Claim Missing Document
Check
Articles

Beberapa Tumbuhan Obat Asal Kalimantan Timur sebagai Sumber Saponin Potensial Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 1 No. 4 (2012): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.503 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i4.40

Abstract

Saponin is a class of natural compounds that have activity that is strongly associated with utilization in pharmacy. Exploration has been carried out against a number of secondary metabolite content of medicinal plants in East Kalimantan and some of them found to contain saponins. Plants were found to contain saponins and are considered potential Kokang leaf (Lepisanthes amoena), Kesumbakeling leaf (Bixa orellana, L), Belimbing Wuluh leaf (Averrhoa bilimbi L.), Sugi Gadjah leaf (Hyptis capitata), Karamunting leaf (Melastoma malabathricum L), Cempedak bark (Artocarpus champeden), Wijaya Kusuma leaf (Epiphyllum oxipetalum), Langsat seeds (Lansium domesticum), ekor kucing leaf (Acalypha hispida), Kelor bark (Moringa oleifera), Jarong leaf (Stachytarpheta mutabilis), Miana leaf (Coleus atropureus), Jengger Ayam leaf (Celosia cristata), and fruit of Libo (Ficus vargelata). Key words : East borneo medicinal plants, saponins Abstrak Saponin adalah golongan senyawa alami yang memiliki aktivitas yang sangat terkait dengan pemanfaatan dalam bidang farmasi. Telah dilakukan eksplorasi kandungan metabolit sekunder terhadap sejumlah tumbuhan obat yang ada di Kalimantan Timur dan beberapa diantaranya terbukti mengandung saponin. Tumbuhan-tumbuhan yang terbukti mengandung sponin dan dianggap potensial adalah daun Kokang (Lepisanthes amoena), daun Kesumbakeling (Bixa orellana, L), daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.), daun Sugi Gadjah (Hyptis capitata), daun Karamunting (Melastoma malabathricum L), kulit batang Cempedak (Artocarpus champeden), daun Wijaya Kusuma (Epiphyllum oxipetalum), biji Langsat (Lansium domesticum), daun ekor kucing (Acalypha hispida), Kulit Batang Kelor (Moringa oleifera), daun Jarong (Stachytarpheta mutabilis), daun Miana (Coleus atropureus), daun Jengger Ayam (Celosia cristata), buah Libo (Ficus vargelata). Kata Kunci: Tumbuhan Obat Kaltim; Saponin
Potensi Biji Kolowe (Chydenanthus excelsus) Sebagai Pisisidal Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 1 No. 3 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.062 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i3.29

Abstract

ABSTRACT Kolowe seeds (C. excelsus) has strong potential as piscicidal. Research conducted on the potential piscicidal bioindikator swamp eel fish (Synbranchus bengalensis Mc.Cllel), which is one of the pests in shrimp ponds. The piscicidal test results of kolowe seeds to S.bengalensis fish are fresh seed powder (LC50 = 305, 50 ppm); dry powder (LC50 = 315.35 ppm); crude methanol extract (LC50 = 345.20 ppm); frakasi n-Butanol extract (LC50 = 265.85) and the fraction of ethylacetate extract (LC50 = 650.90). The results are quite robust and selective as the most dominant secondary metabolites are saponins. Key words: C. excelsus, Piscicidal ABSTRAK Biji kolowe (C. excelsus) memiliki potensi yang kuat sebagai pisisidal. Penelitian potensi pisisidal dilakukan terhadap bioindikator ikan belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc.Cllel) yang merupakan salah satu hama pada tambak udang. Hasil uji pisisidal biji kolowe terhadap ikan S.bengalensis tersebut adalah serbuk biji segar (LC50 = 305, 50 ppm); serbuk kering (LC50 = 315,35 ppm); ekstrak kasar metanol (LC50 = 345,20 ppm); ekstrak frakasi n-Butanol (LC50 = 265,85); dan esktrak fraksi etilasetat (LC50 = 650,90). Hasil penelitian tersebut cukup kuat dan selektif karena metabolit sekunder paling dominan adalah saponin. Kata Kunci: Biji C. excelsus, pisisidal
Penentuan Kriteria Ilmiah Potensi Tumbuhan Obat Unggulan Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 1 No. 2 (2011): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.383 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i2.20

Abstract

ABSTRACT There is no new name for prime Medisinal plants which can be used to asses medicinal plants. Used of the term is done intuitively by decision makers of the management section or utilization of medicinal plants, which eventually became a name. The study is scientifically to determine the scientific criteria of prime medicinal plants has been done. The method used for the assessment is discussion with expert respondents using multiple methods of decision making. Respondents who used the expert academics and practitioners. Academics consists of expertise Natural Product chemistry, Natural Product Pharmaceuticals (Phamacognosy), Environmental Science, Forestry sciences, and Natural medicine industry. The result of the determination of criteria for assessment of scientific research prime plants found in five criteria (a) The diversity of usefulness / efficacy of a medicinal plant possessed (b) types of diseases can be cured by a medicinal plants (c) easy cultivation of medicinal plants (d) diversity of secondary metabolites content in a medicinal plant (e) type of organ or plant part used as medicine. The five criteria have been validated by using 9 kinds of herbs that have been deemed superior by the Indonesian Food and Drug Administration. Key words: Scientific criteria, prime medicinal plants, study ABSTRAK Istilah tumbuhan obat unggulan belum ada kriteria ilmiah yang dapat digunakan untuk menilai suatu tumbuhan obat. Penggunaan istilah tersebut dilakukan secara intuisi oleh pengambil keputusan dalam bidang pengelolaan atau pemanfaatan tumbuhan obat, yang akhirnya menjadi suatu istilah. Telah dilakukan pengkajian secara ilmiah untuk menentukan kriteria ilmiah tumbuhan obat unggulan. Metode yang digunakan untuk pengkajian tersebut adalah diskusi dengan responden ahli dengan memanfaatkan beberapa metode pengambilan keputusan. Responden ahli yang digunakan adalah akademisi dan praktisi. Akademisi terdiri dari keahlian Kimia Bahan Alam Hayati, Farmasi Bahan Alam (Farmakognosi), Ilmu Lingkungan, ilmu Kehutanan, dan pelaku industri obat alami. Hasil penelitian pengkajian penentuan kriteria ilmiah tumbuhan unggulan ditemukan lima kriteria yaitu (a) Keragaman kegunaan/khasiat yang dimiliki suatu tumbuhan obat (b) jenis penyakit yang dapat disembuhkan oleh suatu tumbuhan obat (c) kemudahan budidaya suatu tumbuhan obat (d) keragaman kandungan metabolit sekunder dalam suatu tumbuhan obat (e) jenis organ atau bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat. Kelima kriteria tersebut telah divalidasi dengan menggunakan 9 jenis tumbuhan obat yang telah dianggap unggul oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Kata Kunci : Kriteria ilmiah, Tumbuhan obat unggulan, pengkajian.
Potensi Tumbuhan Libo (Ficus variegata, Blume) sebagai Sumber Bahan Farmasi Potensial Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 3 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.053 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i3.63

Abstract

Libo (Ficus varieagata) merupakan tumbuhan liar yang belum termanfaatkan dalam bentuk apapun, termasuk secara tradisional karena tumbuhan ini memiliki latex pada buah dan kulit batangnya dan jika latex tersebut mengenai kulit menimbulkan gatal-gatal bahkan terjadi iritasi. Sifat ini yang menyebabkan tidak disukai hewan pemakan buah sehingga buahnya terpelihara dengan baik. Buah Libo yang telah matang di pohon akan jatuh ke tanah lalu tumbuh menjadi pohon Libo dewasa.Potensi tumbuhan Libo berbuah terus menerus dan buahnya tidak disukai hewan pemakan buah sehingga populasi tumbuhan Libo terpelihara dan terus berkembang. Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap buah Libo kaitannya dengan potensi kefarmasian dan terbukti berpotensi sebagai sumber bahan antioksidan, sitotoksik atau antikanker, pembasmi larva A. aegypti, dan sebagai antibakteri. Potensi-potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pengawet, obat antikanker, dan sumber antibiotik jika penelitiannya dilakukan secara detail. Buah Libo juga mengandung golongan metabolit sekunder yang sangat bervariasi sehingga masih memungkinkan untuk kegunaan-kegunaan lainnya dalam bidang farmasi. Kata Kunci: Tumbuhan Libo (Ficus variegata), bahan farmasi potensial ABSTRACT Libo ( Ficus varieagata ) is a wild plant that has not been utilized in any form , including traditional because it has latex plant fruit and bark , and if the latex on the skin cause itching occurs even irritation . The nature of that cause undesirable fruit so that the fruit -eating animals are well maintained . Libo ripe fruit on the tree will fall to the ground and grow into a tree Libo Libo dewasa.Potensi plant fruiting and fruit continuously disliked fruit -eating animals that populations of plants Libo maintained and continues to grow . Has conducted numerous studies on fruit Libo relation with potential pharmaceutical and proven potential as a source of antioxidant , cytotoxic or anticancer , exterminator larval A. aegypti , and as an antibacterial . These potentials can be used as a preservative , an anticancer drug , and a source of antibiotics if the research is done in detail . Libo fruit also contains a group of secondary metabolites are highly variable so it still allows for other uses - uses in the pharmaceutical field . Key Words: Tumbuhan Libo (Ficus variegata), bahan farmasi potensial
Bioaktivitas Biji Kolowe (Chydenanthus excelsus) terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypty Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 1 No. 1 (2010): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.087 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v1i1.8

Abstract

ABCTRACT Kolowe seed (Chydenanthus excelsus) bioactivity against Aedes aegypti masquito larvae was investegated. Assay of Kolowe seed preparation used fresh seed powder, dry powder, rough extract (methanol extract), n- butanol extract fraction, and aethyl acetate extract fraction. Plant material taken from Kamaru, Buton, Indonesia on March 2007. Fresh powder bioactivity (LC50 = 230.60 ppm); dry powder (LC50 = 225.55 ppm); rough extract/ methanol (LC50 = 245.70 ppm); n- butanol extract fraction (LC50 = 235.75 ppm); aethyl acetate extract fraction (LC50 = 250.55 ppm). The research results illustrated that the bioactivity seed from kolowe strong enough against mosquito larvae A. aegypti and dry powder has a stronger bioactivity than the other. Keywords : Kolowe Seed (Chydenanthus excelsus), Aedes aegypti mosquito larvae ABSTRAK Penelitian bioaktivitas biji kolowe (Chydenanthus excelsus) terhadap larva nyamuk Aedes aegypti telah dilakukan. Sediaan biji kolowe yang diuji adalah serbuk biji segar, serbuk kering, ekstrak kasar (ekstrak metanol), ekstrak fraksi n-butanol, dan ekstrak fraksi etilasestat. Bahan tumbuhan diambil dari Kamaru, Buton, Indonesia pada bulan Maret 2007. Bioaktivitas serbuk segar (LC50 = 230,60 ppm); serbuk kering (LC50 = 225,55 ppm); ekstrak kasar/metanol (LC50 = 245,70ppm); ekstrak fraksi n-butanol (LC50 = 235,75 ppm); ekstrak fraksi etilasetat (LC50 = 250,55 ppm). Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa bioaktivitas biji kolowe cukup kuat terhadap larva nyamuk A. aegypti dan serbuk kering memiliki bioaktivitas lebih kuat dari lainnya. Kata Kunci: Biji Kolowe (Chydenanthus excelsus), larva nyamuk Aedes aegypti
Garam Gunung Asal Krayan sebagai Zat Aditif untuk Menstabilkan Klorofil Sayuran Herman, Herman; Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 1 (2012): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.133 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i1.45

Abstract

Garam Gunung Asal Krayan yang terdapat pada wilayah utara pulau Kalimantan dipercaya oleh masyarakat setempat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti darah tinggi, kencing manis, penyakit kulit serta beberapa penyakit lainnya. Sayur yang menggunakan garam gunung terlihat lebih segar atau nampak tidak layu dan kesegarannya tahan lama dibandingkan dengan menggunakan garam biasa. Dilakukan penelitian untuk mengetahui efek garam gunung asal Krayan terhadap stabilitas sayuran dilihat dari perubahan kadar klorofilnya dengan beberapa perlakuan. Klorofil diukur absorbannya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 649 nm dan 665 nm. Didapatkan hasil waktu penyimpanan sayuran yang menggunakan garam gunung asal Krayan yang masih mendekati klorofil sayuran segar adalah pada saat selesai pengolahan (0 jam) yaitu sebesar 22,11 ppm. Perubahan warna pada sayuran yang menggunakan garam gunung asal Krayan lebih lambat dibandingkan dengan garam biasa. Kata Kunci : Garam gunung Krayan, sayuran, klorofil
Potensi Tumbuhan Kerokot (Lygodium microphylum) dalam Bidang Kefarmasian Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 1 (2012): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.768 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i1.46

Abstract

Tumbuhan Kerokot (Lygodium microphylum) di Kalimantan Timur masih dianggap sebagai gulma karena pertumbuhannya yang sangat cepat dan meluas kesegala arah pada suatu lahan sehingga mengganggu lahan petani jika tumbuh pada lahan perkebunan/ladang petani. Telah dilakukan skrining beberapa potensi kefarmasian terhadap ekstrak Herba Kerokot (Lygodium microphylum) dan terbukti memliki potensi sebagai antioksidan, penumbuh rambut, larvasida untuk nymuk Culex sp dan Aedes aegypty, dan obat luka. Potensi terbaik dari hasil-hasil penelitian tersebut adalah sebagai penumbuh rambut yang telah dilakukan pada hewan uji. Kata Kunci: Lygodium microphylum, potensi kefarmasian
Potensi Herba Tumbuhan Balsem (Polygala paniculata Linn) sebagai Sumber Bahan Farmasi Potensial Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 2 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.418 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i2.55

Abstract

Tumbuhan balsem (P. paniculata) merupakan tumbuhan semusim yaitu dari biji lalu tumbuh dan akan mati setelah mencapai dewasa selama 4-5 bulan. Tumbuhan ini berbau balsem sehingga dinamakan tumbuhan balsem oleh masyarakat di Kalimantan Timur. Manfaat tradisional tumbuhan ini tidak banyak dikenal kecuali akarnya dipercaya dapat meningkatkan stamina. Belum banyak hasil penelitian ilmiah tumbuhan ini sehingga diperlukan informasi ilmiah untuk pemanfaatannya. Potensi biologi tumbuhan Balsemadalah mudah tumbuh dengan skilus hidup pendek yaitu 4-5 bulan. Beberapa hasil penelitian terhadap tumbuhan balsem terbukti memiliki potensi dalam bidang kefarmasian seperti sitotoksik atau antikanker, antibakteri, dan antimikotik. Potensi herba balsem juga digambarkan melalui kandungan metabolit sekundernya yaitu mengandung alkaloid, flavanoid, tanin, saponin, dan steroid. Keragaman metabolit sekunder tersebut menggambarkan kemungkinan masih memiliki potensi kefarmasian lainnya. Kata Kunci: Herba Balsem (Polygala paniculata), sumber bahan farmasi potensial. ABSTRACT Plant balm (P. paniculata) is an annual plant that grows from the seed and will die after reaching mature for 4-5 months. This plant is so named smelling balm balm plant communities in East Kalimantan. Traditional benefits of this plant is not widely known but its roots are believed to increase stamina. Not many plants is the result of scientific research that is necessary for the utilization of scientific information. Potential biological plant is easy to grow with skilus Balsemadalah short life is 4-5 months. Several studies have proved the balsam plant potential in the field of pharmacy such as cytotoxic or anticancer, antibacterial, and antimycotic. Potential herbal balm is also illustrated through the content of secondary metabolites that contain alkaloids, flavonoids, tannins, saponins, and steroids. Illustrate the diversity of secondary metabolites may still have potential for other pharmacy. Key Words: Antioxidant, Ageratum conyzoides L., Captosapelta Tomentosa V., Lepisanthes amoena, Acanthus ilicifolius L., DPPH
Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Kecapi (Sandoricum koetjape Merr.) Hardika P.A.N, Pindo; Fridayanti, Aditya; Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 3 (2013): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.739 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i3.64

Abstract

A research has been conducted on the antibacterial activity of the santol leaves extract (S.koetjape Merr.) against S.aureus and E.coli. The santol leaves extracts were prepared by maceration used methanol as solvent and the methanol extract was then fractionated. The antibacterial activity was determined by measured the diameter of inhibition zones in difusi method. The result showed that santol leaves extracts and fractions has antibacterial activity against S.aureus and E.coli. The effective concentration as an antibacterial of methanol extracts is at 10%, and of n-hexane fractions is at 5%. Keywords : S.koetjape Merr, Santol leaves, Antibacteria Abstrak Telah dilakukan penelitian uji aktivitas antibakteri ekstrak daun kecapi (S.koetjape Merr.) terhadap S.aureus dan E.coli. Ekstrak daun kecapi dibuat secara maserasi dengan pelarut metanol, lalu difraksinasi. Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun kecapi diukur berdasarkan luas daerah zoa bunuh pertumbuhan bakteri dengan metode difusi agar. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi daun kecapi memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri S.aureus dan E.coli. Konsentrasi efektif antibakteri ekstrak metanol adalah 10% dan fraksi n-heksana adalah 5%. Kata Kunci : S.koetjape Merr, Daun Kecapi, Antibakteri
Potensi Tumbuhan Tembelekan (Lantana camara Linn) Sebagai Sumber Bahan Farmasi Potensial Rijai, Laode
Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry Vol. 2 No. 4 (2014): Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia, 75117, Gedung Administrasi Fakultas Farmasi Jl. Penajam, Kampus UNMUL Gunung Kelua, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.766 KB) | DOI: 10.25026/jtpc.v2i4.70

Abstract

Tumbuhan Tembelekan dianggap masyarakat sebagai pengganggu atau gulma karena pertumbuhannya yang dahsyat merambat ke segala arah sehingga mengganggu pada kegiatan pembukaan lahan. Manfaat tradisional daun tumbuhan ini dikenal oleh berbagai suku di Indonesia, tetapi hanya sebagai obat luka yang tidak menarik karena obat luka tergolong obat murah di pasaran. Potensi botani yang tampak terhadap tumbuhan Tembelekan adalah pertumbuhannya yang dahsyat sehingga jika memiliki manfaat ekonomi menjadi sangat potensial ditinjau dari penyediaan bahan baku. Beberapa penelitian ilmiah telah dilakukan terhadap daun dan bunga Tembelekan dan terbuktidaunnya sangat potensial sebagai obat luka yang melebihi obat luka bioplacenton dan bunganya bersifat antioksidan yang sangat kuat.Kandungan metabolit sekunder daun dan bunganya juga sangat bervariasi sehingga masih memungkinkan potensi-potensi lainya dalam bidang farmasi. Kata Kunci: Tembelekan (Lantana camara L), sumber bahan farmasi potensial
Co-Authors Agustina, Risna Agustina, Risna Akmalia, Rina Adilla alaydrus, syarifah maryam Allo, Femy Linggi Anugrah, Lilis Pania Apriliani, Maya Arbain, Chairunnisa Ardana, Mirhansyah Argananta, Kiki Arifian, Hanggara Arlita, Yuyun Arniah, Arniah Aryati, Fika Asdedi, Desire Janetha Athiyah, Meilisa Ayu, Welinda Dyah Bahtiar, Emil Bone, Mahfuzun Bone, Marlyan Budiman, Rahmat Bulawan, Sri Andriani Allo Busa, Delti Delaya Debora, Novalia Defriana, Defriana Destiyana, Oppi Yolan Dewi Mayasari DEWI RAHMAWATI Dewi, Indah Puspa Dewi, Nadia Rahma Kusuma Dewi, Sri Indah Mulyawan Djoko Setyadi Efliana, Meilita Erawaty, Destri Euriko, Richardus Rayendra Fadillah, Arief Fadraersada, Jaka Faradillah, Anintia Nitami Febrianti, Petrina Febrina, Lizma Febrina, Lizma Febryanto, Rama Fikrinda, Dimas Aqil Fitriani Fitriani Fitriani, Nurul FITRIANI, VICTORIA YULITA Fitriani, Victoria Yulita Fridayanti, Aditya Fridayanti, Aditya Gama, Sabaniah Indjar Ghassani, Iffah Karina Gultom, Indah Kasih Hadi Kuncoro Hajrah Hajrah Hajrah, Hajrah Halimatussa’diah, Fauziah Hanif, Aan Qanitina Hanifa, Lita Nur Hardian Hardian Hardika P.A.N, Pindo Hariati, Hariati Hasdina, Rafika Hasiani, Vilca Veronica Helmi Helmi Heraningtyas, Dyera Wahyu Herliani Herliani Herman Herman Hermanda, Rullah Hidayah, Siti Ulfah Hidayanti, Nunuk Hidayat Hidayat Hidayat, Tetra Hudaya, Syarifah Husna, Maziyyah Ibrahim, Arsyik Ibrahim, Arsyik Indrawan, Muhammad Rasyid Indriani, Vinny Islamudin Ahmad ISWAHYUDI ISWAHYUDI Janafrish, Claudea Ersamy Jessica Jibalathuull, Fush Shilat Junaid, Riska Harfiani Junaidin, Junaidin Jusmiati Jusmiati Khoirunnisa, Fisi Karimah Krisnawati, Santy Dara Kuswati, Ruli Liu, Jeny Maryani M. Arifuddin, M. Mahmudah, Febrina Maimunah, Dewi Mamonto, Kartika Damasanti Masyithah, Z, Nur Maulida, Wulan Maulidina I.P, Tari Maulidya, Vina Mega Silvia Meilinda, Eka Rizky Mercury, Annisa Meylina, Lisna Mira Susanti Mita, Nur Morita, Sibarani Evy Mufidah, Khoiriyah Anbar Munawassalmiah, Raudhatul Naspiah, Nisa Ningtyas, Jumiati Catur Novalinda, Novalinda Novita Sari Nur, Yuspian Nurazmi, Andi Nurhidayah, Kusnul Nurmashita, Dewi Nurmita, Nurmita Nurrahman W, Fadhli NURUL ANNISA Nurul Hasanah Oktaviani, Nia Palinoan, Hardiana Sepryanti Panjaitan, Pasuria Prabowo, Wisnu Cahyo Pradawahyuningtyas, Adzimahtinur Prasetya, Fajar Priastomo, Mukti Puji Rahayu Putri, Andini Eka Bahari Putri, Anisha Putri, Annisa Anugrah Putri, Serly Monika Putri, Vinny Sukma Wijayana Rahayu, Tina Dwi Rahayu, Yuniarti Pudji Rahmadani, Agung Rahmadani, Agung Rahmah, Desy Aulia Ramadhan, Adam M. Ramadhan, Adam M. Reckow, Vendryca Reiza, Inul Ahmanda Rhamadhani, Fitri Rija’i, Hifdzur Rashif Rinaldi F, Florensius Rislianti, Vika Aura Rohani Rohani Rusdi, Muhammad Alhimni Rusli, Rolan Rusli, Rolan Samsul, Erwin Sandi, Desy Triary Sari, Ayu Ulfa Sari, Deasy Novia Sari, Fatma Sari, Tias Puspita Septiani, Ade Purnama Shidiq, Nur Siti Aisyah Siti Hasanah Sofia, Dina Sulistiarini, Riski Sulistiarini, Riski Tobing, Novita Eka Kartab Putri Triana, Oktaviany Ulfa, Ninin Kartika Umar, Eva Hairdiana Utami, Anjanie Medyawati Verrananda M, Indri wahyu widayat Whenny, Whenny Wijaya, Viriyanata Yasmin, Rania Afifa Yusnita, Risa