Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Status Kualitas Air Das Cisanggarung, Jawa Barat Rr Diah Nugraheni Setyowati
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2015): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.142 KB) | DOI: 10.29080/alard.v1i1.32

Abstract

Kualitas air merupakan salah satu komponen lingkungan yang sangat penting dan sebagai indikator sehatnya suatu daerah aliran sungai. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat dan industri mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan. Hal ini berdampak negatif terhadap kelestarian sumberdaya air yang diindikasikan dengan semakin meningkatnya daya rusak air. Degradasi yang terjadi di daerah aliran sungai berdampak pada perubahan aktifitas tata guna lahan dan ekosistem yang termasuk di dalamnya. Pemanfaatan fungsi sungai yang tercemar setara dengan kondisi kelangkaan air. Tingkat penurunan kualitas air akan mempengaruhi kelestarian sumberdaya air yang tersedia untuk penggunaan yang bermanfaat, dan pada gilirannya akan membatasitata guna lahan produktif. DAS (daerah aliran sungai) Cisanggarung termasuk dalam wilayah Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, kabupaten yang termasuk dalam DAS Cisanggarung yaitu Kabupaten Cirebon dan Kuningan berada di Provinsi Jawa Barat, dan Kabupaten Brebes berada di Provinsi Jawa Tengah. Curah hujan yang terjadi di DAS Cisanggarung rata-rata sebesar 2.032 mm. Potensi aliran rata-rata mencapai kapasitas sebesar 2,0 milyar meter kubik per tahun. Vegetasi yang ada sebagian besar berupa hutan, lahan pertanian, lahan perkebunan, lahan belukar dan lahan permukiman. Penelitian dilaksanakan di 6 Stasiun Pemantauan Kualitas Air Daerah Aliran Sungai Cisanggarung, yang secara administrasi masuk ke dalam wilayah kabupaten kuningan dan kabupaten Cirebon dengan tujuan untuk mengidentifikasi kualitas air sungai di DAS Cisanggarung, kemudian dapat diketahui status kualitas air di DAS Cisanggarung tersebut. Berdasarkan peruntukan air dan baku mutu air, maka diperoleh hasil bahwa Sungai Cisanggarung termasuk golongan B, C, D yaitu air yang memenuhi syarat untuk peruntukan golongan B (air baku air minum), golongan C (air untuk keperluan perikanan dan peternakan), golongan D (air yang digunakan untuk pertanian dan dapat digunakan untuk usaha perkotaan, industri dan pembangkit listrik tenaga air. Dari hasil dari analisa diperoleh faktor pembatas, adalah BOD, COD, kekeruhan, nitrat, ortho phospat, ammonium, amoniak, dan fecal coliform adalah melebihi baku mutu B, C, D sebagaimana tercantum dalam Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 58 Tahun 1998 tentang Peruntukan Air Dan Baku Mutu Air. Dan dari penelitian telah didapatkan hasil bahwa kadar BOD, COD, kekeruhan, amoniak, ammonium, nitrat, ortho phospat, dan kadar fecal coliform, telah melebihi baku mutu B, C, D yang diperbolehkan. Hal ini disebabkan karena pada daerah aliran sungai Cisanggarung banyak sekali kegiatan pertanian, perkebunan dan limbah rumah tangga dari pemukiman sehingga kualitas air sungai menjadi tidak baik.Kata kunci: kualitas air, sumberdaya air, daerah aliran sungai
STUDI PEMILIHAN TANAMAN REVEGETASI UNTUK KEBERHASILAN REKLAMASI LAHAN BEKAS TAMBANG Rr Diah Nugraheni Setyowati; Nahawanda Ahsanu Amala; Nila Nur Ursyiatur Aini
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 3 No. 1 (2017): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.101 KB) | DOI: 10.29080/alard.v3i1.256

Abstract

The contribution of the mining sector to forest destruction in Indonesia reaches 10% and now drove to 2 million ha every year. To overcome this problem, it is necessary to reclaim the former mining area. One of the determinants of the success of reclamation is plant’s selection, in accordance with the condition of the land. In this case for revegetation activities need to pay attention between plant’s selectionspecies and plant growth requirements with the condition of the land, so that the reclamation success criteria can be achieved. This research uses descriptive analysis method, this method is done by describing the facts which followed byanalysis and provide sufficient understanding and explanation. Techniques of data collection using comparative analysis method by comparing various journals and other literature. Criteria for selection of tree species for ex-mining land can be seen from:(1) local species of pioneer, (2) fast growing but not in high cost, (3) produces litter that easy to decompose, (4) good root system and able to do reciprocal relationship with certain microba, (5) seed carrier, (6) easy and cheap in propagation, planting and maintenance. The success of revegetation depends on several things such as: preparation of planting, crop, plant maintenance and plant monitoring. Keywords: mining, reclamation, plant, revegetation
PEMBUATAN BIOADSORBEN DARI SABUT KELAPA DAN TEMPURUNG KELAPA UNTUK MENURUNKAN KADAR BESI (Fe) Ma’rifatul Ismiyati; Rr Diah Nugraheni Setyowati; Sulistiya Nengse
Jukung (Jurnal Teknik Lingkungan) Vol 7, No 1 (2021): MARET 2021
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jukung.v7i1.10811

Abstract

Salah satu kandungan bahan pencemar logam berat dalam air adalah besi. Besi (Fe) merupakan senyawa logam berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia seperti keracunan (muntah), kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, radang sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, sirosis ginjal, sembelit, diabetes, diare, pusing, mudah lelah, hepatitis, hipertensi dan insomnia. Pengolahan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kandungan logam berat besi dalam air yaitu pengolahan dengan adsorpsi menggunakan bioadsorben dari limbah pertanian. Limbah pertanian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu tempurung kelapa dan sabut kelapa. Penelitian ini bertujuan agar dapat mengetahui efisiensi maupun kapasitas adsorpsi bioadsorben terhadap limbah besi (Fe) menggunakan sistem batch serta dapat mengetahui model isoterm yang sesuai pada adsorpsi ini. Metode dari penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan variasi massa 3,75 gr tempurung kelapa : 1,25 gr sabut kelapa, 2,5 gr tempurung kelapa : 2,5 gr sabut kelapa, 1,25 gr tempurung kelapa : 3,75 gr sabut kelapa, 5 gr tempurung kelapa dan 5 gr sabut kelapa dengan waktu kontak selama 15,30 dan 45 menit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan persentase efisiensi dan kapasitas adsorpsi tertinggi menggunakan bioadsorben 1,25 gr tempurung kelapa : 3,75 gr sabut kelapa dengan waktu pengadukan selama 45 menit sebesar 92% dan 0,628 mg/g. Dari hasil persamaan isoterm, nilai regresi (R2) yang diperoleh paling besar sebesar 0,9921 pada isoterm Langmuir. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa model isoterm yang cocok untuk adsorpsi menggunakan bioadsorben tempurung kelapa dan sabut kelapa yaitu isoterm Langmuir. Kata kunci: adsorpsi, besi (Fe), bioadsorben, isoterm adsorpsi, sabut kelapa, tempurung kelapa. One of the heavy metal pollutants in water is iron. Iron (Fe) is a heavy metal compound that can endanger human health such as poisoning (vomiting), intestinal damage, premature aging until sudden death, arthritis, birth defects, bleeding gums, cancer, kidney cirrhosis, constipation, diabetes, diarrhea, dizziness, easily tired, hepatitis, hypertension and insomnia. Treatment that can be done to remove the heavy metal content of iron in water is processing by adsorption using bioadsorbents from agricultural waste. Agricultural wastes used in this research are coconut shell and coconut fiber. This study aims to determine the efficiency and capacity of bioadsorbent adsorption of iron (Fe) waste using a batch system and to find out the appropriate isotherm model in this adsorption. The method of this study uses experimental research with a mass variation of 3.75 grams of coconut shell: 1.25 grams of coconut husk, 2.5 grams of coconut shell: 2.5 grams of coconut husk, 1.25 grams of coconut shell: 3.75 grams of coir coconut, 5 gram coconut shell and 5 gram coconut fiber with contact time for 15.30 and 45 minutes. The results of this study showed the highest percentage of efficiency and adsorption capacity using bioadsorbent 1.25 grams of coconut shell: 3.75 grams of coconut husk with stirring time for 45 minutes by 92% and 0.628 mg / g. From the results of the isotherm equation, the regression value (R2) obtained is greatest at 0.9921 on the Langmuir isotherm. From this study, it can be concluded that the isotherm model that is suitable for adsorption using coconut shell and coconut husk bioadsorbent is Langmuir isotherm. Keywords: Adsorption, bioadsorbent, coconut fiber, coconut shell, iron (Fe), isoterm  adsorption.
ANALISIS KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA DI KAWASAN ALOHA SIDOARJO SECARA ROADSIDE Deny Suryo Pratama; Ida Munfarida; Rr Diah Nugraheni Setyowati
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol 14 No 1 (2022): Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1012.208 KB) | DOI: 10.33005/envirotek.v14i1.176

Abstract

Karbon monoksida merupakan gas buang hasil pembakaran tidak sempurna yang terjadi di dalam mesin kendaraan bermotor. Akumulasi gas karbon monoksida yang memenuhi udara lingkungan dapat menyebabkan pencemaran udara. Aloha merupakan salah satu kawasan di Kabupaten Sidoarjo yang memiliki intensitas tinggi terhadap penggunaan kendaraan bermotor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi analisis gas karbon monoksida jika ditinjau dari baku mutu yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 22 Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode observasi secara langsung di lapangan dengan analisis hasil secara deskriptif. Konsentrasi karbon monoksida pada hari sabtu, minggu, dan senin rata telah melebihi baku mutu udara ambien. Nilai konsentrasi karbon monoksida terbesar selama pengukuran sebesar 24.049, 1 g/m³ terjadi saat hari senin, sedangkan nilai terkecil yang didapatkan sebesar 8.016,4 g/m³ terjadi di semua hari pada beberapa titik sampel diwaktu yang berbeda. Nilai konsentrasi karbon monoksida di Kawasan Aloha Sidoarjo selama pengukuran, rata-rata telah melebihi baku mutu udara ambien.