Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

PENGARUH PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN BAGI ANAK USIA 7-12 TAHUN TERHADAP PERILAKU DISIPLIN ANAK DI SEKOLAH MINGGU Frans Pantan
Edukasi : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 10 No 1 (2019): Edukasi : Jurnal Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Bethel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47562/edk.v10i1.63

Abstract

Mengenai soal waktu, Sekolah Minggu mempunyai waktu yang sedikit dalam hidup seorang anak, dibandingkan dengan waktu di sekolah regular dan di rumah. Seorang anak mempunyai sedikitnya tiga puluh lima sampai empat puluh sembilan jam per minggu di sekolah, dan mempunyai lebih dari seratus jam di rumah, tetapi hanya mempunyai waktu dua jam di Sekolah Minggu. Dalam soal keseimbangan, Sekolah Minggu mempunyai tugas yang besar dalam pembentukan perkembangan baik dibidang rohani maupun jasmani. Sebagai sarana pembentukkan karakter yang mungkin belum didapat di rumah atau tidak didapat di sekolah. Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Minggu bertujuan untuk membentuk iman, pengharapan, kasih, firman, pengertian, doktrin dan pimpinan Roh Kudus dalam diri anak-anak itu dan diharapkan anak mampu mempraktekkan setiap ajaran yang diajarkan di Sekolah Minggu. Di sinilah pentingnya pelaksanaan Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang baik di Sekolah Minggu. Pendidikan Agama Kristen harus diberikan kepada anak tidak hanya sekedar cerita-cerita Alkitab saja, pujian atau doa. Guru Sekolah Minggu juga harus mengajarkan kepada mereka mengenai budi pekerti dan moralitas anak dalam kehidupan sehari-hari, yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku anak. Salah satunya adalah mengenai kedisiplinan anak. Anak harus diajar untuk hidup disiplin. Kedisiplinan sangat diperlukan bagi setiap anak. Anak yang hidup disiplin akan dapat menata hidupnya dengan baik dan bertanggung jawab. Anak yang disiplin tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Seperti yang disampaikan oleh Sariaman Sitanggang dalam bukunya bahwa disiplin berarti melakukan sesuatu sebagaimana mestinya dan tepat pada waktunya. Sekolah Minggu akan berjalan dengan baik dan teratur jika di dalamnya ada nilai-nilai disiplin yang tinggi.
Prinsip Didaktik Pentakostal: Ekstraksi Teologis dan Pedagogis dari Paulo Freire Frans Pantan; Hendrik Timadius; Gernaida K. R. Pakpahan; Heru Cahyono
Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 6, No 2: September 2021
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Kristen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46307/rfidei.v6i2.120

Abstract

In the past decade, Pentecostal scholars have continued to make improvements in all aspects of human life. This includes the world of education and ecclesiastical. The world of Pentecostal Education has undertaken a process of re-extraction of theology and its pedagogy. This process is carried out by absorbing the values echoed by Paulo Freire about the concept of Education which provides as much space as possible for the development of free thinking. Free thinking is meant by the spirit of social humanism with fellow human beings, not oppressing in the form of verbally or in deeds, and parallels between teachers and students. Whereas in ecclesiastical, the value of humanizing humans to understand humans as a whole is. The method used to collect data is descriptive qualitative with library studies. The results of the study found that the Freire concept was in the process of absorbing and being applied by Bethel School of Theology even though it had been modified into a Pentecostal Catechesis concept. Meanwhile, in an ecclesiastical context, GBI has adopted Freire's values in the form of humanizing training such as the Healing Movement Camp (HMC), I am a Christ Follower (SPK), and Doulos Camp. AbstrakDalam satu dekade terakhir, para cedikiawan Pentakosta terus melakukan pembenahan dalam segala aspek kehidupan umat. Termasuk didalamnya dunia Pendidikan dan gerejawi. Dunia Pendidikan pentakosta melakukan proses reekstraksi akan teologi dan pedagoginya. Proses ini dilakukan dengan menyerap nilai-nilai yang digemakan oleh Paulo Freire akan konsep Pendidikan yang memberikan ruang sebesar-besarnya untuk kepengembangan berpikir bebas. Berpikir bebas yang dimaksud adalah semangat humanisme sosial dengan sesama manusia, tidak melakukan penindasan dalam bentuk verbal maupun perbuatan, dan kesejajaran antara guru dan murid. Sedangkan dalam gerejawi, nilai memanusiakan manusia untuk memahami manusia secara utuh adalah. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah kualitatif deskriptif dengan studi perpustakaan. Hasil penelitian menemukan bahwa konsep Freire sedang dalam proses menyerap dan aplikasi oleh Sekolah Tinggi Teologi Bethel meskipun telah dimodifikasi menjadi konsep Katekesis Pentakosta. Sedangkan dalam konteks gerejawi, GBI telah mengadopsi nilai Freire dalam bentuk pelatihan memanusiakan manusia seperti Healing Movement Camp (HMC), Saya Pengikut Kristus (SPK), dan Doulos Camp. 
Pendidikan yang membebaskan: Sadar akan pluralitas dalam pendidikan Kristiani di era posmodern Frans Pantan
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 8, No 1: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v8i1.453

Abstract

This study aims to examine the pluralistic principle in Christian religious education in the postmodern era. This research process uses descriptive social qualitative methods. Namely, researchers use descriptive data, explain, and analyze phenomena, and interpret social dynamics and attitudes of beliefs that develop in society in the framework of educational analysis. The study results indicate that essentially education is life and/or life is education. Based on this principle, the goal of education is to humanize humans, namely, to consistently manage harmonious relationships with Allah, the Owner of their lives, others, and their environment. This research finds common ground and, at the same time, produces an inclusive education formulation that sees the others in the frame of plurality or plurality who are entitled to enjoy the freedom of expression in the light of the will of the Divine. This concept must be present in the life of postmodern society.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji prinsip pluralistik dalam Pendidikan agama Kristen di era postmodern. Proses penelitian ini menggunakan metode kualitatif sosial deskriptif, yakni peneliti memanfaatkan data deskriptif, menjelaskan dan menganalisis fenomena, menginterpretasi dinamika sosial dan sikap kepercayaan yang berkembang di masyarakat dalam bingkai analisis pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hakikatnya pendidikan adalah kehidupan dan/atau kehidupan adalah pendidikan. Didasari dengan prinsip tersebut maka tujuan ultim pendidikan adalah memanusiakan manusia secara utuh, yakni secara konsisten mengelola relasi harmoni dengan Allah-Sang Pemilik hidupnya, sesama dan lingkungannya. Penelitian ini menemukan titik temu dan sekaligus menghasilkan rumusan pendidikan inklusif yang melihat the others dalam bingkai kemajemukan atau pluralitas yang berhak menikmati kebebasan berekspresi dalam terang kehendak Sang Ilahi. Konsep ini harus disajikan dalam kehidupan masyarakat postmodern.
Keterampilan Guru Dalam Mengajar Pendidikan Agama Kristen Frans Pantan
Edukasi : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 1 No 1 (2008): Edukasi : Jurnal Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Bethel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru PAK memiliki peran dan tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didiknya, sedemikian besar tanggung jawab guru PAK tersebut, maka Guru PAK harus memiliki sejumlah keterampilan sehingga ketika guru mengajar materi yang disampaikan dapat sampai kepada peserta didik. Guru harus memiliki delapan keterampilan mengajar yakni: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar perseorangan. Dengan demikian, ketika guru PAK menguasai delapan keterampilan mengajar maka peserta didik dapat merasakan manfaat dari guru PAK yang memiliki keterampilan mengajar.
Resiliensi spiritual menghadapi disruption religious value di masa pandemi Covid-19 pada lembaga keagamaan Frans Pantan; Priskila Issak Benyamin; Johni Handori; Yuel Sumarno; Sadrakh Sugiono
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 2: Teologi Menstimulasi Nilai-nilai Kemanusiaan dan Kehidupan Bersama dalam Bingkai Kebang
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i2.352

Abstract

The Covid-19 pandemic has not yet provided a clear way of when this problem will end. It is precisely the opposite fact that is obtained, namely the increasing number of its spread. Of course, this can be a problem in cultivating the value of God's Word. The value that departs from the fruit of the Spirit is not well heeded and deeply ingrained. Therefore, a strategy is needed to increase spiritual resilience in order to survive during a pandemic. The methodology used in this research is descriptive qualitative with data collection techniques is a case study through data triangulation. The results of the study suggest that spiritual resilience can be seen from the intensity of prayer together with groups or families, exemplary through face-to-face worship meetings. There are also symbolic interactions when religious institution activities are carried out online. It creates an understanding of thinking and acting in the meaning of thoughts, understanding about oneself, and their relationship in the middle of social interactions. It is the ultimate goal to mediate and interpret the meaning in the community where the individual lives and socializes. AbstrakPandemi Covid-19 belum memberikan jalan terang kapan akan berakhir. Hal ini dapat menjadi masalah dalam penanaman nilai Firman Tuhan terkait Sembilan buah Roh; menjadi tidak terperhatikan dengan baik dan tertanam pada jemaat. Oleh karenanya, diperlukan strategi dalam meningkatkan ketahanan spiritual agar dapat tetap survive pada masa pandemi. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data adalah studi kasus melalui triangulasi data. Hasil penelitian mengemukakan bahwa ketahanan spiritual dapat dilihat dari intensitas doa bersama dengan kelompok atau keluarga, keteladanan melalui pertemuan-pertemuan ibadah secara tatap langsung. Terdapat juga interaksi simbolik ketika kegiatan lembaga keagamaan yang dilaksanakan secara online. Implementasi penanaman nilai firman tuhan menjadi salah satu strategi dalam rangkamembuat suatu pemahaman berpikir, selain itu terdapat juga aktualitas tindakan yang dipikirkan terlebih dahulu, pemahaman mengenai diri dan hubungannya dengan interaksi sosial. Strategi-strategi tersebut bertujuan akhir untuk memediasi, serta menginterpretasi makna di tengah masyarakat dimana individu tersebut menetap dan bersosialisasi.
Rancangan Blended Learning Berbasis Storytelling Pada Pembelajaran Agama dan Moral untuk PAUD Kristen di Surakarta Efi Nurwindayani; Frans Pantan; Purim Marbun
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 2 No. 2 (2021): Sophia: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v2i2.59

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to develop a blended learning design based on a special storytelling method for religious and moral learning in PAUD Kristen Surakarta. This study uses a qualitative method with a level 1 research and development model covering the stages of needs analysis, design, and design validation by experts and practitioners. The final result of this research is the finding of a blended learning design based on the storytelling method in religious and moral learning in PAUD Kristen Surakarta. The design has been conceptually validated by experts and practitioners. Keywords: Blended Learning, Storytelling, Religious and Moral Learning Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan sebuah rancangan blended learning berbasis metode storytelling khusus pada pembelajaran agama dan moral di PAUD Kristen Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan model penelitian dan pengembangan level 1 meliputi tahap analisis kebutuhan, membuat rancangan, dan validasi rancangan oleh ahli dan praktisi. Hasil akhir penelitian ini adalah temuan yaitu rancangan blended learning berbasis metode storytelling pada pembelajaran agama dan moral di PAUD Kristen Surakarta. Rancangan telah tervalidasi secara konseptual oleh ahli dan praktisi. Kata Kunci: Blended Learning, Storytelling, Pembelajaran Agama dan Moral
Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak pada Masa Pandemi Covid-19 Frans Pantan; Priskila Issak Benyamin
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 3, No 1 (2020): Juli 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v3i1.43

Abstract

The occurrence of the Covid-19 pandemic virus caused the family's role in children's education to become increasingly strategic. Until now not many studies have examined the role of families in children's education. This study aims to analyze deeply the role of the family in children's education. This research is a qualitative ethnographic study. Data were collected using in-depth interview techniques and participatory observation. The data source is the primary source (both parents and mothers) approached by purposive technique and continued with a snowball. The data is then validated by source triangulation techniques and methods. The collected data is then analyzed using the interactive data analysis technique of the Miles and Huberman model, which consists of the stages of data collection, data reduction, data display, and conclusion. The results showed that there were 7 main roles of the family in children's education, namely: (1) The function of the faith; (2) Educational functions; (3) The function of socialization; (4) Protection or protection functions; (5) Affection function; (6) Economic functions; (7) Recreational functions. After going through a process of discussion with relevant theories and research results, it was found that the seven roles holistically had never been raised together before. This is a new finding from this research, where this finding will certainly be different from the findings if there is no pandemic, or if disasters occur in other forms.AbstrakTerjadinya pandemi virus covid-19 menyebabkan peran keluarga dalam pendidikan anak menjadi semakin strategis. Hingga saat ini belum banyak penelitian yang mengkaji peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam mengenai peran keluarga dalam pendidikan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif etnografi. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data adalah sumber primer (orangtua baik ayah maupun ibu) yang didekati dengan teknik purposive dan dilanjutkan dengan snowball. Data selanjutnya divalidasi dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik analisis data interaktif model Miles and Huberman, yang terdiri dari tahap data collection, data reduction, data display, dan conclution. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 peran utama keluarga dalam pendidikan anak, yaitu: (1) Fungsi keimanan; (2) Fungsi edukatif; (3) Fungsi sosialisasi; (4) Fungsi proteksi atau perlindungan; (5) Fungsi afeksi; (6) Fungsi ekonomi; (7) Fungsi rekreasi. Setelah melalui proses pembahasan dengan teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan, ditemukan bahwa ketujuh peran tersebut secara holistik belum pernah diangkat secara bersama-sama sebelumnya. Hal inilah yang menjadi temuan baru dari penelitian ini, di mana temuan ini tentu akan berbeda dengan temuan jika tidak terjadi pandemic, maupun jika terjadi bencana dalam bentuk-bentuk yang lain.
Model Pembelajaran Berpusat pada Kristus untuk Transformasi Bangsa: Studi Deskriptif di Sekolah Cahaya Cemerlang Pantan, Frans; Marbun, Purim; Mulia, Syanti D.
SIKIP: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 1: Pebruari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.149 KB) | DOI: 10.52220/sikip.v2i1.76

Abstract

Christian education in Indonesia has not fully taken the role of educating the young generation to know God's will, changing its paradigm, and pursuing change, personal, group, and national reform. Sekolah Cahaya Cemerlang (SCC) is a Christian educational institution that was built in order to take on a role and fulfill its vocation, with the aim of raising the next generation of leaders who bring transformation to the Indonesian nation. The research focus in this qualitative descriptive study is to describe a Christ-centred learning model at SCC in terms of policy principles, objectives, curriculum, and learning methods, involving 19 teachers,155 students, and their families. Some of the new findings from the principles of the learning process at SCC are the use of the Bible Based curriculum, the principle of partnership with families and communities, training places for young missionaries, and SCC as a learning and knowledge-sharing community. The new findings are also a holistic approach with a spiritual foundation and teachers as shepherds according to the Jesus learning model and curriculum content based on God's Word. The 'Second Home School', Bloom's Spirit-led Taxonomy, the development of the Social Domain with individual learning, and group and community involvement, form the basis for the development of learning methods at SCC. Reflexive and Transformative Learning Methods for pedagogy are also developed for the purpose of social transformation, achieving a greater Indonesia.AbstrakPendidikan Kristen di Indonesia belum sepenuhnya mengambil peran untuk mendidik generasi muda mengenal kehendak Allah, berubah paradigmanya, dan mengupayakan perubahan, refor-masi pribadi, kelompok, dan bangsa. Sekolah Cahaya Cemerlang (SCC) adalah institusi pendi-dikan Kristen yang dibangun dalam rangka mengambil peran dan memenuhi panggilannya, bertujuan membangkitkan pemimpin generasi penerus bangsa yang membawa transformasi bagi bangsa Indonesia. Fokus penelitian dalam studi deskriptif kualitatif ini adalah menggam-barkan model pembelajaran berpusat pada Kristus di SCC dari segi prinsip kebijakan, tujuan, kurikulum dan metode pembelajaran, yang melibatkan 19 guru, 155 murid beserta keluarganya. Beberapa temuan baru dari prinsip proses pembelajaran di SCC adalah penggunaan kurikulum Bible Based, prinsip kemitraan dengan keluarga dan masya-rakat, tempat pelatihan misionaris muda, dan SCC sebagai learning and sharing knowledge community. Temuan baru dalam kuri-kulum dalam penelitian ini adalah pendekatan holistik dengan dasar spiritual dan guru sebagai gembala sesuai model pembelajaran Yesus serta konten kurikulum berbasiskan Firman Tuhan.  “Sekolah rumah kedua”, Spirit-led Taksonomi Bloom, pengembangan Ranah Sosial dengan pem-belajaran individual, dan kelompok dan keterlibatan masyarakat, menjadi dasar pengembangan metode pembelajaran di SCC. Metode Pembelajaran Refleksif dan Transformatif untuk pedagogi juga dikembangkan da-lam tujuan transformasi sosial, mencapai Indonesia Maju.        
Parents Assistance on Down Syndrome Children: Pastoral Counseling Perspective Pakpahan, Gernaida Krisna R; Pantan, Frans; Salim, Muche Mona; Wiryohadi, Wiryohadi; Cahyono, Heru
Bisma The Journal of Counseling Vol 5, No 3 (2021): Bisma The Journal of Counseling
Publisher : Department of Guidance and Counseling, FIP, Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/bisma.v5i3.42043

Abstract

Researchers aim to find out how to strengthen and assist parents with strategies for children with Down syndrome to become independent. The method used is qualitative—the procedure used for data collection by observation, interviews, and documentation. Furthermore, the data were analyzed using a data reduction model, data presentation, and verification. The resource persons for this study were ten parents with Down Syndrome children and servants of God involved in pastoral care for families with Down Syndrome children in Jakarta. The results showed that the community for parents with Down Syndrome children is essential because it provides reinforcement and support in mentoring children with down syndrome. After attending formal and informal therapy, Down syndrome children have significant developments that enable DS children to be independent. The primary model of parental assistance is holistically providing whole love and providing therapies, especially music and spiritual therapy.
Evaluasi Pembelajaran Daring Pendidikan Agama Kristen di Masa Pandemi Priskila Issak Benyamin; Ibnu Salman; Frans Pantan; Wiryohadi Wiryohadi; Yogi Mahendra
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol 4, No 1 (2021): September 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v4i1.174

Abstract

Penelitian ini berangkat dari adanya kesejangan dalam program pembelajaran daring selama pandemi di Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana keberhasilan program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen dan dampaknya baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Metode penelitian yang digunakan yakni model penelitian evaluasi discrepancy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek desain, instalasi, proses dan produk berada pada kategori rendah. Hal ini terlihat juga dalam cost-benefit analysis program pembelajaran daring pendidikan agama Kristen yang masih lemah.