Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Tampilan Reproduksi Kambing Betina Lokal yang Induksi Berahinya Dilakukan dengan Sistem Sinkronisasi Singkat Nizwan Siregar, Tongku; Armansyah, Teuku; Sayuti, Arman; -, Syafruddin
Jurnal Veteriner Vol 11 No 1 (2010)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.363 KB)

Abstract

The aim of this study is to determine the reproduction performance of local does in which theirestrous was induced by short synchronization system. In this study 10 healthy female, unpregnant andhave relatively homogenous body weights were used. All does were devided into 2 experiment groups.Group 1 consisted of 4 does as control and group II consisted of 6 does as treatment. Group I, were injectedwith 125 ?g cloprostenol intramuscular, twice in 11 days interval. Group II, was treated with shortsynchronization using 125 ?g cloprostenol intramuscular, and then followed by injection of 300 IU hCGand 0.5 mg estradiol benzoate after 12 hours later. The does were inseminated 10 hours after onset ofestrous and repeated 12 hours later. Parameters measured were oestrous percentage, pregnancy, andlitter size. Results showed that all does (100%) from both groups showed estrous. Percentage of pregnantdoes group I and II were 75.00% and 83.33% respectively, and the averages litter size were 2.0 ± 1.0 and 1.4± 0.3, respetively. Treatment with short synchronization can increase pregnancy and delivered percentagealthough litter size not affected.
SUPLEMEN BUNGKIL INTI SAWIT TEPUNG DAUN KATUK BERPOTENSI MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA PADA KAMBING PERANAKAN ETTAWA Akmal, Muslim; Reza Ferasyi, Teuku; Budiman, Hamdani; R, Razali; A, Azhari; A, Anwar; Aji Pamungkas, Fitra; Nasution, Saddat; Armansyah, T.; Hambal, Muhammad; S, Syafruddin; Sayuti, Arman
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 8, No 2 (2014): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v8i2.2638

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian suplemen bungkil inti sawit (BIS), tepung daun katuk (KAT), dan kombinasi bungkil inti sawit dan tepung daun katuk (BISKAT) terhadap peningkatan kualitas spermatozoa kambing jantan peranakan Ettawa (PE). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor kambing jantan PE, berumur 1,5 tahun dengan berat badan antara 15 -20 kg dan dibagi atas empat kelompok yakni P0, P1, P2, dan P3 yang masing-masing diberi akuades, BIS 100 g/hari/ekor, kombinasi BIS 100 g/hari/ekor dan KAT 15 g/hari/ekor, dan KAT 15 g/hari/ekor. Pemberian perlakuan dilakukan selama 35 hari. Pada hari ke-36 dilakukan kastrasi dan selanjutnya dilakukan pemeriksaan kualitas spermatozoa yang meliputi motilitas, viabilitas, integritas membran, dan abnormalitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT dapat meningkatkan motilitas, viabilitas, integritas membran, dan menurunkan abnormalitas spermatozoa dibanding kelompok kontrol. Disimpulkan bahwa pemberian suplemen kombinasi BISKAT berpotensi meningkatkan kualitas spermatozoa kambing PE.
PENENTUAN WAKTU TERBAIK PADA PEMERIKSAAN KIMIA URIN UNTUK DIAGNOSIS KEBUNTINGAN DINI PADA SAPI LOKAL Sayuti, Arman; alfian, Herri; Armansyah, T.; s, Syafruddin; Siregar, Tongku Nizwan
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 5, No 1 (2011): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v5i1.420

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui waktu terbaik untuk mendapatkan akurasi tertinggi pada pemeriksaan kimia urin untuk diagnosis kebuntingan dini pada sapi lokal. Pemeriksaan urin dilakukan sesuai prosedur yang dikembangkan oleh Cuboni-Lunaas.Waktu koleksi urin adalah pada bulan ke-1, 2, dan 3 setelah inseminasi. Hasil positip dari pemeriksaan ditunjukkan oleh terbentuknya fluoresensi pada larutan. Hasil pemeriksaan ini dikonfirmasi dengan pemeriksaan kebuntingan secara manual. Akurasi metode diagnosis dengan kimia urin pada waktu pemeriksaan pada bulan ke-1, 2 dan 3 pasca inseminasi masing–masing adalah 75,0; 87,5; dan 100% untuk mendiagnosis sapi bunting dan 0,0; 100,0; dan 100,0 % pada untuk mendiagnosis sapi yang tidak bunting. Waktu pemeriksaan dengan akurasi terbaik untuk diagnosis bunting diperoleh pada bulan ke-3 sedang untuk diagnosis tidak bunting diperoleh pada bulan ke-2 pasca inseminasi.
GAMBARAN KLINIS SAPI PIOMETRA SEBELUM DAN SETELAH TERAPI DENGAN ANTIBIOTIK DAN PROSTAGLANDIN SECARA INTRA UTERI Sayuti, Arman; Melia, Juli; a, Amrozi; s, Syafruddin; r, Roslizawaty; Fahrimal, Yudha
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 6, No 2 (2012): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v6i2.310

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran klinis sapi pyometra sebelum dan setelah diterapi dengan antibiotik dan prostaglandin. Dalam penelitian ini digunakan enam ekor sapi betina yang didiagnosis menderita piometra berdasarkan pemeriksaan secara klinis dan ultrasonografi pada organ reproduksi. Sapi tersebut dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan, masing-masing 3 ekor sapi untuk tiap kelompok. Kelompok I diterapi dengan 5 ml antibiotik (gentamicine, flumequine) ditambah 15 ml NaCl fisiologis dan PGF2α (Luprostiol) 12,5 mg secara intra uteri, sedangkan kelompok II diterapi hanya dengan menggunakan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan pada sapi yang didiagnosis piometra ditemukan adanya cairan yang penuh mengisi uterus (100%), korpus luteum persisten pada salah satu ovarium (100%), discharge di sekitar ekor, perineum, dan vulva yang berwarna kuning (50%), krem (33,3%), dan hijau keabu-abuan (16,6%). Sapi yang diterapi dengan antibiotik dan PGF2α menyebabkan pengeluaran leleran yang lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan sapi yang diterapi hanya dengan antibiotik.
Determination of Gestational Age and Observation of Kacang Goat Fetal Development during 60 Days of Pregnancy by Using Transcutaneous Ultrasonography Sayuti, Arman; Khairiah, Khairiah; Siregar, Tongku Nizwan; Melia, Juli; Syafruddin, Syafruddin; Rahmi, Erdiansyah; Herrialfian, Herrialfian; Abrar, Mahdi; Panjaitan, Budianto; Daud, Razali
Jurnal Veteriner Vol 20 No 4 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.184 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.4.534

Abstract

This study was aimed to observe correlation between gestational age and fetal growth of Kacang goat for 60 days after mating with transcutaneous ultrasonography visualization. Three female goats of productive age with normal estrus cycle and one male goat were used in this study. The female goats were synchronized with double injection of prostaglandin F2á (PGF2á) intramuscularly with dosage of 1 mL for each female goat with 11 days’ time interval. Observation of oestrus was conducted using male goat after being synchronized. When the sign of estrus were prominent, the female goats were naturally mated. The result was pregnant positive for one female goat. Detection of early pregnancy was observed on the 24th days after mating, with the result of 6.77 mm length embryo by isoechogenic visualization. On 35th days of pregnancy, fetal could be seen clearly in isoechogenic to hyperechogenic visualization with head diameter and fetal length were 17.4 mm and 36.2 mm, consecutively. The observation also found the placentom. On day 45 of pregnancy, head diameter and fetal length were 21.8 mm and 40.6 mm. Later on day 49 of pregnancy, the size of gestational saccus was 44.1 mm, with head diameter of 25 mm, and average placentom diameter size of 12.4 mm. On day 53 of pregnancy, head diameter was 25.2 mm with fetal length of 63.6 mm and placentom diameter of 15 mm. On day 56 of pregnancy, vertebrae of fetal were observed using hyperechogenic visualization and placentom was measured 17.9 mm in diameter. On day 60 of pregnancy, we observed that the fetal length was 79.8 mm and the organs such as eyes, heart, liver, os costae, and fetal extremities, could be observed clearly. The size of developing fetal and organs would grow along with the addition of gestational age.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ENTERIK PADA FESES GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI PUSAT KONSERVASI GAJAH (PKG) SAREE ACEH BESAR amri, fadli; Sayuti, Arman; Darniati, Darniati
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.791 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3298

Abstract

ABSTRAK                Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan dan jenis bakteri enterik pada feses gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree, Aceh Besar. Sampel feses segar dikoleksi pada pagi hari dari 6 ekor gajah sumatera dengan cara feses langsung diambil dari anus menggunakan swab dan dimasukan dalam Nutrient broth lalu disimpan dalam Cooler box steril. Penelitian ini menggunakan metode Carter (1987) yang sudah dimodifikasi. Untuk isolasi dan identifikasi bakteri enterik pada feses gajah sumatera. Semua sampel feses dikultur pada media MacConkey, Salmonella Shigella Agar (SSA), IMViC (Indol, Methyl red, Voges-Proskauer, sulfid indol motility, Simmons citrate), media Triple Sugar Iron Agar (TSIA), dan uji fermentasi gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, maltosa). Data hasil penelitian ini dianalisis secara deskriptif berdasarkan keberadaan bakteri enterik yang terdapat dalam feses. Dari hasil penelitian diketahui bahwa di dalam feses lima ekor gajah sumatera yang berumur di atas enam tahun terdapat lebih dari satu bakteri enterik, sedangkan satu ekor gajah yang berumur satu tahun hanya terdapat satu jenis bakteri enterik. Pada gajah bernama Midok ditemukan bakteri E. Coli dan Salmonella sp, pada gajah Amoy bakteri E. Coli dan Salmonella sp, gajah bernama Ella ditemukan bakteri Enterobacter sp dan Salmonella sp, gajah bernama Senna bakteri E. Coli dan Citrobacter sp, gajah bernama Osin ditemukan bakteri E. coli dan Salmonella sp, dan gajah bernama Junaidi ditemukan bakteri E. coli.  Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bakteri enterik yang terdapat pada feses gajah sumatera adalah Eschericha coli, Salmonella sp, Enterobacter sp, dan Citrobacter sp.
PEMERIKSAAN KEBERADAAN TELUR DAN LARVA NEMATODA PASCA PEMBERIAN ANTHELMINTIK PADA GAJAH SUMATERA (Elephas maximus sumatranus) DI CONSERVATION RESPONSE UNIT (CRU) SAMPOINIET ACEH JAYA Ova and Nematode larvae examination after anthelmintics treatment on Sumatra Elephant (Elephas maximus sumatranus) in Conservation Response Unit (CRU) Aceh Jaya Sampoiniet harliyanda, syafriza; Hambal, Muhammad; Sayuti, Arman
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.15 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3461

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan telur dan larva nematoda pasca pemberian anthelmintik pada gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Conservation Response Unit (CRU) Sampoiniet Aceh Jaya dan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Saree. Sampel feses gajah sumatera diambil dari 4 ekor gajah yang ada di CRU Sampoiniet Aceh Jaya dan 1 ekor gajah yang ada PKG Saree. Pengambilan sampel feses gajah Sumatera dilaksanakan sebanyak 3 kali seminggu. Hasil penelitian menunjukkan tidak ditemukan telur maupun larva pada gajah-gajah yang berada di CRU Sampoiniet. Ditemukan telur cacing Ascaris sp dan Toxocara spp serta ditemukan juga larva dari cacing Rhabiditiform dan Ascaris sp pada gajah di PKG Saree. Efikasi obat cacing masih optimum selama 3 minggu pasca pemberian obat cacing.Kata kunci: Telur cacing nematoda Ascaris sp, Toxocara spp, Larva Rhabiditiform, Ascaris sp, Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)ABSTRACT This research was conducted to determine the eggs and larvae of namatode after anthelmintic administation on sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus) in Conservation Response Unit (CRU) Sampoinet Aceh Jaya and Conservation Center of Elephant (CCE) Saree. The  Sample feces of sumatran elephant takes from 4 elephant in CRU Sampoiniet Aceh Jaya and 1 elephant in CCE Saree. The results showed no eggs or larvae are found on the elephants residing in CRU Sampoiniet. Ascaris worm eggs found sp and Toxocara spp and found larvae of Ascaris sp and Rhabiditiform worms in CCE Saree. The feces sample of sumatran elephant was taken three times, conducted every week. It was conducted, the elephant in Sampoiniet could not be found the eggs of parasite in feces due to anthelmintic treatment.Keywords: Egg worm nematodes Ascaris sp, Toxocara spp, Rhabiditiform larvae, Ascaris sp, Sumatran elephant (Elephas maximus sumatranus)
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) GENUS LACTOBACILLUS DARI FESES ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) DI KEBUN BINATANG KASANG KULIM BANGKINANG RIAU Syabaniar, Lisa; Erina, Erina; Sayuti, Arman
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 1, No 3 (2017): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.405 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v1i3.3342

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri asam laktat (BAL) genus Lactobacillus yang terdapat pada feses orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Kebun Binatang Kasang Kulim Bangkinang, Riau. Sampel yang digunakan adalah feses segar dari empat ekor orangutan Sumatera (Pongo abelii). Bakteri ini diidentifikasi dengan metode Carter dan Cole yang dimodifikasi. Media selektif yang digunakan yaitu de Man Rogosa Sharpe Agar (MRSA) dengan metode streak plate. Koloni yang tumbuh di media MRSA diamati morfologinya dan dilakukan pewarnaan Gram serta dilanjutkan dengan uji biokimia yaitu uji katalase, oksidase, Voges Proskauer (VP), Sulfit Indol Motility (SIM), Triple Sugar Iron Agar (TSIA), oksidatif/fermentatif (O/F), dan uji gula-gula yaitu glukosa, laktosa, mannitol, maltosa. Hasil identifikasi terhadap empat sampel feses orangutan ditemukan genus Lactobacillus pada tiga sampel orangutan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa bakteri asam laktat genus Lactobacillus dapat diidentifikasi pada feses orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Kebun Binatang Kasang Kulim Bangkinang Riau.
STUDI HISTOLOGIS LAMBUNG SAPI ACEH. (Histological Study of Gastric in Aceh Cattle). Agravion, roza; Masyitha, Dian; Zainuddin, Zainuddin; Jalaluddin, M; Nazaruddin, Nazaruddin; Sayuti, Arman
JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER Vol 2, No 3 (2018): MEI - JULI
Publisher : JURNAL ILMIAH MAHASISWA VETERINER

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.412 KB) | DOI: 10.21157/jim vet..v2i3.7819

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang struktur histologi lambung (rumen, retikulum, omasum, dan abomasum) sapi aceh. Penelitian ini bertujuan mengetahui struktur histologi lambung sapi aceh. Sampel penelitian diambil dari 3 ekor sapi aceh berjenis kelamin jantan, telah dewasa kelamin yang dipotong di Rumah Potong Hewan di Aceh Besar. Terhadap sampel penelitian dilakukan proses mikroteknik untuk selanjutnya dilakukan pewarnaan Hematoksilin-eosin (HE). Pengamatan terhadap struktur histologi menggunakan mikroskop cahaya binokuler. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa struktur histologi lambung sapi aceh tidak berbeda dengan struktur histologi lambung ruminansia lainnya (sapi, domba, dan kambing), yaitu terdiri dari empat lapisan, tunika mukosa, tunika submukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Lamina propria rumen menyatu dengan submukosa membentuk propria-submukosa dan terdapatnya kapiler fenestrated dibawah membran basal. Ciri khas dari retikulum sapi aceh terdapat pada lamina muskularis mukosa yang membentuk lipatan memanjang. Tunika mukosa abomasum terdapatnya kelenjar yaitu kelenjar kardia, fundus, dan pilorus.(A Study to detect the microscopic structure of gastric (rumen, reticulum, omasum, and abomasum) in aceh cattle. The purpose of this research was to know the histological structure of the gastric in aceh cattle. The samples were collected from 3 of male aceh cattle in Aceh Besar abattoir. The tissue samples were processed by microtechnique and Hematoksilin-eosin (HE). Microscopic analysis was performed using binocular light microscope. The study showed that the wall of gastric aceh cattle not different with another ruminasia (cow, sheep, and goat), they are made up of four layers, that was tunica mucosa, submucosa, muscularis, and serosa. The mucosa segment there are lamina epithelia, lamina propria, and lamina mucosa muscularis. At rumen, lamina propria merges to submucosa created submucosa-propria and founded fenestrated capiler under epithelium basal membran. The characterstic of reticulum based on mucosa muscularis which is create fold lengthwise. Mucosa of abomasum founded some glands, there are cardiac, fundic, and pyloric). 
Gambaran histologi ovarium sapi aceh pascavitrifikasi menggunakan dimetyl sulfoksida dengan konsentrasi berbeda Syafruddin, .; Sayuti, Arman; Sumardi, Rahmat Aditya; Panjaitan, Budianto
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 4 (2018): ARSHI Veterinary Letters - November 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.431 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.4.77-78

Abstract

This study aims to determine the morphology of Aceh bovine ovarian pasca vitrification, after its been exposed to dimetyl sulfoksida (DMSO) cryoprotectant. This study use a completely randomized design of one-way pattern ANOVA acquire three replications. Ovaries used in this study are Aceh cattle ovarian which collected from slaughter house (RPH) accounted as 4 organs, to the next sliced into 9 pieces. Ovarian pieces are then grouped into 3 treatment groups namely ovaries which exposed into solution containing DMSO 10% (P1), 20% (P2), and 30% (P3). The results showed that the average number of normal follicles is highest at P1 41,33 ± 32,51; followed by P2 20,00 ± 16,09 , and P3 15,66 ± 10,50. It was concluded that  the ovarian tissue was exposed with DMSO 10% was able to maintain of the normal follicle than DMSO 20% and 30% although statistical test results showed no significant difference between group (P>0,05).