Widodo S Pranowo
Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumbedaya Laut dan Pesisir Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jl. Pasir Putih Ancol Timur, Jakarta 14430

Published : 51 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Karakteristik Pasang Surut di Teluk Jakarta Berdasarkan Data 253 Bulan Atmodjo, Warsito; Setiyo Pranowo, Widodo; Dina ‘Amalina, aufi
Jurnal Riset Jakarta Vol. 12 No. 1 (2019): Jurnal Riset Jakarta
Publisher : Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.354 KB) | DOI: 10.37439/jurnaldrd.v12i1.7

Abstract

Pengetahuan mengenai kondisi pasang surut di Indonesia sangat penting sebagai pengukuran, analisis, dan pengkajian data muka air laut untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pantai maupun laut seperti pelayaran antar pulau, pencemaran laut, pengelolaan sumber daya hayati perairan atau pertahanan nasional, serta pembangunan konstruksi teknik sipil. Data yang digunakan adalah data pasang surut dan Peta Rupa Bumi Indonesia. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Microsoft Office Excel 2007 untuk pengolahan metode admiralty sedangkan Matlab R2014a pengolahan metode least square untuk menghasilkan komponen harmonik pasang surut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tinggi muka pasang surut selama Bulan Maret 2018 mempunyai nilai elevasi MSL sebesar 1,91 meter ; elevasi MHWL sebesar 2,54 meter dan elevasi MLWL sebesar 1,27 meter. Sementara tinggi muka pasang surut selama Januari 1984 hingga Desember 2004 memiliki nilai tahunan berturut – turut sebagai berikut MSL sebesar 1,9482 meter; MHWL sebesar 2,8129 meter; dan nilai MLWL sebesar 1,0835 meter, sedangkan pada elevasi bulanan mempunyai elevasi MSL sebesar 1,9596 meter; MHWL sebesar 2,8057 meter; MLWL sebesar 1,1135 meter. Berdasarkan hasil analisis nilai formzahl dan tipe pasang surut dengan dua metode (Admiralty dan Least Square) pada Bulan Maret 2018 yaitu pada metode admiralty tipe campuran cenderung tunggal mempunyai nilai formzahl sebesar 2,6786, sedangkan untuk metode least square mempunyai nilai formzahl sebesar 3,7864 yang diklasifikasikan sebagai tipe pasang surut tunggal. Pada Januari 1984 hingga Desember 2004 metode admiralty mempunyai tipe pasang surut tunggal yang mempunyai bilangan formzahl sebesar 3,6924, sedangkan pada metode least square tipe pasang surut tunggal dengan nilai formzahl sebesar 4,6555
POTENSI ENERGI ARUS LAUT PADA BERBAGAI KEDALAMAN UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK DI SELAT BADUNG, BALI Theoyana, Tonny Adam; Purwanto, Purwanto; Pranowo, Widodo Setiyo
Journal of Oceanography Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.608 KB)

Abstract

Selat Badung merupakan percabangan outlet dari Selat Lombok yang berada di antara Pulau Bali dan Pulau Nusa Penida. Kecepatan arus di Selat Badung berkisar dari 0,2 cm/s - 204,3 cm/s. Kajian arus di lokasi ini diperlukan untuk mengetahui potensinya sebagai pembangkit listrik mengingat kebutuhan akan listrik setiap tahun terus meningkat sekitar 9%.Pengukuran data di perairan lokasi penelitian dilaksanakan pada tanggal 20 Juni 2014 - 5 Juli 2014 dengan interval perekaman 30 menit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan software Matlab dengan toolbox t_tide yang dapat memisahkan data arus perekaman menjadi data arus harmonik dan non-harmonik dengan mengeluarkan komponen yang berpengaruh nyata menghasilkan energi. Ketiga data arus ini akan dianalisis untuk dikonversi. Konversi energi menggunakan persamaan Fraenkel dengan asumsi-asumsi.Potensi daya terbesar yang dapat dihasilkan pada lokasi penelitian adalah 43.701,76 W yang berada pada kedalaman 13 m sedangkan potensi daya rata-rata terbesarnya adalah 71,52 W berada di kedalaman 3 m dari permukaan. Akumulasi potensi daya yang didapat berada pada kedalaman 13 meter dengan besar daya 95.125,32 W.
Variabilitas ENSO terhadap Arus Pusaran dan Sebaran Ikan Cakalang di Wilayah Pengelolaan Perikanan 713 Ratnasari, Syarifah Leila; Harahap, Syawaluddin; sunarto, sunarto; Purba, Noir; Pranowo, Widodo
Jurnal Harpodon Borneo Vol 10, No 2 (2017): Volume 10 No.2 Oktober 2017
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.252 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v10i2.215

Abstract

The Fisheries Management Area (WPP) RI KP 713 under Decree No. 1 year 2009 includes Makassar Strait, Bone Bay, Flores Sea and the Sea of Bali. WPP-RI 713 is an area traversed by Arlindo. Arlindo occurs due to differences in surface pressure between the Pacific and Indian Oceans that value varies and it is influenced by the ENSO (Gordon et al, 2008). ENSO criteria can affect eddies variations. Eddies can affect the value SPL and salinity will affect the distribution of skipjack fish. This study aimed to analyze the relationship of ENSO variability with eddy patterns and biomass skipjack in 2014 - 2016. The research method was conducted descriptively by visualizing the variability of ENSO and skipjack biomass in the graph. Meanwhile, visualization current distribution patterns, SPL, and salinity using the ODV software. The relationship between all the variables are calculated by linear regression quantitatively. The visualization results indicate ENSO criteria affects eddy patterns, temperature, and salinity. By the time El Nino years of 2014 - 2015 occured 10-12 eddies, SPL average colder 290C, and higher salinity 33.3 psu. In 2016 a normal year with decreased eddies 9 incident, SST average 30.2oC, and salinity 33.3 psu. Distribution of Skipjack showed significant patterns between phases Nino years of 2014 - 2015 with the average 2.75 – 3.25 g/m2 and a normal year with the average 9:15 g / m2. Linear correlation between ENSO and the current showed positive results in 2014 and 2016, whereas in 2015 was negative. The correlation between ENSO and skipjack biomass showed positive results in 2015 and 2016, whereas in 2014 was negative.Keywords : ENSO, Eddy, Skipjack Biomass, Temperature, Salinity
ANALISIS KARAKTERISTIK ARUS HARMONIKAKIBAT PASANG SURUT DI PERAIRAN TELUK AWUR KABUPATEN JEPARA Bonauli, Melissa; Helmi, Muhammad; S. Pranowo, Widodo
Journal of Oceanography Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Oseanografi, Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.533 KB)

Abstract

Teluk Awur di Kabupaten Jepara merupakan salah satu dari banyak teluk yang ada di Kabupaten Jepara. Kawasan ini menjadi penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat sekitar. Adanya perubahan fisis-oseanografi yang terjadi di daerah ini berdampak terhadap perubahan karakterisitik pantai, seperti arus dan pasang surut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai karakteristik arus harmonik dan informasi dalam menunjang perencaan pengembangan pantai. Penelitian ini dilakukan berdasarkan metode deskriptif dan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 2 Maret 2015 – 5 Maret 2015. Data yang diolah berupa data arus dan data pasang surut. Arus laut diamati berdasarkan metode Eulerian menggunakan ADCP. Metode ini merupakan metode pengukuran arus stasioner menggunakan ADCP statis di satu titik. Sedangkan pengukuran pasut menggunakan data pasang surut BMKG. Hasil yang didapat dari penelitian ini ialah karakteristik arus harmonik dan pasang surut harmonik. Berdasarkan komponen di tiga kedalaman terukur serta kedalaman rata-rata didapatkan nilai formzahl yang  untuk mengelompokkan tipe pasang surut masing-masing. Di kedalaman 4,8 meter yaitu Cell 1 memiliki tipe pasang surut pasang surut campuran dominasi tunggal (mixed tide prevailing diurnal). Dikedalaman 2,4 meter yaitu Cell 2 dan di kedalaman 1,2 yaitu Cell 3 memiliki tipe pasang surut harian tunggal (Diurnal tide). Di kedalaman rata-rata memiliki tipe pasang surut campuran dominasi tunggal (mixed tide prevailing diurnal). Arah arus harmonik akibat pasang surut di Teluk Awur berdasarkan pola ellips di kedalaman rata-rata secara umum menunjukkan arah pergerakan arus Timur Laut-Barat Daya. Sedangkan secara lebih detail deskripsi per kedalaman : di kedalaman 1,2 meter (Cell 1) arus harmonik bergerak Timur laut-Barat Daya; di kedalaman 2,4 meter (Cell 2) arah arus harmonik bergerak ke arah Timur Laut-Barat Daya; sedangkan di dasar perairan di kedalaman 4,8 meter (Cell 3) arus harmonik mengalami perubahan arah yakni Utara-Selatan.
KARAKTERISTIK ARUS LAUT PERAIRAN TELUK BENOA – BALI Tanto, Try Al; Wisha, Ulung Jantama; Kusumah, Gunardi; Pranowo, Widodo S.; Husrin, Semeidi; Ilham, Ilham; Putra, Aprizon
GEOMATIKA Vol 23, No 1 (2017)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2026.553 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2017.23-1.631

Abstract

ABSTRAKPerairan Teluk Benoa merupakan kawasan semi tertutup dengan mulut sempit yang memisahkan antara Pulau Serangan dan Tanjung Benoa. Arus laut perairan Teluk Benoa, yang dekat pantai berperan penting dalam proses transpor sedimen di daerah pantai yang merupakan daerah gelombang mulai pecah hingga ke arah garis pantai. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik arus laut yang terjadi, analisis dari penyajian secara scatter plot dan stic plot, sehingga diketahui faktor dominan pembangkit arus tersebut. Data arus laut diperoleh dari hasil pengukuran pihak swasta menggunakan alat ukur ADCP. Analisis arus laut dengan scatter dan stic plot untuk melihat arah dominan arus, serta melihat hubungan kejadian arus dengan pasang surut air laut, selain itu juga dengan perhitungan kisaran kecepatan arus yang terjadi selama pengukuran. Hasil yang diperoleh adalah arus laut di perairan Teluk Benoa berkisar antara 0,001 - 1,715 m/s (pengamatan bulan Juni - Juli 2015). Kecepatan arus pada mulut teluk lebih besar (maksimal sebesar 1,715 m/s), sedangkan di dalam teluk kecepatan arus lebih rendah (maksimal sebesar 0,883 m/s). Pada saat air pasang, arah arus dominan ke arah dalam teluk dan saat air laut surut arah dominan arus ke arah luar teluk. Kesimpulan yang diperoleh adalah kejadian arus laut di perairan Teluk Benoa lebih dominan berupa arus pasang surut. Saat kondisi bulan purnama kecepatan arus lebih tinggi dari pada saat posisi bulan separuh (kuarter pertama atau ketiga). Pada umumnya, pada mulut teluk memiliki arus yang cukup tinggi sebagai akibat celah sempit, dengan pola yang tidak beraturan akibat pengaruh perlintasan kapal dan aktivitas keluar masuk teluk.Kata kunci: arus laut, karakteristik arus laut, arus pasang surut, Teluk BenoaABSTRACTBenoa Bay waters is a semi-enclosed area with quite a narrow mouth that separates the Serangan Island and Tanjung Benoa. Ocean currents in Benoa Bay, which is close to the beach plays an important role in the process of sediment transport in the beach area where is the waves began to break up towards the shoreline. The research objective was to know the characteristics of ocean currents that occur, from the analysis of the scatter and stic plot, so it’s known that the dominant factor of the current generator. The data of ocean currents obtained from the measurement of private parties using ADCP measuring instrument. Analysis of ocean currents with scatter and stic plot to see the dominant direction of current, and to see the relationship of current occurrence with the tide, besides also with calculation of current velocity. The results obtained are ocean currents in the Benoa Bay waters ranged from 0,001 to 1,715 m/s (observations in June-July 2015). Flow velocity at the mouth of the bay is greater (maximum of 1,715 m/s), while in the lower bay flow speed (maximum of 0,883 m/s). At high tide, the dominant current direction towards the bay and vice versa during low tide predominant direction of flow towards the outside of the bay. The conclusion is the incidence of ocean currents in the Benoa Bay waters is predominantly influenced by the tidal current. When the full moon conditions the current velocity is higher than at half month position. In general, at the mouth of the bay has a current high enough as a result of the narrow gap, with irregular pattern due to the influence and activities of ship crossings in and out of the bay.Keywords: ocean current, characteristics of ocean current, tidal current, Benoa Bay
VARIABILITAS SALINITAS BERKAITAN DENGAN ENSO DAN IOD DI SAMUDERA HINDIA (SELATAN JAWA HINGGA SELATAN NUSA TENGGARA) PERIODE TAHUN 2004 - 2010 Wardani, Restu; Pranowo, Widodo S.; Indrayanti, Elis
Jurnal Harpodon Borneo Vol 7, No 1 (2014): Volume 7 No 1 April 2014
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.276 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v7i1.2

Abstract

Salah satu bagian penting dari gambaran dinamika massa air suatu perairan adalah dengan melihat deskripsi dari distribusi spasial  dan temporal parameter salinitas. Fenomena interaksi laut dan iklim yang mempunyai pengaruh penting kepada wilayah dan lautan Indonesia juga terdapat di Samudera Hindia. Dampak perubahan iklim global dan pengaruh variabilitas iklim-laut regional diduga berpengaruh terhadap sektor perikanan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui korelasi salinitas dengan fenomena ENSO dan IOD, mengetahui pola aliran massa air berdasarkan distribusi salinitas secara horisontal terhadap musim selama periode 2004-2010. Data salinitas dan tekanan diperoleh dari hasil akuisisi argo float dengan resolusi temporal adalah bulanan yang diolah dengan menggunakan software Ferret untuk pembuatan model skematik aliran massa air. Korelasi linier pearson digunakan untuk mengetahui hunungan nya terhadap Indeks SOI dan IOD. Hasil penelitian menunjukkan variabilitas salinitas Samudera Hindia Selatan Jawa-Selatan Nusa Tenggara dipengaruhi oleh musim, ENSO, dan IOD. Distribusi variabilitas secara horisontal dipengaruhi oleh aliran massa air yang berasal dari Barat Sumtera, Selat Sunda, Selat Ombai, Laut Sawu secara musiman. IOD (+) berdampak terhadap kenaikan salinitas, korelasi Pearson menunjukkan nilai  (0,989176).  Sedangkan La Nina berpengaruh terhadap salinitas horisontal kedalaman rerata 0-300 meter dengan korelasi Pearson sebesar (+0,91839). Kata Kunci : Salinitas, Selatan Jawa, Selatan Nusa Tenggara, ENSO, IOD.
PEMANFAATAN ALGORITMA ZHU UNTUK ANALISIS KARBON LAUT DI TELUK BANTEN ., Ramawijaya; Yusuf Awaludin, Muhammad; S. Pranowo, Widodo; ., Rosidah
Jurnal Harpodon Borneo Vol 5, No 2 (2012): Volume 5 No 2 Oktober 2012
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (642.113 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v5i2.89

Abstract

Tantangan penting dalam bidang meteorologi laut dan perubahan iklim adalah bagaimana memprediksikan secara kuantitatif interaksi laut dan atmosfer dalam kaitannya dengan proses penyerapan (sink) / pelepasan (source) CO2 oleh laut yang dikontrol oleh proses kimia, fisika, dan biologi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisa penyerapan/pelepasan CO2 laut dengan pendekatan model melalui perhitungan tekanan parsial CO2 (pCO2) laut. Hasil algoritma menunjukkan sebagian besar stasiun pengamatan memberikan nilai positif dengan kisaran 0 – 5000 μatm dengan nilai bias yang tinggi pada stasiun bagian dalam teluk. Sementara itu hasil observasi SPL dan klorofil-a menunjukkan nilai ∆pCO2 bernilai negatif berkisar antara 0 s/d –20 μatm pada perairan luar teluk dan bernilai 0  s/d +420 μatm untuk bagian dalam teluk. Secara umum Perairan Teluk Banten berperan sebagai source sedangkan bagian luar teluk berperan sebagai sink CO2. Namun Algoritma Zhu ini tidak disarankan untuk digunakan di daerah perairan dalam teluk atau pesisir.  Kata Kunci : Teluk Banten, Algoritma Zhu, karbon laut, sink, source
DINAMIKA ARUS DALAM MENDUKUNG PERIKANAN BUDIDAYA LAUT DI TELUK BONE S. Pranowo, Widodo; D. Puspita, Candra; Bramawanto, Rikha; A. Adi, Rizky; Kusumawardani, Anastasia R. T. D.
Jurnal Harpodon Borneo Vol 7, No 2 (2014): Volume 7 No 2 Oktober 2014
Publisher : Jurnal Harpodon Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.508 KB) | DOI: 10.35334/harpodon.v7i2.119

Abstract

Ocean current condition which is hypothized support potential fisheries in Teluk Bone is interesting to be studied. This article presents the result of a simulation of the three-dimensional hydrodynamics modeling, in order to understand the current circulation in Teluk Bone. Snapshots of the modeling produce the phenomena that occur in Southeast Monsun period (August 1-10, 2004) in order to match with data verification available. Sea surface elevation at spring tide is  0.0492 – 2.4140 meters. The speed velocity of surface current at same condition in range of 0.5x10-3 – 12.25x10-3 m/sec, with dominant direction alongshore of the east coast and then headed North and West. Downwelling occurs somewhere in west coast and upwelling occurs somewher in east coast. The vertical upwelling velocity is in range of 0,5x10-3 - 3,5x10-3 m/sec, while vertical downwelling velocity is in range of 0,5x10-3 - 4,6x10-3 m/sec. In this monsoon period, the velocity of surface current support of the marine aquaculture activities, since the range is still follow to UNDP/FAO standard values of  <100 cm/sec. The low vertical velocity of upwelling and downwelling keeps nutrients in a low mixing condition, then those can be stable utilized by phytoplankton. Palopo, Suli and Muranti are the coastal city location nearby  that upwelling and downwelling occurs and sea surface current velocity in good suitability for seaweed cultivation, fish farming on “keramba” floating cages/nets and some oyster pearl cultivation. Keywords : current pattern, hydrodynamics modeling, Teluk Bone, marine aquaculture
TIDAL REGIMS OF ARAFURA AND TIMOR SEA Pranowo, Widodo S.; Wirasantosa, Sugiarta
Marine Research in Indonesia Vol 36, No 1 (2011)
Publisher : Research Center for Oceanography - Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/mri.v36i1.525

Abstract

Tidal range in the Arafura and Teimor Sea region is estimated from the actual field records collected by five tidal stations during March 2011. These stations include Rote and Saumlaki tidal stations of Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Indonesia, and Broome, Darwin and Groote Eylandt tidal stations of Australia Bureau of Meteorology (BoM). In addition to data from these stations, datasets of sea surface height obtained from Topex/Poseidon altimetry at seven (7) virtual stations were used. Generally, the results of this study are in agreement with that of Wyrtki (1961). However, by utilizing spectral analysis and form factor, this study shows difference in terms of tidal types from that of Wyrtkis, particularly at Karumba and Groote Eylandt stations.
TIDAL REGIMS OF ARAFURA AND TIMOR SEA Pranowo, Widodo S.; Wirasantosa, Sugiarta
Marine Research in Indonesia Vol 36 No 1 (2011)
Publisher : Research Center for Oceanography - Indonesian Institute of Sciences (LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/mri.v36i1.525

Abstract

Tidal range in the Arafura and Teimor Sea region is estimated from the actual field records collected by five tidal stations during March 2011. These stations include Rote and Saumlaki tidal stations of Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) Indonesia, and Broome, Darwin and Groote Eylandt tidal stations of Australia Bureau of Meteorology (BoM). In addition to data from these stations, datasets of sea surface height obtained from Topex/Poseidon altimetry at seven (7) virtual stations were used. Generally, the results of this study are in agreement with that of Wyrtki (1961). However, by utilizing spectral analysis and form factor, this study shows difference in terms of tidal types from that of Wyrtki's, particularly at Karumba and Groote Eylandt stations.
Co-Authors ., Kamija ., Ramawijaya ., Rosidah A. Adi, Rizky Abdul Karim, Riswan Abdul Wahid Adhi Surya, Arta Adrianto, D Adrianto, Dian Adventari, Tara Agung Kurniawan Alan Frendy Koropitan Andreas Delia, Luddy Anggriawan Maydwika, Dhedy Arif Setiawan Arifiyanto Arifiyanto, Arifiyanto Armansyah, Dodik Asryanto, Asryanto Budi Sukoco , Nawanto Budi Sukoco, Nawanto Budi, Nawanto Budiyanto, Aditiyas Choirul Umam, Choirul D. Cahyadi, Ferry D. Puspita, Candra Dewantono, L Dina ‘Amalina, aufi Dirgantara, Octav Djati Anggara, Purry Djunarsjah, Eka E. Diputra, Ardian Elis Indrayanti Fatoni, Imam Febrian Setianto, Sony Gentio Harsono Gentur Handoyo Gultom, Feri Harahap, Syawaluddin Hendra Hendra Hendrawan Setiadi, Hendrawan Herunadi, Bambang Husrin, Semeidi Ibnu Sofian, Ibnu Ilham, Ilham Imam Fatoni, Khoirol Indra Gunawan Indra Kusuma, Yohanes Iskandar Iwan, Agus Joko Subandriyo, Joko Kamija, Kamija Koswara Koswara, Koswara Kusumah, Gunardi Kusumawardani, Anastasia R. T. D. L. Tobing, Christian Lail, Agus Lazuardi, Rudi Madawanto, Yanu Melissa Bonauli, Melissa Mihardja, Dadang K. Monang S, Sahat Monang, Sahat Monang. S, Sahat Muhammad Helmi Muhammad Ramdhan Muhammad Zainuri Muldiyatno, Farid Mulia Purba Mustika Alam, Tasdik Novianto, Andry Nugroho, Pebrianto E. Nurochim, Nurochim Nuryasin Firmansyah, Eko Prakoso A S, Eko Prasetyo, Irawan Pujo Wiryawan, Ainun Puliwarna, Tunggul Purba, Noir Purmono, Purmono Purwanto Purwanto Puspitasari, Shastya Addienda Putra, Aprizon Putra, Iska Ratnasari, Syarifah Leila Rawi, Sofyan Restu Wardani Retri Harito, Rusito Rikha Bramawanto Riyadi, Nur Sabhan Sabhan Saepuloh, Dani Setiyadi, Johar Setyadi, Johar Setyanto, Dajad Sukoco, N. Budi Sumirang, Enjang Sunarto Sunarto Supriyono Susetyo Adi, Novi Syamyono, Wida Hanayasashi Tambunan, Russel Tanto, Try Al Tisiana Dwi K, Anastasia Rita Tonny Adam Theoyana Trismadi Trismadi, Trismadi Warsito Atmodjo Widisanto, Harso Winona Abigail Wirasantosa, Sugiarta Wisha, Ulung Jantama Yusuf Awaludin, Muhammad