Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

DESKRIPSI, KEANEKARAGAMAN JENIS DAN KELIMPAHAN KEPITING (BRACYURA DECAPODA) DI PERAIRAN BAHOWO KELURAHAN TONGKEINA KECAMATAN BUNAKEN KOTA MANADO Michael, Sophian Ch; Kaligis, Erly Y; Rimper, Joice
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 8, No 1 (2020): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.8.1.2020.27495

Abstract

The waters of Bahowo is located in North Sulawesi Province, Tongkeina Village, District of Bunaken, which is one of the mangrove ecotourism destinations with a high density of mangrove ecosystems. Crab sampling activities were carried out by the cruise method with a distance of 500 meters at each observation station. The steps in this research are; collecting specimens, identifying and taking pictures. After that, the transect line is used to determine density and species diversity. then determined 3 different stations with a distance of 150 m each. Each transect station is 10 x 10 meters consisting of 100 quadrants with a distance between 1 meter quadrants. Determination of the quadrant where sampling is done randomly at each station Results of research in the waters of Bahowo, obtained the number of crabs that is 125 individuals. From the results of identification of crabs that have been obtained there are 15 species, namely: Scylla serrate, S. olivacea, S. tranquabarica, S. paramamosain, Thalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myomenita eumolpe, Austruca annulipes, Paraleptuca chlorophthalmus, Galasimus vomeris. Galasimus vomeris type crabs showed the highest abundance of 2.8 ind / m2, while the lowest in Cylla olivacea and S. tranquabarica, which was 0.1 ind / m2. Keywords: Species diversity, abundance, BrachyuraAbstrakPerairan Bahowo terletak di Provinsi Sulawesi Utara Kelurahan Tongkeina Kecamatan Bunaken yang menjadi salah satu tempat destinasi ekowisata mangrove dengan kepadatan ekosistem mangrove yang cukup tinggi..Lokasi kelurahan ini terletak di sebelah utara Kota Manado yang termasuk wilayah konservasi mangrove. Kegiatan pengambilan sampel kepiting dilakukan dengan metode jelajah (cruise method) dengan jarak 500 meter pada masing-masing stasiun pengamatan. langkah-langkah dalam penelitian ini adalah mengumpulkan spesimen, mengidentifikasi dan mengambil gambar   Setelah itu,  garis transek digunakan untuk menentukan kepadatan dan keanekaragaman jenis. kemudian ditentukan 3 stasion berbeda dengan jarak masing-masing 150 m. Masing-masing station transek berupa  10 x 10 meter yang terdiri  100 kuadran dengan jarak antara kuadran 1 meter. Penentuan kuadran tempat pengambilan sampel dilakukan secara acak pada masing-masing stasion Hasil penelitian di perairan Bahowo, didapatkan jumlah kepiting yaitu 125 individu. Dari hasil identifikasi kepiting yang telah dilakukan didapat ada 15 spesies yaitu: Scylla serrate, S. olivacea, S. tranquabarica, S. paramamosain, Thalamita crenata, Thalamita danae, Portunus pelagicus, Portunus trituberculatus, Metopograpsus thukuhar, Cardisoma carnivex, Myomenippe spp, Perisesarma eumolpe, Austruca annulipes, Paraleptuca chlorophthalmus, Galasimus vomeris. Kepiting jenis Galasimus vomeris menunjukan kelimpahan tertinggi yaitu 2,8 ind/m2, sedangkan yang terendah pada Scylla olivacea dan S. tranquabarica, yaitu 0,1 ind/m2. Kata kunci :Keanekaragaman jenis, kelimpahan, Brachyura 
The size variation of rotifer Brachionus rotundiformis cultivated with different feed at 40 ppt salinity Rimper, Joice R.T.S.L; Harikedua, Silvana D; Warouw, Veibe
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 7, No 1 (2019): APRIL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.7.1.2019.25043

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Variasi ukuran rotifer Brachionus rotundiformisyang diberi pakan berbeda pada salinitas 40 ppt RotiferBrachionus rotundiformisis a group of zooplankton which is used by fish larvae for feeding to initiate their growth. This zooplankton is widely favored by marine fauna larvae because of its small size can fits well with various larval mouth; thus, it is easily preyed by larvae. This study aimed to determine the variation of rotifer B. rotundiformismorphometry if cultured with different feed at 40 ppt. The use of 40 ppt salinity is expected to provide a variable morphometric size because B. rotundiformishas a polymorphism property. Microalgae used as feed for rotifer B. rotundiformiswere Prochloronsp. and Nanochloropsis oculata. Microalgae were cultured with Hirata medium. In the early stages, B. rotundiformiswas cultured at optimum temperature (28 ºC) and salinity 20 ppt, then it was cultured at salinity 40 ppt. Salinity adaptation was done by raising the salinity of the medium by 2 ppt every two days in a 10 ml reaction tube containing 10 individuals. After adaptation, B. rotundiformiswas transferred in a 1000 ml container with a density of 50 individuals. For the morphometric aspect, the total length, the length of the lorica, the width of the lorica and the anterior width were measured. The result showed the morphometric of rotiferB. rotundiformisfed with microalgae Prochloronsp. at 40 ppt salinity was smaller than that of the rotifer fed with N. oculata. Based on that finding it can be concluded that B. rotundiformis fed with Prochloronsp. at a salinity of 40 ppt has the potential to be developed as feed for fish larvae. Further investigations on how to accelerate the cultivation of microalgae Prochloronsp. as feeding for B. rotundiformisare needed.RotiferBrachionus rotundiformismerupakan golongan zooplankton yang digunakan sebagai makanan bagi larva ikan. Zooplankton ini banyak disukai oleh larva fauna laut, karena ukurannya kecil yang cocok dengan berbagai bukaan mulut larva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfometri rotifer B. rotundiformis, jika dikultur pada salinitas yang tinggi (40 ppt) dengan pemberian pakan berbeda. Penggunaan salinitas 40 ppt diharapkan bisa memberikan ukuran morfometrik yang bervariasi, karena rotifer jenis ini memiliki sifat polimorfisme. Alga mikro yang digunakan sebagai pakan adalah Prochloronsp. Dan Nanochloropsis oculata.Alga mikro tersebut dikultur dalam media Hirata. Pada tahap awal, B. rotundiformisdikultur pada suhu optimum (28 ºC) dengan salinitas 20 ppt; kemudian, dikultur pada salinitas 40 ppt. Adaptasi salinitas dilakukan dengan menaikkan salinitas medium sebanyak 2 ppt setiap dua hari dalam tabung reaksi berukuran 10 ml, yang berisi 10 individu. Setelah diadaptasikan, rotifer dipindahkan ke wadah berukuran 1000 ml dengan kepadatan sebanyak 50 individu dan dikultur pada salinitas 40 ppt. Aspek morfometri berupa panjang total, panjang lorica, lebar lorica, dan lebar anterior diukur. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa panjang total rotifer B. rotundiformis, yang diberi pakan Prochloronsp. berukuran lebih kecil dibandingkan dengan rotifer yang diberi pakan N. oculata. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa B. rotundiformisyang diberi pakan Prochloronsp. pada salinitas 40 ppt memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pakan bagi larva ikan. Penelitian lebih lanjut tentang cara mempercepat budidaya microalgae Prochloronsp. sebagai makan untuk B. rotundiformis diperlukan.
Struktur Komunitas Plankton Di Perairan Pulau Bangka Kabupaten Minahasa Utara Usman, Muhamad Shabir; Kusen, Janny D.; Rimper, Joice R. T. S. L.
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 1, No 2 (2013): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.1.2.2013.2149

Abstract

Penelitian ini dilakukan di perairan Pulau Bangka, Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Pengambilan sampel plankton dilakukan pada 6 (enam) titik dengan 2 (dua) kedalaman berbeda yaitu pada lapisan permukaan dan kedalaman 10 meter yang dilakukan pada bulan Februari 2012. Pengambilan sampel menggunakan plankton net dengan penarikan secara horizontal dan  vertikal. Proses pengawetan plankton menggunakan formalin 4%, selanjutnya proses identifikasi dilakukan di Laboratorium Biologi Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plankton yang ditemukan di perairan Pulau Bangka pada dua titik kedalaman terdiri dari 6 genera dari 5 ordo yaitu ordo Gonyaulacales 1 genus, ordo Bacillariales 1 genus, ordo Centrales 2 genus, dan ordo Oscillatoriales 1 genus, Penales 1 genus. Jenis plankton yang ditemukan pada setiap stasiun menunjukkan bahwa hampir semua daur hidupnya adalah holoplankton, plankton dari jenis diatom adalah yang banyak ditemukan. Indeks nilai penting yang diperoleh berdasarkan hasil analisis pada lapisan permukaan adalah Pseudoenotis doliolus dengan nilai tertinggi yaitu 86,017 dan jenis Skeletonema sp, memiliki nilai penting tertinggi di kedalaman 10 meter dengan nilai 88,627. Keanekaragaman plankton di perairan Pulau Bangka menunjukkan suatu bentuk keanekaragaman yang sedang. Dominansi plankton di perairan Pulau Bangka menunjukkan suatu bentuk dominansi rendah.
PRODUKSI DAN UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA SENYAWA BIOAKTIF YANG DIEKSTRAK DARI ROTIFER (Brachionus rotundiformis) STRAIN LOKAL Rumengan, Inneke F. M.; Rumampuk, N. D.; Rimper, J.; Losung, F.
JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : JURNAL LPPM BIDANG SAINS DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rotifer (Brachionus rotundiformis), sejenis zooplankton asal Sulawesi Utara telah dikaji sebagai produsen senyawa antibioaktif. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan metode kultur rotifer dengan pemberian mikroalga lokal pada beberapa salinitas sebagai induksi produksi senyawa bioaktif; mendapatkan ekstrak kasar senyawa bioaktif dari rotifer dengan pelarut metanol; dan mengevaluasi aktivitas antimikroba pada beberapa bakteri pathogen. Dari rotifer hasil kultur ini telah diekstrak senyawa bioaktif, dan senyawa ini telah diuji aktivitasnya pada 3 jenis bakteri pathogen yaitu Bacillus subtilis, Eschherichia coli dan Vibrio cholerae. Sebagai antibiotik pembanding digunakan tetrasiklin dan amoksisilin. Ada 2 strain yang dicobakan, yaitu strain Manembo-nembo yang pernah dideteksi mengandung senyawa sitotoksik, dan strain Minanga yang belum pernah diuji apakah mengandung senyawa bioaktif atau tidak. Masing-masing strain dikultur pada 3 macam salinitas yaitu 4, 20 dan 40 ppt untuk strain Minanga, dan 40, 50 dan 60 ppt untuk strain Manembo-nembo. Jenis pakan berupa Nannochloropsis oculata yang dikultur dalam medium Hirata dalam kondisi kultur baku di laboratorium. Ekstraksi bioaktif dilakukan dengan metoda baku menggunakan pelarut methanol. Ternyata ekstrak kasar senyawa dari rotifer strain Minanga dan strain Manembo-nembo dengan pakan N. oculata yang dikultur pada beberapa kadar salinitas, semuanya terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli, B. subtilis, dan V. cholerae. Respons bakteri terhadap senyawa aktif yang dicobakan secara umum terlihat berbeda menurut jenis. Ekstrak dari rotifer yang dikultur pada salinitas tinggi (40 ppt) dengan pakan N. oculata menunjukkan aktivitas antimikroba paling tinggi. Bakteri yang paling rentan terhadap ekstrak senyawa dari rotifer yang diberi pakan N. oculata adalah B. subtilus .Kata kunci: rotifer, Nannochloropsis oculata, bakteri patogen, antimikroba
Viability of Tumpaan-strained rotifers, Brachionus rotundiformis, at different salinities Asy'ari, Asy'ari; Kaligis, Erly; Wullur, Stenly; Rimper, Joice
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 2, No 1 (2014): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.2.1.2014.12390

Abstract

Title (Bahasa Indonesia): Viabilitas rotifer Brachionus rotundiformis strain tumpaan pada salinitas berbeda The purpose of the research was to analyze the viability of eggs of Tumpaan-strained rotifer, Brachionus rotundiformis, at different salinities (10 and 20 ppt). Rotifer collection was done in the area of reclamation plan and household wastewater disposal located in the coastal village of Tumpaan 1, South Minahasa Regency. At the time of sample collection, water quality parameters of the sampling site were also measured. After multiplication through clone culture in the salinity of 10 ppt and 20 ppt, the viability of the rotifer was then tested by daily observing the number of live rotifers, the number of eggs carried and the number of youngsters produced. The data were then calculated using the life table method. Results showed that water quality of the rotifer collection site is suitable for the rotifer to live. The rotifers held in 10 ppt salinity had higher survivorship and population growth (fertility rate and Ro) than those in 20 ppt salinity. This reflects that beside the quality of feed, rotifer growth is affected by salinity as well. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis viabilitas tetasan telur dari rotifer Brachionus rotundi-formis strain Tumpaan pada salinitas berbeda (10 dan 20 ppt). Pengambilan rotifer dilakukan di suatu areal rencana reklamasi dan tempat pembuangan penelitian air limbah rumah tangga bertempat di pesisir Desa Tumpaan Satu Kabupaten Minahasa Selatan. Pada saat pengambilan hewan uji, parameter kualitas air di lokasi sampling juga diukur. Setelah diperbanyak dengan kultur klon pada salinitas 10 dan 20 ppt, rotifer kemudian diuji viabilitas dengan melakukan pengamatan setiap hari data jumlah rotifer yang hidup, jumlah telur yang dibawah dan jumlah anak yang dihasludgean. Data kemudian dihitung menggunakan metode life table.Hasil pengukuran kualitas air dari perairan tempat pengambilan rotifer termasuk layak untuk kehidupan rotifer. Rotifer yang diuji pada salinitas 10 ppt memiliki kemampuan hidup serta pertumbuhan populasi (nilai Ro dan laju fertilitas) lebih tinggi dibandingkan pada salinitas 20 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa selain kualitas pakan, pertumbuhan rotifer juga dipengaruhi oleh salinitas.
Alkaline proteinase in muscle of commercial fishes Pangkey, Henneke; Rimper, Joice R.S.T.L; Kemer, Kurniati
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 1 (2013): April
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.1.2013.1974

Abstract

Sea products are valuable resources of natural substances such as lipids, polysaccharides, enzymes, vitamins, and proteins. Fish proteases have been characterized and some purified. Many of these enzymes display potentially interesting new biochemical properties for biotechnological applications. In this research, we have found activity of some proteases (alkaline proteinase, cathepsin S and cathepsin D) in muscle tissues of marine tropical commercial fish species in North Sulawesi (i.e. Epinephelus fuscoguttatus, Caranx ferdau, Lutjanus malabricus, and Katsuwonus pelamis). All of these fish are economical species with low prices that are highly consumed by local people©Produk yang berasal dari laut merupakan sumberdaya yang kaya akan bahan-bahan alamiah seperti lipida, polisakarida, enzim, vitamin dan protein. Beberapa enzim protease pada ikan telah diidentifikasi dan dimurnikan. Banyak dari enzim ini menunjukkan potensi yang penting sebagai bahan biokimia yang baru. Pada penelitian ini, kami menemukan beberapa jenis protease (alkalin proteinase, katepsin S dan katepsin D) yang aktif pada otot dari beberapa jenis ikan laut tropis yang komersil di Sulawesi Utara (Epinephelus fuscoguttatus, Caranx ferdau, Lutjanus malabricus, and Katsuwonus pelamis). Ikan-ikan ini sangat bernilai ekonomis dan sangat digemari oleh masyarakat lokal©
UJI KUALITAS BAKTERIOLOGI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DI KECAMATAN AMURANG DAN KECAMATAN TUMPAAN KABUPATEN MINAHASA SELATAN TAHUN 2017 Sangande, John B.; Pinontoan, Odi R.; Rimper, Joice R.T.S.L.
KESMAS Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada tahun 2013 dalam profil kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa persentase penduduk Indonesia yang memiliki akses terhadap air minum berkualitas sebesar 67,73%. Terdapat 23 provinsi dari 33 provinsi di Indonesia yang memilik persentase di bawah angka nasional, salah satunya ialah provinsi Sulawesi Utara dengan persentase sebesar 67,21% (Kemenkes RI, 2015). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas bakteriologi Depot Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Amurang dan Kecamatan Tumpaan Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional berbasis laboratorium. Dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2017. Sampel dalam penelitian ini yaitu 4 Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di Kecamatan Amurang dan 4 DAMIU di Kecamatan Tumpaan Kabupaten Minahasa Selatan. Analisis data diperoleh dari hasil pemeriksaan laboratorium dan disajikan dalam bentuk tabel. Kualitas bakteriologi depot air minum isi ulang dengan parameter E. coli yang terdapat pada 4 depot di Kecamatan Amurang dan 4 depot di Kecamatan Tumpaan semua memenuhi syarat Peraturan Menteri Kesehatan No 492/MENKES/PER/IV/2010 yaitu 0/100 ml. Terdapat 4 depot air minum isi ulang yang tidak memenuhi syarat dengan parameter total Coliform yaitu sampel air minum depot B dengan total Coliform 8/100 ml, depot C dengan total Coliform 1/100 ml, depot G dengan total Coliform 17/100 ml, depot H dengan total Coliform 27/100 ml yang diambil dari 4 depot di Kecamatan Amurang dan 4 depot di Kecamatan Tumpaan. Tidak terdapat bakteri E.coli pada 8 DAMIU yang berada di Kecamatan Amurang dan Kecamatan Tumpaan. Sedangkan, terdapat 4 DAMIU yang terdiri dari 2 DAMIU di Kecamatan Amurang dan 2 DAMIU Kecamatan Tumpaan. mengandung bakteri Total Coliform.Kata Kunci: Kualitas Bakteriologi, Depot Air Minum Isi UlangABSTRACTIn 2013 Indonesia’s health profile shows that the percentage of Indonesian people who have access to quality drinking water is 67,73%. There are 23 provinces out of 33 provinces in Indonesia which have a persentage below the national figure, one of them is North Sulawesi province with a percentage of 67,21% (MoH RI, 2015). The aim of this study is to subdistricts 2017. The study was a descriptive research with laboratory-based observational approach, which conducted from October to November 2017. Four drinking water refill depot (DAMIU) from each subdustrict (Amurang and Tumpaan) were selected as sample. Data analysis was obtained the results of laboratory examination and presented in tabular form. The study revealed that bacteriological quality of E. coli parameters of 4 DAMIU in Amurang subdistrict and 4 DAMIU in Tumpaan subdistrict are all comply with the Regulation of Public Health Minister Number 492/MENKES/PER/IV/2010 which is 0/100 ml of sample. The study also found that 4 DAMIU are not comply with the total Coliform parameters. Total Coliform from DAMIU B, DAMIU C, DAMIU G and DAMIU H were found to be 8/100 ml, 1/100 ml, 17/100 ml and 27/100 ml, respectively. There was no E. coli bacteria found in 8 DAMIU located in Amurang and Tumpaan subdistricts however, there were 4 DAMIU consisting of 2 DAMIU in Amurang subdistricts and 2 DAMIU Tumpaan subdistricts that contain total Coliform bacteria.Keywords: Bacteriological quality, drinking water refill depot
MINUTE ROTIFER DARI PERAIRAN ESTUARI SULAWESI UTARA DAN POTENSINYA SEBAGAI PAKAN LARVA IKAN Lahope, Hety B; Wullur, Stenly; Rimper, Joice; Pangkey, Henneke; Rumengan, IFM
JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN TROPIS Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.307 KB) | DOI: 10.35800/jpkt.9.1.2013.3446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan minute rotifer (rotifer berukuran kecil) yang ada di perairan Sulawesi Utara yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pakan awal larva ikan laut. Sampling rotifer dilakukan di tujuh lokasi estuari yang berbeda dengan menggunakan plankton net (mata jaring 40 mm). Prosedur identifikasi rotifer didasarkan pada tampakan morfologi. Morfometri dilakukan di bawah mikroskop pembesaran 40-100x yang terhubung dengan sebuah komputer untuk visualisasi dan pengukuran. Tiga spesies minute rotifer berhasil diisolasi dari tiga lokasi estuari berbeda. Colurella sp. diisolasi dari sebuah kolam payau (salinitas 25 ppt) yang dipenuhi sampah rumah tangga di Tumpaan Kabupaten Minahasa. Lecane sp. cf Lecane quadridentata (Lecane) diisolasi dari sebuah tambak payau (salinitas 17 ppt) di Meras Kota Manado dan Lecane sp. cf Lecane papuana di muara sebuah sungai kecil (salinitas <3 ppt) di Tateli Kabupaten Minahasa. Semua minute rotifer yang ditemukan ini berhasil didomestikasi dan menunjukkan adaptasi positif dalam pemeliharaan berbasis mikroalga. Colurella sp, Lecane sp. cf L. quadridentata dan Lecane sp. cf L. papuana memiliki ukuran panjang lorika (PL) masing-masing (97,10 ± 3,58 mm, 130,83 ± 12,06 mm dan 118,70 ± 5,46 mm) sedangkan lebar lorika (55,37 ± 2,04 mm, 91,95 ± 10,58 mm dan 101,28 ± 6,623 mm) yang secara signifikan lebih kecil dari B. rotundi­formis (PL 167,41 ± 9,10 mm dan LL 122,44 ± 7,29 mm) (p<0,05), sehingga berpotensi untuk dimanfaatkan seba­gai pakan awal larva ikan laut yang membutuhkan pakan berukuran lebih kecil. Kata kunci: minute rotifer, Lecane sp, Colurella sp, larva   This study aims to get minute rotifers (small rotifers) in the waters of North Sulawesi which has the potential to be used as starting food for marine fish larvae. The sampling for rotifers was conducted in seven different estuarine locations using plankton net (mesh size 40 mm). Rotifer identification proce­dure was based on morphological appearances. Morphometric observations were conducted under 40-100x magnification microscope connected to a computer for visualization and measurement. Three roti­fer species were able to be isolated from three different estuarine locations. Colurella sp. was isolated from a brackish pond (salinity of 25 ppt) which were filled with household garbage in Tumpaan, Mina­hasa regency. Lecane sp. cf Lecane quadridentata (Lecane) was isolated from a brackish pond (salinity of 17 ppt) in Meras-Manado and Lecane sp. cf Lecane papuana at the estuary of a small river (salinity <3 ppt) in Tateli, Minahasa regency. All minute rotifers were successfully domesticated and showed po­sitive adaptation in microalgae-based rearing. Colurella sp, Lecane sp. cf L. quadridentata and Lecane sp. cf L. papuana have lorica length (PL) of 97.10 ± 3.58 mm, 130.83 ± 12.06 mm, and 118.70 ± 5.46 mm, respectively, and lorica width (LL) of 55.37 mm ± 2.04, 91.95 ± 10.58 mm, and 101.28 ± 6.623 mm. They were significantly smaller than B. rotundiformis (PL of 167.41 ± 9.10 mm and LL 122.44 ± 7.29 mm) (p<0.05), which are commonly used in larva rearing. Thus these rotifers have potentials to be used as starting food for marine fish larvae that need a smaller size food. Keywords: Minute rotifer, Lecane sp, Colurella sp, larva
Isolation, morphometry, and culture of Colurella sp. (Rotifera: Ploimida) Letsoin, Petrus P; Pangkey, Henneke; Sampekalo, Julius; Rumengan, Inneke F.M; Wullur, Stenly; Rimper, Joice R.S.T.L
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 1, No 2 (2013): Oktober
Publisher : Graduate Program of Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.1.2.2013.7276

Abstract

The rotifer Brachionus rotundiformis (total body length 240.59±10.24 μm, lorica length 175.28±9.18 μm, and lorica width 124.28±7.76μm) is commonly used as starter food in the larval rearing of marine fish. But, larvae of some marine tropical fish species required starter food with body size smaller than B. rotundiformis. The present study was aimed to isolate minute rotifers from nature and to assess the possibility of culturing these rotifers. Sampling of rotifers was conducted in an estuary of Mangket (Kema-Minut), using plankton net (mesh size 40 µm). A trial of culturing the rotifers was conducted at salinities of 10, 20 and 30 ppt by using a microalga, Nannochloropsis oculata. A species of rotifer identified as Colurella sp. (family Lepadellidae) was successfully isolated from the sampling location. Body size of Colurella sp. was extremely small (Total length 123.22±5.45 μm, lorica length 95.96±3.81 μm, and lorica width 53.57±3.11 μm), which were smaller than Brachionus rotundiformis SS-type as a conventional starter food for marine fish larvae.  Results of culturing the minute rotifer Colurella sp. showed that the species grew well at salinities of 10, 20 and 30 ppt with no significant difference among treatments (ANOVA, p>0.05), indicating a potential use of minute rotifer Colurellasp. as starter food for marine fish larvae. Rotifera Branchionus rotundiformis (ukuran tubuh: panjang total 240,59±10,24 μm, panjang lorika 175,28±9,18 μm, dan lebar lorika 124,28±7,76μm) sering digunakan sebagai pakan awal pemeliharaan larva ikan laut. Namun, larva beberapa spesis ikan laut tropis membutuhkan pakan awal berukuran tubuh lebih kecil dari Branchionus rotundiformis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan minute rotifer dari alam (berukuran tubuh lebih kecil dari B. rotundiformis) dan menguji kemungkinan pemeliharaannya. Sampling rotifer dilakukan di perairan estuari Desa Mangket (Kema-Minut), menggunakan plankton net (ukuran mata jaring 40 µm). Uji coba pemeliharaan dilakukan pada salinitas (10, 20, dan 30 ppt) dengan menggunakan Nannochloropsis oculata. Satu spesies minute rotifer yang teridentifikasi sebagai Colurella sp. (family Lepadellidae) berhasil diisolasi dari lokasi sampling. Colurella sp. memiliki ukuran tubuh sangat kecil (panjang total [PT] 123,22±5,45 µm, panjang lorika [PL] 95,96±3,81 µm, dan lebar lorik [LL] 53,57±3,11 µm) yang mana lebih kecil dari Branchionus rotundiformis tipe-SS sebagai pakan awal larva ikan laut. Hasil uji coba pemeliharaan minute rotifer Colurella sp. menunjukkan bahwa spesis ini dapat tumbuh pada salinitas 10, 20, dan 30 ppt dengan perbedaan kepadatan populasi yang tidak signifikan antar perlakuan (Uji ANOVA, p > 0.05) mengindikasikan potensi pemanfaatan minute rotifer Colurella sp. sebagai pakan awal larva ikan laut.
ANALISIS JENIS-JENIS PIGMEN ALGA COKLAT Padina australis Hauck DARI PERAIRAN LAUT SULAWESI Kalalo, Julia L.; Mantiri, Desy; Rimper, Joice
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 2, No 1 (2014): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.2.1.2014.6352

Abstract

Padina australis Hauck is one of the brown algae that belongs to a class Phaeophyceae, Dictyotales order. This species is very important because it is useful as animal feed, fertilizer, pharmaceutical ingredients, human food and cosmetics. Sample taken in marine waters Sulawesi, precisely in the waters of cape Kalasey, Tongkaina waters, and the waters Blongko. The purpose of this study is to analyze the type of pigment chlorophyll with qualitatively and quantitatively. Process of extraction is done with organic solvent, and the developer with PE and acetone (80:20). Extraction results then analyzed with a spectrophotometer at a wavelength of 380-700nm, for the type of pigment chlorophyll. Type of pigment found in the pigment extraction P. australis Hauck of three waters is chlorophyll-a and chlorophyll-b, with an average concentration of chlorophyll-a value that is the highest in the waters Blongko 0.381 µg/ml in PTK3, with a range from 0.293 to 0.381 µg/ml, and lowest in the waters Tongkaina is 0.143 µg/ml PT3, with a range from 0.431 to 0.30 µg/ml.