Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

UJI FITOKIMIA DAN UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL TANAMAN KESEMBUKAN (Paederia foetida Linn.) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST Sukmawati, Datin An Nisa; Hayati, Elok Kamilah; Muti'ah, Roihatul
ALCHEMY ALCHEMY (Vol.3, No.2
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology UIN Maulana Malik Ibrahim Malan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.563 KB) | DOI: 10.18860/al.v0i1.2918

Abstract

Tanaman Kesembukan (Paederia foetida L.) merupakan salah satu tanaman dari suku Rubiaceae (kopi-kopian) yang telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat sariawan, obat demam, sesak nafas, obat tekanan darah tinggi, rematik dan herpes. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat toksisitas masing-masing ekstrak tanaman Kesembukan terhadap larva udang Artemia salina L. dan untuk mengetahui kandungan senyawa yang terkandung dalam masing-masing ekstrak tanaman kesembukan.Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi sampel menggunakan pelarut etanol, kloroform dan n-heksana. Ekstrak pekat yang diperoleh digunakan untuk uji toksisitas terhadap larva udang Artemia salina L. dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (Meyer, et al., 1982) dan untuk uji fitokimia dengan reagen. Senyawa dari hasil uji fitokimia diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis dengan beberapa eluen untuk mengetahui eluen yang terbaik. Data kematian larva udang Artemia salina L. dianalisis dengan analisis probit untuk mengetahui nilai LC50 pada masing-masing ekstrak.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing ekstrak tanaman Kesembukan (Paederia foetida L.) memiliki tingkat toksisitas terhadap larva udang Artemia salina L.yang ditunjukkan dengan nilai LC50 kurang dari 1000 ppm. Nilai LC50 masing-masing ekstrak etanol, kloroform dan n-heksana adalah 226,787; 482,014; dan 146,181 ppm. Kandungan senyawa hasil uji fitokimia menggunakan reagen untuk masing-masing ekstrak tanaman Kesembukan adalah golongan senyawa steroid. Eluen terbaik untuk pemisahan senyawa pada ekstrak etanol adalah n-heksana : etil asetat (8:2) dengan nilai Rf= 0,22 dan 0,48. Pada ekstrak kloroform adalah n-heksana : etil asetat (7:3) dengan nilai Rf= 0,32; 0,45; 0,59; 0,63; 0,82; 0,85; 0,87 dan 0,94. Pada ekstrak n-heksana adalah n-heksana : etil asetat (8:2) dengan nilai Rf= 0,12; 0,38 dan 0,41.
SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK KLOROFOM TANAMAN KESEMBUKAN (Paederia foetida Linn.) DAN UJI TOKSISITAS MENGGUNAKAN METODE BSLT Sukmawati, Datin An Nisa
Jurnal Inovasi Farmasi Indonesia (JAFI) Vol 1, No 2 (2020): Vol. 1 No. 2 Juni 2020
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jafi.v1i2.826

Abstract

Tanaman Kesembukan (Paederia foetida L.) merupakan tanaman yang sudah lama dikenal dan dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan obat tradisional oleh masyarakat. Tanaman tersebut mempunyai efek karminatif yang dapat meredakan kolik angin di perut dengan cara mengeluarkan gas dari saluran pencernaan, sehingga banyak masyarakat yang memanfaatkannya sebagai obat sakit perut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder dari tanaman Kesembukan dengan menggunakan skrining fitokimia dan untuk mengetahui tingkat toksisitas tanaman tersebut dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test  (BSLT). Penelitian ini merupakan uji pendahuluan agar tanaman Kesembukan dapat diketahui kandungan senyawa aktif dan potensinya bila digunakan sebagai obat untuk penyakit yang lain. Sampel tanaman Kesembukan kering dimaserasi dengan menggunakan pelarut kloroform untuk mendapatkan ekstrak kloroform kasar. Ekstrak tersebut diidentifikasi dengan menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) dan diuji fitokimia dengan menggunakan beberapa reagen. Uji toksisitas ekstrak kloroform tanaman Kesembukan dilakukan dengan cara menghitung kematian larva udang Artemia salina L. untuk mengetahui nilai LC50 berdasarkan analisis probit. Kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak kloroform tanaman Kesembukan adalah golongan steroid dengan nilai Rf = 0,16; 0,53; dan 0,59. Tingkat toksisitas ekstrak klorofom tanaman Kesembukan adalah 193,822 ppm. Hal ini dapat dikatakan bahwa tanaman Kesembukan memiliki efek toksisitas dikarenakan nilai LC50 nya kurang dari 1000 ppm. Kata Kunci: BSLT, KLT, skrining fitokimia, Kesembukan
Uji Fitokimia dan Profil Kromatografi Lapis Tipis Senyawa Metabolit Sekunder dari Ekstrak Daun Calathea Silver Sukmawati, Datin An Nisa; savitri, Lisa
Jurnal Inovasi Farmasi Indonesia (JAFI) Vol 3, No 1 (2021): Vol.3 No.1 Desember 2021
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jafi.v3i1.2329

Abstract

Daun Calathea Silver merupakan tanaman hias yang memiliki warna dasar ungu. Jika tanaman memiliki warna ungu, maka kemungkinan memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi dan senyawa metabolit yang banyak terkandung adalah golongan flavonoid. Penelitian ini bertujuan sebagai skrinning awal dalam menentukan kandungan senyawa metabolit sekunder yang ada di dalam ekstrak etanol daun Calathea silver berdasarkan uji reagen fitokimia dan profil persebaran senyawa kimia menggunakan kromatografi lapis tipis. Hasil penelitian ini adalah senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak etanol daun Calathea silver adalah golongan flavonoid, alkaloid, tanin, dan steroid. Berdasarkan profil kromatografinya terdapat 5 nilai Rf yaitu, 0,4; 0,5; 0,7; 0,8 dan 0,9. Eluen yang baik dan yang dapat digunakan untuk proses pemisahan selanjutnya adalah eluen campuran kloroform : metanol dengan perbandingan 10:1.
Uji Potensi Triterpenoid dari Kulit Batang Waru Jawa (Hibiscus tiliaceus L.) sebagai Kandidat Antiinflamasi pada Mencit (Mus musculus) Model Rheumatoid Arthritis Berbasis in Silico Lisa Savitri; Elfred Rinaldo Kasimo; Datin An Nisa Sukmawati; Syntia Tanu Juwita; Eka Wahyuningtiyas; Ana Retnowati
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 21, No 3 (2021): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v21i3.1619

Abstract

Waru jawa (Hibiscus tiliaceus L.) is a plant that functions as an anti-inflammatory. Compounds from the waru jawa plant, especially the bark can be grouped into alkaloids, flavonoids, triterpenoids, and steroids. The content of triterpenoids from the waru jawa stem bark was tested for their biochemical activity, so that it is expected that the bark of Javanese waru stems can be used optimally. This study aims to determine the potential of triterpenoids from waru jawa stem bark as anti-inflammatory candidates in mice (Mus musculus) rheumatoid arthritis model in silico-based. Potential analysis of triterpenoids in mice was carried out using the STITCH, which is a database of known and predicted interactions between chemicals and proteins found in living things. Interactions in question are physical and functional associations, the data contained in STITCH comes from computational predictions, transfer of knowledge between organisms, and from interactions collected from other databases. Analysis of the triterpenoid mechanism of waru jawa stem bark against rheumatoid arthritis model mice in silico-based using the bioinformatics application Kegg. Based on the results of the analysis, it can be seen that triterpenoids derived from waru jawa stem bark sources play an important role in reducing inflammation. The triterpenoids target NF-κB, leading to its downregulation. Triterpenoids have been found to have many functions, although their effective concentrations for various cellular effects may vary widely. Depending upon the dose administered, triterpenoids can induce anti-inflammatory, proliferation-arresting, apoptotic effects, cytoprotective, and tumor-differentiating.
Determination of Glucose with Cellulose Acetate/Glucose Oxidase Modified Carbon Paste Electrodes Rochmad Kris Sanjaya; Datin An Nisa Sukmawati; Nurul Ismillayli; Dhony Hermanto
Molekul Vol 16, No 3 (2021)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.705 KB) | DOI: 10.20884/1.jm.2021.16.3.679

Abstract

An amperometric biosensor for glucose determination was developed using a carbon paste electrode (CPE) modified with cellulose acetate (CA)/glucose oxidase (GOx) bilayer membrane through the electrostatic interaction between them. The CA membrane was used as matrix for enzyme immobilization via microencapsulation technique, is enzyme placed between two membranes. CA/GOx membrane was attached to CPE surface containing ferrocene (Fc). By using proposed amperometric biosensor, glucose concentration was determined as well as its characteristic. The modified Fc–graphite electrode with CA/GOx bilayer membrane for glucose had optimum measurement conditions at work emf of 874 mV, CA concentration of 10% and amount Fc of 0.021 mg. The biosensor showed good performance at glucose concentration range of 0.05–3 mM and limit of detection was 0.024 mM. Proposed biosensor has good reproducibility with relative standard deviation (RSD) was less than 5% up to 7 times use (in the defined condition 4 ˚C). Glucose measurement result in human serum of diabetes mellitus patients showed conformity with result of reference method, MediSense Optium glucose test kit.
HEALTH EDUCATION 6 STEPS HAND WASHING, USE OF MASK, AND HANDSANITIZER IN RA AL HUDA PAYAMAN, NGANJUK REGENCY, EAST JAVA Lisa Savitri; Nur Fahma Laili; Datin An Nisa Sukmawati
Abdimas Galuh Vol 4, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v4i1.7265

Abstract

Pada tanggal 2 Maret 2020, kasus pertama COVID-19 terdeteksi di Indonesia; per tanggal 8 Mei 2020, ada 12.776 kasus dan 930 kematian dilaporkan terjadi di 34 provinsi. Pandemi ini telah menjadi ancaman signifikan bagi kesehatan fisik dan mental manusia dan secara dramatis mempengaruhi kehidupan sehari-hari dengan implikasi psikososial dalam skala global. Berbagai upaya untuk mengendalikan pandemi tersebut menimbulkan dampak signifikan di sektor ekonomi, kegiatan sehari-hari, dan seluruh aspek kehidupan anak. Penutupan sekolah dapat memperburuk kesenjangan akses pendidikan. Anak-anak menghadapi beragam kesulitan dalam mengakses dan mendapatkan pendidikan berkualitas, bahkan sejak sebelum pandemi. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri melalui program Pengabdian Masyarakat ini dapat ikut berkontribusi dalam upaya untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 pada anak-anak di sekolah dengan cara memberikan pendidikan kesehatan kepada siswa taman kanak-kanak tentang cuci tangan 6 langkah, pemakaian masker, dan handsanitizer. Melalui kegiatan simulasi ini anak sekolah dapat memperoleh pengetahuan dan teknik cuci tangan yang benar, memakai masker dengan benar, dan memakai handsanitizer dengan tepat. Simulasi ini diharapkan dapat menekan angka kejadian penularan COVID-19 dan penyakit pada anak sekolah seperti diare dan kecacingan akibat bakteri yang masuk ke dalam tubuh ketika anak tidak mencuci tangan.
EDUKASI ORANGTUA SISWA MENGENAI CARA PEMBUATAN HANDSANITIZER DI RA AL HUDA PAYAMAN, KABUPATEN NGANJUK, JAWA TIMUR Lisa Savitri; Nur Fahma Laili; Datin An Nisa Sukmawati
Abdimas Galuh Vol 4, No 1 (2022): Maret 2022
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v4i1.7272

Abstract

Handsanitizer atau yang juga dikenal sebagai antiseptik tangan atau hand rub adalah produk yang dioleskan ke tangan untuk menghilangkan patogen umum di tangan. Handsanitizer biasanya tersedia dalam bentuk busa, gel, atau cair dan direkomendasikan untuk digunakan ketika tidak ada air dan sabun atau ada masalah medis lainnya (misalnya, menyebabkan retakan pada kulit). Munculnya COVID-19 ini adanya persediaan handsanitizer di toko-toko sering menipis dan harganya mahal karena semua masyarakat sedang membutuhkan handsanitizer untuk mencegah COVID-19. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kadiri mengadakan penyuluhan pembuatan handsanitizer. Melihat situasi saat ini masih besar harapan bahwa taraf kehidupan orangtua siswa di RA Al Huda, Payaman, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini dapat ditingkatkan melalui kegiatan masyarakat yang dapat membantu melindungi sesama keluarga dari COVID-19, salah satu caranya dengan penggunaan handsanitizer yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan kulit dan setelah pemakain handsanitizer berulang kali harus tetap cuci tangan. 
Determination of Mefenamic Acid and Dexametashone in Instant Pegal Linu Herbal Medicine in Kediri by Using UV-Vis Spectro Sukmawati, Datin An Nisa; Sembiring, Yulia Shara
ALKIMIA Vol 5 No 2 (2021): ALKIMIA
Publisher : SCIENCE AND TECHNOLOGY FACULTY OF UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH PALEMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.031 KB) | DOI: 10.19109/alkimia.v5i2.11275

Abstract

Jamu pegal linu is one of the traditional medicinal products that are in great demand by the public, because it can relieve muscle and bone pain, improve blood circulation, strengthen body resistance, and relieve pain all over the body. However, some industry players have added medicinal medicine such as dexamethashone and mefenamic acid in herbal medicine. This study aims to determine the validity of the method in the analysis of dexamethashone and mefenamic acid by UV-Vis spectrophotometry on herbal medicine circulating in Indonesia several markets in Kediri-East Java. The sampling technique used in this study is a purposive sampling method so as to get 5 samples of herbal medicine (A,B,C,D,E). Research begins with determined of wavelength (nm) maximum of dexamethashone and mefenamic acid standard at 200-400 nm and determined of method validation to ensure the accuracy of the method in determining dexamethashone and mefenamic acid levels in the sample. The results of the research showed that the wavelength maximum of mefenamic acid and dexamethashone standard were 288 nm and 245 nm. The method validation showed that this method is good for detect the presence of mefenamic acid and dexamethasone in herbal medicine with the value of the validation parameters, such as linierity of calibration curve of mefenamic acid and dexamethasone weas 0.998, detection limit (LOD) 0.8779 µg/mL and 0.9677 µg/mL ; quantification limit (LOQ) 2.9264 µg/mL and 2.2256 µg/mL; intraday and interday precision of mefenamic acid was expressed by the value of % standard deviation relative (%RSD) was 0.8905 % and 1.0781 %; intraday and interday precision of dexamethasone was expressed by the value of % standard deviation relative (%RSD) was 0.6917 % and 0.8062 %. Respectively; as well as the accuracy expressed in mean % recovery were 101.547 % for mefenamic acid, and 100.576% for dexamethasone. Results analysis of the sample using a validated method showed that only sample A was mefenamic acid positively with concentration was 7.6796 µg/mL. The other hand, sample C,D and E was dexamethashone positively with concentrations were 2.4978 µg/mL, 2.4112 µg/mL and 8.7748 µg/mL.
EDUKASI PENJAMINAN MUTU PEMBUATAN MEDIA MIKROBIOLOGI PADA PEMERIKSAAN SEDIAAN KOSMETIK DI PT. TRISZIE LAB INDONESIA Lisa Savitri; Nur Fahma Laili; Datin An Nisa Sukmawati; Syntia Tanu Juwita; Ester Lianawati Antoro; Ida Septika Wulansari; Juan Vega Mahardhika; Yosep Mosse
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol 4 No 3 (2023)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v4i3.1610

Abstract

Penjaminan mutu dalam pembuatan media mikrobiologi pada pemeriksaan sediaan kosmetik sangat penting dilakukan untuk memastikan hasil yang akurat dan berkualitas. Pemilihan bahan baku yang berkualitas, pengendalian proses produksi, dan pengujian kualitas produk jadi merupakan aspek-aspek penting dari penjaminan mutu dalam pembuatan media mikrobiologi. Secara deskriptif, hasil perhitungan instrumen menunjukkan bahwa 8 responden (40%) mengalami peningkatan tingkat pengetahuan mengenai penjaminan mutu pembuatan media pemeriksaan mikrobiologi pada sediaan kosmetik setelah diberikan edukasi, sedangkan 12 responden (60%) tidak mengalami perubahan tingkat pengetahuan. Tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah edukasi dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 23 untuk mengetahui signifikansi edukasi. Data diuji menggunakan uji Shapiro-Wilk dan hasilnya menunjukkan nilai sig. sebelum dan sesudah edukasi ≤ 0,05, menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan nilai p sebesar 0,038 ≤ 0,05, yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Pada tahap simulasi, mitra diberikan kesempatan untuk melakukan pembuatan media pemeriksaan mikrobiologi pada sediaan kosmetik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden berhasil melakukan proses simulasi dengan benar. Hal ini diharapkan dapat menjadi gambaran dan dapat diaplikasikan langsung dalam proses produksi oleh mitra.
EDUKASI PENJAMINAN MUTU PEMBUATAN MEDIA MIKROBIOLOGI PADA PEMERIKSAAN SEDIAAN KOSMETIK DI PT. TRISZIE LAB INDONESIA Lisa Savitri; Nur Fahma Laili; Datin An Nisa Sukmawati; Syntia Tanu Juwita; Ester Lianawati Antoro; Ida Septika Wulansari; Juan Vega Mahardhika; Yosep Mosse
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v4i3.1610

Abstract

Penjaminan mutu dalam pembuatan media mikrobiologi pada pemeriksaan sediaan kosmetik sangat penting dilakukan untuk memastikan hasil yang akurat dan berkualitas. Pemilihan bahan baku yang berkualitas, pengendalian proses produksi, dan pengujian kualitas produk jadi merupakan aspek-aspek penting dari penjaminan mutu dalam pembuatan media mikrobiologi. Secara deskriptif, hasil perhitungan instrumen menunjukkan bahwa 8 responden (40%) mengalami peningkatan tingkat pengetahuan mengenai penjaminan mutu pembuatan media pemeriksaan mikrobiologi pada sediaan kosmetik setelah diberikan edukasi, sedangkan 12 responden (60%) tidak mengalami perubahan tingkat pengetahuan. Tingkat pengetahuan responden sebelum dan sesudah edukasi dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 23 untuk mengetahui signifikansi edukasi. Data diuji menggunakan uji Shapiro-Wilk dan hasilnya menunjukkan nilai sig. sebelum dan sesudah edukasi ? 0,05, menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan nilai p sebesar 0,038 ? 0,05, yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi. Pada tahap simulasi, mitra diberikan kesempatan untuk melakukan pembuatan media pemeriksaan mikrobiologi pada sediaan kosmetik. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar responden berhasil melakukan proses simulasi dengan benar. Hal ini diharapkan dapat menjadi gambaran dan dapat diaplikasikan langsung dalam proses produksi oleh mitra.