Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA TERHADAP KEBIASAAN MEROKOK Indy Larasati Wardhana; Agus Dwi Susanto
Essence of Scientific Medical Journal Vol 18 No 2 (2020): Volume 18 No. 2 (Juli - Desember 2020) Essential: Essence of Scientific Medical
Publisher : Kelompok Ilmiah Hippocrates Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ESTL.2020.v18.i02.p06

Abstract

Latar Belakang: Terdapat 35,5% mahasiswa di Indonesia perokok aktif. Mahasiswa harusnya memiliki tingkat pendidikan yang baik. Tingkat pengetahuan merupakan aspek penting yang mampu memengaruhi kebiasaan merokok. Tujuan penelitian ini melihat hubungan tingkat pengetahuan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) terhadap bahaya rokok dan kebiasaan merokok. Metode: Metode penelitian ini adalah studi potong lintang yang dilaksanakan di UI pada bulan Agustus 2018-Desember 2019. Peneliti menggunakan kuesioner sebagai instrumen untuk disebarkan kepada 94 responden yang dipilih menggunakan teknik pengambilan acak. Uji yang dilakukan untuk menganalisis data adalah uji fisher. Hasil: Terdapat 9,6% mahasiswa UI yang merupakan perokok aktif dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (88,9%), berasal dari fakultas hukum (44,4%), menggunakan rokok putih (66,7%), usia awal merokok 17 tahun (33,3%), mengonsumsi 5-10 batang rokok sehari (55,5%), hanya menggunakan rokok konvensional (89%), dan derajat adiksi terhadap nikotinnya ringan. Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan bahaya rokok yang tinggi (69,1%). Diskusi: Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kebiasaan merokok maupun derajat adiksi nikotin. Pengetahuan yang tinggi tidak membuat mahasiswa berhenti merokok karena perokok cenderung menyepelekan bahaya dari merokok terhadap diri sendiri atau sekitarnya. Derajat adiksi nikotin pada mahasiswa UI cenderung ringan. Hal ini menunjukkan bahwa alasan mahasiswa UI merokok bukan disebabkan oleh kecanduan.
Inflammatory Markers upon Admission as Predictors of Outcome in COVID-19 Patients Budhi Antariksa; Erlina Burhan; Agus Dwi Susanto; Mohamad Fahmi Alatas; Feni Fitriani Taufik; Dewi Yennita Sari; Dicky Soehardiman; Andika Chandra Putra; Erlang Samoedro; Ibrahim Nur Insan Putra Darmawan; Hera Afidjati; Muhammad Alkaff; Rita Rogayah
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v41i4.185

Abstract

Background: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) may cause dysregulation of the immune system, leading to hyperinflammation. Inflammatory markers can be used to predict in-hospital mortality in COVID-19 patients. This research was aimed to investigate the association between the levels of various inflammatory markers and mortality in COVID-19 patients.Methods: This study was conducted at Persahabatan National Respiratory Referral Hospital, Indonesia. Blood tests were performed upon admission, measuring the C-reactive protein, PCT, leukocyte, differential counts, and platelet count. The outcome measured was the mortality of hospitalized COVID-19 patients. Statistical analysis methods included the Mann–Whitney U test, receiver operating characteristic (ROC) analysis, and area under the curve (AUC) test.Results: Total 110 patients were included, and the laboratory values were analyzed to compare survivors and non-survivors. The non-survivor group had significantly higher leukocyte count, lower lymphocyte count, higher CRP and PCT levels, higher neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR), higher platelet-to-lymphocyte ratio (PLR), and lower lymphocyte-to-CRP ratio. As predictors of mortality, AUC analysis revealed that PCT, CRP, NLR, and PLR had AUCs of 0.867, 0.82, 0.791, and 0.746, respectively.Conclusions: Routine and affordable inflammatory markers tested on admission may be useful as predictors of in-hospital mortality in COVID-19 patients requiring hospitalization.
Pulmonary Health of Traffic Policemen in Low Air-Polluted Bogor Area Harris Abdullah; Jamal Zaini; Budhi Antariksa; Agus Dwi Susanto; Faisal Yunus
Jurnal Respirologi Indonesia Vol 41, No 3 (2021)
Publisher : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)/The Indonesian Society of Respirology (ISR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36497/jri.v41i3.183

Abstract

Background: Traffic policemen are very susceptible to respiratory problems due to the potential for exposure to air pollution. Therefore, this study aimed to assess respiratory health aspects of traffic policemen in Bogor, West Java. Method: Registered traffic policemen in Bogor were evaluated for respiratory symptoms, smoking habits, Fagerström Test for Nicotine Dependence (FTND) Questionnaire, chest x-ray, and spirometry. Air quality measurements were also carried out as a reference. Result: During the study period, the air quality in Bogor was classified as “Good” and below the ambient air pollutant standard. A total of 95 traffic policemen participated with a mean age of 37.3±8.7 years (range 23–57 years), mean Body Mass Index (BMI) of 28.1±4.2 kg/m2, and a length of service of 3-38 years (mean of 12.3 years). Mild pulmonary function impairment was found in 7.4% of subjects. About 61% of subjects had a smoking habit but with a low addiction index (FTND) and exCO. Decreased lung function was correlated to BMI and age (P
Dampak Polusi Udara terhadap Asma Agus Dwi Susanto; Mirza Purwitasari; Budhi Antariksa; Retno A S Soemarwoto; Syazili Mustofa
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 2, No 2 (2018): Jk Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v2i2.1955

Abstract

Pedoman yang dikeluarkan oleh World Health Organization dibuat untuk mengurangi pengaruh buruk polusi udara.Polutan utama yang terdapat di udara yatiu PM, O3, NO2, SO2 . Polutan tersebut paling besar bersumber dari aktivitas industry dan asap kendaraan bermotor.Polusi udara mempunyai hubungan dengan eksaserbasi pada asma, peningkatan reaktivitas bronkus, bertambahnya gejala asma, peningkatan rawat inap dan kunjungan ke unit gawat darurat.Beberapa penelitian menyatakan bahwa polusi udara mempunyai peranan dalam terjadinya asma.Prevalens dan derajat beratnya asma meningkat seiring dengan peningkatan polusi udara.Pajanan polusi udara dapat dihindari dengan tetap beraktivitas dalam ruangan, menggunakan penyaring udara dalam ruangan, membatasi latihan fisis di luar ruangan yang dekat dengan sumber polusi.Kata kunci : asma, polusi udara, polutan udara
Dampak Bioaerosol terhadap Pernapasan Agus Dwi Susanto; Dita Kurnia Sanie; Feni Fitriani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 2 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i2.2498

Abstract

Mikroorganisme terdapat di lingkungan kita, seperti di tanah, air, tanaman, hewan dan manusia. Kehadiran mikroorganisme di udara lingkungan kerja disebut bioaerosol. Bioaerosol didefinisikan sebagai partikel udara yang terdiri dari organisme hidup seperti mikroorganisme atau partikel yang berasal dari organisme hidup, seperti metabolit, toksin atau fragmen mikroorganisme. Partikel tersebut dapat terhirup oleh manusia dan dapat berpenetrasi ke dalam paru. Bioaerosol dapat mempengaruhi kualitas udara di tempat kerja dan kesehatan para pekerja. Keluhan respirasi dan gangguan fungsi paru telah banyak diteliti dan merupakan masalah kesehatan akibat bioaerosol yang paling utama. Penyakit utama akibat pajanan bioaerosol dapat dibedakan menjadi penyakit infeksi, penyakit respirasi dan kanker. Penyakit infeksi dan respirasi merupakan yang paling sering terjadi tetapi data akurat mengenai insidens dan prevalensi penyakit yang disebabkan oleh agen biologis masih kurang.Kata kunci: bioaerosol,masalah kesehatan, mikroorganisme