Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

FORMULASI TABLET EFFERVESCENT BERBAHAN BAKU KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) DAN BUAH SALAM (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp) Pribadi, Yoga Sindi; Sukatiningsih, .; Sari, Puspita
Berkala Ilmiah Pertanian Vol 1, No 4: MEI
Publisher : Berkala Ilmiah Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.345 KB)

Abstract

[ENGLISH] Red dragon fruit peel, which is 30-35% from red dragon fruit, is supposed to be a waste containing betacyanin ± 186,90 mg/100 g and antioxidant activity ± 53,71 %. Another potential fruit, which can be developed as an antioxidant, is a salam fruit. Salam fruit is one of local fruits in Indonesia, which has a high antioxidant but its potential has not been utilized optimally. The aim of this research is to determine the exact formulation in effervescent tablet from red dragon fruit peel and salam fruit’s extracts through sensory, physical as well as chemical characteristics. This research was conducted in three steps. Firstly, the researchers made the preparation of raw materials to get the red dragon fruit peel and flesh of salam fruit. Secondly, extraction using 97% ethanol and vacuum drying to obtained extract powder of red dragon fruit peel and salam fruit. At last, determines the formulation of effervescent tablet. Effervescent tablets were analyzed sensory, physical and chemical characteristics. Sensory analysis showed F1, F2 and F3 having the preferred formulation. Furthermore, the results of physical and chemical characteristics analysis indicate F3 having the best formulation with the highest antioxidant activity 63,13% with speed-soluble 72.40 seconds, water content of 11.24%, color parameters L = 41,32, C = 23 and hue = 358,74 (red purple), betacyianin content 309,75 mg/100 g dry basis and anthocyianin content 5,26 mg/100 g dry basis. Keywords: red dragon fruit peel; salam fruit; effervescent tablet [INDONESIAN] Kulit buah naga merah merupakan limbah (30 - 35% buah utuh) mengandung betasianin ± 186,90 mg/100 g dan aktivitas antioksadan ± 53,71%. Buah lainnya yang potensial dikembangkan sebagai sumber antioksidan adalah buah salam. Buah salam adalah salah satu buah-buahan lokal Indonesia yang mengandung antioksidan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi yang tepat tablet effervescent yang dibuat dari ekstrak kulit buah naga merah dan buah salam melalui pengujian karakteristik sensori, fisik, dan kimia. Penelitian dilakukan dalam tiga tahapan. Pada tahap pertama, peneliti melakukan persiapan bahan baku untuk mendapatkan kulit buah naga merah dan buah salam tanpa biji. Tahap kedua melakukan ekstraksi menggunakan pelarut etanol (97%) dan pengeringan ekstrak menggunakan pengering vakum untuk mendapat bubuk ekstrak kulit buah naga merah dan buah salam. Tahap terakhir melakukan pengujian tablet effervescent. Tablet effervescent dianalisa karakteristik sensori, fisik, dan kimia. Analisis sensori menunjukkan bahwa formulasi F1, F2, dan F3 lebih disukai panelis. Lebih lanjut, hasil dari analisis fisik dan kimia menunjukkan bahwa formulasi F3 merupakan formulasi terbaik dengan nilai aktivitas antioksidan tertinggi 63,13%, waktu larut 72,40 detik, kadar air 11,24%, parameter warna L = 41,32; C =23; dan hue = 358,74 (red purple), kandungan betasianin 309,75 mg/100 g (berat kering), dan kandungan antosianin 5,26 mg/100 g (berat kering). Kata kunci: kulit buah naga merah; buah salam; tablet effervescent How to citate: Pribadi YS, Sukatiningsih, P Sari. 2014. Formulasi tablet effervescent berbahan baku kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan buah salam (Syzygium polyanthum [Wight.] Walp). Berkala Ilmiah Pertanian 1(4): 86-89.
PENGARUH JUMLAH DAUN DAN KONSENTRASI ROOTONE-F TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JERUK NIPIS LEMON (Citrus limon L.) ASAL STEK PUCUK Sari, Puspita; Intara, Yazid Ismi; Dewi Nazari, Alvera Prihatini
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 44, No 3 (2019)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v44i3.2132

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: interaksi antara jumlah daun dan konsentrasi Rootone-F; pengaruh jumlah daun;  dan pengaruh Rootone-F terhadap pertumbuhan bibit jeruk nipis lemon asal stek pucuk secara tunggal.  Penelitian dilaksanakan sejak bulan November 2017 sampai Februari 2018 di Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman. Percobaan faktorial disusun dalam Rancangan Acak Lengkap dengan lima ulangan.  Faktor pertama adalah jumlah daun, terdiri atas: 5, 7 dan 9 helai daun, sedangkan faktor kedua adalah konsentrasi Rootone-F, terdiri atas: 0,00; 0,05; 0,10 dan 0,15 g mL-1.  Variabel yang diamati meliputi: saat muncul tunas, jumlah tunas, jumlah daun, panjang tunas, diameter tunas, jumlah akar dan panjang akar.  Data dianalisis menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil pada taraf 5%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jumlah daun dan konsentrasi Rootone-F berbeda tidak nyata pada semua variabel yang diamati, kecuali diameter tunas.  Pengaruh jumlah daun berbeda nyata terhadap variabel yang diamati, kecuali jumlah tunas, jumlah daun, dan panjang tunas pada umur 12 minggu setelah tanam (MST).  Pengaruh konsentrasi Rootone-F berbeda nyata pada semua variabel yang diamati, kecuali jumlah tunas dan jumlah daun pada 6 MST.  Pertumbuhan bibit jeruk nipis lemon terbaik diperoleh pada perlakuan 9 helai daun dan dan konsentrasi Rootone-F 0,10 g mL-1 secara tunggal. 
RELATIONSHIP BETWEEN THE POPULATION DENSITY AND THE OCCURRENCE OF DENGUE HEMORRHAGIC FEVER IN PALU AT 2010-2014 A.R, Rahmi; Sari, Puspita
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Background:  Dengue hemorrhagic fever (DHF) represents one of public health problems in Indonesia and so do the other  countries. Commonly, DHF infections are found in tropics and subtropics  country, specially in urban and sub urban area. The number of sufferer and its distribution increases along with mobility and population density.  Methods: The study used  analytic observational method with cross sectional design. The samples  were number of  DHF cases in Palu City at 2010-2014 that recorded in Health Department of Palu. The data used in form secondary data of DHF cases through Health Department of Palu’s records and population density through Statistic of Palu City. Data processing was done with SPSS program with spearman test. Results: The results showed that r value = 0,502 and p value = 0,000 which means that there is a moderate relationship with positive direction between the population density and the occurrence of dengue hemorrhagic fever  Conclusions: There is a moderate relationship with positive direction between the population density and the occurrence of dengue hemorrhagic fever in Palu City at 2010-2014.   Key words: occurrence of DHF, population density
CORRELATION BETWEEN HEMATOCRITE AND HEMOGLOBIN COUNT WITH HOSPITALISAZION DURATION OF ACUTE DIARRHEAL CHILDREN PATIENTS IN UNDATA GENERAL HOSPITAL YEAR 2014 Sari, Puspita; B.P, Herman
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Diarrhea is one of major causes of morbidity and mortality in almost geographic regions of the world. All age groups can be infected with gastroenteritis. World Health Organization (WHO) reported that diarrhea  cause 3.5 millions deaths for one year in children under 5 years with  incidence of diarrhea is about 80%. Duration of hospitalization is a parameter commonly used to measure one episode of the hospitalization duration. In the Eradication Guidelines of Diarrhea 5th Edition, the former hospitalization target in acute diarrhea patients according to Department of Health Republic Indonesia is about 4 days or 96 hours.Methods: This study is an analytic observational, by using cross-sectional design and purposive sampling for data’s retrieval. Data’s retrieval using secondary data which was medical records of patients who are hospitalized due to acute diarrhea i Undata hospital Palu from 1 January to 31 December 2014, which includes hemoglobin, hematocrit count and duration of hospitalization. Data analyzing conducted with Chi Square test.Results: There were 97 samples of this research.  SPSS correlation test using chi-square test for hematocrit levels showed that there is no correlation between hematocrit count with hospitalization duration of acute diarrhea children patients. Based on the value of p> value of α is p = 0.097. Hemoglobin based on the test results measured by chi-square test showed that there is correlation between hemoglobin and hospitalization duration of patients with diarrhea. It is based on the value of p <α value ie, p = 0.003Conclusions: There was no correlation between hematocrit levels with hospitalization duration of acute diarrhea patients on children and there is correlation between hemoglobin levels and longer hospitalization duration of acute diarrhea children patients. Keywords: acute diarrhea, hospitalization duration, Hemoglobin, Hematocrit count.Latar Belakang: Diare  hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di  dunia dan semua kelompok usia bisa terinfeksi gastroenteritis. World Health Orginazation (WHO) melaporkan bahwa dalam satu tahun diare dapat menyebabkan 3,5 juta kematian, dimana pada anak-anak dengan umur dibawah 5 tahun angka kejadian diare mencapai 80%. Lama rawat inap adalah istilah yang umum digunakan untuk mengukur durasi satu episode rawat inap. Dalam Pedoman Pemberantasan Diare Edisi ke 5, target lama rawat inap pasien Diare Akut menurut Depkes RI adalah 4 hari atau 96 jam.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross-sectional. Teknik pengambilan data ialah purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan data sekunder yaitu data rekam medis pasien Diare  Akut  yang dirawat inap di RSUD Undata Palu periode 01 Januari - 31 Desember 2014, yang mencakup Kadar  Hemoglobin, Kadar  Hematokrit   dan lama rawat inap. Analisis data menggunakan statistik uji Chi Square.Hasil Penelitian: Terdapat 97 sampel, Dari  hasil analisis data program komputer SPSS menggunakan uji korelasi  chi-square untuk  kadar  hematokrit  diperoleh  bahwa  tidak  ada  hubungan  antara  kadar  hematokrit  dengan  lama  rawat  inap  pasien diare  akut  pada  anak. Hal ini didasarkan pada nilai p > nilai α yaitu p = 0,097. Pada  Kadar  Hemoglobin  hasil analisis data program komputer SPSS menggunakan uji statistik chi-square maka diperoleh bahwa terdapat hubungan antara Kadar  Hemoglobin  dengan lama rawat inap pasien Diare. Hal ini didasarkan pada nilai p < nilai α yaitu p =0,003.Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara  kadar hematokrit dengan lama  rawat  inap  pasien  diare  akut  pada  anak  dan  terdapat  hubungan  antara  kadar  hemoglobin  dan  lama  rawat  inap  pasien  diare  akut  pada  anak. Kata kunci: Diare  Akut, lama rawat inap, Kadar  Hemoglobin, Kadar Hematokrit.
HUBUNGAN PEMBERIAN IMUNISASI DPT DAN CAMPAK TERHADAP KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK USIA 10 BULAN - 5 TAHUN DI PUSKESMAS SANGURARA KOTA PALU TAHUN 2015 Sari, Puspita; Vitawati, Vitawati
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Pneumonia membunuh kira-kira 935.000 anak di bawah usia lima tahun pada tahun 2013, terhitung untuk 15% dari seluruh kematian anak di bawah usia lima tahun. Pneumonia pada anak paling banyak ditemukan pada anak dengan status imunisasi yang belum lengkap. Imunisasi yang berhubungan dengan kejadian penyakit pneumonia adalah imunisasi pertusis dalam DPT, campak, Haemophilus influenza, dan pneumokokus.Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pemberian imunisasi DPT dan campak terhadap kejadian pneumonia pada anak usia 10 bulan-5 tahun di puskesmas Sangurara kota Palu tahun 2015.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah semua pasien anak usia 10 bulan-5 tahun yang datang ke puskesmas Sangurara berjumlah 1.782 anak. Sampel yang digunakan berjumlah 95 anak yang berusia 10 bulan-5 tahun, diperoleh dengan cara  purposive sampling.Hasil : Hasil analisa data uji chi square mengenai hubungan antara pemberian imunisasi DPT terhadap kejadian pneumonia diperoleh nilai p < 0,05 yaitu 0,011 sehingga H1 diterima. Nilai uji Phi 0,260 menunjukkan bahwa korelasi negatif dengan kekuatan korelasi lemah. Selanjutnya hasil analisis data uji chi square mengenai hubungan antara pemberian imunisasi campak terhadap kejadian pneumonia diperoleh nilai p < 0,05 yaitu 0,002 sehingga H1 diterima. Nilai uji Phi 0,319 menunjukkan bahwa korelasi negatif dengan kekuatan korelasi sedang.Kesimpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian imunisasi DPT dan campak dalam menurunkan kejadian pneumonia pada anak usia 10 bulan-5 tahun di puskesmas Sangurara kota Palu tahun 2015.Kata Kunci : Pneumonia, Imunisasi DPT dan campak
RASIONALITAS PEMBERIAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2012 Sari, Puspita; Saputra, Oktoviandri
Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Medika Tadulako: Jurnal Ilmiah Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam tifoid merupakan salah satu penyakit penyebab kematian di Indonesia, dan pemakaian obat yang tidak rasional merupakan salah satu masalah pada pusat pelayanan kesehatan yang banyak dihadapi oleh negara berkembang, pengobatan yang tidak rasional dapat berakibat pada resistensi bakteri terhadap antibiotik tertentu.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pengumpulan data kualitatif, menggunakan rekam medis sebagai alat penelitian dengan sampel berjumlah 70 rekam medis pasien demam tifoid. Analisi data menggunakan analisis univariat untuk mendeskripsikan pasien dan analisis kriteria rasionalitas menurut Pedoman Pelayanan Medik PAPDI dan Buku Ajar Infeksi Penyakit dan Pediatri Tropis IDAI.Dari 70 sampel yang diperoleh, sampel dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok pasien berumur 12 tahun keatas dan kelompok pasien 12 tahun kebawah. Ketepatan indikasi pada kelompok 12 tahun keatas adalah 100% tepat, sedangkan pada kelompok 12 tahun kebawah 96,42%. Ketepatan obat pada kelompok 12 tahun keaatas adalah 100% tidak tepat, sedangkan pada kelompok 12 tahun kebawah hanya 7,14%. Ketepatan pasien pada kedua kelompok 100% tepat. Ketepatan frekuensi, dosis dan durasi pemberian pada kedua kelompok 10% tidak tepat.Dari 4 kriteria yang dapat diteliti, pengobatan pasien demam tifoid di RSUD Undata Palu Tahun 2012 dapat dikatakan tidak rasional, karena kriteria pengobatan rasional belum mencapai tepat 100% baik pada kelompok berumur 12 tahun keatas maupun 12 tahun kebawah.Kata Kunci: Rasionalitas Pemberian Antibiotik, Pasien Demam Tifoid.
IMPROVE K-MEANS TERHADAP STATUS NILAI GIZI PADA BALITA Sari, Puspita; Pramono, Bambang; Sagala, La Ode Hasnuddin S.
semanTIK Vol 3, No 1 (2017): semanTIK
Publisher : Informatics Engineering Department of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.048 KB)

Abstract

Anak usia di bawah lima tahun merupakan golongan yang rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi. Saat ini, untuk dapat memberikan gizi yang tepat dan seimbang, diperlukan tahapan medis yang tentunya akan membutuhkan waktu dan biaya. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah aplikasi yang dapat membantu dalam penentuan status gizi balita dengan tepat dan efisien dengan menggunakan standar WHO.Status gizi ini dapat diketahui berdasarkan indeks berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dengan menginputkan nilai berat badan, tinggi badan, umur, dan jenis kelamin balita.Penelitian dilakukan terhadap 200 data sampel, dengan melakukan penerapan aturan WHO pada Indeks Berat Badan menurut Umur, dan Indeks Tinggi Badan menurut Umur. Pengujian metode K-Means++ dan K-Means pada Indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan dengan data manual jumlah hasil pengujian menunjukkan total kinerja di mana hasil pengujian berdasarkan Indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan cukup baik dengan nilai accuracy 95%, sensitivity 93,5% dan specivicity 100% dalam penentuan status gizi balita.Kata kunci— Gizi, Balita, WHO, Indeks Berat Badan, Indeks Tinggi Badan, K-Means, K-Means++.
THE NEUTRALIZATION ON AN EMPTY NUMBER LINE MODEL FOR INTEGER ADDITIONS AND SUBTRACTIONS: IS IT HELPFUL? Sari, Puspita; Hajizah, Mimi Nur; Purwanto, Swida
Journal on Mathematics Education Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Department of Doctoral Program on Mathematics Education, Sriwijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (904.608 KB) | DOI: 10.22342/jme.11.1.9781.1-16

Abstract

The number line and the neutralization model have been used very extensively in teaching integer additions and subtractions for decades. Despite their advantages, issues concerning subtractions on these models are still debatable. Therefore, the neutralization on an empty number line (NNL) model is proposed in this research to help students better understand the meaning of integer subtractions as well as additions. This report is a part of a design research study conducted in a classroom of 28 elementary school students at the fifth grade. Data were gathered by collecting students’ written work, conducting interviews and observations during the teaching experiment. This paper focuses on students’ perceptions of the NNL model and what factors that might contribute to students’ achievements in understanding integer additions and subtractions. The analysis revealed that most students overemphasized on the use of the NNL model as a procedural method instead of as a model for thinking. Moreover, students’ mathematical beliefs and conceptions on the use of the column strategy and the absence of a discussion on the need of using the model are found to be some factors that could cause students’ misunderstandings. However, with a thorough planning, the NNL model has a potential to help students developing a meaning of integer additions and subtractions.
Klasifikasi Kualitas Susu Sapi Menggunakan Metode Support Vector Machine (SVM) Sari, Puspita; Muflikhah, Lailil; Wihandika, Randy Cahya
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1057.665 KB)

Abstract

Cow milk has a lot of animal protein and have benefit for children and whoever in process for grow up. Cow milk contains good essential amino acids. Malang Animal Health Laboratory as the unit executor in east java Animal Husbandry Department do a test in kesmavet for efforts to secure milk as a farm product with appropriate testing in suitable with the Indonesian National Standard (SNI). The classification of cow milk quality is still using organoleptic (smell, taste, color) that are linguistic, so that variable and parameter are uncertain and become themain obstacle of expert in determining good milk quality. To resolve this issue, this can be done with schizophrenia classification using support vector machine (SVM) algorithm, which SVM performace is more suitable than other classification methods. In this study there are 269 data that is divided into two data that is data training and data testing with three classification result, that is low, medium, and hight. The result in this paper get the best acuracy based ratio data 50%:50%, with Kernel RBF and λ (lambda) = 0,001, C (complexity) = 0,01, γ (gamma) =0,00001, maximum iteration = 30 and σ kernel RBF= 2. The average result of accuracy using SVM method in cow milk quality classification was 92.82% and highest accuracy was 94.02%.
Pengaruh Suhu Pembakaran terhadap Karakteristik Listrik Keramik Film Tebal Berbasis Fe2O3–MnO–ZnO untuk Termistor NTC Sari, Puspita; Syarif, Dani Gustaman; Wiendartun, Wiendartun
Wahana Fisika Vol 1, No 2 (2016): Desember
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/wafi.v1i2.4536

Abstract

Pembuatan keramik film tebal berbasis Fe2O3–MnO–ZnO untuk termistor NTC dari campuran Fe2O3 50% mol, MnO 25% mol, dan ZnO 25% mol telah dilakukan. Campuran serbuk Fe2O3, MnO dan ZnO yang telah digerus dicampurkan dengan organic vehicle (OV) untuk membentuk pasta. Kemudian pasta dilapiskan di atas substrat alumina menggunakan teknik screen printing  untuk membentuk film tebal. Film tebal mentah yang diperoleh, dibakar pada suhu yang berbeda yaitu 1000°C, 1100°C, dan 1200°C selama 2 jam. Sebelum dilakukan pengukuran resistansi, film tebal dilapisi perak terlebih dahulu sebagai kontak logam.  Resistansi termistor diukur pada suhu 40°C–200 oC dengan beda suhu sebesar 5 oC. Analisis struktur kristal dan struktur mikro film tebal masing – masing dilakukan dengan menggunakan X – Ray Diffraction (XRD) dan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil analisis karakteristik listrik termistor yang dibakar pada suhu 1000 °C, 1100 °C, dan 1200 °C menghasilkan konstanta termistor berturut – turut sebesar 7700 K, 6995 K, dan 5701 K. Ketiga suhu pembakaran menghasilkan nilai konstanta termistor yang memenuhi kebutuhan pasar. Analisis struktur kristal menggunakan XRD  menunjukkan bahwa keramik film tebal memiliki dua struktur yaitu struktur spinel kubik dan hematit heksagonal. Analisis struktur mikro menggunakan SEM  menunjukkan bertambahnya ukuran butir sesuai dengan meningkatnya suhu pembakaran dengan ukuran butir film tebal yang dibakar pada suhu 1000 °C, 1100 °C, dan 1200 °C berturut – turut adalah 1.3 μm, 2.0 μm, dan 2.4 μm.