbagai jenis tanaman penghasil HBK maka petani dapat memperoleh pendapatan secara berkesinambungan karena panen HBK terjadi secara bergilir. Dengan pertimbangan tersebut, pada wilayah-wilayah di mana pemilikan lahan oleh petani relatif sempit maka pembangunan Hutan Rakyat, Hutan Tanaman Rakyat atau Hutan Kemasyarakatan direkomendasikan menggunakan teknik agroforestri dengan berbagai jenis tanaman semusim, empon-empon, tanaman hijauan pakan ternak, tanaman perkebunan, dan tanaman buah-buahan yang dapat menghasilkan berbagai jenis HBK.
KAJIAN EKONOMI SUBSTITUSI BAHAN BAKAR GAS DENGAN LIMBAH BIOMASSA PADA INDUSTRI KECIL-MENENGAH Setiasih Irawanti; Hariyatno Dwiprabowo; Aneka Prawesti Suka
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2012.9.4.198-215

Abstract

Kekhawatiran akan perubahan iklim yang disebabkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatnya harga bahan bakar fosil mendorong masyarakat untuk menggunakan energi yang rendah emisi dan terbarukan seperti bahan bakar biomassa (BBB). Substitusi penggunaan energi dari Bahan Bakar Gas (BBG) ke BBB pada industri kecil menengah (IKM) sampai tahap tertentu telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana IKM gula kelapa dan tahu di Jawa Tengah dan Jawa Barat telah menggunakan biomassa (serbuk gergaji, sebetan dan pellet kayu) dan mengkaji aspek ekonominya. Metode analisisnya yang digunakan adalah analisis biaya, nilai tambah, resiko lingkungan dan identifikasi factor pemungkin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan bakar yang paling murah pada pengolahan gula kelapa adalah serbuk gergaji, sebaliknya yang paling mahal adalah gas. Nilai tambah, keuntungan, dan marjin pengolahan tahu menggunakan bahan bakar sebetan dan pellet kayu adalah tinggi, sebaliknya menggunakan bahan bakar gas adalah terendah. Demikian pula kontribusi biaya bahan bakar adalah rendah bila menggunakan sebetan dan pellet kayu, sebaliknya tertinggi bila menggunakan gas. Penggunaan BBB pada IKM makanan-minuman secara teknis dan ekonomis menarik untuk mensubstitusi BBG, baik menggunakan sebetan atau pellet kayu asalkan ada jaminan kesinambungan pasokan dan mudah diperoleh. Kondisi sumber biomassa beberapa tahun terakhir cenderung menurun namun terjadi peningkatan gerakan penghijauan yang dapat menciptakan sumber baru.
PENGEMBANGAN SISTEM PENDANAAN REDD+ BERDASARKAN PEMBELAJARAN DARI MEKANISME PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN Setiasih Irawanti; Aneka Prawesti Suka; Indartik Indartik; Fitri Nurfatriani; Nunung Parlinah
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 11, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2014.11.4.295-307

Abstract

Seventy percent of Indonesia's land is forest area which has an opportunity for implementing Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation+ (REDD+). Clean Development Mechanism (CDM) funding mechanism and the role of actors were analyzed using marketing chain approach (ILO, 2009), calculating the cost of CDM based on the cost of planting per hectare, estimated profitability using PresentValue (PV), and learning from payment of water services. TheCDMprogram funded by non-public grant from corporate social responsibility (CSR) for land rehabilitation conducted by farmer group on the land that unplanted for 30 years. The investors fasilitated by intermediary of farm administrator or non-government organizations without involving the government. Monitoring, reporting and verification (MRV) based on 10 years contract period, 1,000 stems per hectare in the 10 , and payment based on the success of plantation. Learning from the water service payments that payments mechanism from industries to farmers group conducted through intermediaries which operational costs from international agencies and local government budgets. Five year contract payment are equipped of legal documents, the 500 stems per hectare spreads across the land, farmers can harvest the other trees. For both mechanism, the farmers group fully follows the requirements set by the investors.